Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 134: Penasaran


__ADS_3

Baik kakaknya atau rekan lamanya, mereka sudah tidak ada di sini.


Kini keduanya melihat bekas pertarungan mereka dari jauh, yah kondisinya memang tidak terlalu bagus sekarang.


Dampak pertarungan mereka cepat atau lambat pasti akan diketahui pihak Kota Frost.


“Salahku ya?” Feronica menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Feronica berusaha meminimalkan kerusakan, namun lebih gampang membalikkan telapak tangan daripada mencegah lawan tidak merusak sesuatu.


Kini siapa yang akan bertanggung jawab atas semua kerusakan ini?


Tidak, ini bukan salahnya. Dampak pertarungan adalah hal biasa yang terjadi.


“KAK?” Entah kenapa Feronica terpikir akan suatu hal.


“Kita takkan dipenjara….” Stephen bisa merasakan kekhawatiran dari gadis ini.


Menjadi pengacau pasti ada konsekuensinya, apalagi di dekat kota para ahli sihir hebat begini.


“Tenang saja ya….” Stephen menepuk pundak gadis itu.


“O- oh.” Feronica merasa lebih tenang lagi sekarang.


Konsekuensi memang ada. Sekarang mereka tidak punya tempat untuk pulang lagi.


Mustahil meminta bantuan ke kota besar itu setelah semua yang terjadi.


Mereka bisa langsung ketahuan dan situasi bisa lebih gawat lagi.


Pulang dengan cara biasa? Mungkin saja, tapi tak ada jaminan mereka bisa sampai tujuan dengan selamat.


“Apa ini pertama kalinya kamu ke tempat ini Feronica?”


Feronica mengangguk, yah kalau bisa sih ia ingin membuat kenangan indah dulu sebelum pulang.


“Kenangan di penjara mau?”


“TIDAK, TERIMA KASIH.” Bisa-bisa ibunya khawatir dong ya!


Eh ngomong-ngomong soal itu, ia tak berpamitan mau pergi jauh juga sih, duh semoga ibu nggak khawatir di rumah.


Stephen terdiam. Kalau begitu tak ada harapan untuk menggunakan sihir teleportasi ya.


Salah satu syarat menggunakan sihir teleportasi adalah pernah berada di tempat yang ingin di tuju.


Stephen bukan ahlinya di jenis sihir ini, namun tak ada salahnya kalau dicoba.


Dengan cepat Stephen bersila, menutup mata dan memfokuskan pikirannya.


“?” Feronica memiringkan kepalanya penasaran dengan apa yang dilakukannya.


Stephen terlihat serius, yah wajar saja mengingat ini soal keselamatan gadis yang sedang bersamanya.


Ia takkan memusingkan hal ini kalau ia hanya sendiri di sini.


Namun nyatanya ia membutuhkan Feronica dan dia selalu datang untuknya.


Rela untuk terjun di masalah pribadinya, padahal dia punya banyak hal untuk diurus.


Ia tak mau terus merepotkannya seperti ini!


Swush.


Angin kecil muncul di tengah konsentrasinya. Yang menandakan ia benar-benar serius.


SRING.


“!” Muncullah cahaya biru di bawah kaki mereka!


“….” Feronica akhirnya tahu apa yang terjadi di sini.


Tak lain tak bukan kak Stephen sedang berusaha membuat jalan agar mereka bisa pulang.


“YEAH.” Feronica sedikit mengangkat kedua tangannya, ia berharap semua berjalan sebagaimana mestinya.

__ADS_1


Ia tak bisa membantu apapun, tapi ia jelas mendukungnya dari dalam lubuk hatinya!


HUSH….


Hempasan angin makin kencang, dan raut wajah Stephen makin terlihat serius.


“….” Feronica terdiam, memang sihir pemindahan tempat lebih rumit dan sulit dari yang kedengarannya. Bahkan kak Stephen saja terlihat berusaha keras melakukannya.


Sudah bukan rahasia lagi tingkat kesulitan sihir ini akan meningkat seiring dengan jarak tempuh yang harus dilalui, dan Feronica yakin di situlah letak masalahnya.


KRAK!


TRANG!


Lingkaran sihir kebiruan itu retak, pecah dan menghilang….


Tempat pulangnya jauh dari sini….


Stephen berdiri lagi. “Maaf aku tak berguna.” Ia agak tertunduk.


Sudah menyusahkannya, sekarang tak bisa membantunya pula, ironi sekali.


Stephen malu pada dirinya sendiri.


“Hei, kak, dunia belum berakhir.” Feronica menatapnya dengan seksama.


Selama masih ada di dunia, harapan masih ada.


Stephen pantas disalahkan dengan apa yang terjadi.


Feronica seharusnya menyalahkannya akibat tak bisa berguna di sini. Mungkin dengan begitu perasaannya akan membaik.


‘WAH.’ Kak Stephen keterusan murung.


Gret.


“Kak. Kita akan melewati ini bersama.” Feronica memegang tangannya lembut.


“….” Stephen perlahan mengangkat kepalanya, masih malu, tapi apa boleh buat.


Yah pria juga bisa malu-malu kucing yah?


Stephen tersenyum kecil, ia tidak dapat apa yang diinginkannya, namun jauh lebih baik dari itu.


Feronica percaya padanya, ia harus menjawab rasa percayanya itu dengan melakukan yang terbaik.


“Feronica….”


“Hm….?” Feronica masih tersenyum sembari menutup matanya.


“Tandamu….”


“?” Feronica membuka matanya dan melihat tangannya.


“WAH!” Masih nyala merah!


Kok bisa? Padahal biasanya hilang sendiri!


“K- kak….?” Feronica gemetaran, entah kenapa jadi tiba-tiba takut.


“Te- tenang saja!” Stephen memegang pundak gadis itu, berusaha menenangkannya, semua akan baik-baik saja.


Feronica bergetar hebat, perasaannya tidak bisa dibohongi.


“Aaaah!” Gadis itu berteriak cukup kencang.


“FERONICA!? He- hei!” Stephen berusaha menenangkannya, namun apa daya, gadis ini malah terus berteriak dan meronta.


‘APA JANGAN-JANGAN!?’ Gara-gara tanda merah ini!?


Stephen terdiam. Tak ada kemungkinan lain yang bisa menjelaskan hal ini.


Setelah semua yang terjadi sebelumnya….


Feronica terlalu banyak menggunakan kekuatannya….

__ADS_1


Meski hanya dugaan, namun entah kenapa Stephen benar-benar yakin itu yang terjadi.


Buktinya sudah jelas, gadis ini mengalahkan rekan lamanya dan kakaknya sekaligus….


Apa selesai di situ?


Sayangnya tidak, Stephen yakin ada harga yang harus dibayar dengan semua kekuatan yang dikeluarkannya itu.


“Aaah….” Feronica nampak kesakitan dan tumbang dipangkuannya.


Entah apa yang dirasakannya namun hanya dengan melihatnya saja kita seolah bisa merasakan sakitnya.


“Kenapa….?” Kenapa dia memaksakan dirinya sampai begini?


“….” Stephen merasa seperti orang bodoh dengan menanyakan hal ini.


Gadis ini tak punya pilihan lain selain melakukannya.


Memangnya apa yang bisa diperbuatnya kalau tak ada dia?


Sudah pasti tumbang dihadapan rekan lamanya dan semuanya berakhir di situ.


Namun gadis ini, menyelamatkannya, tak hanya sekali….


Bahkan dari awal pun, ia sudah diselamatkannya….


Stephen terdiam, emosinya dalam dirinya mulai membesar.


Tekad dalam dirinya menguat, bukan saatnya berpikir, tapi saatnya melakukan!


SSSHH….


Pancaran energi tercipta, Stephen tahu ia bukan makhluk yang asing dengan tanda ini, ia tahu apa yang dilakukannya dan berharap Feronica kembali membaik.


….


Tak terasa waktu terus berjalan. Dan pada akhirnya keindahan matahari sore bisa dinikmati sekarang.


“Uuuh….” Feronica membuka matanya, kepalanya terasa berat.


Ketiduran kah?


Ngumpulin nyawa dulu sebelum bangun….


Dan gadis itu pun bangun.


“EH!?” Ada kak Stephen yang sedang tidur duduk!


Jadi ia tidur dipangkuannya!?


Feronica memalingkan wajahnya.


‘Bu- bukannya tidak sopan ya?’


‘Kak Stephen baik sekali!’


Padahal biarkan saja ia tidur di tanah.


“Oh, sudah sore.” Tak terasa ya.


Ia melihat tangannya, tak ada tanda merah mengerikan….


‘Apa aku pingsan ya?’ Feronica ingat lagi rasa sakit tak karuan yang dirasakannya sebelumnya.


“Hmm….” Kini pemuda ini yang membuka matanya. “Feronica, bagaimana keadaaanmu?”


“Su- sudah lebih baik kak.” Entah kenapa kak Stephen kelihatan capek.


“….” Feronica terdiam, rasanya ada yang aneh.


“Kak, tolong tunjukkan tanganmu.” Feronica terdengar serius.


“Eh?” Stephen terdiam sejenak. Seolah tidak menyangka gadis ini akan memintanya begini.


Feronica menatap serius, ia punya alasan kuat kenapa menanyakan soal ini.

__ADS_1


__ADS_2