
Fredirica yang sadar ternyata ada secarik kertas di antara debu abu bekas perapian dengan segera mengambil kertas tersebut dari antara debu yang masih hangat itu.
Ketika ia berhasil mengambilnya, Fredirica hanya terdiam melihat secarik kertas yang utuh tanpa terbakar sedikitpun.
Kertas itu tak lain tak bukan adalah kertas surat yang sebelumnya dibuang oleh Rossa, entah bagaimana caranya kertas itu tidak ikut terbakar oleh api perapian itu.
Padahal kertas adalah benda yang rapuh terhadap api, tetapi mengapa kertas surat yang dibuang tadi malahan tidak terbakar sama sekali?
Fredirica perlahan membuka kertas tersebut, ia memang sering melihat surat seperti ini namun setidaknya dengan membacanya ia bisa mengobati kerinduan pada orang tuanya meskipun hanya sedikit saja.
Sedikit terpengaruh karena rasa frustasi kakaknya itu tidak membuat Fredirica benar-benar enggan membaca surat dari orang tuanya itu.
Pada akhirnya Fredirica mulai melihat surat yang sering dikirimkan itu, rasanya tidak jauh berbeda dengan apa yang selama ini ia dan kakaknya terima.
Fredirica terdiam, matanya bergulir membaca setiap kata demi kata dalam surat itu, perasaan rindu dan ingin bertemu pada akhirnya memenuhi lubuk hatinya.
- Rossa\, Fredirica\, kedua anak kami tercinta bagaimana kabar kalian? Ayah dan ibu di sini baik-baik saja\, bagaimana hari-hari kalian di sana? Jangan lupa menulis balik surat ini dan ceritakan pengalaman kalian ya\, ayah dan ibu menunggu loh! Makanlah yang banyak dan jadi kuat\, jangan terlalu berlebihan dalam melakukan sesuatu tetapi jangan lalaikan kewajiban juga yah! Ayah dan ibu yakin kalian pasti bisa menjadi hebat dan mewujudkan impian kalian jadi kenyataan. Sebentar lagi musim dingin tetap hangat dan jangan menghabiskan waktu di luar ya! Jaga hubungan dengan teman-teman dan usahakan selalu akrab\, saling mengandalkan itu penting bagi siapapun termasuk kedua putri ayah dan ibu. Tetaplah semangat dalam menjalani hari\, tersenyumlah pada semua orang\, karena itu adalah hal yang berharga. Ayah dan ibu selalu menyayangi kalian. Penuh cinta- William dan Cyclene-
"...."
Fredirica terdiam, mengapa selesai di sini? Padahal ia masih ingin membaca lebih banyak surat dari orang tuanya ini.
Tapi pada kenyataannya memanglah begitu, seperti biasanya surat yang dikirimkan oleh kedua orang tua mereka bukanlah surat yang terlalu panjang seperti karangan cerita novel. Melainkan isinya sederhana sekali sampai-sampai tidak sadar sudah selesai saja dibaca sampai situ.
Surat itu berakhir begitu cepat, padahal untuk kiriman surat selanjutnya tidak tahu kapan lagi, meskipun surat itu sering datang ke rumah mereka, akan tetapi bagi Fredirica rasanya tetap harus menunggu lama untuk mengetahui apa yang diungkapkan oleh kedua orang tua itu.
Pada akhirnya Fredirica bisa melihat surat yang sebelumnya berusaha disingkirkan oleh kakaknya itu, sebelumnya ia dan kakaknya memang sering membaca surat ini bersama-sama dan merasa lebih baik setelah membacanya.
Namun kini rasanya memang ada yang berbeda, Fredirica memang merasa lebih baik setelah membaca surat ini, namun ketiadaan kakaknya saat membaca surat ini membuatnya agak aneh.
Tidak ada lagi obrolan hangat setelah membaca surat ini, dan pula tidak ada lagi waktu menunggu bersama surat selanjutnya datang.
__ADS_1
Fredirica tahu momen di mana kakaknya sudah berlaku seperti ini maka semuanya memang sudah jelas akan berbeda adanya.
Kakaknya tidak lagi peduli akan surat yang dikirimkan, hati yang sudah mengetahui kebenaran memaksakannya untuk bertindak sebagaimana yang dia mau.
Fredirica tidak meminta kakaknya untuk berubah, namun setidaknya ia harap kakaknya bisa kembali memikirkan hal ini dan kembali seperti semula.
Kebersamaan dengan orang tua memanglah harapan terbesar yang diinginkan oleh Fredirica juga, namun ia memang sadar keputusannya berada di sini adalah keputusannya dan kakaknya untuk mempersiapkan diri mengejar mimpi mereka.
Hanya saja ketidakjelasan tentang mengapa orang tuanya tidak kunjung datang secara langsung membuatnya dan kakaknya bertanya-tanya dalam jawaban yang tidak bisa mereka dapatkan.
Sampai di titik di mana kakaknya menyadari hal ini dan memilih untuk mengacuhkan semua ini, Fredirica berusaha untuk mengingat kembali akan tekadnya untuk terus mengemban ilmu dan mewujudkan mimpinya menjadi seorang yang hebat dalam ilmu sihir.
Fredirica sadar, kertas surat yang sedang dipegangnya itu dikirim oleh orang tuanya sendiri, melalui perantaraan sihir yang hebat. Jadi untuk apa ia khawatir sebelumnya surat ini akan dilalap oleh api?
Pada kenyataannya surat tersebut dikirim oleh orang tua mereka yang notabene sudah ahli dalam ilmu sihir, secarik kertas itu tetap utuh karena memiliki energi sihir yang mampu membuatnya tahan terhadap apapun.
Tidak mungkin orang tuanya tidak mengantisipasi hal ini terjadi, semua sudah direncanakan agar surat tersebut benar-benar terlindungi dan sampai ke tengan kedua putrinya yang tercinta.
Fredirica sebelumnya tidak menyadarinya, begitupula dengan saudaranya.
Fredirica menyimpan secarik kertas itu dan kemudian pergi ke kamar untuk beristirahat.
*
Sementara itu Rossa dalam ruangan kamarnya termenung duduk di sebelah ranjangnya yang besar, nyaman dan empuk itu.
Ia duduk diam tak melakukan apapun, hatinya masih terombang-ambing emosi akan apa yang terjadi sebelumnya. Ia heran dengan semua yang terjadi saat ini.
Mengapa orang tuanya itu tidak pernah berkunjung ke sini dan hanya mengirim surat saja? Jika saja Rossa memiliki kesempatan untuk mendengar alasannya maka agaknya ia tidak perlu merasa seperti ini.
Perasaan sesak dan tidak mengerti akan apa yang terjadi, itulah yang sedang dialami oleh gadis ini sekarang. Rossa tidak lagi terima akan cara yang dilakukan oleh orang tuanya itu.
__ADS_1
Keinginannya adalah untuk melihat orang tunya secara langsung, sesederhana itu namun mengapa hal itu tidak kunjung terjadi?
Perlahan Rossa memegang dadanya, masih terasa sesak dan tidak terima, amarahnya belum mereda dan rasa kesal pada akhirnya memuncak juga.
"..."
"....."
".... Kenapa?" Rossa menunduk, raut wajahnya berubah menjadi murung setelah beberapa saat berlalu.
Ia adalah figur seorang kakak yang harusnya menjadi teladan bagi adiknya, namun tadi ia bersikap hanya menurut emosinya saja dan tidak peduli akan hal lain.
Perlahan namun pasti Rossa akhirnya sadar bahwa emosinya yang meluap membuat situasi jadi tidak mengeenakkan tadi.
Meskipun dalam lubuk hatinya masih terdapat berbagai macam alasan dan protes akan apa yang terjadi namun pada akhirnya dengan mengeluarkan emosi hatinya tidak membuat semuanya jadi lebih baik.
Rossa berusaha mendinginkan kepalanya, menenangkan gejolak emosi yang ada pada dirinya itu. Setelah beberapa saat akhirnya ia mulai bisa tenang dan berpikir jernih.
"Kenyataannya memang begitu ... aku tidak terima ... tapi aku bisa apa?" Rossa tersenyum kecil sembari mematikan emosinya sendiri, tanpa ia sadari tidak hanya rasa kesal, amarah, dan tidak terima yang hilang, namun juga sebagian perasaan lain juga ikut hilang bersamaan dengan itu.
Ini berarti Rossa mulai tidak lagi mengharapkan sesuatu yang ia paksakan sebelumnya, dan ia akan menerima apa pun yang terjadi. Tidak ada lagi emosi berlebihan yang mengikatnya sekarang ini.
Rossa sadar ia punya seorang saudara yang harus dibimbingnya, dan sehubungan dengan itu ia harus menjadi kakak yang terbaik dan menjadi panutan bagi Fredirica, adiknya.
Rossa merasa sedikit malu karena emosinya tadi, tidak seharusnya juga ia mengambil surat kiriman orang tuanya dari adiknya itu dan melemparkannya ke api perapian.
Amarah dan frustasi besarlah yang membuatnya melakukan hal itu dan menganggap itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.
Pada kenyataannya tidak begitu. Emosi berlebihan tidak mengerjakan sesuatu yang baik, malahan bisa membuat situasi lebih runyam dari sebelumnya.
Rossa sepenuhnya sadar sekarang, ia tahu ia tidak bisa berpegang pada keinginan sepihaknya dan berusaha menerima apa yang sekarang ini terjadi adalah hal yang paling benar untuk dilakukan.
__ADS_1
Kini ia merebahkan dirinya di kasur dan menutup matanya, dalam lubuk hati terdalam sebenarnya ia memang ingin membaca surat yang dikirimkan oleh kedua orang tuanya itu.
Andai saja surat tersebut tidak dibuang olehnya....