
BUM!
SSSHHHH!
Setiap pukulan dan tendangan dari mereka berdua membuat hempasan angin yang kencang dan juga ledakan energi yang merusak area di sekitar mereka.
'... Dia ini benar-benar tanpa celah....' Joseph terus mencoba menggempur lawannya sembari bertahan di saat yang bersamaan, dan sejauh ini memang ia sama sekali tidak menemukan bukaan baginya untuk memojokkan lawan.
Semakin cepat dan kuat pukulan dan tendangan yang dilancarkannya, begitu pula keadaan kekuatan lawan yang dihadapinya.
Masing-masing dari mereka tidak mau memberikan celah sedikitpun, adu kekuatan fisik mereka memang sudah berada di level yang berbeda.
Keadaan di sekitar kini tak lebih dari sekedar ledakan kekuatan fisik dan juga hempasan angin yang begitu kuat, cukup berbahaya bagi siapapun yang berada di dekat mereka. Aura kekuatan yang terpancar dari mereka berdua merusak apapun yang ada di sekitar mereka.
Baru kali ini Joseph menghadapi seorang yang punya kekuatan seperti ini, dan sudah lama semenjak ia mengeluarkan kekuatan penuhnya dari awal pertarungan.
Padahal biasanya seorang akan menyimpan kekuatan penuh atau aslinya disaat-saat terakhir, namun tidak dengan yang dilakukan Joseph kali ini.
'Dari semenjak aku merasakan hawa kekuatannya dan memerhatikan bagaimana caranya bertarung, mustahil aku bertarung dengan biasa dari awal....' Joseph sadar akan hal ini, ia memang tidak bisa menyimpan kartu as-nya untuk terakhir, atau jika ia memaksakan diri maka pertarungan ini sudah berakhir dari tadi.
SYUT!
Orang berjubah hitam itu berkelit dan menghindari setiap serangan pria besar ini seolah memang dia sudah tahu pergerakannya. Namun Joseph tidak berhenti dan terus mengeluarkan kekuatan fisiknya.
"Tidak buruk! Kesombonganmu bukan hanya gertakan semata!" Orang berjubah hitam itu mengeluarkan nada yang tinggi dan terkesan puas dengan apa yang saat ini terjadi.
Kekuatan fisik mereka masih saling beradu satu sama lain, dan jika saja terjadi lebih lama maka dengan hempasan dan dentuman yang terjadi bangunan sekolah bisa menjadi korban selanjutnya.
Struktur sekolah yang kokoh pun tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi jika terus digempur seperti ini. Padahal Akademi Sihir Wolfden adalah salah satu sekolah sihir terbaik yang bisa ditemukan yang menarik banyak minat orang luar.
__ADS_1
'....' Joseph tidak punya waktu untuk memikirkan dampak apa yang bisa terjadi di pertarungan ini, ia terjebak di lingkaran serangan tanpa henti dan tidak bisa terlalu melakukan apapun.
Jika saja ia berhenti, bahkan jika sekejap saja maka sulit untuk kembali ke tingkat kekuatan yang sudah dicapainya saat ini.
Dan itu tidak akan menguntungkan baginya, yang ada malah membuat situasi lebih sulit dari yang sekarang terjadi.
Aura yang dikeluarkan oleh pria besar itu berubah menjadi kemerahan, merah yang lebih pekat dari sebelumnya dan kini hempasan dan ledakan yang tercipta pun lebih kuat dibanding sebelumnya.
*
"Aku harus menjauh dari sini...."
Feronica yang masih terjebak di antara lubang bekas retakan tadi, mulai berusaha menggerakan tubuhnya dan berjalan membungkuk perlahan demi menghindari ledakan kekuatan yang terus menerus terjadi ini.
"Haaaah... Haaah...."
Tidak terbayang jika ia harus terus berada di tempat ini, gadis itu perlahan melihat sekelilingnya, selain gelombang energi yang tercipta karena pertarungan ini, tidak ada hal lain yang bisa ia lihat sekarang.
"Sihir Tanah...."
Feronica menyentuh tanah di bawahnya dan berupaya untuk mengalirkan energi sihirnya, berusaha mencegah banyak kerusakan yang bisa terjadi di sini.
"Sihir tanah memang hanya fokus pada bagaimana cara bertahan, sepertinya cocok digunakan di saat seperti ini....' Feronica sadar, kekuatan sihir tanah tidak hanya bisa menyerang ataupula bertahan, melainkan bisa memperkuat struktur tanah hingga akhirnya tidak lagi rapuh seperti sebelumnya.
'Hanya dengan dua orang yang tengah bertarung sekarang, rasanya daerah ini jadi terkena gempa bumi... dan lama sekali....' Jika saja dibiarkan maka memang sesuatu yang gawat akan terjadi, Feronica berupaya agar hal itu tidak terjadi di sini.
Terlepas dari seberapa banyak kekuatan sihirnya sekarang, namun yang lebih penting adalah bagaimana ia mulai menggunakannya. Lebih baik mencoba dibanding tidak sama sekali bukan?
Feronica memfokuskan tenaganya, kakinya sudah terasa ringan kembali seperti biasa, dan ia pikir memang kondisinya sudah lebih baik dibanding dengan beberapa saat sebelumnya.
__ADS_1
Tidak ada salahnya mengeluarkan sihir sekarang bukan? Memang jika hanya berpikir saja tanpa bertindak rasanya sia-sia juga sih.
"... Penguatan Tanah...." Kedua tangan Feronica terasa sedikit panas, entah apa yang terjadi. Mungkin saja ini efek dari menggunakan kekuatan ketika keadaan tubuhnya seperti ini?
Tapi rasa panas yang di sini bukanlah rasa panas yang seperti ketika menyentuh sihir perlindungan sekolah, panas di sini masih dalam batas wajar. Feronica tidak terlalu tersiksa akan hal ini.
Dan ngomong-ngomong soal sihir perlindungan sekolah, Feronica baru ingat akan hal ini. Tidak akan lucu apabila memang sihir perlindungan yang notabene melindungi pada akhirnya tidak benar-benar melindungi sekolah. Pasalnya memang sihir perlindungan hanya mengatasi bahaya dari luar saja, tidak dari dalam.
Jadi sekarang keberadaannya tidak terlalu dibutuhkan, bahkan ketika bangunan akademi berada dalam bahaya, sihir perlindungan tidak akan banyak membantu.
Dan masih ada hal yang mungkin kita tanyakan, bagaimana soal bangunan akademi yang besar ini? Bukankah ini adalah sekolah sihir bergengsi yang seharusnya bangunannya juga cukup kokoh untuk menahan peristiwa seperti ini?
Yah memang jika yang dimaksud adalah peristiwa bencana alam biasa, dengan bantuan sihir perlindungan maka keberadaan sekolah ini akan aman adanya. Namun lain halnya jika memang apa yang terjadi seperti ini, bahkan bangunan dengan kekuatan sihir sekalipun ada batasnya jika digempur terus-terusan seperti ini.
Memang ini bukan terdengar seperti ada kedua orang yang tengah bertarung sembari menghancukan akademi, melainkan memang seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, aura kekuatan merekalah yang membuat suasana jadi kacau seperti ini.
'Aku tidak mungkin membiarkan sekolahku seperti ini!' Feronica menguatkan tekadnya, mengabaikan rasa panas yang ada di tangannya dan kemudian menjalar juga ke seluruh badannya.
Lingkaran sihir coklat yang ada padanya terus membesar dan perlahan namun pasti menutupi seluruh bangunan sekolah. Yang tadinya retakan banyak bermunculan pun berangsur-angsur tertutup kembali, dan bangunan sekolah tidak lagi bergoyang sedramatisir tadi (tidak dalam kondisi yang mengkhawatirkan tentunya.)
'Sihir ini butuh banyak energi, tapi tak apa! Aku banyak persediaannya!' Feronica memang tidak hentinya menyemangati dirinya dengan berbagai cara yang dibisanya. Mempertahankan sihir penguatan tempat ketika sedang digempur habis-habisan oleh aura kekuatan ini memang menjadi tantangan tersendiri.
Feronica butuh lebih dari sekedar konsentrasi dan energi sihir yang besar, melainkan juga konsistensi untuk mempertahankan dan mengimbangi energi sihir yang sedang dikeluarkannya ini. Ini penting dan bertujuan untuk mencegah kerusakan lebih banyak lagi pada bangunan sekolah ini.
Jika saja kekuatannya tidak stabil, maka sihir penguatan tempat pun tidak akan berfungsi dengan efektif, yang ada malah akan memperparah kondisi dari yang sebelumnya.
Feronica tahu ini bukanlah jenis sihir yang mudah untuk dikendalikan, memang pada awalnya mudah untuk diawali, namun lain cerita untuk mempertahankanya.
'Aku harus menjaga kestabilan sihir ini, karena kalau gagal....' Feronica sekarang terpikir mengenai hal ini.
__ADS_1
'Seluruh sekolah akan rata dengan tanah....'