Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 144: Nostalgia


__ADS_3

Sementara itu dari kejauhan.


“Lihat dia kak.” Fredirica tak senang dengan apa yang dilihatnya.


“….” Rossa terdiam, tadi sempat ada perempuan asing yang bersama targetnya.


Siapa dia? Rossa merasakan aura misterius yang sama dengan pemuda itu.


“Cih.” Fredirica terlihat tak sabar. “Kita tak bisa maju kak.”


“….” Rossa setuju. Akan merepotkan kalau memaksakan menemuinya sekarang. Pemuda itu sudah terbukti jadi masalah dahulu kala.


“Hmmm~ Sepertinya menarik.”


“!”


SRET!


Rossa dan Fredirica menjauh dan langsung memasang kuda-kudanya!


“Eh? Kenapa?”


“Kau….” Rossa menatap tajam.


“Perempuan yang tadi….” Fredirica terdiam, kenapa dia bisa ia bisa tahu keberadaan mereka?


Felicia tersenyum kecil.


Ia merasa ada energi menyebalkan yang mengamati dari jauh, setelah di cek, bertemulah mereka dengan kedua gadis ini.


“Cuacanya indah ya. Kenapa tak berkumpul bersama kami?” tawar Felicia.


“….” Kedua bersaudari itu terdiam dan menatap muram seolah mengatakan ‘apa dia tak tahu siapa kita?’.


“Kalian temannya Feronica ‘kan?”


“Uruslah urusanmu kak.” Rossa tak tertarik dengan pembicaraan ini.


“Kak?” Felicia terdiam, ia tersanjung disebut begitu oleh putri ahli sihir terhebat.


“Aku Felicia. Senang bertemu dengan kalian.” Felicia mengajak salaman, namun tak digubris.


“Feronica banyak bercerita tentang kalian.”


Rossa dan Fredirica terdiam, mereka tak terlihat tertarik, namun tak bisa mengabaikan energi misterius yang terpancar dari perempuan satu ini.


Felicia masih tersenyum kecil, ia sudah sedikit tahu tentang mereka berdua dari Feronica.


Konon katanya mereka berdua ‘teman’ Feronica dan sosok yang membantunya bisa belajar di akademi ternama.


Apa benar begitu? Felicia ingin memastikannya sendiri.


“Sudah beberapa hari kalian di sini saja loh.”


“!?” Rossa dan Fredirica tak bisa menahan rasa terkejutnya.


Raut wajah mereka seolah berkata ‘darimana dia tahu!?’


Padahal mereka sudah menyembunyikan aura kekuatan mereka seminimal mungkin agar tak ketahuan.


Namun sayangnya itu tak berguna juga.


Felicia bisa merasakan keinginan jahat mereka yang besar.


Benar, Felicia memang spesialis pendeteksi aura kekuatan.


Tak hanya aura kekuatan saja yang bisa dideteksinya, aspek lain juga bisa ketahuan.


Merasakan niat jahat dari mereka membuat Felicia meragukan pernyataan Feronica.


Teman macam apa yang punya niat jahat begini?


‘Dia memang misterius.’ Rossa dan Fredirica punya pikiran yang sama.


Memang benar sedari kemarin mereka mencari kesempatan yang pas dimana Feronic sedang sendirian.


Namun sayangnya momen yang dinanti itu tak kunjung datang, bahkan sampai sekarang.


Ruaut wajah mereka makin muram, menandakan keberadaannya di sini memang mengganggu.


“Wah-wah, apa aku mengganggu? Maaf ya. Nikmati hari indah kalian.” Felicia tersenyum kecil dan undur diri.

__ADS_1


Rossa dan Fredirica terdiam, tak bisa dipungkiri ada sedikit ketegangan yang ada dalam diri mereka.


“Pulang yuk kak.” Fredirica agak gemetaran.


Rossa mengangguk dan mereka pun berjalan pulang.


‘Kemampuannya rendah sekali,’ batin Felicia.


Tadinya Feronica ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sikap mereka, namun setelah melihat kekuatan mereka, Felicia mengurungkan niatnya.


Kenapa bisa-bisanya para putri ahli sihir terkuat malah punya sifat mengejutkan begitu?


*


Matahari sudah terbenam, namun Feronica masih sibuk dengan latihannya.


“Dia rajin ya.” Felicia terkesan.


“Terima kasih sudah membelanya.” Stephen tahu apa yang dilakukan rekan lamanya tadi.


“Itu bukan apa-apa.” Felicia hanya tak tahan terus diuntit saja.


Stephen percaya. Felicia memang bukan tipe makhluk yang suka ikut campur urusan yang lain.


Kalau ia ikut campur dengan urusan ini, pastilah ada alasannya tersendiri.


***


Keesokan harinya.


Akademi Wolfden kembali dibuka setelah libur beberapa hari pasca insiden yang tak menyenangkan.


Raut wajah para murid beragam. Ada yang semangat, masih khawatir, dan pula mengantuk.


Pembelajaran berlangsung biasa.


Semuanya normal, kecuali bagi sang siswi pendiam, Yelena.


Ia masih tidak terima soal Feronica yang dikeluarkan begitu saja.


Sekolah seakan tutup mata soal yang terjadi dan tak ada keadilan yang jelas.


Namun itu tak membuatnya menyerah. Bagaimana pun keadilan yang sebenarnya harus ditunjukkan!


*


Sementara itu di depan gerbang sekolah. Siang hari.


Terlihatlah seorang gadis berdiri saja menatap ke arah sekolah.


Tak lain tak bukan adalah Feronica sendiri.


‘Ramai ya….’ Feronica merindukan suasana sekolah juga.


Meski hanya bisa menikmati dari luar, namun ini sudah cukup.


Feronica memberi Kak Stephen dan Nona Felicia privasi.


Yah ia tak mau terus jadi pengganggu diantara mereka berdua sih.


*


“Hei sedang apa dia?” Felicia penasaran. Barangkali pemuda ini tahu sesuatu?


“Berdiri saja.” Sejauh ini hanya begitu.


“Kalau itu aku tahu.” Dia ini bodoh atau apa?


Akhirnya mereka berdua terus mengamatinya.


Terlihatlah Feronica beberapa kali berkeliling, memegangi pagar dan berusaha melihat keadaan di situ.


“….” Felicia terdiam, jadi ini maksudnya.


Mau bagaimanapun juga tempat ini berharga dimatanya.


“Feronica takkan marah kan?” Stephen bukan tipe yang suka menguntit.


“Aku yang tanggung jawab.” Bukan tanpa alasan Felicia ingin mengikutinya.


Gadis itu agak bertingkah aneh pagi hari tadi.

__ADS_1


“….” Stephen tak mengerti insting wanita.


“Heh, kenapa kau santai saja sih?” Akhir-akhir ini Stephen kelihatan terlalu easygoing.


“Hm?” Memangnya begitu? Stephen tak menyadarinya.


“Dia itu berharga untukmu kan?” Felicia menatap serius.


“EH!?” Kok tiba-tiba begitu sih!?


“Hmh.” Felicia tak bisa menahan senyumannya, sudah lama ia tak melihat ekspresi itu darinya.


“Perhatikan lebih dekat dong.” Felicia memberi saran penting di sini.


“….” Stephen terdiam, alasannya santai tak lain tak bukan karena ia percaya Felicia bakal jadi makhluk dekat untuk Feronica.


Namun rekannya benar, bukan berarti ia bisa seenaknya santai juga sih.


Di sisi lain ia juga percaya pada Feronica.


Setelah melihat semua yang terjadi Feronica bukanlah gadis kecil yang masih harus dilindungi.


Malahan ia sendiri yang dilindunginya.


Stephen tak mau Feronica risih dengannya.


Yang akhirnya mempercayakan Felicia sebagai sosok yang bisa dipercaya.


Sesama wanita bisa lebih mengerti satu sama lain kan?


“ALASAN.” Felicia tak punya banyak waktu mendengar alasan klise begini.


“Kau harus menarik perhatiannya. Atau pria tampan lain bisa merebutnya.”


“APA!?” Stephen tak percaya.


“TUNGGU DULU.” Kenapa malah pembicaraannya jadi begini!?


“Hei lihat.” Felicia melihat ada sesuatu di sana.


*


Sudah beberapa lama Feronica di depan gerbang.


‘Tuan Jack pasti sedang tugas di dalam.’ Feronica ingin mengobrol dengannya.


Tapi datang pagi hari tentu akan memalukan. Toh ia sudah keluar sekolah juga.


“Nak….”


“!” Ada suara!


Terlihatlah sosok wanita berpakaian serba hitam berdiri tak jauh darinya.


‘Ada orang?’ Feronica sama sekali tak menyadarinya.


“Ah, saya mengganggu bu?” Feronica tak bermaksud cari masalah di sini.


“Hmmm….” Ibu itu hanya menggeram halus.


Feronica tak bisa melihat wajahnya dengan topi bundar besar itu.


Pakaian serba hitamnya mewah. Feronica yakin beliau kalangan berada.


Apa beliau ini guru baru atau siapa ya? Feronica baru pertama kali melihatnya.


“Kamu tidak masuk ke dalam nak?” Suara sang ibu terdengar lagi.


Suaranya halus dan enak didengar.


Dengan cepat Feronica menjelaskan dengan singkat.


“Ah, maaf sudah bertanya.” Sang ibu tak tahu itu yang terjadi.


“Ah tak apa bu.” Beliau ini sopan sekali ya.


Feronica pikir ia bakal diusir karena sudah menganggu.


Namun ternyata tidak begitu ya.


*

__ADS_1


__ADS_2