Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu


__ADS_3

"Terima kasih bu...." Feronica menatap ibunya dengan penuh arti, tepat setelah mereka selesai makan malam.


"Hm? Untuk apa?" Elisabeth tidak paham akan maksud putrinya ini. Tidak biasanya Feronica mengatakan sesuatu seperti ini.


"Aku dengar ibu bertemu dengan salah seorang guru ya? Padahal kukira ibu hanya mengantar saja," jelas Feronica. Penjelasannya ini memang tidak begitu detil, namun ia tahu ibunya tetap akan mengerti akan apa yang ia maksud.


Elisabeth sedikit tersenyum. "Ah, sesekali ibu juga perlu bertemu dengan guru-mu di sekolah bukan?"


Feronica terdiam sejenak, sadar ibunya juga tidak menjabarkannya dengan detil, namun itu tidak diperlukan juga mengingat ia sudah mendengarnya dari Tuan Jack. "Ahaha...."


Feronica tidak berhenti mengamati ibunya, beliau tidak berubah sama sekali. Maksudnya adalah tidak ada perubahan sikap yang berarti bahkan setelah tahu akan kabar mengenai dirinya.


Perkataan pancingan sudah dikeluarkannya dalam rangka agar ibunya bisa semakin mendalami masalah yang memang sedang terjadi sekarang.


Feronica menyangka mungkin saja memang ibunya akan berubah sikap atau setidaknya ada hal yang berbeda terjadi sekarang pasca kabar yang sudah didengarnya ini. Namun ternyata memang tidak begitu pada kenyataannya.


Feronica tetap tidak merasa ada yang berubah, dan rasanya aneh karena memang tadinya ia tidak beranggapan akan seperti ini.


"Maaf bu... Feronica sudah mengacaukan semua...." Feronica tertunduk, dalam lubuk hatinya ia memang tidak melihat hal lain yang menyebabkan ia harus berhenti bersekolah selain karena dirinya sendiri. Dan memang pada kenyataannya seperti itu adanya.


Elisabeth menatap Feronica dengan penuh arti tanpa mengatakan sesuatu, dan seketika itu juga Feronica tahu ibunya memang tidak begitu memikirkan apa yang terjadi.


Agak aneh rasanya ketika ibunya hanya bersikap seperti biasa saja dan pada akhirnya Feronica hanya bisa termenung di meja makan, tidak terpikir apa-apa lagi.


Terasa hening sekali di rumah, bahkan dengan keberadaan ibunya tidak membuat keadaan sama seperti sebelumnya, apa itu karena ia telah kehilangan tujuannya? Kehampaan yang begitu berarti sedang dirasakannya sekarang ini.


"Tidak perlu khawatir akan apa yang akan terjadi...."


Suara Ibunya memecah keheningan yang ada di rumahnya ini, bahkan lamunan Feronica langsung buyar seketika. "Ibu akan selalu mendukungmu apapun jalan yang kamu pilih...."


Feronica bisa mendengar nada rendah namun meyakinkan terucap dari ibunya, mengapa bisa begini? Padahal dia ini sudah membuat impian mereka bersama ini hancur? Mengapa tidak menyalahkannya saja?


"Bu.... semua yang ibu lakukan untuk sia-sia... mengapa ibu masih bisa tenang?" Bibir Feronica gemetaran tidak tahan dengan emosinya yang mulai meluap. Padahal ia sangat pantas untuk disalahkan akan hal ini, dengan begitu ia mungkin akan merasa lebih baik. Namun sekali lagi mengapa ibunya masih berada di pihaknya?


"Ibu percaya padamu Feronica.... jika memang ada satu hal yang tidak kamu ceritakan, maka memang kamu tidak melakukannya...." Elisabeth menekankan perkatannya ini, ia tahu putrinya tidak pernah menyembunyikan sesuatu, atau memang jika ada maka putrinya ini pasti punya penjelasan yang lebih kuat ketimbang mendengar kabar dari sekolah langsung.


Hal ini menunjukkan Elisabeth memang memiliki kepercayaan yang kuat pada putrinya terlepas dari seberapa dalam masalah yang sedang terjadi sekarang.


Elisabeth tahu putrinya adalah seorang yang jujur, mungkin memang tidak selalu terlihat terbuka. Namun Feronica adalah anak yang baik.


Satu-satunya hal yang bisa dipikirkannya adalah memang keadaan putrinya setelah mendengar kabar seperti ini, Elisabeth tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya sekarang ini.


Jadi dalam pikirannya jauh dekali anggapan untuk menyalahkan Feronica, sebaliknya ia tetap percaya pada putrinya dan menjadi satu-satunya orang yang berada di pihaknya terlepas dari seberapa banyak ia dengar dari mulut orang.


"Lilin harapan tidak akan pernah padam... selama masih ada api padamu...." Elisabeth menatap putrinya dengan penuh pengertian- ekspresi tulus seorang ibu yang tidak memikirkan apapun selain rasa kasih sayang pada anaknya ini.


"Bu...." Tanpa terasa air mata Feronica tidak terbendung lagi, ia hanya bisa menatap ibunya dengan penuh pengertian, mendekatinya dan memeluknya. Menghabiskan waktu beberapa saat menenangkan dirinya.


*


Feronica kini hanya menatap langit-langit kamarnya di malam yang sama, pikirannya jauh lebih ringan ketimbang sebelumnya. Menangis ternyata bisa membantunya untuk meredakan perasaan yang dirasakannya ini.


'Apa yang akan kulakukan selanjutnya?' Kini batin Feronica mulai bertanya, sebuah pertanyaan yang tidak bisa ia langsung jawab seketika itu juga.


'Setelah semua yang kami lewati... hampir tiga tahun....' Feronica mengingat bagaimana pengalamannya yang sudah lalu yang memang selama ini tidak pernah diingatnya.


Apa yang ada dalam ingatannya ini memang adalah hal yang paling ingin ia tidak ingat. Namun di momen seperti ini memang tidak ada lagi yang bisa ia pikirkan selain mengingat masa lalunya ini.


'Mungkin memang keajaiban sudah berhenti berpihak padaku ya?' Feronica sedikit tersenyum sendiri, seolah memang ia menyadari sesuatu.


Feronica perlahan mengangkat tangan kanannya ke atas dan mengarahkannya ke luar, ada bulan purnama besar indah di sana.

__ADS_1


"Apa aku masih bisa menggapai mimpiku?" Feronica berbicara pelan, namun suaranya terdengar jelas ke sekitaran kamarnya.


Ibunya begitu percaya padanya apapun siatuasinya, jadi sekarang beban pikiran Feronica lebih ringan, namun tetap saja ia masih meragukan diri sendiri, berbeda dengan dirinya yang memang penuh keantusiasan sebelumnya, namun bertanya tentang hal seperti ini tidaklah salah juga.


"...." Feronica menutup matanya, tubuhnya belum lelah namun ia tetap ingin meninggalkan pertanyaan itu dalam tidurnya saja daripada ia harus terjaga sepanjang malam demi mencari jawaban akan pertanyaannya itu.


Sing....


Tak lama Feronica merasa telinganya berdengung cukup keras, memaksanya untuk membuka matanya untuk melihat suara apa yang didengarnya ini.


"Suara apa ini?" Feronica melihat keadaan sekitar, tidak ada siapapun di sini dan memang tidak ada sumber suara yang terlihat di sini, lalu suara dengung apa yang didengarnya sekarang?


"T- tolong...."


"!" Feronica mendengar semacam bisikkan seorang gadis kecil di telinganya, tapi memang tidak ada seorang pun yang berada di kamar ini selain dirinya sendiri.


"Suara gadis kecil?!" Feronica melihat ke jendela luar, dan satu-satunya hal yang menyambutnya hanyalah angin dingin yang berhembus kencang masuk ke ruangannya, tidak terasa malam sudah larut secepat ini.


HUUUUSHH!


'Mana ada gadis kecil di sini!' Feronica berusaha untuk memerhatikan apa yang tadi di dengarnya dan memang suara itu tidak hilang malahan semakin terdengar jelas.


"Hiks.... hiks...."


Suara gadis kecil itu kini malah berevolusi- maksudnya adalah berubah menjadi suara tangisan yang bisa didengarnya dengan jelas.


'Tapi aku tidak melihat siapapun di luar- memang gelap sih, tapi harusnya sih terlihat ada orang dong di sekitar sini!' Feronica berusaha untuk memerhatikan lebih teliti lagi di luar namun sama seperti sebelumnya, ia tetap tidak melihat siapapun di sana.


Meskipun tidak melihat siapapun di sekitar rumahnya, namun tetap saja Feronica tetap mendengar suara gadis kecil menangis dengan sangat jelas, seolah memang suara itu berada di dekatnya.


DEG!


Huuuussshh!


Feronica masih melangkahkan kakinya dengan cepat di tengah udara dingin ini, tergerak oleh perasaan yang sebelumnya datang padanya. 'Di mana?!'


Feronica menyusuri jalan di tengah jalan yang cukup remang-remang seperti ini, sementara ia berlari, perasaannya menguat dan ia terus melangkahkan kakinya menuruti perasaannya ini.


Beberapa saat kemudian Feronica sampai di sebuah area pepohonan, tepat sebelum area pekuburan Wolfden. Ia masuk ke area penuh pepohonan itu, suara yang ia dengar sebelumnya masih terdengar dan makin jelas seiring ia berlari masuk ke dalam area pepohonan ini.


"Gyaaa!"


SRAK!


"Apa?!" Feronica tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ini, ia melihat seorang sosok berbaju hitam rapi sedang memegang pundak seorang gadis kecil yang tengah ketakutan di sana, seolah memang ia hendak melakukan sesuatu yang tidak baik di sana.


"HM?!" Sosok berbaju hitam itu melihat ke arah Feronica dengan cukup tajam, raut wajahnya tidak terlalu ramah, penampilannya garang dengan gigi tajam yang ada pada mulutnya. Feronica sadar juga ada semacam luka pada dahi gadis kecil itu, tapi sepertinya itu bukanlah luka yang disebabkan oleh seorang pria yang garang ini.


"Baju itu...." Feronica rasanya tidak asing melihat setelan yang digunakan oleh seorang pria yang penuh amarah ini, apa memang ia pernah melihatnya sebelumnya?


"GRRRR...." Pria itu terlihat dipenuhi oleh bulu halus dengan sorot mata kuning yang tajam, baru pertama kali Feronica melihat penampilan orang seperti ini dan Feronica tidak yakin dengan penampilan seperti itu apakah masih bisa disebut manusia atau bukan.


'Makhluk dari dimensi lain'kah?' Feronica mencoba untuk menerka-nerka, baru pertama kali ia melihat keberadaan makhluk selain manusia, ternyata apa yang ia pelajari dari sekolah benar-benar bisa dilihat buktinya sekarang.


Memang banyak kemungkinan yang bisa menentukan siapa sebenarnya sesosok pria dengan penampilan seperti ini, bisa jadi bukan makhluk lain, melainkan seorang dengan kemampuan ilmu sihir tinggi yang pada akhirnya mengubah penampilannya. Siapa yang tahu? Feronica tidak bisa mengabaikan kemungkinan yang ada mengenai siapa sebenarnya sosok di hadapannya ini.


'Hawa kekuatannya...." Perlahan namun pasti Feronica merasakan aura kekuatan yang mulai meningkat datang dari pria ini, cukup aneh karena sebelumnya memang ia sama sekali tidak merasakan hawa kekuatan darinya.


'Apa dia menyembunyikannya demi melancarkan aksinya ini?' Feronica hanya bisa berasumsi seperti itu, ia sendiri tahu pria dengan penampilan berbeda ini sudah pasti bukanlah seorang dengan kekuatan biasa, jadi jika ia tidak menggunakan strategi ini maka jelas-jelas meninggalkan jejaknya. Siapapun yang menguasai energi sihir bisa melacaknya.


"Strategi yang cukup pintar tapi perbuatan ini jelas dilarang!" Feronica mencoba berkomunikasi dengan pria berpenampilan tidak biasa itu, yang malah hanya dibalas dengan erangan marah darinya.

__ADS_1


'Tidak salah lagi, suara yang kudengar sebelumnya memang berasal dari gadis ini. Tapi pertanyaannya mengapa ada anak kecil berkeliaran di tengah malam begini?'


'Aneh memang, tapi aku tidak bisa membiarkan gadis kecil ini dalam bahaya!'


"Grrrrr...." Erangan pria berbaju hitam itu makin menjadi-jadi, sontak hal ini membuat gadis kecil yang berada di dekatnya hanya bisa terisak tidak tahan dengan apa yang sedang terjadi padanya ini.


Shhhh....


'Seharusnya dengan pancaran kekuatan seperti ini sudah pasti aura kekuatannya itu akan terdeteksi oleh banyak orang, dengan begitu akan ada banyak orang yang bisa tahu akan keberadaan makhluk ini....'


Feronica teringat akan rumor kuat yang beredar di desanya itu. Dari apa yang terdengar dari mulut ke mulut, begitulah penampilan yang saat ini dilihatnya, apa mungkin?


'Dia ini memang bukan manusia... tapi manusia serigala yang digembar-gemborkan orang dahulu?' Feronica hanya bisa berasumsi sekarang, namun pada akhirnya jawaban yang sebenarnya harus diketahuinya.


"HAH!" Dengan kecepatan yang bahkan mata biasa tidak bisa lihat, pria itu berbalik arah, mengabaikan Feronica dan menerkam gadis yang tengah ketakutan itu.


Syut!


"HAH?!" Namun di momen selanjutnya, tepat sebelum jari jemari penuh kuku tajam itu mengenai targetnya. Gadis kecil yang bersandar di pohon itu menghilang entah kemana. Menyisakan raut wajah heran darinya sekarang ini.


"Adik kecil, tolong mundur. Jangan kemana-mana, sebentar lagi kita cari orang tuamu ya...." Feronica sudah berada di sisi lain, di jarak yang cukup jauh dan aman, memeluk gadis kecil yang sedang ketakutan ini.


"Hiks...." Feronica sedikit melonggarkan pelukannya, gadis kecil itu mengangguk masih merasa ketakutan, namun terlihat membaik dan kemudian menatapnya dengan penuh arti.


Puk....


"Ya adik baik!" Feronica mengelus kepala gadis kecil yang imut ini, kemudian berbalik badan dan melihat pria tadi kini sudah berada di level yang berbeda sekarang.


Apa maksudnya? Singkatnya kini pria itu memancarkan hawa kekuatan yang lebih kuat lagi bahkan sampai membuat udara sekitar berhembus cukup kencang.


Feronica hanya bisa mengamati seteliti mungkin akan setiap pergerakan yang dibuat oleh pria berpenampilan tak biasa itu, yang memang ia sudah menduga dari awal identitas pria ini.


'Aku tidak bisa membiarkan gadis ini terlibat dalam hal ini, dia tidak tahu apa-apa dan tidak layak berada di sini....' Feronica sedikit mengamati gadis kecil itu, dan seketika itu juga ia sedikit terkejut melihat ekspresinya sekarang.


Berbeda sekali dari sebelumnya, kini raut wajah ketakutan sudah mulai menghilang dan terlihat ia berusaha mempertahankan emosinya kini, menatap tajam pada pria yang tadi sudah membuatnya menangis.


Feronica merasa gemas dengan tingkah adik kecil ini, dan kini ia kembali ke urusannya sebelumnya.


"Adik kecil, bersantai saja dulu di dalam ya!"


'Sihir Tanah: Perlindungan Absolut!' Feronica menghentakkan kakinya ke tanah, dan seketika itu juga muncullah tembok besar menjulang tinggi ke atas, melebihi pohon-pohon di sekitarnya dan kemudian memanjang, melebar, dan turun lagi ke bawah membuat ruangan segi empat yang tinggi, melindungi gadis yang tadi.


"Sip-"


BUM!


Shhh....


Kepulan asap tanah langsung mengelilingi sekeliling area pepohonan ini, dalam waktu yang singkat, atau bisa dibilang sangat singkat, satu kejadian seperti ini terjadi.


"URGH!" Feronica terbentur keras ke belakang, tidak menyadari akan serangan lawannya. Kini pria itu memegang leher Feronica dengan amat keras, bahkan urat-uratnya pada tangannya terlihat jelas, serangan kejutan yang berhasil membuat Feronica terbentur dengan dinding sihir tanah buatannya ini.


'Sial!' Feronica merasa gerakannya terkunci seketika itu juga, kekuatan genggaman tangan pria ini memang di atas rata-rata.


Krrrrttt....


Gengaman tangan pria itu semakin kuat adanya dari waktu ke waktu, membuat Feronica makin tidak bisa melakukan apapun bahkan yang sebelumnya sudah sama seperti ini.


'Kuat sekali....' Feronica hanya bisa menatap keheranan akan kekuatan pria ini, kekuatan yang begitu melimpah dan semakin bertambah kuat


Apa yang bisa dilakukannya demi menghadapi musuh sepertinya!?

__ADS_1


__ADS_2