
Sementara itu di hari yang sama, di sekolah. Fredirica dan Rossa heran karena tidak melihat Feronica di tempat duduknya. Biasanya memang Feronica selalu hadir, dan jika memang tidak hadir sekalipun pasti ada alasan yang jelas dibaliknya.
Sementara suasana kelas tidak berubah dari yang biasanya, istirahat siang hari pun pada akhirnya datang juga. Sebagian besar murid langsung keluar kelas untuk menyegarkan pikiran mereka setelah menerima pelajaran dari para guru.
Rossa dan Fredirica memutuskan untuk tidak ke kantin sebagaimana rutinitas mereka, melainkan tetap duduk di kursi mereka, dan pada akhirnya membicarakan apa yang ada dalam pikiran mereka ini.
"Apa Feronica malas ke sekolah kak?" Fredirica langsung mengomentari soal bagaimana Feronica tidak terlihat batang hidungnya di sini.
"Tidak mungkin, dia biasanya selalu hadir di kelas...." Rossa kurang setuju dengan pendapat saudaranya ini. Feronica bukanlah seorang yang bisa mengabaikan kelas, apalagi karena alasan malas.
"Apa mungkin karena sikap orang padanya?" Kini muncul perkiraan kedua, Fredirica memang punya banyak perkiraan akan mengapa Feronica bisa tidak masuk kelas hari ini.
Rossa terdiam, perkiraan ini lebih masuk akal dibandingkan dengan yang pertama tadi. Memang tidak bisa dipungkiri perlakuan orang pada Feronica lebih aktif daripada biasanya.
Rossa tidak perlu penjelasan lebih lanjut lagi akan hal ini, lagipula memang ia sendiri cukup tahu akan bagaimana Feronica diperlakukan di lingkungan sekolah ini. Apa mungkin prediksi ini yang bisa menjelaskan mengapa Feronica tidak masuk sekarang?
Tetap saja ada yang bisa menentang hal ini, Rossa tahu setelah perlakuan orang berubah pada Feronica, dia masih terlihat menghadiri sekolah seperti biasanya.
Meski dengan perlakuan orang yang seperti itu padanya. Hal ini membuat Rossa ragu akan kemungkinan ini.
Pada akhirnya Rossa dan Fredirica hanya bisa larut akan hal ini, sehari saja tidak melihat Feronica rasanya memang ada yang berbeda. Yang di mana mereka tidak bisa lagi menguntit dan mengungkap apa yang disembunyikannya itu.
Tapi memang sebenarnya mereka punya kesempatan lain jika memang Feronica berhalangan hadir bukan? Hari-hari besok masih ada dan tentunya mereka bisa kembali melanjutkan rencananya.
Ditambah memang kini mereka berdua harus menjaga jarak dari Feronica, jadi pada akhirnya mereka harus tetap berada dalam batas yang wajar.
*
Suasana sekolah tidak terlihat berbeda, semuanya sedang menjalankan aktifitasnya masing-masing, terutama ketika jam istirahat seperti ini.
Kini setelah kita melihat keadaan Fredirica dan Rossa, terlihat Yelena sedang sendirian saja di perpustakaan, membaca buku dengan tenang dan menikmati waktu istirahatnya.
__ADS_1
Yang di mana kebanyakan dari murid lain memang lebih suka untuk menghabiskan wkatu makan bersama dan juga mengobrol dan bersenang-senang. Yelena lebih suka ketenangan dan di sinilah tempat yang sempurna untuknya.
Di sini ia ditemani banyak buku yang adalah jendela ilmu, ia bisa memuaskan rasa penasarannya di tempat ini.
Kini Yelena sedang membaca dekat jendela besar yang mengarah ke luar. Ia sedang berada di lantai dua perpustakaan, membaca sembari sesekali rehat melihat keluar adalah suatu kenikmatan tersendiri baginya.
Yelena terkadang mudah hanyut dalam buku yang dibacanya, bahkan bisa kebablasan adanya. Namun Yelena tetap berusaha agar bisa mengendalikan dirinya ketika berada di tempat ini.
Buku merah cukup tebal sedang ada di atas mejanya kali ini, ia begitu melihat dan memperhatikan dengan cukup serius soal isi dalam bukunya ini.
'....Makhluk legenda dengan kekuatan aneh berkeliaran di antara kita, para ahli sihir harus siap-siap dengan apapun yang terjadi....'
Begitulah teks yang sekarang diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh Yelena. Entah mengapa buku yang ia baca kali ini memang berbeda dengan yang lain.
Kita tidak usah melihat Yelena yang berupaya membaca buku ini dengan cepat, tentunya kita hanya ingin tahu garis besarnya saja bukan?
Dan memang garis besarnya seperti yang kita pikirkan sekarang. Buku yang tebal berwarna merah itu menceritakan soal suatu hal yang harus diwaspadai.
Jemari tangan Yelena membuka perlahan lembaran demi lembaran kertas buku itu, sejauh yang ia lihat memang hanyalah tulisan belaka tanpa ada gambar yang di mana bagi sebagian orang mungkin hanya akan membuat ngantuk saja, namun tidak dengan gadis ini.
Sebagian besar dari isi buku ini memang menyingkap mitos yang ada soal dunia sihir, dan melihat topik itu membuat buku ini hanyalah buku cerita buatan atau khayalan belaka. Toh memang yang dibahas juga hal yang belum pasti terjadi bukan?
Yelena bisa saja tidak pernah tertarik untuk menyentuh buku ini sekalipun jika memang begitu, tapi kenyataan yang menulisnya adalah seorang ahli sihir yang terkenal dan berpengaruh mengubah semua persepsi awalnya.
Yelena tetap bisa menerima tulisan yang dibacanya meskipun memang semuanya hanyalah pandangan pribadi penulisnya semata, namun melihat bagaimana hebatnya seorang yang menulis ini membuat Yelena jadi tertarik menyimak buku ini.
'Apa mungkin hal seperti ini mungkin ada?' Yelena bertanya dalam hatinya, memang banyak hal yang ia dapat dari tulisan yang telah dibacanya itu, namun pada akhirnya semuanya kembali ke satu pertanyaan awal: bisakah hal ini terjadi?
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan seperti ini sekarang, tapi Yelena yakin memang tak ada salahnya juga ia memperhatikan akan hal ini.
Yang di mana Yelena pikir tidak ada yang mau membaca buku ini, buku merah ini terlihat kusam dan lembaran kertasnya pun sangat rapi sekali seolah memang tidak banyak orang yang membaca buku ini.
__ADS_1
Hal ini memang wajar saja, mengingat para murid yang belajar sihir di sini memang sebagian besar tertarik dengan sesuatu yang pasti, misalnya cara belajar teknik sihir tertentu, dan pengetahuan sihir yang memang sudah terbukti di dunia nyata.
DDDDRRRT....
"?" Yelena heran dengan getaran kecil yang terjadi barusan, terasa dengan jelas dan tidak biasanya terjadi.
'Apa yang terjadi?' Yelena bangkit dari kursinya dan kemudian melihat ke luar, sekilas memang tidak ada yang berbeda sampai ia perlahan melihat ke langit.
Awan hitam pekat datang perlahan dari jauh, tidak seperti awan hujan biasanya, lebih hitam dan terus mendekati ke area Akademi. Entah mengapa Yelena merasa ada yang tidak beres di sini.
*
Sementara itu Freiss sedang berada di dalam ruang gurunya seperti biasa, melihat dokumen para murid yang menuntut ilmu di tempat ini.
Perhatian Freiss kini tertuju pada dokumen milik Feronica, ia memerhatikan bagaimana biodata dari gadis itu. Beberapa saat kemudian Freiss memang melihat ada sesuatu yang menarik di sini.
Dari semua yang belajar di tempat ini, hanya dia seorang memang yang punya status sosial yang berbeda dari antara murid lain. Karena satu atau lain hal Akademi Sihir Wolfden memang tidak memandang muridnya hanya karena satu hal saja.
Freiss memang tidak tahu dari awal mengenai Feronica ini, mengingat memang bagiannya mengajar adalah murid tingkat akhir saja, ia tidak tahu bagaimana Feronica ketika kelas satu dan dua.
Freiss tahu juga kebanyakan murid di Akademi memang dari kalangan terpandang, sulit untuk melihat ada yang berbeda, yang ternyata memang ada.
"Surat itu sudah kutitipkan pada seorang yang dekat dengannya...." gumam Freiss, ia ternyata sudah menyiapkan ini sebelumnya. Perintah langsung dari atasan Akademi yang memang sudah mengeluarkan keputusan.
"Kuharap dengan begitu ia bisa menerimanya...." Freiss masih melihat dokumen milik Feronica, sedang guru-guru lain di seberang mengamatinya dengan seksama.
"Lihat dia begitu serius sekali...." Joseph mengomentari bagaimana rekan sesamanya itu, tidak biasanya memang dia seserius itu.
"Hmph...." Sedang Housen hanya menyilangkan tangannya saja, tidak terlalu begitu peduli dengan apa yang dilakukan rekannya.
Tak berapa lama kemudian Freiss akhirnya menutup dokumen Feronica, dan kemudian berjalan keluar kelas untuk menghirup udara segar, namun apa yang ada di luar ini membuatnya heran.
__ADS_1
"Ada apa ini?"