
“Mereka menyebalkan.” Yelena menatap tajam.
Bicara takkan ada gunanya, jadi lebih baik serang saja duluan.
OKE.
Bagian itunya sih benar, entah kenapa ada perasaan lega melihat mereka tersakiti begitu.
‘EH!’ Apa dirinya sudah jadi jahat!?
Feronica panik, tapi yah itu yang dirasakannya juga sih.
“UH.” Keduanya perlahan berdiri.
Luka pukulan terlihat jelas di wajah mereka.
Jangan remehkan pukulan gadis pendiam.
Mereka lengah dan tak menyangkak akan serangan kejutan tadi.
“Psst, mereka bisa membuatmu dalam masalah Yelena~” bisik Feronica.
Itulah kenyataannya. Orang banyak memperlakukannya hati-hati agar tak kena masalah.
“Mereka masalahnya.” Yelena tak mau tahu.
“….” Oke Yelena bukan tipe orang yang suka berubah pendirian sih.
“KAU AKAN MEMBAYARNYA YELENA!” Fredirica menunjuk dengan muka muram. Berani-beraninya dia meninju wajah cantiknya!
“Hmh.” Yelena tersenyum kecil.
“!” DIA TERSENYUM! INI LANGKA SEKALI!
Tapi itu senyum yang terkesan dingin juga sih….
“Awas.”
Bugh.
“!” Yelena mendorongnya, bersamaan dengan itu Rossa dan Fredirica menyerang!
BUAGH!
BRGAH!
Adu fisik dua lawan satu tak terhindarkan.
Tak peduli adil tidaknya, kedua bersaudari ini hanya ingin cepat-cepat menyingkirkan siapapun yang menghalangi rencana mereka.
‘KOK MALAH BERANTEM!?’ Feronica tak percaya, namun itulah kenyataannya.
Ketiga rekannya saling baku hantam dan dirinya cuman jadi penonton.
‘A- aku tidak mengharapkan ini….’ Feronica terdiam, ia kelihatan lemah.
HUSSSSH!
Hempasan angin kencang memaksanya mundur lebih jauh.
‘Semoga tak ada yang terluka!’ Begitulah harapnya.
BUAGH!
BUAGH!
“Hmh.” Yelena terlihat dingin.
Serangan mereka bukanlah masalah baginya.
Dan itulah kenyataannya. Yelena terlihat mudah sekali menanganinya dan malahan memukul mundur mereka berdua.
“SIALAN!” Fredirica mendengus kesal.
“….” Rossa menatap penuh perhatian. Inikah kekuatan murid pendiam teladan?
“Jangan seenaknya menganggu orang.” Yelena menatap tajam.
Pangkat atau kedudukan mereka tidak pantas melakukan hal itu.
“Kau tahu apa akibatnya menentang kami?” Fredirica menyeringai.
“….” Yelena tak terlihat terancam. Namun tahu apa yang dimaksudkannya.
“Apa aku peduli?”
“Heh.” Fredirica langsung kesal, dia menyebalkan juga ya.
__ADS_1
“Apa kalian berhak mengatur hidup orang lain?” Yelena penasaran dengan jalan pikir mereka berdua.
Bisa-bisanya mereka menggunakan fasilitas kehidupannya sebagai anak ahli sihir hebat hanya untuk kepentingan pribadi.
Untuk pertama kali setelah sekian lama ada yang menentang sejauh ini.
Fredirica dan Rossa muram. Jelas mereka sudah menemukan musuh baru sekarang.
“Apa orang tua kalian akan bangga dengan ini?” Yelena tak berhenti menyayangkan sikap mereka.
Seharusnya sebagai para putri ahli sihir terhebat mereka bisa menjadi contoh baik bagi yang lain. Bukannya malah begini.
“Yelena, kau sama menyebalkannya dengan dia.” Rossa menatap tajam.
“….” Yelena tak tahu banyak tentang Feronica.
Namun … apa ini yang selalu dialaminya ketika masih di akademi?
‘Feronica….’ Yelena terkesan dengan kesabarannya, ia tersenyum kecil.
SWUSH!
Rossa dan Fredirica siap dengan aura kekuatan yang lebih hebat lagi dibanding sebelumnya!
Pertarungan akan naik ke level selanjutnya!
Yelena terdiam, mereka tak segan mau membunuhnya.
Kalau begitu … Yelana menutup matanya perlahan.
“Cukup.”
“!”
Ada suara familiar terdengar!
SWUSH!
Tiba-tiba ada orang di tengah-tengah mereka!
“BU FREISS?” Rossa dan Fredirica langsung menurunkan kekuatannya.
“….” Yelena membuka matanya lagi.
“Kalian masih belum boleh bertarung melebihi batas.” Bu Freiss datang entah-darimana dan langsung memberi wejangan.
“….” Tak ada yang berani bicara.
Melanggarnya sama dengan mengabaikan kode etik calon ahli sihir. Yang akan berakibat fatal nantinya.
“Yelena?” Freiss langsung menyadari murid teladan ternyata ada di sini.
“Selamat pagi bu.” Yelena memberi salam dengan dingin.
“Tumben kalian saling ngobrol.” Ada juga Rossa dan Fredirica di sini.
“Kenapa ibu ada di sini?” Rossa penasaran.
“Menikmati pagi segar.” Freiss tersenyum kecil.
Untunglah ia ada di sekitar sini dan sempat menghentikan mereka.
Sebagai guru, ia tak mau melihat anak didiknya kena masalah.
“Feronica juga?”
Di kejauhan terlihat Feronica sedang meringkuk seolah berlindung dari situasi bahaya.
Yah memang ‘hampir’ terjadi bahaya di sini.
Rossa dan Fredirica tak melihat adanya jalan untuk melanjutkan rencana, dan akhirnya memilih mundur.
Kini tinggallah hanya Freiss, Yelena dan Feronica.
“Ada apa?” Freiss terdengar serius. Ia perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi.
“A- ah, tak ada apa-apa bu.” Feronica tersenyum kecil, dan ibu guru itu mengarahkan pandangannya pada murid teladan.
“Feronica dirundung.”
“!?” KOK MALAH DI SEBARKAN? Feronica tak menyangka. Ia bukan tipe orang yang suka mengadu sih!
“….” Freiss terdiam, itu menyedihkan. Namun bukan hal baru.
“Apa kamu baik-baik saja Feronica?”
“Ah, masih hidup bu!” Feronica tersenyum semangat.
__ADS_1
“Waaah.” Freiss ikut senang, itu melegakan.
“Apa ibu sudah tahu soal ini?” Yelena terdengar dingin.
“….” Freiss terdiam, ia memang baru tahu, namun sudah mengumpulkan berbagai info tentang Feronica.
“Sebagai guru tingkat akhir, ya,” jawab Freiss apa adanya.
“Kenapa mereka masih cari masalah bu?” Yelena penasaran namun tetap terdengar dingin.
Freiss terdiam, ia bukan orang yang tahu isi hati orang lain.
Namun dengan pengaruh dan kekuatan yang besar, bukan tidak mungkin orang bisa memperlakukan yang lain dengan buruk.
“….” Yelena mengerti.
Bahkan para guru pun hanya bisa bungkam melihat kenyataan mengerikan begini.
“Feronica, jaga diri. Jangan ladeni orang yang membuat masalah ya?”
“SIAP BU!” Feronica setuju dan semangat.
Freiss tersenyum kecil dan meninggalkan mereka di sini.
….
Situasi jadi hening.
‘AGAK CANGGUNG.’ Feronica berusaha tak merasa aneh, tapi lumayan sulit juga sih.
Sejujurnya Feronica masih tak percaya Yelena mau terjun ke masalah dan bahkan membela dirinya.
Tapi ini kenyataan sih. Ia sudah mencubit pipinya berkali-kali.
“A- anu … terima kasih atas bantuannya Yelena.” Feronica tak bisa mengekpresikan betapa terbantunya ia dengan pembelaan darinya.
Ia terselamatkan di hari pertamanya dari kesulitan, ia berhutang budi padanya.
“Panggil aku kalau mereka berulah.” Yelena terlihat ramah, kedinginannya berkurang sedikit.
‘W- wah?’ Apa ia tak salah dengar ya?
Yelena akhirnya pamit juga.
Kini hanya Feronica yang tinggal sendiri.
BRUGH.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di rumput lagi dan memandang langit cerah.
Hampir saja tempat ini berubah jadi medan pertarungan, tapi syukurlah tidak terjadi.
Ini tempat nyantai favoritnya sih, sayang banget kalau rusak hehe.
“Di sini ya.”
“!” Ada suara tak asing!
“Kak Stephen?” Dia menyusulnya ke sini?
“HM.” Ada suara perempuan juga.
“Nona Felicia?”
Oh kakak-kakak ini menyusulnya kemari.
Kenapa tak bersantai di rumah saja?
“Mana mungkin bisa santai kalau tuan rumahnya tak ada.” Felicia melipat tangannya.
Eh? Bukannya ada ibu?
“Tempat ini….” Stephen melayangkan pandangannya ke tempat ini, tenang dan damai.
“Hehe.” Feronica berhasil meracuni orang lain untuk suka dengan tempat ini.
“….” Felicia terdiam, yah ini tak buruk juga sih.
“Apa hal menariknya sudahan?” Felicia penasaran.
“Eh?” Maksudnya?
“Kau bertarung dengan seseorang kan di sini?” Felicia bisa merasakan aura kekuatan besar dari kejauhan.
“Kami pikir kamu dalam bahaya.” Stephen terlihat serius.
“Oh itu ahaha ….” Feronica tak menyangka masih ada yang khawatir tentangnya.
__ADS_1
“Ah, ada rekan yang menolongku.”
“Kau punya teman?” Felicia agak kaget.