
Dia diacuhkan dan tidak diakui oleh teman-temannya, bahkan dikeluarkan sekolah di tahun terakhirnya.
Untuk pertama kali setelah sekian lama simpatinya bangkit.
Dia punya alasan kuat untuk bersedih dan merenungi hidupnya, namun dia memilih menerima kenyataan, berdamai dan tetap maju….
***
Sementara itu Yelena terlihat buru-buru dengan langkahnya.
Ia tak menyangka bakal bertemu Feronica di rumahnya.
Padahal kemarin ibunya berkata dia hilang entah kemana dan tidak bisa ditemukan dimanapun….
Sret.
Akhirnya tibalah mereka di sebuah tempat terbuka hijau, tempat langganannya merenung.
“WAH!” Tak ada yang bisa menandingi ketenangan yang tempat ini berikan!
BRUGH.
Feronica merebahkan dirinya, meluapkan kekangenannya pada tempat ini.
Yelena terdiam dan melihat sekilas. Memang di sinilah ia ingin bicara dengannya.
Sejak kapan dia jadi sesantai ini? Yelena menggelengkan kepalanya, namun yang dilihatnya tetap juga sih.
Yelena mendekatinya dan terdiam.
Dia menutup matanya dan terlihat damai.
Rasanya tak ingin mengganggu, tapi ia masih belum bicara apapun dengannya/
“Hei.”
“Hm?” Feronica membuka matanya.
“WA!” Ia segera bangun minta maaf atas ketidaksopanannya.
“Hei, tak usah seformal itu.” Dirinya bukan orang penting juga.
“Ah, jadi ada urusan apa denganku?” Lagi-lagi Feronica tak basa-basi, ia sudah bukanlah murid akademi lagi dan seharusnya tak ada murid akademi yang mau berurusan dengannya.
“….” Yelena terdiam.
“….” Yah Yelena memang pendiam sih.
‘Aku harus apa?’ Yelena bertanya dalam hatinya.
Sejujurnya ini bukan rencana awalnya.
Alasan sebenarnya ia ke rumahnya hanya untuk menghibur ibu Feronica dna meyakinkannya semua akan baik-baik saja.
Namun setelah Feronica sendiri sudah datang, ia jadi bingung harus apa.
Yelena bukan tipe yang suka ikut masalah pribadi orang lain.
Namun semenjak pertarungan mereka berdua di akademi. Yelena menyadari suatu hal.
Benar, Yelena tertarik dengan gadis yang selama ini diacuhkan dan diabaikan, Feronica.
“Ibumu mengkhawatirkanmu.” Yelena menatap serius, akhirnya ia mengatakan sesuatu.
“….” Feronica terdiam, ia bisa melihat kepedulian dibalik wajah serius rekannya itu.
“Terima kasih Yelena.” Feronica tersenyum kecil, ia tak tahu pasti pergi berapa lama, namun senang ada yang memikirkannya seperti ini.
Seorang murid teladan dan panutan memerhatikannya.
Bagaimana hatinya tak berbunga coba?
Yelena terdiam, ketabahan hati terlihat jelas dari wajahnya.
Dia mungkin menghilang karena tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi.
__ADS_1
“Akulah yang sudah membuatmu keluar sekolah.” Yelena agak tertunduk, nada suaranya pelan dan penuh bersalah.
‘Apa?’ Kok tiba-tiba jadi begini?
Feronica terdiam berusaha menangkap maksudnya, dan akhirnya mengerti.
“Itu bukan salah siapa-siapa.” Satu-satunya yang bisa disalahkan … adalah dirinya sendiri.
Ia terlalu gegabah dan berambisi menang sampai membuat rekannya sendiri dalam bahaya.
“Harusnya aku yang minta maaf.” Feronica tersenyum lagi, ia sudah membuat Yelena tak bisa masuk sekolah beberapa waktu.
Yelena terdiam. Ia merasa pantas disalahkan atas apa yang terjadi padanya.
“Aku baik-baik saja kok. Tidak usah khawatir!” Feronica mengepalkan tangannya tanda semangat.
Ia merasa lebih baik setelah bicara dengan rekannya, kesedihan masa lalu tak usah diundang lagi.
Akademi masih ditutup beberapa waktu pasca kejadian yang terjadi.
Feronica masih tak menyangka Yelena mau menghabiskan waktu dengannya.
Menghabiskan waktu dengan orang hebat rasanya … berbeda.
Tapi Feronica yakin dia punya hal penting yang harus diurus. Tak baik kalau memaksa menahannya di sini.
“Terima kasih Yelena, aku—“
“Wah-wah, siapa ini?” Terdengarlah suara tak asing dan Feronica terkejut dalam diam.
“Rossa, Fredirica?” Yelena heran melihat kedatangan mereka kemari.
“….” Feronica terdiam, ia tak menyangka juga sih.
“Kenapa anak teladan bersama dengan anak buangan?” Fredirica memandang tajam.
Yah sudah pasti dibilang begitu sih.
“….” Yelena merubah air mukanya, tak senang dengan apa yang didengarnya.
“Jalan-jalan saja,” jawab Rossa apa adanya.
Itu alasan yang umum sih, akademi diliburkan sementara, daripada bosan di rumah mending main di luar.
….
Situasi jadi hening….
“Apa kau selesai? Kami ada urusan dengannya.” Fredirica terlihat tidak sabar.
‘WEH.’ Entah kenapa firasatnya mengatakan bakal jadi bulan-bulanan lagi.
Yelene terdiam. “Oh iya.” Ia memang ada urusan penting sih.
‘NAH.’ Apa ia harus kabur sekarang? Feronica tak mau hari tenangnya di ganggu dulu sih.
Fredirica tersenyum kecil. Tak lama lagi ia dan kakaknya bisa mengurus urusannya juga.
Apalagi kalau bukan membalas perbuatan Feronica dahulu?
Tap.
Yelena melangkahkan kakinya.
SRET.
“?”
Tapi malah menghadap dua orang rekannya ini!
“Apa kau bercanda?” Rossa terdengar serius.
“Kebetulan sekali urusanku … di sini.” Yelena menatap dingin, tak terpengaruh dengan apapun.
“!?” Apa ini keberuntungannya!? Feronica tak percaya!
__ADS_1
Kebetulan sekali murid teladan nan hebat ada urusan di sini!
“Kau berteman dengannya sekarang?” Rossa mencium bau-bau begituan.
“Bukan urusanmu.” Yelena tetap dingin.
Entah kenapa suasana damai berubah jadi begini. Feronica tak mengerti.
“Ye- Yelena, aku baik-baik saja.” Feronica mendekat dan meyakinkannya.
‘Kau harus lebih pintar lagi berbohong Feronica,’ batin Yelena. Ia sudah tahu situasinya bagaimana sekarang.
Feronica tak mau masalah ini melebar kemana-mana.
Memang hal begini sudah biasa terjadi.
Dari semenjak awal masuk akademi, dan sampai mantan murid pun perlakuan mereka tak berubah.
Tapi apa yang bisa diperbuatnya untuk melawannya?
Rossa dan Fredirica adalah murid terkemuka di sekolah, semua warga sekolah menghormatinya sebagai para putri ahli sihir terhebat….
‘Andai saja aku seperti mereka….’ Batin Feronica. Yah ia hanya bisa berandai saja.
Pasti enak hidup sebagai anak ahli sihir terhebat.
Namun itu hanya imajinasinya saja, Feronica tetap harus menerima apa adanya keadaannya sekarang.
“Apa kau lupa apa yang sudah dia perbuat padamu?” Fredirica terdengar tak percaya.
“Bukan urusanmu.” Yelena menghemat kata-katanya dan tetap dingin.
“Yele … na?” Kenapa dia tak terprovokasi?
Jadi ada urusan apa Yelena di sini? Feronica penasaran.
“….” Kedua saudari ini kelihatan tak senang tak segera mendapatkan keinginan mereka.
Mereka pikir bisa segera memberi pelajaran pada Feronica, namun tak disangka malah ada pengganggu begini.
Dan yang lebih mengejutkan lagi Yelena, si siswi sangat pendiam itu ada bersamanya.
Feronica masih belum tahu urusan apa, namun Yelena tetap di sini dan belum kelihatan mau beranjak kemanapun.
“Apa kau pikir kami akan berhenti?” Rossa mendekat dan menatap tajam.
Ssshhh….
Hawa hangat tiba-tiba berubah dingin. Yelena tak mengatakan apapun.
“Yelena?” Kenapa dia mengeluarkan aura kekuatan begitu?
Sudah bukan rahasia setiap orang yang mengeluarkan hawa kekuatan duluan berarti memulai sebuah pertarungan.
Sret.
“!” Yelena mengarahkan tangannya ke belakang.
‘Kenapa?’ Itu isyarat ‘menjauhlah!’ tapi kenapa? Feronica belum mengerti.
Kenapa Yelena sampai sejauh ini?
‘APA JANGAN-JANGAN!?’
BUAGHHH!!
Tinjuan dua tangan Yelena masuk telak dan menghempaskan kedua siswi kehormatan itu!
“WAH!?” Feronica tak bisa menahan kakagetannya.
Yelena terdiam. Tujuannya memang tak lain tak bukan untuk menamani Feronica dalam masalah ini.
“Ye- YELENA, ITU BERLEBIHAN KAN?” Untuk pertama kalinya setelah sekian lama akhirnya ada yang membelanya selain ibu, dan kak Stephen.
Ia senang, tapi tak perlu sejauh ini kan?
__ADS_1
Bukankah bisa dibicarakan baik-baik?