
'Gelap.... gelap sekali .... Di mana ini?'
Feronica melambaikan tangannya di tengah kegelapan yang begitu kosong dan pekat itu, ia tidak pernah merasa berada di tempat itu sebelumnya.
Sebuah tempat yang amat gelap yang bahkan ia sendiri tidak bisa melihat apa-apa. Namun setelah beberapa saat ia melihat ada siluet cahaya seperti dua orang dewasa tak jauh dari posisinya saat ini.
'Astaga aku tidak nyaman berada di tempat ini, aku harus bertanya pada kedua orang di sana!'
Tanpa berlama-lama lagi Feronica melangkahkan kakinya menghampiri siluet kedua orang yang bercahaya itu. Entah mengapa dua orang yang ada di sana memancarkan cahaya, namun Feronica tidak bisa hanya menduga dan tak melalukan apa-apa.
'Apa mereka berdua tahu tempat apa ini?' Feronica semakin dekat dengan siluet kedua orang yang ternyata adalah pria dan wanita dewasa yang jika dilihat dengan seksama ia sama sekali tidak mengenalinya.
Pria dewasa dengan jangut halus disekitaran wajahnya dan yang paling mencolok terlihat darinya adalah tanda seperti bekas luka di area kanan matanya dan wanita dewasa yang anggun nan cantik berdiri di sebelahnya.
Feronica terdiam melihat kedua orang asing itu dari dekat, entah mengapa sekarang ia berada di tempat ini dan bertemu dengan kedua orang asing di mana seharusnya ia sedang melakukan hal lain.
Melakukan apa? Feronica berusaha mengingatnya. 'tadi aku sedang apa ya?'
Aneh sekali, mengapa ia bisa lupa dengan apa yang ia lakukan sebelumnya. Sepertinya memang hal seperti ini bisa terjadi pada siapapun saat ketika seseorang baru saja melakukan sesuatu dan kemudian tiba-tiba lupa.
Beberapa saat kemudian Feronica menyerah karena memang ia lupa sedang apa dia sebelum berakhir di tempat gelap dan aneh seperti ini.
Pluk.
Tangan pria dewasa berjanggut itu memegang bahu Feronica, ia sedikit terkejut dan tidak mengerti. Padahal ia baru saja akan bertanya pada kedua orang dewasa ini.
"Ada yang bisa kubantu Tuan?" Feronica yang tadinya berniat untuk bertanya malah sebaliknya ia yang bertanya karena heran mengapa pria dewasa itu memegang pundaknya?
Perhatian Feronica tertuju pada area mata sebelah kanan pria itu, seperti luka yang berwarna merah namun jika dilihat lebih jelas maka memang terlihat keren sih.
"Tidak terasa kamu sudah dewasa...." ujar pria dewasa itu dengan lembut dan memandangnya dengan lembut pula.
__ADS_1
"Apa?" Feronica sontak bertanya-tanya apa maksdu dari perkataan pria itu, mengapa dia mengatakan hal seperti ini pahahal memang baru kali ini mereka bertemu?
Bagaimana mungkin pria yang baru ditemuinya berkata seperti itu padanya?
Ditengah kebingungan akan apa yang terjadi, kini wanita dewasa yang berambut panjang mendekatinya dan bahkan memeluknya tanpa berkata apapun.
"Akhirnya kita bisa bertemu kembali,'" ujar Wanita dewasa itu dengan nada yang rendah dan terkesan seolah menahan rindu pada seseorang yang tak dijumpainya sejak lama.
"Apa?" Feronica malah tambah bingung dan tidak mengerti akan apa yang dimaksud wanita muda ini, terlebih lagi dari kedua orang yang baru saja ditemuinya ini.
Feroica berusaha untuk tetap tenang meskipun ia memang kebingungan akan hal ini. Beberapa saat kemudian setelah kedua orang itu tenang Feronica mulai membicarakan hal ini pelan-pelan.
"Maaf, ini baru pertama kali kita bertemu bukan? Siapa sebenarnya Tuan Dan Nona?" tanya Feronica dengan perlahan dan jelas. Memang pertanyaannya ini sangat diperlukan demi mengetahui apa yang sebenarnya mereka maksud tadi.
Kedua orang itu saling bertatapan satu sama lain dengan tenang dan pada akhirnya memandangnya dengan penuh arti kembali.
"Ah benar juga, kami belum memperkenalkan diri ya, kami-" Pria dewasa hendak menjelaskan semuanya namun tiba-tiba ada hal lain yang terjadi di sini.
"Ada apa?" tanya Feronica keheranan ketika hendak mendengarkan penjelasan dari mereka ini.
"Ah, mengapa kita hanya berjumpa sebentar sekali?" Wanita muda itu melihat Feronica dengan penuh arti, raut wajahnya menandakan ia ingin terus menghabiskan waktu bersama dengannya.
"Maafkan aku, Cylene," ucap pria dewasa itu dengan nada menyesal.
"Waktu kita sudah habis," lanjutnya dan bersamaan dengan itu Feronica merasakan getaran yang hebat di sekitaran ruang gelap kosong ini.
Suara menggema tiba-tiba datang entah darimana, suaranya samar-samar namun Feronica masih bisa menangkap artinya sedikit.
"Kalian ... tidak bisa melepaskan ... segel gadis itu!" Suara asing nan serak dan bergema terdengar semakin jelas. Feronica tidak bisa tahu asal suara itu darimana mengingat tidak ada sumber cahaya lain selain kedua orang yang ditemui olehnya saat ini.
Feronica sulit mengenali suara yang menggema ini, apakah suara laki-laki ataukah perempuan. Namun baru kali ini ia mendengar suara seperti ini. Terasa tidak nyaman dan memberikan hawa menakutkan bagi siapapun yang mendengarnya.
__ADS_1
Cahaya yang terpancar dari kedua orang itu perlahan namun pasti memudar dan mulai membuat area ini gelap seperti awal tadi.
"Tunggu! Jangan pergi! Siapa kalian berdua ini?!" Feronica bertanya untuk terakhir kali sebelum kedua orang yang ditemuinya itu perlahan menghilang.
Pria dewasa dan pula wanita dewasa itu hanya tersenyum padanya yang membuat Feronica malah makin bertanya-tanya siapa sebenarnya mereka berdua itu.
Guncangan makin terasa dan suara yang menggema makin merajalela. Feronica yang hanya bisa merasakan area disekiarnya bergetar hebat dan mendengar suara-suara aneh ini mulai merasa terganggu.
"Sial! Tempat apa ini?! Mengapa ada gempa bumi dan suara aneh di sni?!" Feronica tidak tahan lagi dengan semua ini dan pada akhirnya semuanya benar-benar gelap. Sangat gelap.
"Tolong.... keluarkan aku dari tempat ini...." Feronica hanya bisa berharap ia berhenti merasakan getaran yang hebat ini dan pula suara-suara yang sangat mengganggunya ini.
*
"HAHHH .... HAAAHH ...." Suara kicau burung dan matahari yang menyorot ke arah jendela menyapa siapapun yang tegah berada di ruangan ini.
Feronica melihat ke sekelilingnya, tak ada lagi ruangan kosong dan gelap dan dua orang asing dan pula suara aneh serta getaran hebat. Hanya ada ruangan kamar kecil nan nyaman yang dicintainya.
DEG... DEG...
Feronica mengarahkan tangannya pada dadanya, masih berdetak ternyata. Kekalutan yang tadi terjadi membuat Feronica jadi hilang kendali dan membuatnya tidak lagi memikirkan hal apapun.
Namun kini semuanya kembali seperti semula, tidak ada hal aneh yang seperti tadi terjadi, semuanya nampak normal dan tidak ada hal yang aneh di sini.
Keringat membasahi tubuh gadis ini, seolah ia telah melakukan olahraga yang melelahkan, begitulah keadaannya saat ini.
Feronica masih bisa merasakan apa yang terjadi tadi. Perasaan yang hampa dan tidak ada seorang pun ada di sana kecuali kedua orang yang bercahaya. Dan dalam waktu yang singkat semuanya menjadi tidak terkendali dan menakutkan.
Namun kini semua itu sudah berlalu, atau lebih tepatnya memang hal tadi tidak pernah benar-benar terjadi dan untuk selanjutnya Feronica tahu ternyata semua ini ....
"Hanyalah mimpi?"
__ADS_1