
'Ini adalah kesempatanku' batin Feronica, ia hanya punya satu pilihan yaitu menguatkan hatinya demi menunjukkan apa yang telah dipelajarinya saat ini.
Terlepas dari siapapun lawannya, Feronica tidak punya pilihan lain selain yang telah dipikirkannya dari awal. Ia tahu Fredirica adalah siswi Akademi Sihir yang handal dari kelas 3B, sungguhlah suatu hal yang tidak bisa diperkirakan ia akan bertarung melawannya.
Kemampuan teori memanglah tidak begitu diketahuinya pasalnya mereka memang berbeda kelas dan tidak ada cara untuk mengamati bagaimana kemampuan teoritisnya.
Namun bagaimana dengan kemampuan sihirnya? Feronica merasakan kekuatan aura sihir berkumpul di depannya, membuat hilir angin yang cukup kencang di sini.
Kekuatan menghimpun energi sihir yang hebat, Feronica bisa merasakan hal itu dari lawannya, padahal pertarungan belum dimulai, namun Fredirica sudah siap sedia sekarang ini.
Feronica tidak mau kalah, ia pula menghimpun kekuatannya dan merasakan kekuatannya mulai tersalurkan ke seluruh tubuhnya.
Ia pun mengeluarkan pancaran aura sihir namun tidak sehebat Fredirica, tidak ada hempasan angin yang hebat yang keluar darinya. Tidak terlihat keren, tapi ada adanya saja.
'Heh, aku tidak boleh kalah darinya, aku pasti bisa!' Feronica terus menyemangati batinnya sendiri, memberikan energi positif yang menjadi salah satu kekuatan utama miliknya itu.
"Mulai!" Freiss mengarahkan tangannya ke bawah dengan cepat, tanda pertarungan pertama segera di mulai, bersamaan dengan itu sorak para penonton, alias para murid pun menggelora.
Freiss pun menghilang seketika dari area tengah lapang meninggalkan Feronica dan Fredirica yang akan bertarung di sana. Berpindah ke tempat yang sama di mana para guru ikut mengawasi jalannya acara saat ini.
Husshhhhh!
Tak perlu menunggu lama Fredirica melesat dengan cepat ke depan, memberikan rentetan tinjuan dan tendangan yang di arahkan pada Feronica, semua gerakannya menimbulkan gelombang angin yang cukup kuat di sekitarnya.
Bola mata Feronica bergerak dengan cepat melihat seluruh gerakan lawannya itu, ia menghindari tinjuan dan tendangan dengan cukup baik. Namun gelombang kejutnya itu membuatnya sedikit kerepotan.
'Gerakan biasanya saja sudah seperti ini?!' Feronica protes dalam hatinya, meskipun ia bisa menghindari serangan fisik Fredirica namun pada dasarnya hanya dengan gelombang kejutnya saja itu sudah cukup bisa melukainya.
Srtt....
"Ukh!" Feronica berhasil menghindari serangan tinjuan Feronica, namun gelombang kejut tetap mengenainya dan pipinya mengeluarkan sedikit darah.
__ADS_1
'Sial! Mengapa dia terus-terusan memberi serangan beruntun?!' Feronica yang hanya bisa bertahan melawan rentetan serangan tinjuan dan tendangan mulai merasa frustasi.
Cukup aneh melihat Fredirica hanya mengandalkan serangan fisik daripada serangan sihir langsung. Padahal jelas-jelas tadi ia menghimpun begitu banyaknya kekuatan sihir dalam dirinya sendiri.
Lantas mengapa yang digunakan dalam pertarungan ini malah kekuatan fisik bukannya kekuatan sihir?
Feronica mencoba memikirkan alasannya, namun pada akhirnya tidak tahu alasan pasti mengapa Fredirica memilih jalan yang seperti inim
Mungkin saja memang itu adalah rencananya selama ini? Dengan menghemat kekuatan sihir di awal maka ia akan bisa mengontrol stamina-nya secara keseluruhan saat pertarungan berlangsung.
Dan tentulah hal tersebut memberikan keuntungan bagi yang bisa mengatur porsi kekuatan yang dikeluarkannya itu. Pertarungan akan lebih terarah dan memininalisir membuang kekuatan secara sia-sia.
Jika saja itu yang memang Fredirica pikirkan, memanglah benar bagaimana serangan fisiknya saja sudah benar-benar merepotkan sekarang. Dan lagi bagaimana dengan kekuatan sihir yang belum dikeluarkan olehnya sekarang ini?
Di tengah keterdesakannya itu Feronica berusaha mencari jalan keluar terbaik, ia tidak bisa terus bertahan seperti ini, cepat atau lambat pada akhirnya ia akan lebih terdesak lagi. Dan itu tentunya tidak bagus untuk terjadi.
Setelah beberapa saat berusaha untuk mengelak dan bertahan, Feronica akhirnya sampai di titik di mana ia harus mengambil keputusan yang berbeda.
"Hah!" Melihat momen terbuka ini, Feronica melancarkan tinjunya pada Fredirica, karena setelah terhempas dari serangannya tadi Fredirica kehilangan keseimbangan tubuhnya dan pasti dia tidak mampu untuk mengembalikan posisi dengan cepat.
HUSH!
Tinjuan Feronica mengarah pada lawannya dengan cepat dan tak mampu di antisipasi oleh lawannya, kali ini serangannya pasti mengenainya.
"...."
"A-apa?!" Tanpa bisa diduga, Fredirica mengelak tanpa melihat serangannya sekalipun, begitu mudah dan kemudian melancarkan serangan baliknya, menendang dengan keras perut lawannya.
"Argh!"
Hussh!
__ADS_1
Feronica tidak bisa mengatasi serangan mendadak itu, pada akhirnya ia terhempas ke jatuh cukup jauh.
Debu asap tercipta karena hentakan yang cukup keras, membuat siapapun yang menyaksikan ini sulit untuk melihat apa yang terjadi.
"Uhuk! Uhuk!" Feronica terkapar di atas lapang, tubuhnya terasa sakit karena benturan tadi, namun belum sempat ia bangkit. Fredirica sudah melancarkan serangannya lagi, Feronica bisa merasakan kekuatan sihir terkumpul di sana.
'Mengapa dia bisa menghindari seranganku?' Feronica bertanya-tanya mengenai hal ini, sungguhlah aneh mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal tadi adalah celah terbuka lebar baginya untuk menyerang, namun mengapa malah serangannya itu mampu dihindari dengan mudah oleh lawannya itu?
Mungkinkah memang itu karena kekuatan sihir Fredirica yang membuat dia bisa mendeteksi serangan yang datang? Atau mungkin saja itu adalah bagian dari rencananya sendiri?
Feronica tidak tahu mana yang benar, namun dengan terus memikirkan alasan tadi tidak akan membuatnya menang instan. Yang ada ia kini harus fokus dan terus mengamati lawannya ini.
'Ayo bangkit!' dengan bersusah payah sembari menahan sakit Feronica bangkit dengan lutut yang masih menyentuh area lapang ini.
"Sihir api: Tarian Dewa Api!" Sihir api muncul menyingkap debu tanah yang terkumpul, membuat situasi kembali bisa terlihat jelas sebagaimana mestinya.
Sihir api berbentuk seorang ksatria yang memegang pedangnya mengarah pada Feronica yang masih meringis kesakitan di sana.
'Aku tidak akan kalah di sini' Feronica kembali menguatkan tekadnya dan ia mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengeluarkan sihir terkuat yang telah dipelajarinya itu.
"Sihir Tanah: Tembok Tanah!" Feronica menepuk bagian bawah lapang dengan tangannya, menciptakan gelombang hebat yang mengundang tanah membentuk tembok besar di depannya.
DUAR! Ledakan pun tidak terhindarkan, sihir api Fredirica yang berupa seorang ksatria yang tengah memegang pedangnya dengan gagah perkasa berusaha untuk menebas pertahanan tembok tanah Feronica.
Drttt .... Drrrt ....
Sihir tanah Feronica perlahan namun pasti melemah, karena terus-terusan di hantam oleh sosok ksatria api yang gagah perkasa itu.
'Astaga!' Feronica agak panik sekarang, mengingat memang inilah sihir pertahanan terbaik yang pernah dipelajarinya selama menuntut ilmu di sini. Dan pada dasarnya sihir paling kuat yang pernah dipelajarinya.
Namun kini sihir tembok tanahnya terus dikikis oleh sihir api Fredirica. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja sampai sihir pertahanan miliknya benar-benar rusak.
__ADS_1
'Ba- bagaimana ini?' batin Feronica, sedang sihir pertahanan terbaiknya mulai hancur, apa yang harus dilakukannya demi merubah keadaan yang seperti ini?