
Ke area lapang? Feronica akhirnya tahu bahwa ternyata Tes Kemampuan Sihir bukanlah tes tertulis yang dilakukan di kelas. Lalu apa yang akan mereka lakukan di lapang Akademi nanti?
Feronica mulai memikirkan kemungkinan akan apa yang dilakukan nanti, namun diantara berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Ia rasa mungkin saja Tes Kemampuan Sihir adalah rangkaian tes praktik yang berdasar pada teori yang telah mereka pelajari di buku ajar sihir masing-masing.
Bu Guru Freiss keluar kelas setelah mengatakan perintahnya, diikuti dengan Feronica dan para murid lain, menuju ke area lapang di mana area yang cukup luas yang biasa di gunakan untuk olah raga dan juga kegiatan lainnya.
Setelah sampai di area lapang yang cukup luas, para murid tingkat akhir kelas 3A berkumpul di salah satu area bersama dengan Freiss, guru mereka.
Tidak hanya ada Feronica dan rekan kelas 3A saja di sana, melainkan banyak juga kelas tingkat akhir lain yang juga berkumpul bersama dengan guru mereka masing-masing.
Terlihat para murid tingkat akhir dari kelas 3A sampai 3C ada di sana. Suasana di pagi hari ini begitu bersemangat dan memang membuat siapapun yang berada di sini akan merasa tertarik untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hal yang sama yang dirasakan Feronica saat ini, ia begitu bersemangat dan penasaran akan acara yang segera di mulai ini.
"Kita akan langsung saja memulai Tes Kemampuan sihir. Tolong persiapkan diri kalian masing-masing dan berkumpullah di area yang sudah ditentukan di sana." Freiss menunjuk sisi pinggir lapang, menyuruh para muridnya.
Feronica heran mengapa belum juga dijelaskan apapun mengenai acara kali ini. Rasa ingin tahu menggelitik batinnya saat ini.
Namun hanya waktu yang benar-benar bisa menjawab pertanyaannya itu, segera setelah diperintahkan oleh gurunya Feronica dan teman-temannya yang lain segera berkumpul di area pinggir lapang sekolah mereka ini.
Semuanua duduk dengan tertib sesuai dengan kelas masing-masing. Setiap guru dari kelas yang berbeda memberikan perintah yang sama ternyata.
Setelah semua murid berkumpul dengan tertib, pada akhirnya para guru pun berkumpul dan Freiss kemudian berdiri di tengah menatap para siswa dan siswinya dengan serius.
Tatapan Feronica hanya tertuju pada gurunya itu, situasi kini menjadi hening dan yang terdengar hanyalah hilir angin dan rasa dingin yang dibawa olehnya.
"Tes Kemampuan Sihir ini akan menguji seberapa besar kalian telah berkembang di sini. Jadi pastikan memberikan yang terbaik." Freiss mulai memberikan penjelasannya memecah keheningan yang tercipta tadi.
"Kalian akan dipasangkan satu lawan satu, dan akan bertarung satu sama lain di tempat ini.... "
"...."
Feronica terdiam, hal yang memang tidak disangka olehnya dan di saat yang bersamaan ia terpacu untuk memberikan semuanya yang terbaik.
__ADS_1
Segera setelah penjelasan berakhir, para murid pun mengobrol satu sama lain membahas akan apa yang telah mereka dengar itu.
"Hei jangan sampai kalian bertarung denganku, aku terlalu kuat heheh!" ucap salah satu siswa kelas lain dengan keras. Kepercayaan diri yang sungguhlah tinggi sampai-sampai Feronica tidak tahu apakah itu hal bagus atau tidak.
Memetik dari apa yang telah dijelaskan oleh Bu Guru Freiss tadi, Feronica tahu aturan main dari acara ini cukup sederhana. Yaitu setiap murid dari tingkat akhir akan dipasangkan dengan bebas satu sama lain dengan tujuan menunjukkan kemampuan sihir masing-masing.
Dan bagaimana cara melihat menang dan kalah? Cukup sederhana pula, pertarungan dilakukan dengan adil dan akan selesai apabila salah satu pihak menyerah kalah.
Pertarungan akan dihentikan apabila ada situasi yang berbahaya terjadi. Feronica masih ingin mengetahui apa maksud sebenarnya dari hal itu, namun Freiss tidak memberikan penjelasan yang lebih dari itu.
Jadi dalam kata lain Feronica dan para murid memang belum tahu sejauh mana mereka bisa bertarung satu sama lain.
Dengan peraturan sederhana ini Feronica tahu ini memanglah berbeda ketimbang pelajaran yang telah diterimanya selama dua tahun kebelakang. Rasanya ia telah berada di level yang berbeda sekarang.
Para guru pun berdiskusi di tengah sana, mengatur bagaimana mereka akan memasangkan setiap anak murid dan setelah beberapa saat akhirnya keputusan pun di buat.
Para murid yang mendengarkan dari jauh tak bisa mendengar dengan jelas apa yang tengah didiskusikan oleh para guru mereka itu.
Beberapa saat kemudian, Guru Freiss diam di tengah lapang sedang para guru lainnya berpindah tempat, berdiri di pojok lapang tak jauh dari para murid yang tengah berkumpul.
"Awoohhh!" Para murid sangat bersemangat dan memberikan sorak tepat setelah pengumuman pertandingan pertama itu dilakukan.
"Apa?" Feronica cukup terkejut karena ia mendapat giliran pertama dan terlebih lagi lawannya itu adalah orang yang selalu berurusan dengannya.
Padahal ia pikir sebelumnya ia akan dapat giliran yang terakhir karena memang ia bukanlah dari kalangan atas seperti yang lain, jadi bilamana ia dapat giliran terakhir pun maka tidaklah masalah.
Namun kini perkiraannya itu kurang tepat. Yang ada ia malah mendapat giliran pertama dan terlebih lagi ia tidak terpikir untuk melawan seorang seperti Fredirica.
Fredirica tersenyum kecil di antara banyaknya murid lain dan segera melangkahkan kakinya ke tengah lapang menghampiri guru Freiss yang menjadi pengawas Tes Kemampuan Sihir hari ini.
Di sisi lain meskipun Feronica tidak menyangka akan bertarung dengan Fredirica, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan pula bangkit melangkahkan kakinya pula ke tengah lapang, Fredirica sudah menunggunya di sana.
Keduanya bertatapan, Feronica bisa melihat dengan jelas tatapan tajam yang terlihat dari lawannya saat ini, tidak jauh berbeda dengan selama ini yang ia lihat. Hanya saja kini ia akan benar-benar 'melawan' nya.
__ADS_1
"Persiapkan diri kalian...." Freiss mengulurkan tangannya ke atas, tanda aba-aba yang diberikan untuk kedua orang yang akan bertarung satu sama lain sekarang.
"Hhhhmm.. huuuuhh...." Feronica berusaha mengatur pernafasannya sendiri agar merasa lebih tenang, ingatan intimidasi kini mulai berdatangan menghalangi fokusnya di waktu yang penting ini.
Feronica tahu setiap kali ia melihat Fredirica dan kakaknya, Rossa tentunya ia merasa sedikit takut. Mengingat perlakuan mereka berdua tidaklah mencerminkan teman yang sesungguhnya.
Yang ada Feronica malah meragukan apa definisi teman itu, apakah itu hanyalah sekedar perkataan belaka ataukah memang ada arti yang lebih daripadanya?
Namun bagi Feronica sendiri, ia tetap menganggap mereka berdua adalah temannya. Mengingat terlepas dari setiap perlakuan mereka yang kurang mengenakkan itu, mereka tetap berjasa baginya.
Mengapa begitu? Feronica bisa bersekolah di sini bukanlah hanya karena keajaiban belaka, namun dibalik semua itu ada usaha yang dilakukan oleh orang tuanya. Ibunya sendiri.
Elisabeth, ibunya memiliki keahlian menjahit yang hebat, dan pekerjaannya itu ia lakukan dengan sepenuh hatinya yang membuat hasilnya pun sepadan dengan usahanya itu.
Untuk bersekolah di Akademi Sihir Wolfden, sekolah sihir yang bergengsi tentu memerlukan biaya bukan? Jadi bagaimana cara ibu Feronica membayar semua itu?
Sepertinya kita sudah tahu jawabannya dari awal tadi, bahwa memang semuanya hasil kerja keras Elisabeth sebagai penjahit yang ahli dan pekerjaannya disukai banyak orang.
Salah satunya oleh keluarga Rossa dan Fredirica. Temannya yang seringkali membuat hatinya tak karuan itu secara tak langsung membantunya membiayai sekolah yang saat ini dijalaninya.
Mengapa begitu? Karena pekerjaan menjahit yang didapat Elisabeth banyak datang dari mereka berdua, sebagai kalangan atas dengan ekonomi yang kuat.
Menggelontorkan dana yang lebih demi hasil yang memuaskan tentulah hal yang seimbang bukan? Maka kedua belah pihak akan menerima keuntungan dari kerjasama yang telah dijalin sebelumnya.
Bisa dibilang sumber penghasilan utama Elisabeth adalah dari Rossa dan Fredirica yang setia memakai jasanya dan pula memberikan upah yang sesuai.
Jika saja mereka tidak menggunakan jasa Elisabeth maka apa yang akan terjadi? Bagaimana cara wanita paruh baya itu membayar sekolah anaknya dan biaya lain sepanjang waktu?
Feronica sudah tahu akan kenyataan ini, maka dari itu seberapa ia tidak suka pada Rossa dan Fredirica namun tetap saja dengan mengingat hal itu ia tidak bisa lagi menyalahkan sepenuhnya apa yang mereka perbuat selama ini.
Memanglah kalangan atas bisa memerintah kalangan bawah dengan halus ataupun dengan cara yang lebih dari itu. Feronica belajar berdamai dengan statusnya dan menerima diri apa adanya selama menuntut ilmu di tempat ini.
Maka dari itu semuanya mengarah pada sekarang. Di mana Feronica harus melawan seorang yang ia segani dan tentunya yang agak ditakutinya.
__ADS_1
Apa yang akan dilakukannya demi mencapai hasil terbaik dari pertarungan pertamanya saat ini?