Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 28: Masih Jauh


__ADS_3

Ssshhhh....


Derrtttt....


Perlahan namun pasti pertahanan tembok Feronica yang tadinya kuat dan kokoh hancur sejadi-jadinya dan kini hanya menyisakan sedikit saja tembok pertahanan di sana.


Tembok coklat kokoh itu terlihat masih bisa beregenerasi sedikit demi sedikit, namun pada akhirnya itu tidaklah berarti karena kerusakan yang diterimanya lebih besar.


Kekuatan serangan sihir Fredirica membuat pertahanan Feronica menjadi semakin lemah dari waktu ke waktu.


Feronica akhirnya mengetahui bagaimana kemampuan Fredirica. Memanglah tidak main-main adanya, kekuatan sihirnya benar-benar kuat dan sulit diperkirakan sampai batas mana kemampuannya itu.


"Argh!" Feronica mulai terbatuk karena kelelahan mempertahankan sihir pertahanannya sendiri, keringat perlahan mulai bercucuran, wajahnya pucat karena terlalu memaksakan diri.


Namun tidak ada kata seperti itu yang boleh ada di sebuah pertarungan, Feronica tahu memang dalam hal ini hanya ada menang dan kalah. Memaksakan diri adalah salah satu cara untuk menggapai kemenangan dan bisa pula berakhir dengan kegagalan.


Memaksakan diri adalah bagian dari usaha, di mana usaha itulah yang akan mendekatkan kita ke tujuan yang akan kita tuju. Feronica tahu segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik, begitu pula dengan memaksakan diri. Namun ada kalanya di mana memaksakan diri tidak selalu berarti buruk adanya.


Feronica tidak mau memaksakan dirinya untuk menghadapi kekalahan di sini, pilihan yang dipunyainya adalah untuk tetap memberikan seluruh kemampuan yang ia punya sekarang.


'A- aku tidak boleh kalah di sini....'


'Aku harus menjadi ahli ... Sihir yang terhebat....'


Feronica mulai kembali mengingat akan tujuan awalnya, yaitu untuk menjadi ahli sihir yang terbaik dan mengangkat derajat orang tuanya, tekad itulah yang menjadikan ia bisa bertahan selama tiga tahun di sini.


Apa peduli orang-orang terhadap orang kecil sepertinya? Yang mereka lihat hanyalah begitu kecil dirinya dan sama sekali tidak berarti. Untuk itulah Feronica ingin mengembalikan derajat miliknya yang sebenarnya.


Bukan untuk menjadi seperti mereka, namun lebih kepada kekuatan untuk bisa mengatasi perbedaan status yang ada. Di mana Feronica tidak lagi berada di bawah melainkan menjadi naik dengan cara menjadi ahli sihir yang hebat.


Semua hal yang telah dialaminya sampai sekarang bukanlah sesuatu yang sekedar lewat saja, melainkan begitu banyak hal yang bisa ia petik dari pengalaman yang telah dijalani.


Drrrtt...

__ADS_1


"Uuukh...." Feronica sudah mencapai batasnya, sihir pertahanannya hancur seketika itu juga dan sihir dewa api lawannya dengan cepat mengarah padanya tak terhentikan.


"Hah! Rasakan itu Feronica! Ini sebagai balasan atas perbuatanmu tadi!" seru Fredirica dari jauh dengan nada yang meremehkan sekaligus tertawa. Wajahnya menyiratkan kepuasan yang hebat melihat lawannya yang begitu terdesak sekarang ini.


'Memang benar, aku bukanlah tandingannya ....'


'Mengapa dari awal aku yakin bisa melawannya? Padahal satu-satunya hal yang kukuasai hanyalah sihir pertahanan ini.'


'Jika aku hanya bisa bertahan maka apa gunanya? Pada akhirnya yang kubutuhkan tidak hanya itu....'


'Tapi bagaimana caranya untuk menyerang jika aku hanya bisa bertahan?'


Feronica memikirkan untuk melancarkan serangan balik, namun dengan kondisinya yang kian melemah, maka agaknya rencananya itu lebih mudah dipikirkan dibanding dengan dilakukan secara langsung.


Feronica sadar ia memang mempelajari banyak hal, namun tidak semua hal bisa ia kukuasai dengan baik. Dan itulah yang kini dipikirkannya.


Tes Kemampuan Sihir di mana ia seharusnya menunjukkan kemampuan sihir malah berujung pada hal yang sama sekali tidak ia pikirkan sebelumnya.


Pasalnya dalam benaknya yang ada hanyalah bahwa ia akan bisa menunjukkan kemampuannya dengan mudah dan bisa melewatinya dengan lancar pula.


Feronica hanya menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk menghindar dan bertahan. Energinya habis untuk melakukan itu, dan kini bertahan sampai akhir tidak bisa merubah apa yang akan terjadi.


Blugh....


Feronica terjatuh dan menutup matanya membiarkan serangan api itu terus mengarah padanya. Memang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk menghentikan serangan lawan. Jadi harus bagaimana lagi kalau sudah begitu?


DUM!


SRHHHH!


Suara dentuman keras dan asap tercipta di sana, dan beberapa saat kemudian terlihat Freiss berdiri di sana tepat di depan Feronica. Menghentikan serangan api muridnya itu dengan mudah.


Freiss adalah ahli sihir yang mengajar di sekolah yang bergengsi, tidak terlalu sulit baginya untuk menghentikan sihir muridnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian terlihat Feronica tertidur dengan wajah di bawah lantai lapangan, tak berdaya dan tidak terlihat bergerak lagi.


"Selesai! Pemenangnya Fredirica!" Freiss mengarahkan tangannya ke Fredirica dengan senyum bangga di sana, sorak para penonton pun langsung terdengar saat itu juga.


***


-Siang Hari, Pusat Kesehatan Akademi Sihir Wolfden-


"Uuuh...." Feronica membuka matanya, ia sedang berada di kasur di sebuah ruangan kecil dengan penuh peralatan kesehatan.


Ruangan Pertolongan Pertama bagi para siswa di Akademi Sihir Wolfden. Di mana area satu ruangan kecil yang terbagi menjadi banyak ruangan disediakan untuk mengatasi kebutuhan kesehatan para muridnya.


Ini berarti jika ada yang merasa tidak enak badan atau bahkan sakit dan sakit karena cidera maka mereka bisa masuk dan di rawat di tempat ini.


Feronica dilapisi perban pada bagian kedua tangannya dan pula kepalanya, rasa pegang dan nyeri dirasakannya pada kedua lengannya, dan tidak lupa pula ia merasa kepalanya sedikit berat.


"Uh...." Feronica tidak tahu sudah berapa lama ia berada di sini, sinar matahari dari jendela merangsek ke dalam membuat suasana di kamar ini menjadi cukup terang.


Beberapa saat kemudian akhirnya Feronica sadar bahwa memang tadi ia kembali tidak sadarkan diri setelah bertarung dengan Fredirica. Dan kini pastinya ia mengalami cidera dan harus berada di tempat ini.


Feronica berusaha menggerakkan badannya, namun masih terasa ngilu dan sakit. Sepertinya ia belum lama berada di tempat ini.


Ia pun masih bisa mendengar keramaian dari luar ruangan kesehatan siswa ini, mungkin banyak pula yang sedang bertugas di sini dan tak lupa pula dengan para siswa yang berada di tempat ini.


Suasana ruangan kamar ini begitu sepi, hanya ada di tirai berwarna hijau di samping yang membuat siapapun yang menyingkapkannya akan mengetahui siapa yang ada di dalamnya.


Feronica mulai merasakan efek di mana ia terlalu memaksakan dirinya. Sihir pertahanan yang dikeluarkannya begitu menguras energinya dan membuatnya kini harus terbaring di tempat ini.


Feronica sadar, mengapa ia tidak menyerah saja pada saat ia mulai terdesak tadi? Bukankah dengan itu lebih baik ketimbang harus menghabiskan waktu di tempat ini?


Mungkin saja ia bisa melihat bagaimana para siswa lain yang bertarung dan belajar banyak dengan mengamatinya. Namun kini tidak ada gunanya pula ia menyesalinya.


Keputusan yang lalu tidak bisa ia ubah sekarang. Dan kini yang hanya bisa ia lakukan adalah beristirahat dan menunggu agar ia bisa pulih kembali.

__ADS_1


Sreett....


Terdengar suara tirai hijau ruangan kamar Feronica dibuka ....


__ADS_2