Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 117: Panggilan Alami


__ADS_3

Spontan tanpa berpikir panjang Feronica perlahan menoleh ke belakang ke arah suara lelaki bernada berat yang tiba-tiba muncul.


'Kenapa ada orang yang juga ada di sini?' Feronica pikir di jalan kecil seperti ini tidak ada lagi orang selain dirinya, namun ternyata tidak.


"Ah...." Feronica tertegun dengan mata yang sedikit terbuka lebar. Bagaimana tidak? Di depannya ada seorang pria dengan janggut dan kumis tebal, rambutnya punĀ  sedikit panjang. Jika dilihat sekilas postur tubuhnya kurang lebih sama dengan Joseph, gurunya di akademi.


Raut wajahnya terlihat keheranan melihat Feronica yang tertegun. Kini mereka berdua saling bertatap-tatapan saja satu sama lain.


'Bagaimana ini... apa dia ini?' Feronica mulai terpikir macam-macam. Di tempat sedikit suram ini ia bertemu dengan pria besar dengan raut wajah yang tidak terlalu ramah. Apa yang bisa terjadi di sini?


'Apa dia menyadari tanda itu?!' Feronica tidak bisa menahan untuk tidak berpikir seperti itu.


Pasalnya memang tanda yang muncul padanya berpotensi membuat orang lain mengikutinya... sampai ke sini....


"Ada perlu apa Tuan?" tanya Feronica dengan sedikit bergetar. Pada akhirnya tidak bisa mendikte situasi dengan pemikirannya saja. Karena terkadang pemikiran seseorang tidak selalu berujung pada hal yang sebenarnya terjadi.


"Ah, apa yang kau lakukan di sini? Cepatlah ke jalan utama. Di sini berbahaya," ujar pria besar berjanggut dan berkumis tebal itu. Ia terkesan lebih memerintah pada Feronica.


Feronica terdiam, ia tidak menyangka terlepas dari betapa serius dan tegasnya bapak besar yang muncul di belakangnya ini, malahan begitu peduli dengan keadaannya yang berada di tempat seperti ini.


Tadinya ia pikir pria besar dengan penampilan yang tidak bersahabat ini akan membuatnya dalam keadaan bahaya karena sadar akan tanda yang ada padanya, dan kemudian ada pangeran yang tiba-tiba muncul untuk menyelamatkannya.


'Mungkin aku terlalu banyak baca novel dan komik ya....'


"Terima kasih Tuan... kalau begitu saya permisi...." Feronica menundukkan tubuhnya dan kemudian sedikit berbalik.


Feronica sadar apa yang dikatakan oleh pria besar yang tiba-tiba muncul benar adanya, perasaannya jadi tidak enak tepat ketika ia mendengar peringatan tadi.


Kruuuk....


"HM?" Pria besar itu mendengar sesuatu yang tidak asing tepat sebelum gadis yang dinasihatinya itu pergi.

__ADS_1


"Nak, apa kau lapar?"


"Eh?" Feronica menghentikan langkah kakinya. Ia tidak bisa menyangkal suara yang tadi terdengar memang suara perutnya sendiri.


Apa ia bisa berasalan itu hanyalah suara buang angin? Feronica sedikit mengibaskan kepalanya. Mengatakan hal yang tidak jujur bukanlah jalan ninjanya- maksudnya jalan hidupnya.


Sudah beberapa saat ia berada di luar, dan belum menemui makanan berat, jadi wajar saja bilamana perutnya berbunyi sekarang.


"Ah tak apa Tuan, nanti saya cari makanan di luar...." Feronica berusaha menjawab dengan ucapan yang meyakinkan. Padahal ia sendiri tidak tahu ke mana ia bisa mendapatkan makanan... secara gratis.


'Aku tidak yakin uang yang dipakai sama dengan yang di desa....' Feronica terpikir akan hal ini. Yang ia tahu memang setiap daerah di dunia ini punya sistem perekenomiannya masing-masing. Apalagi saat ini ia yakin berada jauh dari kampung halamannya sendiri.


'Dan tidak bawa uang juga....' Feronica tersenyum kecil, memang untuk masalah perut ia hanya mengandalkan masakan ibunya yang begitu lezat dan ditunggu-tunggu olehnya. Namun kini ia tidak bisa lagi menikmati masakan ibunya.


'Aku tahu aku harus segera pergi dari sini dan pulang ke rumah, bagaimana pun caranya. Ibu mungkin khawatir di rumah....'


Feronica tahu lebih cepat ia pulang lebih baik, namun rencananya ini tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Ia belum tahu apapun soal mengapa ia bisa ke kota besar seperti ini dan keberadaan rekannya pun masih jadi pertanyaan baginya.


Kruuukk....


'Apa mungkin aku terlalu banyak menggunakan kekuatan sihir tadi ya?' Feronica tadi memang menggunakan energi sihir agar keberadaan tanda merah yang ada padanya jadi menghilang. Tapi hanya sebentar saja.


Menggunakan energi sihir secara berlebih akan berakibat pada lemasnya tubuh dan pada kasus Feronica ia kini merasa lapar dan rasanya harus segera diatasi.


'Aku mungkin tidak merasakannya. Tapi rasa lapar lebih baik daripada pingsan di sini....' Sebagai akibat dari penggunaan energi sihir demi menyembunyikan tanda aneh yang ada padanya, bisa saja berakhir lebih buruk daripada yang sekarang dialaminya.


"Jangan khawatir nak, ada kedai makanan milikku tak jauh dari sini, di sana kau bisa makan sepuasnya...." Akhirnya pria besar itu menunjukkan sedikit senyuman, yang hanya terlihat dari gestur wajahnya saja karena terhalang janggut dan kumisnya yang tebal.


"Benarkah?!" Feronica melipat kedua tangannya sekaligus memandang dengan tatapan berbinar.


'Tuan besar ini pemilik toko makanan? Hebat!'

__ADS_1


Feronica sulit percaya jika ia tidak mendengarnya secara langsung darinya.


"Tapi Tuan... saya tidak punya uang...." Feronica menyampaikan masalahnya sekarang. Tidak mungkin ia makan seeenaknya tanpa membayar bukan? Yang ia tahu untuk sebagian yang ada di dunia (tidak semua) perlu uang, dan termasuk makanan.


'Ho, jangan khawatir soal itu... aku juga baru pertama kali melihatmu di sini. Aku selalu rutin ke sini untuk memastikan tidak ada berandalan yang bersembunyi di jalan kecil ini, dan syukurlah tidak ada."


'Memastikan berandalan? Apa yang Tuan ini maksud orang-orang jahat yang bersembunyi dalam gelap?' Feronica sedikit menghela nafas, ternyata tempat ini rawan dengan kegiatan yang tidak baik seperti itu, terlepas dari kota besar sekalipun.


"Para berandalan ini sering diam di tempat sempit seperti ini, meminta apapun yang berharga pada siapapun yang lewat dan mengancam mereka. Mereka ingin dapat uang dengan mudah...." jelas pria besar itu.


"Mereka banyak beraksi di malam hari, tapi siang hari pun tidak jarang ada saja. Mereka pindah-pindah agar sulit di temukan...."


"Tapi Tuan bukankah di sini ada ksatria penjaga atau orang khusus yang menjaga keamanan kota? Mengapa masih ada kasus seperti ini?" Feronica penasaran mengenai hal ini.


Apa sebabnya kota besar ini tidak seaman yang ia pikirkan sebelumnya?


"Ah soal itu ceritanya panjang, namun yang pasti tidak peduli di sini kota besar sekalipun, tetap saja ada orang-orang tertentu yang berbuat jahat. Kota ini diawasi dan tetap saja tidak cukup meredam apa saja yang dilakukan warganya.


"Begitu ya...." Feronica sedikit mengangguk mengerti sekarang.


"Aku juga dulu merantau ke tempat ini, dan akhirnya bisa buka toko sendiri. Sudah sepatutnya kita sesama pendatang harus tolong menolong bukan?" Feronica bisa mendengar begitu ramah suara yang keluar dari pria besar ini.


'Aku pernah dengar, kesempatan tak akan datang dua kali. Menurutku tidak sepenuhnya benar juga sih. Mungkin aku bisa makan nanti dengan cara lain. Namun yang jadi masalahnya aku tidak tahu bagaimana cara lain bisa terjadi....'


Feronica bisa saja mengabaikan tawaran dari pria besar ini, dan memilih untuk mencari jalan lain untuk bisa makan. Namun jika ia menolak, maka sama saja ia sudah menyusahkan diri sendiri.


Ada orang baik hati yang tak perlu ia curigai yang mau menolongnya. Mengapa ia mencari kesempatan lain juga?


Feronica ingat pesan ibunya soal jangan percaya dengan orang asing. Namun jika di posisinya sekarang tidak mungkin ia menerapkan itu, malahan ia perlu berbaur dengan orang asing demi tujuannya juga.


Feronica tidak bisa menunggu kesempatan tak pasti baginya untuk mencari dahulu keberadaan Stephen, sedang untuk mencari keberadaan rekannya itu butuh energi yang tidak sedikit.

__ADS_1


Bukankah kesempatan seperti ini jangan disia-siakan?


"Mohon bantuannya Tuan!" Feronica menundukkan badannya, ia percaya dengan tawaran pria besar yang dijumpainya sekarang. Berharap mendapat kembali energi yang sudah hilang dari dalam dirinya sendiri.


__ADS_2