Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 120: Membuka


__ADS_3

Di samping Feronica merasa senang dengan jalan-jalan seperti ini, namun pada akhirnya ia tidak bisa mengabaikan tujuan utamanya juga ia berkeliling kota.


Yaitu untuk menemukan rekannya sendiri. Stephen yang dari tadi belum ia temukan sedikitpun keberadaannya.


Padahal Feronica yakin perpindahannya ini ada hubungannya dengan rekannya sendiri. Karena memang Kak Stephen ada bersamanya sebelum ia dengan alasan yang aneh bisa berpindah tempat seperti ini.


Setelah menghabiskan waktu berkeliling Feronica dan belum ada hasilnya juga, itu membuat Feronica jadi tidak terlalu tenang lagi.


Sebelum ia menyadarinya, hari akan segera gelap dan pencariannya akan lebih sulit tanpa pencahayaan yang memadai. Terlebih lagi karena kota Frost adalah kota yang besar, Feronica sendiri tidak yakin bisa dengan cepat menjelajahi seluruh daerah ini hanya dalam satu hari.


Rute yang mereka jalan saat ini pun sepenuhnya Feronica percayakan pada Tuan George, karena memang beliau-lah yang paling mengerti daerah kota Frost ini.


Perjalanan mereka dilakukan dengan santai dan tanpa terburu-buru, namun Feronica tetap bisa menunjungi dan melihat-lihat berbagai tempat di sini. Yang sulit untuk ia lakukan dari awal, atau bahkan mustahil.


Yang ada bilamana Feronica berkeliling sendiri malah bisa saja tersesat dan ia tidak tahu lagi harus pergi ke mana. Dan salah satu yang terpenting mungkin saja ia tidak bisa melihat tempat tinggal kedua ahli sihir terkenal itu.


George melihat bagaimana Feronica terdiam, dari ekpresi wajahnya bisa terlihat Feronica memang sedang memikirkan sesuatu sekarang.


"Ada apa?" George akhirnya memulai pembicaraan, padahal ia sendiri kurang lebih tahu alasan mengapa gadis kecil ini terdiam sekarang.


"Ah tidak Tuan, tidak terasa hari akan segera petang...." jawab Feronica seadanya, ia masih belum mau untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia pikirkan.


Feronica tahu ia saat ini harusnya berterima kasih atas kebaikan George, beliau tidak perlu repot-repot tahu akan urusannya yang sebenarnya.


'Aku tidak mau melibatkan orang lain dan membuat mereka dalam bahaya....' Feronica tahu akhir-akhir ini memang ia kerap kali mengalami hal yang tidak terlalu damai. Tidak ada yang tahu akan terjadi apa lagi selanjutnya.


"Tuan, terima kasih atas pertolongannya. Mulai dari sini saya akan mencari rekan saya...." Feronica bangkit berdiri dengan penuh tekad dan keberanian.


Memang itulah yang ia butuhkan saat ini. Ia harus punya kendali penuh atas tujuannya yang saat ini diembannya.


"Ah, itu es krim-mu" kata George sembari menunjuk ke arah es krim yang perlahan melelah di tangan Feronica.


"Ah slurp-" Feronica jadi sadar ia merenung sebentar tadi yang pada akhirnya membuat makanan/minumannya jadi meleleh.


George melihat pula ke arah langit yang agak kekuningan, tidak terasa juga baginya ia sudah menghabiskan beberapa waktu dengan pendatang ini.


Dia sama sekali tidak merasa keberatan dengan semua yang dilakukannya. Karena memang ia sudah mengatakannya sebelumnya, di mana ia rela menolong gadis kecil ini tidak peduli dengan apapun.


Sebenarnya mengapa George ini mau menolong pendatang yang tak dikenal seperti Feronica ini? Bukannya ia ini punya urusan bisnis yang lebih penting daripada menolong orang asing?


Itulah yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Mengapa George ini seakan penolong ajaib yang disediakan bagi Feronica? Bukankah perbuatannya ini terlalu baik untuk jadi kenyataan? Mengapa ada orang sebaik dirinya di dunia ini?


Yah, mungkin terdengar berlebihan sekarang, namun keberadaan George ini memang membuat Feronica yang tidak percaya pada orang lain jadi mulai bisa memercayai lagi.


Ketakutannya akan penolakan tidak terjadi lagi saat ini, malahan ia begitu disambut dan diperlakukan begitu baik seolah sudah jadi seorang yang dekat.


George masih memerhatikan langit sore yang terlihat indah ini, dan kemudian ia mulai mengingat akan hal-hal yang ada dalam hatinya.


*


'Aku tidak mau diabaikan oleh orang lain....'


'Karena itulah aku melakukan hal ini. Aku tidak ingin orang lain berhenti percaya pada orang....'


George bisa melihat apa yang sekarang dilakukannya memang penting.


'Gadis ini tidak ada bedanya... sorot matanya sama seperti aku yang dulu....' George melihat Feronica tidak jauh berbeda darinya, yang itu berarti ada sesuatu yang ada dalam hati yang tidak bisa dilihat banyak orang.


'Jika aku tidak bisa percaya pada orang lain dan tetap tawar hati, maka aku bisa apa?' Batin George mulai berbicara lebih dalam lagi.


'Hati yang dingin... dengan apa akan dihangatkan?'

__ADS_1


George tahu tidak ada gunanya untuk menyerah pada kehidupan sosial. Entah mengapa ia bisa melihat masalah ini dengan jelas pada gadis kecil yang baru ditemuinya ini.


Dengan minimnya informasi yang bisa ia tahu. George memang tidak bisa berharap banyak gadis kecil ini akan mengatakan semua hal padanya.


Bahkan secara garis besar pun ia tidak tahu bagaimana gadis bernama Feronica ini sampai di sini, mengapa mencari temannya yang hilang, dan dari mana ia berasal.


Semua itu masih jadi pertanyaan baginya, namun George tidak keberatan tidak mengetahui itu semua. Yang jadi prioritasnya saat ini adalah menolong dengan cara yang bisa ia lakukan.


'Sorot mata tanpa harapan dan tanpa semangat... aku ingin itu hilang darinya....' George punya keyakinan ia bisa melihat sesuatu yang berkobar dari gadis bernama Feronica ini.


'Aku tidak tahu apa yang telah dialaminya sebelumnya... masa lalu memang akan tetap berada di sana, tidak peduli seberapa keras menghilangkannya....'


'Tapi dia masih punya harapan... apapun tujuannya saat ini....' George yakin Feronica yang terlihat tidak bersemangat dan minim motivasi ini bisa menemukan jati dirinya sendiri.


George harap dengan keberadaannya meski hanya sebentar bisa menjadi bahan bakar yang bagus demi tujuan yang akan dijalani oleh Feronica.


'Tidak semua orang seperti yang dipikirkan... pikiran bisa menipu....' George tahu benar akan hal ini.


Semua orang bisa berpikir dan berpendapat dengan bebas, namun terkadang apa yang dipikirkan bisa tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Dalam kasus ini salah paham akan orang lain hanya akan membuat diri sendiri susah saja.


Tidak ada yang mau hidup dari kebohongan yang diciptakan oleh diri sendiri bukan? Untuk apa susah-susah memikirkan hal yang salah sedangkan kenyataannya saja tidak seperti yang dipikirkan?


Dengan perbuatan yang ia lakukan ini George hanya punya pesan sederhana yang ingin ia sampaikan pada gadis kecil ini.


Yaitu... "Ingat, kamu tidak sendirian...."


"...." Feronica melihat ke arah George, entah mengapa kata-kata yang disampaikan pria besar itu begitu terdengar jelas oleh telinganya sendiri.


George menatap Feronica dengan penuh arti. Tidak banyak yang ia katakan tadi, namun ia tahu gadis kecil ini seharusnya sudah mengerti akan apa yang dimaksud.


Feronica tertunduk, ia yang masih belum percaya di tolong sampai saat ini, pada akhirnya bisa mengesampingkan masalahnya dan membuka hatinya pada hal lain.


Ia selalu menganggap masalahnya adalah hal yang tidak perlu diurusi orang lain, dan berusaha melakukan semuanya sendiri. Pada akhirnya hanya bisa terdiam mendengar perkataan tadi.


Feronica jadi sadar, pada kenyataannya ia tidak bisa melakukan apapun di sini, ia tidak tahu apapun, namun meski begitu ada saja orang yang peduli padanya, tepat di saat ia tidak percaya akan hal itu.


Orang yang peduli padanya ini bukanlah kenalan lamanya, teman, apalagi sahabat, malahan orang asing yang tak sengaja bertemu dengannya.


Ternyata ada juga yang begitu peduli pada orang lain seperti ini ya?


Feronica bisa merasakan hangat dalam dirinya, tidak, ini bukanlah rasa sakit yang kerap kali muncul tiba-tiba, melainkan perasaan nyaman yang sering ia rasakan ketika bersama dengan ibunya, dan juga kak Stephen.


Ia yang perasaannya bermasalah ketika mengalami banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini pada akhirnya kembali bisa merasakan perasaan yang begitu kuat dan jelas, yang membuatnya bisa kembali nyaman, tidak peduli apa yang sedang terjadi.


"Aku tidak sendiri... hehe...." Feronica tertunduk dan sedikit tertawa, bukan tertawa putus asa yang biasa terdengar meski memang mirip adanya sih.


Sedikit tawa yang muncul itu hanyalah ekspresi 'sadar' yang spontan ada pada Feronica. Ia sadar hal yang sederhana bisa membuat perasaan dan pikiran yang rumit bisa kembali tenang.


George sedikit tersenyum melihat Feronica yang seperti telah menyadari sesuatu. Ia tidak tahu apapun soal gadis kecil ini, dan itu bukanlah masalah.


Yang terpenting di sini perasaannya dan maksudnya sudah tersampaikan dengan jelas, maka dari itu tugasnya sudah selesai di sini.


*


Feronica menatap tanah di bawahnya, ia kini tidak lagi mengutamakan perasaannya sendiri. Ia kini lebih tenang setelah menyadari bahwa ia memang tidak sendiri.


'Aku tidak percaya... tapi ini bukanlah mimpi....' Feronica tahu kejadian yang dialaminya ini nyata adanya, dan ia tidak sedang berada di ranjang kasur.


Apa yang telah ia alami dari pagi sampai sekarang ini memang bukanlah hal yang sedikit, namun setidaknya ketika ia mendengar satu kalimat sederhana, kekuatannya pulih dengan cepat.


'Aku masih punya ibu... aku kuat sampai hari ini karena semangat beliau...'

__ADS_1


'Dan jika itu masih kurang... kenyataan yang sesungguhnya adalah... aku tidak sendiri....'


Kenapa harus berlagak kuat dan berpikir bisa mengatasi semuanya sendiri?


Apa ini adalah salah satu kebohongan yang ia percaya sampai saat ini?


Sudah berapa lama ia tersiksa dengan apa yang ia percaya ini?


Feronica sadar ia tidak berjuang bagi dirinya sendiri. Ia tidak mau dirusakkan oleh apa yang terjadi padanya, melainkan ia harus semakin kuat apapun yang terjadi di hadapannya.


Menaruh kepercayaan pada orang lain bukanlah hal yang salah, selama masih dalam batas wajar. Kamu tidak ingin terlalu berharap dan kecewa bukan?


Tapi jika tidak ingin kecewa, bukankah lebih baik tidak berharap dan percaya pada orang lain sama sekali?


Itulah yang Feronica pikirkan, daripada ia harus kembali merasakan sakit, mengapa ia tidak berharap sama sekali dan mengabaikan perasaannya sendiri? Dengan begitu orang lain tidak akan tahu apa yang ia rasakan dan begitupula dengan dirinya sendiri bukan?


Untuk beberapa waktu apa yang ia lakukan itu memang berhasil. Dengan berbagai macam hal yang terjadi, Feronica tidak terpengaruh perasaannya sendiri dan membuatnya bisa melalui banyak hal.


Namun di saat yang bersamaan, pilihannya itu membuat hatinya menjadi tawar, tanpa rasa. Ia jadi tidak bisa melihat hal yang baik selain apa yang dipercayainya.


Jadi perasaan yang pertama kali muncul pada saat ia sampai di tempat ini; perasaan diabaikan dan tidak diperdulikan memang bukanlah hanya sekedar perasaan saja.


Ada bagian lain dalam dirinya yang berusaha untuk percaya ada yang benar-benar mempedulikannya.


Misalnya jangan jauh-jauh, ibunya sendiri saja, tentu ia tahu orang tuanya itu benar-benar menyayanginya, lantas mengapa ia maih begitu haus akan perhatian orang lain?


Alasan apa lagi yang bisa menjawab itu selain memang ia sendiri percaya ia perlu pengakuan orang lain?


Hal itulah yang Feronica dapatkan dengan percuma oleh Tuan George. Beliau mempercayainya dan menolongnya tanpa ragu, dia mengakui keberadaan Feronica, bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai salah seorang manusia yang hidup di dunia ini.


Bagi Feronica yang setelah sekian lama mendapat perlakuan yang sama di lingkungan akademi dahulu. Memang apa yang dialaminya saat ini adalah hal yang mengejutkan.


Masih ada hal baik yang bisa ia rasakan dan tidak perlu lagi menutup diri dan perasaan hanya untuk jadi kuat.


Fakta yang sebenarnya sudah terlihat jelas di sini....


"Aku tidak sendiri...." Feronica mengatakannya berulang dan tanpa sadar pandangannya seperti terhalang oleh sesuatu, dan itu menetes.


'Apa aku terlambat sadar?'


'Tidak peduli akan apa yang terjadi. Aku tidak hanya perlu mengandalkan kekuatan sendiri saja... masih ada orang-orang yang bisa kupercayai... bahkan orang yang baru kukenal sekalipun....'


"Jadi rencanamu selanjutnya?" tanya George memecah suasana yang tadi hening sejenak. Ia yang sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Feronica kembali mengulang pertanyaannya.


"Saya akan mencari rekan saya dulu." Feronica mengulang kembali sekaligus meneguhkan apa yang akan dilakukannya selanjutnya.


"Kamu yakin dia ada di sini?" George memastikan apa yang jadi tujuan gadis kecil ini. Apa bukti yang bisa jadi alasan kuat rekannya itu ada di sini?


"Sebelum ke tempat ini, saya bersamanya, jadi saya yakin dia ada di sini...."


George bisa menyimpulkan memang dengan alasan tertentu gadis muda ini bisa terpisah dengan rekannya sendiri, apa penyebabnya membuatnya penasaran dan bertanya-tanya lebih lanjut.


Namun George merasa tugasnya di sini memang sudah benar-benar selesai, ia tidak perlu tahu lebih banyak, ia hanya perlu percaya saja pada gadis kecil ini.


"Jangan khawatir Tuan, saya akan baik-baik saja ...." Seolah Feronica bisa merasakan rasa khawatir yang terpancar dari George.


Feronica bisa merasakan George memang masih ingin tetap membantunya dan tidak meninggalkannya sendiri, namun di saat yang bersamaan Feronica tahu beliau juga kini tidak memaksakan lagi untuk membantunya.


Cepat atau lambat Feronica tahu ia tetap harus beranjak dan menyelesaikan urusannya di sini.


Kebaikan dari Tuan George tidak mungkin ia lupakan, karena dengan pertolongannya ini, ia bisa melakukan sesuatu di tempat baru dan mengemban tujuan yang harus dilakukannya.

__ADS_1


"Saya 'kan tidak sendiri... hehe...." Feronica berkata dengan percaya diri dan tanpa ragu, mulai dari sini ia mengambil langkah baru dan akan menemukan rekannya sendiri.


George tersenyum kecil, ia bisa melihat gadis kecil ini membuka hatinya kembali, itu adalah hal yang bagus. Karena dengan begitu dia bisa sadar betapa indahnya dunia yang penuh dengan rasa.


__ADS_2