
'....' Feronica mengarahkan pandangannya ke berbagai arah, tapi tetap saja ia tidak tahu pasti di mana letak hawa kehadiran seseorang yang begitu kuat ini.
Perasaan yang benar-benar kuat yang bahkan mampu untuk membuatnya teralihkan dari perasaannya saat ini.
"...." Feronica tidak hanya merasakan ada hawa kehadiran yang kuat saja, namun jugaada hal lain.
'Bau....' Feronica menggaruk hidungnya karena mencium sesuatu yang berbeda. Bau busuk yang biasanya ada di sekitaran sampah dan kotoran dapat ia kenali dengan jelas di sini.
Namun di sekitarnya tak ada benda yang bisa menyebabkan bau seperti ini, memang ada kemungkinan bau seperti ini bisa berasal dari salah satu murid sihir yang memang jahil dan sengaja menyebarkan bau busuk ini.
Tapi kemungkinannya kecil, bahkan untuk ukuran murid-murid dari kalangan atas seperti mereka semua. Kebanyakan dari mereka memang serius dan tidak begitu peduli akan perbuatan seperti ini.
'Mereka nampak biasa saja....' Feronica tidak melihat adanya reaksi lain dari orang-orang di sekitarnya. Cukup aneh padahal memang apa yang terjadi ini setidaknya akan menyita perhatian orang lain.
Namun kali ini tidak dalam kenyataannya. Mengalami kejadian seperti ini mengingatkannya akan hal-hal aneh yang membuatnya harus menerima kabar seburuk ini, Feronica menggertakkan giginya tidak paham dengan apa yang terjadi.
Shhhh....
"!" Feronica merasa hangat di sekitaran telapak tangan kanannya, dan ketika dilihat ia melihat tanda merah yang sama yang ia lihat sebelumnya.
"Haahh!" Feronica berlari sekuat tenaga ketika mengetahui akan hal itu, segera menuju ke kelasnya.
*
Sementara itu di tempat lain, jauh dari tempat sebelumnya kita berada. Kota Frost.
Terlihat William menatap perbatasan kota besar ini, seperti terpanggil untuk melihat kejadian yang ada di luar kota.
'Aku merasakan kehadirannya.'
'Tepat di mana putriku bersekolah....'
William menatap dengan serius, merasakan hawa kehadiran seorang yang dikenalinya, bahkan jarak tidak bisa membendung akan hawa kekuatannya itu.
William terdiam, rasanya ia ingin keluar kota dan menjenguk para putrinya itu, namun di saat yang bersamaan ia tahu itu bukanlah pilihan yang terbaik.
"Aku tidak mungkin menyakiti putriku dan Cylene...." William berusaha mengendalikan perasaannya dan kemudian berpaling dari apa yang dilihatnya itu.
William tahu waktunya belum tiba baginya untuk menemui para putrinya, maka dari itu ia hanya bisa mempercayai mereka dan menunggu saat yang tepat.
*
Sementara itu kita kembali ke Feronica yang kini sudah sampai di kelasnya. Rekan-rekannya yang lain tak kunjung berhenti menatapnya dengan aneh, dan mungkin Feronica bisa menebak apa yang dipikirkan oleh mereka sekarang.
Siapa juga yang tidak merasa aneh dengan seorang yang berlari tergesa-gesa ke kelas ini? Feronica berusaha menganggap ini adalah hal yang biasa. Feronica kini tidak lagi merasakan hawa kehadiran yang begitu kuat, dan tanda merah menyala pada lengan kanannya sudah berangsur-angsur menghilang juga.
"Haahh...." Feronica menarik nafas lega, entah apa yang terjadi tadi, hal aneh lagi-lagi terjadi di saat yang tidak terduga.
__ADS_1
Feronica kini hanya bisa untuk menjalani sisa harinya sebagai murid akademi, mengingat memang tak lama lagi ia dikeluarkan juga. Kini ia bisa mengerti akan maksud mengapa ibunya ingin ia agar tetap menghadiri kelas.
'Aku bisa lari kewajibanku tapi itu bukanlah sikap seorang ahli sihir....' Feronica sadar perasaannya sendiri telah membutakannya akan apa yang memang harus dilakukannya, dan kini setelah ia tahu maksud dari sikap ibuny padanya, perasaannya jadi lebih tenang sekarang.
'Segala sesuatu yang terjadi di luar kendali memang sudah tidak bisa diubah lagi.' Feronica tahu menyalahkan dirinya sendiri bukanlah hal yang terlalu bijak untuk dilakukan, yang bisa dilakukannya sekarang adalah menerima apa adanya.
Tanpa terasa sesi belajar sudah pada akhirnya, waktunya pulang dan para siswa meninggalkan kelas dengan cepat, kecuali Feronica yang masih duduk diam di kursinya.
Rasanya memang tenang ketika tidak ada seorang pun di sini, ia bisa menikmati suasana sore di luar tanpa ada tatapan-tatapan tajam dan juga omongan pedas.
Feronica tahu memang tidak lama lagi ia meninggalkan kelas ini, jadi menikmati waktu sekarang bukanlah hal yang salah dilakukan, toh memang ia sendiri suka dengan pemandangan langit sore di lantai dua ini.
Sret...
"?" Feronica melihat ke arah pintu yang terbuka, ia memang tidak terlalu melamun seperti sebelumnya. Perasaannya sudah jauh lebih terkontrol dan ia mulai bisa mengabaikan perasaannya yang menguasainya tadi.
"Bu Freiss? Yelena?" Feronica hanya bisa terdiam melihat kedua orang yang tak disangkanya masu ke dalam ruangan kelas, sontak saat itu juga ia mulai bertanya-tanya akan mengapa mereka ke kelasnya di saat seperti ini.
Feronica terdiam dalam keheranan, berusaha mencari kemungkinan yang mungkin bisa menjadi alasan mengapa kedua orang hebat ini berada di sini. Mungkinkah mereka hendak mengucapkan salam perpisahan?
Tapi yah, jika memang itu yang terjadi, setidaknya ini akan menghiburnya juga sih. Mengingat dia ini memang bukanlah siapa-siapa di sekolah, jadi mendapat kunjungan dari orang hebat ini membuatnya merasa lebih baik.
"Feronica...." Freiss dan Yelena kini sudah berada di dekat kursinya, gurunya itu melihat padanya dengan tatapan yang iba. Seolah memang ia mengerti akan apa yang dirasakan Feronica saat ini.
Tidak mengejutkan juga bagaimana tatapan guru dan rekannya itu yang sekarang, Feronica bisa merasakan kepedulian dari tatapan mereka itu, berbeda dengan rekan-rekannya yang lain. Dan ini jadi angin segar baginya melihat mereka menatapnya seperti itu.
"Ibu dengar soal apa yang terjadi, bagaimana perasaanmu sekarang?" Freiss mengajukan pertanyaan yang dasar, di mana jika tidak dijawab pun harusnya ia sendiri bisa tahu dengan melihat keadaan Feronica yang sekarang.
"Sudah lebih baik Bu...." ucap Feronica sembari tersenyum.
Freiss terdiam sejenak melihat Feronica, ia sendiri yang memang tahu kabar ini sejak awal hanya bisa diam saja, tidak ada kewenangan lebih baginya untuk bisa mengubah keputusan sekolah yang memang sudah bulat ini.
"Ibu yakin kamu pasti akan jadi lebih kuat dari sekarang... jangan lupakan mimpimu ya...." ujar Freiss memberikan kata-kata semangat yang memang terdengar begitu meyakinkan dan menghangatkan.
Membuat Feronica tersenyum lagi. "Terima kasih bu...."
Sedang Yelena menatapnya dengan tatapan yang juga mengisyaratkan ia peduli pada keadaan Feronica sekarang ini. "Maaf atas semuanya...."
"Apa?" Feronica heran mengapa Yelena meminta maaf? Dari nada suaranya yang pelan dan halus pun masih terdengar jelas di telinganya.
"Ah, seharusnya aku yang harus minta maaf... Maaf Yelena karena telah membuatmu terluka di tes kemampuan sihir kemarin...." Feronica sadar memang ia sendiri yang memaksakan dirinya agar bisa bersaing dengan murid berbakat ini, yang pada akhirnya ketidaksempurnaan tekniknya membuat rekannya itu terluka.
Yelena hanya tersenyum kecil, dan itu membuat Feronica sedikit terkejut juga mengingat memang ia belum pernah melihat Yelena bereskpresi sejelas ini sebelumnya.
Tanpa perlu berkata lagi apapun lagi Feronica tahu Yelena sudah menganggap kejadian lama itu adalah angin lalu, dan itu cukup melegakan. Karena memang saling mengerti akan satu masalah adalah hal yang membahagiakan.
"Terima kasih Ibu, Yelena sudah datang ke sini...." Feronica jadi tahu tenyata memang ia tidak sendiri, bahkan ada beberapa orang yang peduli padanya dan mengalahkan perasaan terpuruknya ini.
__ADS_1
Beberapa saat mereka berbincang ringan dan akhirnya Feronica pamit karena memang hari sudah mulai gelap.
Sesaat setelah Feronica pergi, kini hanyya tinggal Yelena dan Freiss saja yang berada di luar kelas.
"Apa kamu yakin Yelena soal pendapatmu ini?" Freiss menatap muridnya dengan serius.
Yelena mengangguk kecil. "Saya yakin Feronica tidak seperti yang dibayangkan oleh orang lain."
Freiss terdiam, ia sendiri memang bukanlah dari barisan orang yang percaya Feronica harusnya dikeluarkan dari sekolah karena alasan tertentu, ini terjadi tepat ketika ia mulai tertarik dengannya.
"Apa ibu bisa mengusahakan sesuatu?" Yelena menatap gurunya dengan serius, mengabaikan fakta memang ia tahu keputusan sekolah yang dikeluarkan sudah mutlak.
"Sayangnya tidak bisa, ibu sudah mengobrol dengan Tuan Housen dan para guru lainnya, semuanya sudah sepakat dengan keputusan yang sudah diambil," ujar Freiss dengan raut wajah yang sedikit muram.
"Lalu apa ibu adalah salah satu yang setuju?" tanya Yelena dengan nada yang masih serius.
*
Sementara itu Feronica hendak meninggalkan gerbang sekolah, ia melihat seseorang berdiri di sana melihatnya dengan serius. Dan setelah seorang itu menyadari kehadiran Feronica, ia segera mendekatinya.
"Tuan Jack...." Feronica tidak terlalu heran dengan kehadirannya, mengingat memang adalah tugasnya untuk selalu berada di lingkungan sekolah.
"Ibumu tadi mengobrol dengan Tuan Housen...." Jack langsung menyatakan apa yang diketahuinya, dan ini membuat Feronica terdiam senak.
"Bagaimana bisa Tuan?" Yang Feronica tahu ia hanya diantar oleh ibunya dengan biasa, bahkan tidak tahu apakah ibunya sudah melakukan perjanjian sebelumnya.
Untuk beberapa saat selanjutnya Jack menceritakan semuanya dengan singkat. Setelah mendengarnya Feronica jadi sedikit tersenyum.
Ibunya tetap memperjuangkan apa yang ia percayai. Feronica menyadari akan hal itu, mengingat dukungan terbesar yang ia miliki sampai saat ini adalah dari ibunya.
Beberapa saat kemudian Feronica menghabiskan waktu dengan Tuan Jack dan kemudian melanjutkan kembali perjalanan pulang.
*
Sementara itu terlihat Rossa dan Fredirica yang sedang berada di rumah sekarang di malam hari yang dingin, mereka seperti biasa tengah duduk bersama di dekat perapian besar yang hangat sekarang.
"Kak, aku masih merasa lemas...." Fredirica menatap saudarinya, sudah beberapa hari terakhir ini ia merasakan hal seperti ini, semenjak kejadian kemarin terjadi.
Rossa terdiam, ia sendiri memang merasakan hal yang sama juga, seluruh tubuhnya terasa tidak bugar seperti biasanya. "Mungkin memang kondisi kita belum puluh sepenuhnya." Rossa hanya mengatakan apa yang menjadi opininya, yang memang pada kenyataannya ia juga tidak begitu tahu akan penyebab hal ini.
Biasanya memang seorang yang menguasai sihir memiliki kemampuan untuk meregenerasi luka yang ada lebih cepat dibanding yang tidak menguasainya. Rossa dan Fredirica sudah tahu akan dasar seperti ini, namun setelah beberapa hari sejak mereka menerima luka, sampai saat ini mereka memang belum pulih sepenuhnya.
"Kalau begini memang kita tidak punya pilihan lain Kak. Untuk sementara kita memang harus menjaga jarak dulu darinya." Fredirica menyatakan pendapatnya soal rencana mereka ini.
Mengingat kondisi tubuh mereka yang seperti ini tentunya tidak akan membantu banyak ketika mereka hendak menjalankan kembali rencana mereka ini. Dan kini Fredirica dan Rossa mulai melihat hal yang memang disembunyikan Feronica, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai mereka berdua benar-benar tahu kebenaran yang ada.
Rossa mengangguk kecil tanda setuju akan pendapat adiknya itu, memang ini adalah yang terbaik demi mengetahui kebenaran yang disembunyikan Feronica, tentu mereka tidak bisa membuat kejadian yang sama terulang kembali.
__ADS_1