Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 110: Pertanyaan Lagi


__ADS_3

'Aku harus bagaimana....?' Feronica bertanya pada dirinya sendiri, rasanya jawaban dari pertanyaan itu begitu jauh dari pikirannya.


Tangan kanan Feronica sedikit bergerak di tanah, pada akhirnya setelah beberapa saat tertelungkup di tanah, ia tidak benar-benar bisa mengabaikan apa yang dirasakannya sekarang.


Yang di mana ia pikir lebih baik untuk mengabaikan apa yang ada di sekitarnya, termasuk apa yang dirasakannya sendiri. Maka dengan itu mungkin beban hatinya bisa berkurang.


Namun di saat yang bersamaan ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri juga.


Rasa dingin mulai merasuk dalam tubuhnya, dan juga hilir angin semakin terasa kencang. Siapapun akan merasa tidak nyaman berada di situasi seperti ini.


Memang jauh lebih baik jika ia terbaring di kasur ketimbang tempat yang sekarang di datanginya. Dan dengan begitu ia bisa mengabaikan apapun sesukanya tanpa gangguan siapapun.


Namun Feronica sudah memilih pilihan, dan inilah pilihannya itu.


"Ada apa?" Tiba-tiba terdengar suara laki-laki di sini, seolah keberadaannya memang tiba-tiba muncul juga.


Feronica bisa mendengar jelas siapa yang berbicara itu, dan ia masih tertelungkup tidak heran lagi mendengar kehadiran seseorang dengan tiba-tiba.


Dalam benaknya sudah terpikir siapa yang datang tiba-tiba ini, bahkan ketika suara hujan terdengar cukup keras.


Pikirannya tidak penuh hingga pada akhirnya ia tidak lagi peduli apapun, dan di saat seperti ini memang lebih enak untuk mengabaikan apapun. Namun ia masih bisa membatasi perasaan pribadinya dan juga kelakuannya sekarang.


Jadi untuk apa ia mempertahankan egonya di sini? Apa yang ia lakukan sekarang sepadan dengan hasilnya nanti?


Siapapun tahu jikalau terbaring di tanah rumput kotor di tengah hujan deras tidak akan berakibat baik pada tubuh.


'Kenapa kakak ada di sini?'


Feronica perlahan bangun dari rerumputan basah sembari bertanya dalam hatinya mengapa rekannya datang kemari. Wajahnya basah dan tanah pun banyak menempel di sana. Dan di seluruh tubuhnya juga.


Kini penampilan Feronica berubah drastis dibanding sebelumnya, semua persiapannya tadi pagi seolah tidak ada artinya karena dalam waktu singkat semuanya memang berubah.


Bajunya yang begitu indah dan menarik sebelumnya berubah menjadi kain yang terselimuti kotoran tanah, terlalu jelas perbedaan yang bisa terlihat di sini.

__ADS_1


Feronica perlahan mengangkat kepalanya, ternyata ada kak Stephen yang juga datang tempat ini, tanpa memakai payung. Dia datang dengan basah-basahan sama sepertinya.


Untuk apa dia datang kemari? Dan mengapa ia datang di saat ia ingin sendiri? Mengapa datang saat keadaannya seperti ini?


Di saat orang lain datang ketika ada sesuatu yang baik terjadi di hidup, namun Kak Stephen berbeda, dia malah datang di saat ia sedang dalam keadaan tidak baik.


Feronica pikir mungkin rekannya itu akan datang dengan payung, membantunya berdiri, memayunginya dan kemudian berjalan di bawah payung yang sama. Mungkin dengan begitu ia bisa sedikit terhibur, namun ternyata tidak seperti itu adanya.


Apa mungkin kejadian seperti itu hanya terjadi di komik dan novel saja ya?


"...." Feronica hanya tersenyum kecil di bawah sorot matanya menatao tepat Stephen yang sedang berdiri, dan kemudian tertunduk lagi, ia berbicara lewat ekspresi wajahnya saja dan kini kembali terduduk di tanah.


Ia tidak tahu alasan mengapa Kak Stephen bisa ada di sini. Namun yang pasti dengan kedatangannya itu, membuatnya punya alasan untuk tidak berbaring di sini seharian. Karena dari awalnya ia memang tidak punya rencana lain lagi.


'Aku tidak akan pergi kemanapun....' Feronica sudah mengeluarkan pengecualian untuk hal ini. Memang ia sadar akan apa yang terjadi, namun apapun yang terjadi ia tetap memegang  keinginannya sendiri. Yakni terus berada di tempat ini.


Apakah alasannya? Meski sudah sadar akan begitu menyusahkan dan tidak mengeenakan situasi yang sekarang terjadi, mengapa Feronica memiliki tekad seperti ini? Hanya Feronica yang tahu jawabannya.


JDER!


Suasana di lapangan rumput luas ini tidak mendukung siapapun yang berada di luar sekarang. Bahkan sepertinya tidak lama lagi akan terjadi hal yang lebih mengerikan lagi.


Dan kini kita pasti bertanya-tanya bukan? Hal apa yang sebenarnya bisa terjadi setelah cuaca yang seburuk ini?


"Badai akan datang... mari kita pulang...." Stephen menepuk pundak rekannya demi menyadarkannya. Stephen sudah mengamati ini dari awal, bahkan semenjak pagi pun ia sudah bisa merasakan apa yang terjadi di langit akan seperti ini.


Feronica diam tak bergeming, bahkan setelah tepukan yang cukup keras pada pundaknya tidak cukup untuk menyadarkannya.


Stephen tidak berhenti di sana, ia memegang tangan Feronica, berencana untuk membawanya dengan paksa, karena memang cuaca seperti ini tidak bagus bagi seorang muda seperti Feronica.


"Diam."


"!" Tepat ketika Stephen berupaya mengangkat tangan Feronica dengan paksa dengan maksud membuatnya berdiri, akhirnya sepatah kata muncul juga dari mulut gadis ini.

__ADS_1


Nadanya begitu dalam dan berat, sedikit parau, mungkin karena efek dari sudah beberapa saat ia berada di tempat ini, yang menyebabkan suaranya juga sedikit berubah.


Stephen terdiam, ia tidak menyangka rekannya bersikeras untuk diam di luar seperti ini. Yang dimana air berjatuhan dengan banyak, cepat, dan juga terasa keras ketika mengenai tubuh, dan jangan lupakan soal angin yang bertambah kencang. Bahkan membuat posisi duduk Feronica sedikit tergeser ke depan, dan juga memaksa Stephen untuk bergeser juga.


Akan berbahaya bilamana tetap dibiarkan seperti ini. Stephen sendiri tidak menyangka cuaca bisa seekstrim ini ketika berada di desa kecil ini.


Setiap momen yang berlalu seolah menjadi titik di mana hujan semakin deras dan angin semakin kecang terus menguat. Itulah alasan Stephen memkasa Feronica agar meninggalkan tempat ini.


Stephen memandangi Feronica yang sedang terduduk di bawah, memang ia bisa tahu gadis ini tidak begitu lagi peduli akan apa yang terjadi.


Stephen bisa merasakan aura kekuatan Feronica tidak stabil yang artinya meskipun tadi wajahnya bisa tersenyum, tapi hatinya berkata lain. Dan perkataannya pula yang tadi didengarnya berbanding terbalik dengan eskpresi wajah yang tadi dimunculkan.


Stephen pun ikut duduk di samping Feronica, sadar karena ia tidak bisa memaksa Feronica untuk mengikuti keinginannya, jadi ia duduk saja, karena lebih mudah dan persis seperti yang ia lakukan dulu, tepatnya saat hari pertama rekannya di keluarkan dari sekolahnya.


Entah mengapa Stephen merasa momen yang sama terulang kembali, namun dengan situasi yang sedikit berbeda.


Feronica kembali ke tempat ini sendirian seperti sebelumnya, Stephen yakin ada alasan dibalik tindakannya itu.


Stephen tidak tahu alasan apa yang membuat Feronica ada di tempat ini, namun dari aura kekuatan yang dirasakannya, Feronica sedang dalam kondisi yang tidak baik (sudah jelas seperti itu memang).


Bahkan karena aura kekuatan bercampur perasaan Feronica inilah yang membuatnya bisa ada di sini sekarang.


Stephen memang cukup peka dengan hawa kekuatan Feronica. Bahkan ia bisa merasakan perasaan Feronica juga yang dari dalam.


Pertanyaan sebelumnya sama sekali tidak dijawab selain dengan senyuman yang dilihatnya tadi. Dan bukannya dijawab, kini Feronica bahkan seolah tidak mengindahkan keberadaannya di sini.


Jika hanya sekilas dilihat dengan penilaian biasa, senyuman yang terlihat tadi memang tidak mengisyaratkan seorang yang bersedih.


Stephen sadar Feronica memang pandai untuk menyembunyikan apa yang ada dalam dirinya sendiri.


Stephen mengangkat tangan kanannya perlahan ke atas. "Sihir Gelap: Dinding Gelap...."


Syut!

__ADS_1


Dinding hitam pun perlahan menutupi Stephen dan Feronica, namun belum sempat menutup sepenuhnya, entah mengapa dinding sihir gelap itu tiba-tiba menghilang....


"Kenapa ini?" Stephen tidak bisa menyembunyikan keheranannya itu.


__ADS_2