Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 54: Konsekuensi


__ADS_3

'Aku tidak mengira akan jadi seperti ini....'


Sudah beberapa hari setelah Tes Kemampuan Sihir susulan berlalu, dan kondisi Yelena sekarang sudah mulai membaik dan bisa mengikuti pelajaran sekolah seperti biasa.


Namun apa itu sebanding dengan apa yang terjadi sekarang?


Semuanya tak lagi sama seperti sebelumnya.


Pandangan mata mereka, tindakan mereka jauh lebih sulit dipercayai....


"Hei Feronica, belum pulang?" Salah satu siswi sekelasnya menatapnya dengan sinis.


"Hei jangan bicara dengan monster! Kau ingin dihajar seperti Yelena?! Ayo pulang!" Rekan disebelahnya menarik tangannya dan meninggalkannya sendiri di kelasnya.


Feronica tertunduk, ia melihat bajunya penuh dengan coretan hitam dan juga warna lain. Baju akademi kebanggannya yang selalu ia bersihkan dengan hati-hati.


Kini semuanya terlihat kotor dan ada beberapa bagian seragamnya yang sedikit robek, namun untunglah ibunya menjahitnya dengan baik dan membuat bajunya ini masih bisa dipakai.


Kepalanya sedikit tertunduk, ia bisa melihat roknya yang juga kotor dan penuh coretan sama seperti baju atasnya, dan sepatunya yang kini terlihat dalam kondisi yang kurang layak pakai.


Di area bagian sepatunya terlihat ada yang bolong dan juga robek, menyisakan bagian kakinya yang bisa dilihat langsung. Orang yang melihatnya bisa langsung berpikir, mengapa orang ini memakai sepatu yang memang memperlihatkan bagian kakinya itu?


'Tapi aku butuh sepatu untuk pergi ke sekolah... sudah peraturannya seperti itu....' Feronica melihat kaus kaki di balik sepatu yang tengah dipakainya itu dan bisa sedikit menggerakkan kakinya di sana.


Ia memegang kepalanya sendiri. Rasanya agak sakit karena belum lama ini rambutnya itu ditarik paksa oleh rekannya dan efeknya masih terasa sampai sekarang.


Memang jika dilihat dari luar pun rambut Feronica terlihat acak-acakan dan beberapa bagian rambutnya terpotong dan hilang. Hal itu membuat rambut panjangnya yang dulu indah kini tidak lagi sama seperti sebelumnya.


Shhhh....


Suara angin sore dengan langit kuning ini merasuk masuk ke area kelasnya yang kosong tanpa ada siapapun selain dirinya. Kini udara masih terasa hangat namun rasanya sebentar lagi pun hawa udara akan berubah menjadi dingin seiring dengan berjalannya waktu.


Feronica membereskan peralatan belajarnya, buku-bukunya penuh dengan coretan dan juga tidak sedikit ada yang robek. Di mana buku itu adalah buku penting yang harus terus dipelajarinya agar mengerti ilmu sihir secara teori dan juga praktik.


Namun kini semua buku tugas dan materinya sebagian besar sudah berada di kondisi yang seperti itu, dan Feronica tetap memakainya meskipun isinya sudah tidak karuan lagi.

__ADS_1


'Rasanya hari-hari lama berlalu, semuanya sudah tidak sama lagi....' Feronica memikirkan apa yang terjadi selama beberapa hari belakangan. Namun seiring ia mengingatnya ada rasa penyesalan yang ada pada dirinya saat ini.


'Andai saja waktu itu aku punya kesempatan untuk menjelaskan pada keluarganya....' Feronica memandang langit berwarna kekuningan itu dengan penuh arti, yang ia menyesali akan keputusannya yang berimbas pada kenyataannya yang sekarang.


Krek....


Suara pintu yang tergeser tidak membuat Feronica mengalihkan pandangannya, rasanya ia terlalu peduli dengan apa yang sedang dilihatnya ketimbang apa yang disekitarnya.


"Sedang menikmati sore?" Suara pria dengan nada yang nyaring dan ramah tiba-tiba terdengar di sebelahnya. Tanpa perlu menengok pun Feronica tahu suara siapa yang sedang ada di sini.


"Ah, ini menangkan setelah belajar seharian." Kini Feronica mengangguk kecil sembari setuju dengan pernyataan pria yang sedang di sebelahnya ini.


"Memang tipikal dirimu Feronica, di saat yang lain sudah pulang namun kamu masih tetap ada di kelas." Pria itu memegang topi yang dikenakannya sembari tersenyum lembut.


Feronica ikut tersenyum lembut juga setuju dengan perkataan pria bertopi ini, ia sering menghabiskan waktu di kelas meskipun pelajaran sudah berakhir. Tapi tidak sampai petang juga sih, hanya beberapa saat demi mengusir lelah yang dirasakannya setelah belajar.


Pria bertopi itu melihat dengan seksama bagaimana Feronica tersenyum lembut, entah mengapa tapi ia sendiri merasa gadis itu memaksakan dirinya untuk tersenyum.


"Hei- bagaimana kalau akhir pekan kita jalan-jalan? Di sekitaran desa saja... dan itu pun jika kamu mau bersama dengan pria tua sepertiku hahaha!" Pria patuh baya bertopi itu tertawa saat itu juga, ia sendiri tidak terlalu tahu cara untuk menghibur seseorang, jadi hanya inilah yang bisa dilakukannya.


Feronica terdiam, senyumnya masih ada. Ia memirkan bagaimana akhir pekannya yang memang ia habiskan di luar rumah sendirian, entah itu berlatih sihir atau hanya sekedar menikmati alam. Jika saja ia memiliki rekan untuk menghabiskan waktu, akan lebih menyenangkan juga rasanya.


"Oh?" Tuan Jack sendiri tidak menyangka akan menerima jawaban 'ya', padahal ia pikir Feronica akan menolaknya dan memilih untuk pergi dengan rekannya yang sebaya.


Tuan Jack kini bisa melihat wajah Feronica yang berseri-seri, berbeda dengan senyuman yang terkesan dipaksakan tadi. "Jangan lupa ya Tuan!" Feronica tersenyum sumringah sekarang.


"Tentu saja!" Tuan Jack tersenyum lembut. Ia melepaskan topi yang dipakainya dan menyodorkannya pada Feronica.


"Sepertinya kamu akan cocok pakai ini Feronica," ujar Tuan Jack sembari melihat bagaimana rambut Feronica yang acak-acakan, kusut serta kurang rapi itu.


Feronica memandang sejenak akan topi yang disodorkan ke arahnya itu. Topi yang berwarna coklat agak kehitaman yang begitu minimalis dan sederhana. "Tapi ini 'kan topi Tuan Jack...." Feronica keberatan menerima topi yang sering dipakai oleh Tuan Jack ini.


"Tidak apa, pakai saja...." Tuan Jack mencoba menyakinkan Feronica. "Anggap saja ini sebagai hadiah karena kamu berhasil lulus Tes kemarin."


Tuan Jack bersungguh-sungguh, Feronica bisa merasakannya. Baru pertama kali ia melihat Tuan Jack tanpa topinya, dan penampilannya bisa dibilang tidak banyak berubah.

__ADS_1


Ia masih sama seperti Tuan Jack, pengurus sekolah yang ramah seperti biasanya meskipun tanpa topi yang merupakan ciri khasnya. "Terima kasih banyak Tuan...."


Feronica mengambil topi itu dan segera memakainya. "Wow, terlihat cocok untukmu...." Komentar Tuan Jack segera.


Feronica sedikit merapikan topinya, memang terasa nyaman karena dengan begini ia tidak perlu khawatir dengan penampilan rambutnya yang acak-acakan ini.


Tes....


Feronica menunduk ke bawah, raut wajahnya tidak terlihat karena memang ia sedang memakai topi. Namun bisa dipastikan ada air yang menetes dari pipinya saat itu juga.


*


Feronica akhirnya memutuskan untuk pulang setelah menenangkan diri beberapa saat dan juga mengobrol ringan dengan Tuan Jack. Perasaannya jadi terasa jauh lebih baik sekarang.


Tepat ketika di gerbang keluar sekolah, Feronica harus terhenti karena ia melihat ada dua orang rekannya di sana. Fredirica dan Rossa.


Feronica hanya memandang mereka dengan tatapan kosong seolah ia memang tidak begitu memedulikan keberadaan mereka di sana.


"Hah, itulah akibatnya jika kamu berurusan dengan Yelena." Fredirica langsung mengatakan hal ini, yang di mana Feronica sudah tahu pembicaraan ini akan mengarah kemana.


'Itu benar... Yelena adalah seorang siswi yang hebat, dia sebenarnya bisa mengalahkanku jika memang dia serius dari awal....'


'Mengapa aku pikir semuanya akan baik-baik saja setelah lulus Tes Kemampuan Sihir? Mengapa aku senang karena tidak perlu mengulang lagi selama satu tahun?'


Feronica kini hanya bisa berpikir dalam batinnya sendiri. Akan keputusannya yang terdahulu.


'Mengapa aku tidak menerima fakta yang sesungguhnya dan menerima kenyataan bahwa memang kemampuanku bukanlah tandingannya?'


'Bukankah itu lebih baik daripada memaksakan diri dan akhirnya merugikan orang lain?'


'jika aku menerima apa adanya, Yelena pasti tidak akan terluka sampai harus dirawat beberapa hari dan tidak bisa menghadiri kelas. Mengapa aku menghambat orang hebat sepertinya?'


'Andai saja waktu itu aku tak pernah menggunakannya....'


"Diam saja? Apa yang orang katakan tentangmu itu benar?" Fredirica agak sedikit kesal karena lawan bicaranya tidak mengatakan sepatah kata apapun.

__ADS_1


"Monster...." lanjut Fredirica dengan dingin.


"...." Feronica tertunduk, ia merapikan topi yang dikenakannya. Ia tidak punya hal apapun yang bisa dikatakan pada kedua rekannya ini.


__ADS_2