
“Kau membuatku jadi bodoh.” Felicia memegang kepalanya sembari tersenyum kecil.
Ia tak menyangka tekad kuatnya akhirnya runtuh juga. Memang dari dulu dia pintar bicara.
Stephen tersenyum kecil.
Tak terasa hari beranjak gelap dan udara dingin menerpa mereka.
HUSSSH….
Hempasan angin kencang makin menjadi-jadi. Situasi tak terlihat bersahabat.
‘Badai?’ Stephen melihat langit.
Cuaca berubah begitu cepat, beginikah keadaan alam di tempat ini?
Felicia terdiam, raut wajahnya menyiratkan ada sesuatu yang aneh di sini.
JDER!
Petir dan guntur hebat muncul begitu saja.
“Hhhhh….” Feronica tak bergeming, tertidur pulas.
“Stephen.” Felicia belum pergi. Ia masih merasa ada yang tak beres.
“….” Stephen terdiam, lama-lama ia merasa ada yang aneh juga.
“GRRR….”
“!” Ada suara dibelakang rekannya itu!
“Felicia!”
SUWSH!
Stephen menyilangkan tangannya, ada serangan!
SRAK!
Tanda cakaran besar langsung tercipta di lengannya. Ia agak lengah.
Ia menurunkan aura kekuatannya tanda percaya pada rekan lamanya, namun tak menyangka akan ada serangan lagi.
Tap.
Felicia berhasil menghindar dari hempasan serangan cakar itu dan kini berdiri di sebelah Stephen.
Shhh….
Luka di tangannya dengan cepat pulih kembali, mata kuning tajamnya menatap ke arah datangnya serangan itu.
“Aku tak diajak?”
“!?”
Terdengarlah suara berat dari arah gelapnya pepohonan rindang.
“Nah.” Baru saja dibicarakan, langsung muncul.
“Kenapa….?” Felicia tidak mengerti, padahal ia yakin tak diikuti siapapun.
Tak lama muncullah sosok tak asing dengan mata kuning terang tajam.
“Tuan….” Felicia kehabisan kata-kata. Tak menyangka tertangkap basah begini.
“Sepertinya obrolan kalian menarik.” Pria itu kini tampil tanpa luka dan dengan kepercayaan diri yang baru.
“Kak.” Stephen terdiam, ia tahu saudaranya pasti akan kemabali, tapi tak menyangka secepat ini.
“Kau seharusnya mengakhiriku selagi masih sempat.” Alex tersenyum ganas. Masih mau memberi nasihat juga.
Sret.
“Ada hukuman untuk orang yang tak setia.”
“!” Felicia terkejut dalam diam.
Rencananya gagal berurutan, ditambah orang kepercayaannya berkhianat.
Apalagi yang bisa terjadi?
“Aku….” Felicia terdiam, ia tak melanjutkan perkataannya.
Alex sudah memperkirakan hal ini.
Dia masih menaruh perasaan pada adiknya.
Bahkan setelah semua yang mereka lalui, dia hanya mengenakan topeng saja.
“….” Stephen terdiam, bersiaga penuh.
Rekan disebelahnya ini bisa menusuknya kapanpun….
….
__ADS_1
‘EH?’ Dia sama sekali belum beranjak menyerangnya!
“Felicia.” Stephen terdengar serius, ia bisa menyerangnya duluan.
Sret.
Felicia memasang pose bertarung.
“!” Malah mengarah pada kakaknya!
Mereka ‘kan satu tim! Lho kok?
Stephen heran.
“….” Alex terdiam, senyum kecil terukir.
“Kemarilah.” Ia mengangkat tangannya, terbuka untuk diserang.
SWUSH!
Perempuan cantik itu langsung melesat dan menyerangnya dengan cepat!
“….” Stephen terdiam, ia tak menyangka kelakuan rekannya berubah dratis begini.
Apa ada udang dibalik batu?
Stephen tak tahu jelas kenapa Felicia berubah. Namun ia tak boleh melonggarkan serangannya, mengingat apapun bisa terjadi.
Sementara itu kakaknya dan rekan lamanya makin menjauh, masuk lebih dalam ke area pepohonan rindang.
HUSH!
BUAGH!
“Haha!” Alex terhibur dengan rentetan serangan ini.
Felicia menyerangnya brutal dan serius pula!
Namun sayang sekali semua serangan cepat dan kuatnya itu berhasil diatasi dengan mudah oleh lawannya.
Pria ini mampu membaca serangannya dan menghindarinya.
BUAGHH!
SREEET….
Dan melancarkan serangan balik!
Pukulannya berhasil memukul mundur perempuan ini!
Asap keluar dari lengannya, menandakan pukulan tadi tidaklah main-main.
“….” Felicia terdiam, ia sudah memutuskan langkah barunya.
Pada akhirnya ia benar-benar tak bisa mengikuti jalan pria ini.
Dan cukuplah sudah.
Dirinya yang sudah disadarkan punya pandangan baru dan mengubah tujuannya pula.
“Felicia … kau lebih jahat dariku.”
“!”
Felicia terdiam, itu bukan hanya sekedar pernyataan belaka … tapi kenyataan.
Ia sudah melakukan banyak misi dibalik layar dan mengambil peran jahat.
Menyiksa lawannya dan bersenang-senang akan kematiannya sudahlah hal wajar baginya.
Perasaannya tumpul dan ia tak peduli apapun lagi.
Sret.
Tapi pria itulah otak dibalik semua ini!
Dia ingin menunjukkan betapa mengerikannya makhluk non-manusia dan membuat keberadaan mereka diakui di dunia ini!
Misinya takkan berhasil kalau masih ada yang menentangnya.
Itulah sebabnya ia mengutusnya untuk menangkap Stephen.
“Aku tidak mau melihatmu menciptakan ‘aku’ yang lain.” Felicia menatap tajam.
Perkataannya berat, namun Alex tahu apa maksudnya.
“Sampah tidak ada gunanya lagi selain dibuang.” Alex menatap remeh.
Ia sudah cukup memanfaatkannya sebagai boneka, kini waktunya mencari yang lain.
SWUSH.
Felicia dipenuhi tenaga.
“Sampah?”
__ADS_1
HUSH!
BUAAAGH!
“Masih bisa berguna!” Satu pukulan solid masuk telak!
*
Sementara itu.
“UGH.” Stephen terilhat pucat. Ia memegang tangannya sendiri.
‘Inikah yang Feronica rasakan?’ batinnya.
Tak disangka tanda merah ini benar-benar mengejutkan.
Memang terlihat keren dari luar. Namun beda lagi kalau sudah merasakannya.
Stephen meringis kesakitan,ia bahkan tak bisa terus menunjukkan sisi lelaki yang gagah.
Kalau sakit ya sakit. Ada kalanya tidak perlu disembunyikan.
“….” Bergulat dengan rasa sakit memang tidak menyenangkan, tapi ia tak bisa lari juga!
“Hngghh….”
“!” Dia bangun!?
Stephen masih belum siap! Ia masih berjuang!
“Kak?” Feronica bangun dan mengucek matanya.
“Oh.” Sudah malah ya, dan hujan deras lagi.
“KAK!?” Kenapa dia seperti tersiksa begitu!?
“A- aku baik.” Stephen bergetar, berusaha menunjukkan senyumnya.
“BOHONG.” Raut wajahnya mengatakan sebaliknya!
“!” Lagi-lagi hawa ini!
“Kak tanganmu!” Tanda merah menyalanya malah makin menyebar!
“….” Stephen tak berkomentar, ia sibuk menahan rasa sakitnya.
Feronica tak menyangka malah jadi begini.
Dirinya sudah bugar, eh malah giliran kak Stephen!
*
“Haaa … haaah….” Felicia berusaha tetap berdiri, sementara darah perlahan mengalir dari sekujur tubuhnya bersamaan dengan derasnya hujan dan dinginnya malam.
Sementara sudah bisa ditebak bagaimana keadaaan sekitarnya sekarang.
“Pantas kau kalah dengannya.” Sang pria dengan tatapan kuning tajam akhirnya sadar.
Alex berharap lebih, dan dia mengecewakannya.
Sret.
Felicia mengelap darah di mulutnya. “Heh.”
“….” Pria ini terdiam, ia pikir dia akan naik pitam setelah mendengar perkataannya.
Tak bisa dipungkiri itu perkataan yang tidak menyenangkan untuk didengar, namun Felicia tetap tenang.
Ia tidak memasukkan perkataan itu ke dalam hatinya.
‘Tuan Alex memang hebat.’ Felicia hanya mengatakannya dalam batinnya,.
Tuan Alex bisa saja mengakhiri ini dengan cepat, namun dia tidak melakukannya.
‘Dia menahan diri demi melihat kemampuanku.’ Felicia langsung tahu tahu akan hal ini.
Kondisinya memang tidak prima lagi.
Terutama setelah semua yang terjadi, pertarungannya dengan gadis kecil itu memakan banyak tenaga.
Ia sampai rela mempermalukan dirinya dengan takut pada gadis kecil dan tak mau bertarung dengannya lagi.
Namun memang itukah keputusannya.
Ia hanya menuruti instingnya untuk tidak berurusan dengan bahaya lagi.
“Terima kasih Tuan Alex.” Felicia teresenyum kecil.
“….” Pria ini terdiam, ia tak paham dengan apa yang terjadi padanya.
Selama ini ia diperlakukan baik, membuatnya lupa akan duka masa lalunya.
Namun pada akhirnya Felicia sadar, ia tak bisa terus menutup mata pada apa yang ia lakukan.
Ia jahat, memang jahat.
__ADS_1