Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 38: Akhir


__ADS_3

'A... aku bisa menahannya?' Feronica terdiam melihat sihir pertahanan terbaiknya itu tidak hancur seperti sebelumnya, malahan tetap kokoh dan tidak banyak berubah dari sebelumnya.


'Apa serangannya itu sudah berakhir?' Feronica tidak lagi merasakan tekanan dari luar, yang kemungkinan besar itu berarti satu hal, serangan Rossa sudah berakhir di sana, namun tidak menutup kemungkinan Rossa bisa saja melakukan trik lain yang mengejutkan. Itu sebabnya Feronica masih bersiaga demi menghadapi kemungkinan yang bisa terjadi.


Feronica sadar ia tidak merasakan kelelahan yang berarti padahal ia sendiri tahu serangan sihir Rossa sudah berada di level yang berbeda, namun meskipun begitu Feronica berusaha percaya pada kekuatannya sendiri yang berbuah ia bisa menahan serangan Rossa sepenuhnya.


'Mungkinkah ini karena tekadku?' Feronica mulai bertanya-tanya dalam hatinya akan mengapa ia bisa menahan serangan Rossa yang kekuatannya begitu besar itu.


'Ah tapi sepertinya tekadku waktu itu dan sekarang sama saja deh....' Feronica sadar ternyata ia tidak merasa ada perbedaan yang signifikan mengenai kekuatan tekad yang dimilikinya itu. Pasalnya memang tekad dulu dan sekarang miliknya memanglah kuat.


Jadi jika begitu dari mana Feronica mendapatkan kekuatannya itu? Feronica masih yakin dengan tekadnya maka ia bisa melakukan apapun. Namun kenyataan sesungguhnya dibalik kejadian ini belum terungkap sepenuhnya juga.


Beberapa saat kemudian Feronica merasakan hawa bahaya yang tadi begitu terasa perlahan mulai menghilang sampai di tahap di mana Feronica tahu tidak ada serangan tambahan atau trik lain yang dilancarkan oleh Rossa padanya.


Feronica perlahan bangkit berdiri dan bersamaan dengan itu sihir tembok besarnya bergetar hebat dan tanah yang menjulang itu kembali masuk ke bawah.


Seperti dugaannya Feronica melihat ternyata Rossa dan Fredirica kini sedang berdiri berdekatan menghadapnya tanpa melakukan sesuatu yang berarti, dengan kata lain firasatnya benar juga kali ini.


"Sudah kuduga ada yang kau sembunyikan...." Rossa menatap Feronica dengan tajam, ekspresinya terlihat serius seolah ia telah menyadari sesuatu.


"Ternyata perkataan Kakak benar." Fredirica menatap Feronica dengan tak jauh berbeda dengan kakaknya, pandangan kedua orang ini membuat Feronica tidak merasa nyaman.


"Sudah cukup bukan? Aku mau pulang dan istirahat...." Feronica melihat keadaan mulai gelap dan hanya ada penerangan di sekitaran area lapang saja, yaitu obor besar pada keempat sudut lapang luas itu.


Feronica hanya ingin pulang ke rumah dan beristirahat, sebisa mungkin menyiapkan kekuatannya demi Tes Kemampuan Sihir susulan yang akan dijalaninya.


"Kau tidak akan pulang sebelum memberitahu kami apa yang kau sembunyikan."  Rossa mengangkat satu tangannya. "Sihir Api: Bola Api!"


Seketika itu juga lingkaran sihir merah besar muncul dari tangan Rossa mengeluarkan kekuatan sihir dengan daya hancur yang tinggi.

__ADS_1


Feronica melihat ke arah serangan bola api raksasa yang semakin lama semakin dekat itu, ia mengangkat sebelah tangannya pula bersiap menerima serangan temannya itu. "Sihir Tanah: Perisai Batu!"


DRRRRTTTT....


Seketika itu juga muncullah perisai dengan ukuran cukup besar yang ada di tangannya, sihir tanah yang dikeluarkannya kali ini tidak jauh lebih hebat dari sebelumnya, namun Feronica sudah memperhitungkan hal ini sebelumnya dan ia tahu sihir seperti ini seharusnya sudah bisa membuat serangan bola api itu melamban.


BUM!


SHHHS!


DRRRTTTT....


Sihir api bola besar itu bertubrukan dengan perisai tanah milik Feronica, getaran yang cukup kuat langsung terasa di sana, beberapa saat kemudian serangan bola api itu terhenti, namun kali ini perisai tanah Feronica hancur setengahnya, Feronica menurunkan tangannya dengan perasaan tenang.


Pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa dilakukannya untuk meyakinkan kedua temannya itu, sampai sekarang Feronica heran apa yang sebenarnya mereka berdua inginkan darinya? Bukankah mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan? Ia sudah mengerjakan tugas mereka, melakukan perintah konyol dan banyak lagi, dan sekarang apa lagi?


"Apa?" Feronica terkejut mendengar perkataan temannya itu, sontak ia melihat kedua tangannya sendiri.


"Ta- tanda ini?" Mata Feronica terbuka lebar, tak percaya dengan apa yag dilihatnya ini, mengapa ada tanda yang sama muncul lagi kali ini?


"Feronica, tak kusangka kau memiliki hal yang aneh." Fredirica ikut mengomentari ap ayang dilihatnya soal Feronica, ia yang tadnya sempat meragukan cerita kakaknya kini sudah melihat sendiri soal apa yang dibicarakan oleh kakaknya itu.


"Kenapa ada tanda ini lagi?" Feronica melihat dari tangan dan kakinya penuh dengan tanda seperti api merah yang bercahaya, tanda yang sama yang dilihatnya ketika di rumah dulu.


Feronica tidak menyadarinya dari awal karena terlalu fokus pada pertarungannya dengan kedua temannya itu.


'Mengapa di saat seperti ini?' Feronica tidak mengerti mengapa tanda aneh yang mengkhawatirkan itu muncul kembali di saat seperti ini.


"Apa lagi yang bisa kau sembunyikan sekarang?" Tanpa bisa diduga siapapun Rossa bergerak sangat cepat mendekati Feronica yang masih kebingungan di sana.

__ADS_1


BUAGH!


Serangan tinjuan Rossa mengenai dengan telak pada pipi Feronica, membuat gadis itu melayang sejenak di udara.


Brugh....


"Uuuuh...." Feronica tidak lagi bisa fokus setelah tahu tanda aneh itu muncul kembali, dalam benaknya mulai berkecamuk hal-hal yang menggangunya saat ini.


Tanda api perlahan namun pasti mulai menghilang, sedikit demi sedikit sampai di titik di mana Feronica tidak lagi merasakan perasaan sensitif yang sebelumnya ia alami itu.


'Aku tidak bisa lagi merasakan hawa serangan Rossa... dan lagi tanda aneh ini sudah mulai menghilang lagi....' Feronica makin bingung dengan apa yang terjadi kali ini, namun setidaknya ia tidak perlu lagi memikirkan akan tanda aneh itu lagi.


"Lihat kak dia berusaha menyembunyikannya dari kita." Fredirica mengamati memang tanda aneh yang ada pada tubuh Feronica menghilang adanya. Tepat ketika ia dan kakaknya berusaha untuk mengetahui kebenaran yang ada.


Feronica tidak punya kesempatan untuk menjelaskan hal ini dari awal. Apapun yang ia katakan selalu berujung pada penolakan kedua temannya itu.


Feronica berusaha bangun namun entah mengapa tubuhnya terasa lemas setelah menerima serangan Rossa tadi. 'Sial, serangan Rossa benar-benar kuat....


Feronica sedikit menggerutu di dalam hatinya seraya berusaha berdiri dengan segenap kekuatannya. 'Sekarang bagaimana aku bisa lepas dari situasi ini?'


Feronica tidak melihat ia punya kesempatan menang dengan cara kekuatan ataupun membujuk agar mereka berdua tidak lagi memojokkannya, jadi sebaiknya apa yang harus dilakukannya sekarang?


"Astaga aku tidak terpikir apapun...." Feronica tidak melihat adanya ide datang ke dalam benaknya, yang ada malahan ia menjadi was-was akan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Feronica, kuharap dengan ini kau akan membeberkan apa yang kau sembunyikan selama ini!" Fredirica mengarahkan satu tangannya ke depan, diikuti dengan kakaknya yang melakukan hal yang sama.


Keringat perlahan menetes dari pipinya, pandangan matanya sayu melihat ke depan, ia tidak percaya akan apa yang akan dilakukan oleh mereka berdua.


"Sial, aku tidak mau berakhir di sini...."

__ADS_1


__ADS_2