Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud


__ADS_3

Feronica tersentak dalam hening ketika tirai hijau ruangan kamarnya itu terbuka, dengan segera ia mengarahkan pandangannya ke arah suara dan melihat pria paruh baya bertopi berdiri di sana.


Pria paruh baya itu menatap Feronica dengan penuh pengertian, dan kemudian menghampiri tempat tidurnya.


"Tuan Jack?" Feronica agak kebingungan karena melihat Tuan Jack berada di sini. Padahal seharusnya ia sedang menjalankan tugasnya. Apalagi ini adalah hari yang sibuk dan penting di sekolah ini.


"Mengapa Tuan berada di sini?" tanya Feronica perlahan, suaranya terdengar serak dan agak berat.


"Mengunjungimu, masa aku bersih-bersih di sini?' Tuan Jack tersenyum kecil.


Memang benar urusan Tuan Jack adalah bersih-bersih. Namun untuk hal di bangunan pusat kesehatan ia tidak bertugas di sini.


"Mengapa repot-repot kemari?" Feronica merasa tidak enak dikunjungi oleh Tuan Jack sekarang, ia sendiri tahu Tuan Jack seharusnya masih sibuk saat ini.


Pria bertopi itu menggelengkan kepalanya. "Kau memaksakan diri tadi?"


Feronica terdiam mendengar pertanyaan itu, hatinya terasa sedih mengingat hari yang di mana sangat penting malah berakhir seperti ini.


"Sepertinya aku terlalu percaya diri ya Tuan Jack?" Feronica menatap pria paruh baya bertopi itu dengan seksama, seolah menyadari sesuatu.


"Pertarungan yang bagus tadi." Komentar Jack pendek sembari tersenyum tulus yang di mana terlihat seseorang begitu jujur ketika mengucapkan hal ini.


"Ahaha...." Feronica tertawa kecil, meskipun apa yang dikatakan Tuan Jack tidaklah terdengar sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Namun ia tetap merasa terhibur.


"Terima kasih Tuan. Ngomong-ngomong maaf tadi pagi aku mengejutkanmu."


"Tidak apa-apa, kau tidak perlu minta maaf untuk sesuatu yang sering kau lakukan...." Tuan Jack menanggapi Feronica dengan sangat santai.


Keduanya bertatapan satu sama lain kemudian tertawa.


Untuk beberapa saat kemudian Jack menemani Feronica mengobrol beberapa saat, membuat Feronica lupa akan rasa sakit yang tengah dirasakannya itu. Dan tanpa terasa waktu berjalan terasa cepat.


***


Sementara itu Tes Kemampuan Sihir tetap berjalan sebagaimana mestinya, banyak murid yang sudah dipasangkan kemudian saling menunjukkan apa yang mereka bisa.


Feronica harus beristirahat sampai batas waktu yang tidak ditentukan, Perawat yang bertugas merawatnya memberitahunya seperti itu.


Namun ketika hari sudah sore Feronica merasa lebih baik dan meskipun perawatnya menyarankan untuk menginap namun Feronica bersikeras untuk pulang saja ke rumah.


Mengingat besok adalah hari libur sekolah maka tentunya ia lebih merasa nyaman beristirahat di rumah daripada harus terus berada di ruangan perawatan.


"Baiklah jaga dirimu dan jangan lagi menggunakan sihir untuk sementara," ujar perawat wanita di sore menjelang petang yang membolehkan Feronica untuk pulang ke rumah.


Semua perban dan peralatan medis sudah dilepaskan darinya. Luka yang dialaminya pun tidak begitu terlihat jelas karena sudah ditangani dan dibersihkan oleh perawat sebelumnya. Kini ia terlihat seperti biasanya dan tidak perlu membuat ibunya khawatir ketika pulang nanti.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Feronica disambut oleh ibunya, raut wajahnya terkesan penasaran akan apa yang terjadi satu hari sebelumnya.


***


-Malam hari, di kediaman Feronica-


Selesai makan malam Elisabeth akhirnya mencurahkan rasa penasaran yang ada dalam dirinya dari semenjak kemarin. Tepat ketika Feronica yang ditemukan oleh pemuda bernama Stephen.


"Apa yang terjadi? Ibu melihatmu tidak berdaya pagi tadi, dan kamu menghilang begitu saja...."


"Ahaha bukan begitu ibu, aku memang tadi kelelahan namun paginya sudah lebih baik. Ibu tahu'kan sekarang hari penting buatku?"


Elisabeth terdiam, memang ia tahu hari ini adalah kegiatan yang penting bagi para murid tingkat akhir. Mengingat para orang tua murid diberitahu oleh pihak sekolah sebelumnya, namun ia tidak menyangka di tengah kondisi Feronica yang begitu mengkhawatirkan semalam pada akhirnya putrinya itu bisa mengikuti jadwal acara sekolah dan pulang pada petang hari yang sama.


"Tapi kamu belum menjelaskan apa yang terjadi tengah malam kemarin," kata Elisabeth sembari menatapnya dengan serius.


"Yang ibu tahu hanyalah kamu yang pergi ke sekolah tanpa sepengetahuan ibu."


Para orang tua murid memang tidak diperkenankan masuk lingkungan sekolah kecuali dengan keadaan khusus. Jadi itulah sebabnya Elisabeth, ibunya tidak melihat keadaan langsung Feronica di sekolah karena memang peraturan yang begitu ketat.


Meskipun begitu Elisabeth bisa tahu bagaimana keadaan Feronica melalui pancaran energi sihir yang dirasakannya ketika berada di dekat gerbang sekolah, tepat ketika Feronica memulai pertarungan perdananya.


Dengan begitu Elisabeth bisa tahu karena energi sihir Feronica dirasakan stabil dan seperti biasanya, meskipun sulit dipercaya dan ingin sekali bertemu untuk melihat langsunt keadaan putrinya. Pada akhirnya ia menahan keinginan bertemu itu dan memilih untuk kembali ke rumah dan menunggu kepulangannya. Tepat sebelum Feronica terdesak dan kalah oleh Fredirica.


Feronica sadar tatapan ibunya berbeda dibanding yang sebelumnya, dan ia bisa menerima hal itu lagipula memang benar adanya belum menjelaskan apapun. Jadi memang inilah saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya.


"Maafkan aku ibu, aku tidak tega mengganggu istirahat ibu, jadi sepertinya akan lebih baik langsung berangkat saja."


"Soal mengapa aku bisa berada di tempat dengan rumor mengerikan itu aku hanya penasaran dan mengunjunginya untuk membuktikan rumor yang selama ini kita dengar bu...."


"Hanya ... mengunjungi?" Elisabeth terbelalak mendengar pernyataan putrinya yang seperti itu. Rasanya aneh ketika mendengarnya.


Bagaimana mungkin putrinya yang hanya satu-satunya itu mengunjungi tempat yang dirumorkan berbahaya hanya karena modal penasaran saja?


Terlebih setelah semua yang ia ketahui dan begitu mengerikannya tempat yang telah dilarang itu, putrinya tidak peduli dan hanya penasaran mengenai hal ini?


"Apa kamu bercanda Feronica?" Elisabeth memegang pundak putrinya, tangannya gemetar dengan tatapan tak percaya.


Emosi yang ada dalam hatinya bergejolak bahkan sampai ia tidak tahu lagi bagaimana rasanya. Rasa sesak, amarah, kesedihan, haru, kelegaan dirasakan semua oleh wanita paruh baya ini.


Ia tidak tahu kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada putrinya ini, rasa marah karena Feronica mengabaikan semua larangan yang ada, rasa haru sedih serta lega ketika tahu putrinya bisa kembali seperti biasa setelah kembali dari tempat terlarang itu.


Dengan semua emosi yang dirasakannya itu Elisabeth hanya menunduk perlahan ke bawah sambil memegang pundak putrinya menahan semua yang dirasakan hatinya.


Feronica melihat bagaimana raut wajah ibunya yang berubah sedemikian cepat ketika ia menjelaskan apa yang terjadi. Dalam hatinya ia ingin sekali menjelaskan apa yang memang 'sebenarnya' terjadi, namun ia berusaha untuk tidak mengucapkan hal yang lebih dari apa yang telah ia katakan ini.

__ADS_1


Feronica tahu ia pantas mendapatkan yang lebih dari ini. Ia pantas dimarahi habis-habisan atau bahkan dihukum oleh ibunya karena perbuatannya ini. Dan Feronica sudah mempersiapkan diri akan hal ini dari awal, bahkan ketika ia setuju akan memenuhi permintaan Rossa dan Fredirica.


Melihat ibunya yang emosional ini membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi, seolah ia perasaan ibunya juga tersalurkan padanya dan pada akhirnya ia sadar begitu khawatir ibunya padanya ketika ia berusaha untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya itu


"Maafkan aku bu...." Feronica mendekap ibunya dengan lembut, rasanya menyakitkan melihat ibunya yang harus merasakan hal seperti ini. Ini memang salahnya namun meskipun begitu ia bersyukur pula bisa pulang dengan baik-baik saja dari area pekuburan yang penuh rumor itu.


Setelah beberapa saat Elisabeth, ibunya jadi lebih tenang sedang pandangan matanya berkaca-kaca ia masih ingin tahu lebih lanjut mengenai hal ini.


"Ada apa bu? Apa ada sesuatu?" Feronica tahu raut wajah ibunya menandakan ia masih punya banyak pertanyaan.


"Ibu senang kamu baik-baik saja, tapi jangan sekali-kali lagi pergi ke tempat terlarang itu. Mungkin saja tidak ada orang lain yang menolongmu lagi dan itu bisa membahayakan hidupmu lebih dari ini," ujar Elisabeth dengan nada suara yang bergetar namun terdengar jelas.


"Ah tentu saja, ibu yang sudah menolongku bukan?"


Feronica yang hilang kesadaran tahu memang ibunya yang merawatnya sejak tengah malam adalah orang yang pergi menolongnya di tempat dengan rumor mengerikan itu.


"Feronica, apa kamu tidak ingat?" Bukannya mengiyakan akan pernyataan Feronica, Elisabeth kini malah baru tahu putrinya itu tidak mengingat apapun ketika dia tidak sadarkan diri di tempat terlarang itu.


"Hm?"


Feronica kira orang lain yang dimaksudkan itu adalah ibunya sendiri. Bukannya itu yang memang terjadi? Lalu mengapa ibunya terlihat serius sekarang ini? Apa yang tidak ia ketahui?


"Ada seorang pemuda yang menolongmu kemarin. Dialah yang membawamu sampai ke rumah." Elisabeth akhirnya menjelaskan ini, berusaha mencari tahu akan rasa penasarannya mengenai pemuda yang menyelamatkan Feronica.


"Pemuda? Hnmmm... apa dia seumuran denganku bu?"


"Yah dia masih muda, mungkin hanya berbeda satu atau dua tahun denganmu. Tunggu... kamu mengenalnya bukan Feronica?" Elisabeth berusaha memancing informasi yang sebenarnya. Akan lebih masuk akal baginya jika memang ia tidak kenal dengan pemuda itu, namun setidaknya putrinya itu bisa mengenalinya.


Feronica termenung, ia memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunya, tentang pemuda yang telah menyelamatkan dirinya ketika berada di tempat itu. Ia memang tahu beberapa orang pria seumuran di sekolahnya, namun ia tidak berjumpa satu pun diantara mereka di tempat itu.


Jadi sebenarnya siapa yang ibunya maksud itu? Seseorang yang dikenalnya? Apakah mungkin seorang pemuda yang mungkin saja satu sekolah dengannya? Atau bisa saja adalah orang desa yang tidak sengaja lewat di tempat kemarin?


Feronica mulai mencoba memikirkan siapa sebenarnya yang menolongnya kemarin. Ia memang tidak dikenal orang banyak, lagipula memang ia ini bukanlah orang terkenal juga sih.


Namun setidaknya ia tahu beberapa orang dan pula penampilan mereka. Jadi ada kemungkinan juga jika ada seseorang yang ia kenal membantunya sampai ke rumah saat ia kehilangan kesadaran kemarin.


Setelah beberapa saat berpikir, tidak ada yang bisa terpikirkan olehnya siapa sebenarnya pemuda yang dimaksud oleh ibunya ini.


Mengingat memang begitu kuat dan berdampaknya rumor yang ada mengenai area pekuburan itu, maka agaknya memang tidak ada orang yang pergi di waktu yang sama dengannya kemarin hari.


Kecuali satu orang. Seorang pemuda juga, namun dia tidak memenuhi syarat dari ibunya sebagai orang yang dikenalinya.


Dan- tunggu dulu ... memang ibunya mengharuskan ia tahu akan identitas seorang pemuda yang menyelamatkannya? Bukannya ibunya hanya bertanya saja tadi?


"I- ibu, bagaimana pemuda yang menyelamatkanku terlihat?"

__ADS_1


__ADS_2