Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 116: Terdampar


__ADS_3

'Kenapa bisa begini?' Feronica tidak mengerti mengapa di saat seperti ini tanda merah pada wajahnya muncul kembali.


'Bisa gawat kalau yang lain melihatnya!'


"Hei kau melihatnya tadi?"


"!"


Feronica hanya menutupi sebagian wajahnya dengan tangan kanannya, langkahnya terhenti ketika mendengar apa yang dibicarakan oleh orang banyak.


Suara-suara yang berbaur satu sama lain itu tidak lagi membicarakan hal yang berbeda, melainkan satu hal saja.


"Melihat apa?" gumam Feronica sembari celingak celinguk, menyimak obrolan yang sedang berlangsung ini.


"Ada ahli sihir yang sedang lewat!"


"Apa?! Kenapa aku tidak sadar tadi?"


'Ahli sihir?' Feronica akhirnya tahu apa yang dibicarakan oleh orang-orang yang sedang berlalu lalang ini. Sekarang Feromica mengerti mengapa pembicaraan mereka kini terpusat pada satu topik saja.


Siapa yang tidak terkejut bilamana ada ahli sihir yang ada di sini? Sudah bukan rahasia lagi, soal keberadaan para ahli sihir. Mereka jarang mengumbar keberadaan di tempat umum.


Kehadiran para ahli sihir di tengah-tengah masyarakat tentunya jarang terjadi karena biasanya menimbulkan keramaian seketika itu juga.


Feronica bisa membayangkan bagaimana jadinya jika di tempat ramai seperti ini ada pula ahli sihir yang berbaur di antara mereka.


'Memang tidak aneh apabila ada ahli sihir di kota ini....' Feronica sudah tahu dari awal bagaimana terpandangnya seorang jika sudah menjadi ahli sihir, jadi tempat tinggal mereka sudah tidak perlu ditanya lagi. Pastinya mewah bukan?


'Keren, ahli sihir pandai menyembunyikan keberadaannya....' Feronica jadi kagum sekarang. Dia tidak pernah ke kota sebesar ini dan pula bertemu dengan ahli sihir lain selain yang ada di akademi.


'AKU JADI PENASARAN!' Feronica ingin melihat ahli sihir mana yang dibicarakan orang-orang ini. Mengingat kesempatan mana lagi yang bisa ia dapat?


Setidaknya dengan melihat ahli sihir yang dibicarakan orang di sini, bisa membuat inspirasinya melimpah dan semakin menguatkan mimpnya itu.


'Menjadi ahli sihir bukanlah perkara mudah... apa yang kulihat pada mereka adalah hasil kerja keras mereka terdahulu....' Feronica memikirkan hal ini. Ketika punya impian terkadang memang apa yang kita lihat adalah hasil akhirnya saja.


Sedangkan perjuangan yang seharusnya lebih dimaknai dan dihargai malah diabaikan. Feronica juga mengerti soal ini, ada yang ingin jalannya selalu mulus tanpa hambatan yang berarti.


Yang pada akhirnya itu berarti ketidakseriusan dalam mengejar impian yang ingin dicapainya.


Ada harga yang harus dibayar demi memujudkan mimpinya. Selama itu baik tentu orang-orang akan memilih jalan yang terbaik.


'Apa ini jalan yang harus kutempuh?'


DEG!

__ADS_1


"Uh...." Tangan kanan Feronica spontan memegangi kepalanya sendiri, rasa hangat kini berubah menjadi panas yang sama sekali tidak nyaman.


Seolah kepalanya sedang disinari oleh sesuatu yang panas, membuatnya langsung tidak nyaman.


"Hei! Jangan berdiri di tokoku! Kau menghalangi pembeli!" Terdengar suara berat dari dalam toko pakaian itu, membuat Feronica sedikit terperanjat.


Feronica bisa melihat sekilas dari jendela dibalik cermin toko itu. Terlihat pemilik toko yang tidak senang dengan kehadirannya di sini.


"Ah maaf Tuan...." Dengan segera Feronica melangkahkan kaki meninggalkan toko pakaian itu.


Feronica berjalan cepat tak tentu arah, ia tidak tahu harus pergi ke mana di tengah bangunan yang besar ada di sekitarnya.


'....'


Kret....


'Rasanya kepalaku mau terbakar....' Tangan kanan Feronica semakin erat memegangi wajahnya sendiri. Sangat tidak nyaman kembali merasakan hal aneh seperti ini lagi.


Di tengah rasa sakit yang kini mulai muncul lagi, Feronica malah penasaran bagaimana bisa tanda ini kembali muncul di saat seperti ini?


Padahal ia baru saja memikirkan alasan mengapa tanda itu bisa muncul dan memprediksi kemungkinan mengapa bisa muncul.


Namun yang terjadi kini tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya sebelumnya.


Shhhh....


'Kalau begini....' Feronica mempercepat langkah kakinya, jika sampai tanda merah itu menyebar lebih luas maka apa yang ditakutkannya bisa terjadi.


"Haaah... haaahh...."


Sret.


Feronica berbelok dengan cepat di antara celah bangunan yang tinggi ini yang meisahkan bangunan satu dengan yang lainnya.


Sebuah jalan kecil yang hanya muat untuk beberapa orang saja. Dan suasana di sekitaran jalan kecil ini tidak seramai yang ada di jalan utama yang besar, bahkan cahaya matahari pun tidak bisa sepenuhnya menembus jalan kecil ini.


Ini lebih terlihat seperti jalan setapak kecil dengan kondisi yang sepi dan sedikit suram. Tidak banyak yang bisa diperhatikan di sini selain jalanan yang tidak terlalu bersih seperti jalan besar tadi.


Dengan jalanan yang tidak terlalu terang membuat Feronica yakin tidak banyak orang yang memakai jalan kecil seperti ini, yang membuat tempat ini cocok baginya untuk bersembunyi dari banyak orang; karena itulah yang jadi tujuannya.


'Aku tidak mau melihat pandangan orang yang seperti tadi....' Feronica tahu orang-orang di sini sudah pasti akan merasa aneh dengan apa yang terjadi padanya sekarang.


Daripada membuat kegaduhan karena hal ini diketahui banyak orang, lebih baik ia bersembunyi di tempat yang sepi bukan? Pilihan terbaik yang bisa ia ambil saat ini.


Feronica berjongkok di sana, meresapi rasa panas yang terasa pada tubuhnya seperti biasa, karena ini bukan pertama kalinya ia merasakan hal ini. Berusaha untuk tetap diam dan tenang.

__ADS_1


Feronica melihat tangan kanannya, benar saja duugaannya, tanda merah bercahaya yang ada padanya bisa ia lihat di pergelangan tangan kanannya juga. Tanda aneh ini menjalar dengan cepat tanpa bisa diduganya.


'Bagaimana ini?' Feronica tidak mengerti dengan situasi yang sekarang terjadi ini. Di tengah kebingungannya akan keberadaannya di sini, kini ditambah dengan tanda aneh ini. Mengapa semua yang terjadi ini membuatnya bertanya-tanya akan banyak hal?


'Aku tidak tahu mengapa bisa begini....'


Feronica tidak mau berpikir berat sekarang, di saat ini ia memutuskan untuk mendinginkan kepalanya dan tetap tenang.


Feronica akhirnya duduk di bawah tanah yang cukup kotor, badannya tidak kuat lagi untuk menahan rasa panas yang menjadi-jadi.


Clek...


Feronica bisa merasakan tanah di bawahnya becek dan banyak air di sekitarnya, namun ia tidak peduli dengan itu lagi, karena memang bajunya sudah basah jadi apa yang bisa diperbuatnya lagi?


Feronica bersender di tembok bangunan dan menatap ke atas. Tidak memikirkan apapun, hanya menerima apa yang sekarang terjadi padanya.


'Yah... jika aku harus mengalami ini ya... berarti aku kuat menghadapinya....' Kepala Feronica masih terangkat ke atas, tidak lama pandangannya jadi sedikit kabur.


"!"


Feronica mencoba mengangkat badannya sendiri. Tubuhnya bergetar ketika mencoba melakukannya.


'Masa aku akan tidur lagi?!' Terlepas bagaimana raut wajah Feronica saat ini yang mungkin kita sudah tahu bagaimana kelihatannya.


Feronica berusaha untuk bertahan dari rasa panas yang ada pada tubuhnya ini, membuat wajahnya pucat dan keringat pula banyak menetes dari wajahnya.


Panas seperti terbakar namun tanpa adanya api yang terlihat secara fisik ini membuat Feronica sulit menggambarkannya bagaimana rasanya. Namun yang pasti Feronica yakin tidak banyak orang yang ingin merasakan kesakitan seperti ini.


Orang-orang lebih memilih untuk berada dalam keadaan baik-baik saja bukan?


'Aku tidak mau tidur lagi....' Feronica masih mencoba untuk berdiri, meski dengan bergetar dan kepayahan saat melakukannya. Ia menolak untuk kembali 'tidak tahu apa-apa lagi'.


Di tengah situasi seperti ini seharusnya ia bisa mendapat jawaban, bukannya menambah daftar pertanyaan dalam hatinya sendiri. Feronica tidak mau kehilangan apapun lagi di sini, karena mungkin saja dengan banyaknya hal yang terjadi sekarang, ia tidak bisa menemukan jalan kembali pulang.


Feronica mencoba mengandalkan kekuatan sihirnya sendiri karena hanya itulah satu-satunya cara yang terpikir olehnya. Lebih baik ada satu cara dibanding tidak sama sekali bukan?


Shhh....


Feronica menguatkan kekuatan sihirnya yang akan membuat pertahanan dalam dirinya juga akan bertambah, dan setelah beberapa saat cara seperti ini cukup berhasil.


Tanda merah yang menyebar pada sekitaran tubuh Feronica pun menghilang perlahan yang membuat rasa sakitnya juga berkurang.


'Kupikir tidak akan berhasil....' Feronica kini bisa berdiri tanpa bergetar hebat lagi, dan pandangannya berangsur pulih kembali.


"Haaah... haaah...." Feronica pikir untuk pulih akan begitu sulit, namun ternyata dengan satu atau dua hal yang tidak diketahuinya. Ia bisa kembali seperti sedia kala lagi.

__ADS_1


"Kalau begitu aku harus mencari informasi dulu...." Feronica punya rencana yang bagus sekarang, ia melangkahkan kakinya dan berjalan perlahan melalui jalan kecil di antara bangunan yang tinggi, kemana langkah kakinya membawanya.


"Hei gadis kecil...."


__ADS_2