
“A- aku tidak semenyedihkan itu nona!”
“Wah.” Felicia menganggap serius apa yang ibunya katakan, tak ada niatan menghina kok.
“Santai dulu ah.” Stephen merebahkan dirinya di atas rumput.
‘HUEHE.’ Kak Stephen sudah benar-benar terpikat di sini.
“….” Felicia tak ingat rekan lamanya sesantai ini.
Bruk.
Ia pun duduk juga, yah sesekali santai juga bolehlah ya.
Akhirnya mereka bertiga menghabiskan waktu bersama, dan tak terasa matahari sudah mau terbenam.
“Hei kau seharusnya belajar kan?” Felicia heran dengan kesantaian gadis kecil ini.
“Kenapa?” Ia sudah bukan murid akademi lagi kok.
“Jadi mantan murid bukan alasan.” Felicia terdengar serius.
“….” Feronica terdiam.
Tapi lulus dari akademi sihir adalah syarat untuk jadi ahli sihir….
“Dia malas mengulang tiga tahun lagi,” ujar Stephen apa adanya.
“KAK!?”
“Bercanda.” Stephen tersenyum kecil.
Sejak kapan Kak Stephen suka bercanda begini?
Tapi yah apa yang dikatakannya memang tak salah sih.
Feronica harus mengulang lagi semuanya dari awal.
Tapi itu mustahil untuk dilakukan juga sih.
Sejak awal pun ia beruntung bisa diterima di sekolah sihir bergengsi ini.
Namun keberuntungannya tak bisa diulang lagi.
Seleksi masuk makin ketat, belum lagi biaya yang harus dibayarkan rutin….
Mana mungkin ia terus membebani ibunya.
Terlebih akademi sudah men-cap hitam dirinya. Menambah kemustahilan untuk mengulang lagi.
Biarlah yang lalu berlalu, kini ia hanya perlu menjalani masa sekarang saja.
“Terkadang … akhir adalah sebuah awal yang baru.” Stephen memandang langit sore indah.
Entah kenapa terdengar bijak, tapi perkataannya bagus juga untuk direnungkan.
“Kau dengar?” Felicia makin semangat meyyakinkannya.
“Jadi penjahit terkenal saja ah.” Feronica memandang langit juga.
Dengan begitu ia bisa membantu keuangan ibunya dan hidup lebih layak.
“!”
“APA!?” Felicia tak terima dengan yang didengarnya.
“K- KAU MENYERAH BEGITU SAJA!?” Felicia memegang pundak gadis kecil itu.
“APA!?” Stephen kaget juga.
“….” Kenapa? Kenapa malah pada marah? Apa salahnya?
“Ingat nak, kau tak boleh menyerah dengan mimpimu.” Sekarang Felicia terdengar bijak.
“A- aku hanya merevisi mimpiku kok.” Feronica pikir itulah jalan terbaik yang bisa ditempuhnya.
__ADS_1
Menjadi ahli sihir jadi sukar setelah keluar sekolah begini, mendingan ia belajar menjahit, jadi ahli, menerima banyak orderan, jadi kaya.
“APA ITU YANG DIINGINKAN HATIMU?” Felicia serius, rasanya ada yang mengganjal di sini.
‘Lho?’ Kok nona marah sih?
Felicia tak bermaksud marah, ia hanya menuntut kejujuran hati gadis kecil ini, itu saja.
Feronica terdiam sejenak. Akhirnya ia mengerti kenapa nona Felicia setegas ini.
“Aku tak mau berjuang untuk sesuatu yang tak bisa kucapai.” Feronica memandang dengan penuh arti, nada kesedihan terdengar dari ucapannya.
“….” Felicia terdiam, ia bisa melihat tekad dan kecintaan besar tentang dunia sihir pada gadis ini.
Mimpinya terpaksa dihentikan dengan kejamnya, dan kini pastilah dia tidak baik-baik saja.
Felicia mengerti, ia kehabisan kata-kata untuk meyakinkannya lagi.
“Banyak jalan menuju roma….” Stephen masih terlihat damai.
“!”
Kata-kata bijak lagi?
Feronica tak bisa menahan rasa terkejutnya.
Apakah arti dibalik perkataan itu?
“Kau masih bisa mengejar mimpimu Feronica” Felicia menatap penuh arti.
“!?” Apa?
Tapi, bukankah semuanya sudah berakhir? Satu-satunya jalan untuk jadi ahli sihir adalah lulus dari akademi, dan ia tak memenuhi syaratnya….
“Kau masih bisa jadi ‘ahli sihir’ Feronica.” Felicia makin meyakinkannya.
“ ‘Ahli sihir’? ” Apa bedanya dengan ahli sihir?
“Ada tanda petiknya,” jelas Stephen.
“Oooo.” Gitu ya. Feronica lebih paham.
“APA?” Feronica tak bisa menahan kekagetannya.
Ia masih bisa jadi ahli sihir?
“Hmhm.” Felicia mengangguk bangga.
“Yang unofficial….” Tambah Stephen.
“Siapa peduli?” Felicia tak ambil pusing.
Mau resmi atau tidak, menjadi kuat terkadang bukanlah apa kata diri sendiri, melainkan pengakuan dari yang lain.
“Kau kuat Feronica.” Felicia menatapnya dengan lembut.
“Tak ada yang bisa menghentikan mimpimu.” Stephen menambahkannya.
Feronia terdiam, ia tak menyangka akan mendengar ini.
Ia memang sudah rela dan menerima yang terjadi apa adanya.
Namun jauh di lubuk hatinya yang dalam, ia memang masih ingin jadi ahli sihir hebat.
Tak peduli sekalipun takdir tak mengijinkannya, ia masih ingin mengejarnya.
Feronica tersenyum hangat. “Terima kasih kak.”
Hatinya terasa lebih lega.
“Jadi kapan berlatih lagi?” tanya Felicia semangat.
***
Akhirnya Feronica menerima keadaan apa adanya, dan masih berusaha mengejar mimpinya, tak peduli dengan statusnya sekarang.
__ADS_1
Ia mulai membaca berbagai buku tentang sihir, dan berlatih sebagaimana biasanya.
Hari-harinya terasa jauh lebih hidup. Stephen dan Felicia selalu menemaninya berlatih.
Sementara itu Yelena terlihat berjalan ke area rerumputan ini setelah tahu Feronica tak ada di rumah.
“Ah.” Yelena terdiam, tak menyangka ada keramaian di sini.
“Yelena?” Feronica sadar dan mendekati rekannya itu.
Sudah beberapa hari berlalu dan Yelena ingin tahu keadaan Feronica.
“Hm? Aku masih hidup.” Jarang-jarang ada yang menanyakannya soal ini.
“Y- yah.” Yelena bisa melihatnya dengan jelas.
“Oh?”
Kedua orang tak dikenalnya itu mendekatinya.
Yelena tak pernah melihatnya di desa.
“Terima kasih sudah melindunginya.”
“Eh?” Kenapa pemuda ini sampai menunduk segala?
“….” Felicia terdiam, entah kenapa hawa dingin terasa dari gadis berambut pendek ini.
“Terima kasih sudah jadi rekannya.” Felicia tersenyum kecil.
“….” Kenapa rasanya seperti jadi anak kecil ya? Feronica terdiam.
Yelena terdiam, ia tak menyangka Feronica punya kenalan yang baik seperti ini.
Yah sebelumnya ia hanya khawatir Feronica bakal diganggu lagi sama orang yang tak bertanggung jawab.
Yelena bisa merasakan aura kekuatan terpancar darinya. Dia sedang berlatih ya.
“Oh, besok sekolah dibuka lagi kan?” Feronica penasaran.
“Eh?” Darimana dia tahu?
“Semangat ya!” Feronica mengepalkan tangannya sembari tersenyum.
Yah Feronica paham setelah libur, bisa jadi ada rasa malas pergi ke sekolah lagi.
“….” Yelena terdiam. Ia tidak merespon apapun.
“Ahaha.” Hal itu sepertinya tak berlaku bagi murid teladan ya.
Yelena bisa melihat semangat membara dari rekannya ini, dia tetap berlatih bahkan setelah semua yang terjadi.
Yelena tersenyum kecil, dan akhirnya pergi juga.
“….” Feronica terdiam, beginikah rasanya punya teman yang sebenarnya?
Andai saja ia bisa merasakannya ketika di akademi dulu.
Yah, semuanya sudah berlalu. Dan tidak bisa diulang lagi.
Ada kalanya apa yang terjadi tidak sesuai harapan juga.
“Ada apa?” Felicia heran, gadis ini malah mematung.
“A- ah.” Feronica sadar lagi dan melanjutkan latihannya. Ia merasa ada yang beda.
Hari-harinya lebih tenang sekarang. Ia bahkan tak melihat dua rekan dekatnya.
“Hm?” Felicia terdiam, ia seolah sadar akan suatu hal.
“Stephen, temani Feronica. JANGAN SANTAI MULU.” Felicia muak melihat rekannya santai terus-terusan.
“Maaf.” Stephen bangkit dari rebahannya.
“Mau kemana kak?” Feronica penasaran.
__ADS_1
“Ada urusan sebentar.” Felicia meninggalkan tempat itu.
*