Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 57: Mencoba Mengerti


__ADS_3

"Ahahaha!" Feronica menyeringai menatap tajam pada lawannya.


BRAGH!


"Sihir Kegelapan: Pertahanan!'


Stephen dengan segera mengucapkan kalimat saktinya demi mengatasi serangan yang meluncur ke arahnya itu di kondisinya yang masih melayang dan tak memungkinkan untuk bertahan langsung, apalagi menghindar.


HUUUSH!


Seketika itu juga gelombang angin yang luar biasa besar terjadi. Serangan kaki Feronica yang dilapisi dengan kekuatan tanah yang amat keras nan kuat itu terhenti. Tepat sebelum serangan itu sampai ke wajah sasarannya.


"Hm?!" Feronica memasang wajah heran seketika itu juga, padahal orang yang diserangnya itu tidak menangkis serangannya. Lalu mengapa bisa tendangannya itu terhenti?!


Seakan tendangannya itu menabrak dinding keras tak terlihat di sekitaran pria ini.


Krttt...


Feronica berupaya memperkuat tendangan yang dilancarkannya itu demi memastikan mengapa serangannya tidak kunjung sampai pada lawannya.


"?!" Feronica sekarang melihat ada bayangan hitam transparan yang menyelubungi pria itu yang bisa dipastikan itu adalah penyebab serangannya terhenti.


"Heh...." Feronica memandang ini dengan sedikit tersenyum, raut wajahnya lebih menegaskan ia tertarik dengan pria asing ini.


'Kekuatan ini ... perasaan ini ....' Stephen berupaya menahan serangan Feronica dengan teknik sihir kegelapan. Dan itu terbukti efektif.


'... Apa memang perasaanku tidak salah? Tanda api merah itu begitu mirip dengan yang kujumpai dulu....' Stephen berusaha untuk mengalisis perasaannya ini.


'Aku tidak tahu apakah tanda api merah padanya berhubungan dengan masa laluku atau tidak...'


'... Kekuatannya ini benar-benar berbeda dari sebelumnya....' Stephen kini berusaha memikirkan alasan mengapa Feronica jadi diluar kendali seperti ini.


'Pasti ada sebab yang jelas untuk menjelaskan ini....' Stephen sampai di tingkat pemikiran di mana ia harus mencari tahu apa penyebab gadis ini menjadi di luar kendali.


'Apa jangan-jangan?!'


Stephen teringat akan penampilan Feronica tadi, sontak dalam benaknya terpikirkan satu kemungkinan alasan mengapa dia menjadi seperti ini.


"Feronica!" Stephen berseru dengan suara yang nyaring dan jelas. Nadanya itu terdengar ia benar-benar memanggil gadis itu dengan serius. Ia tetap mencoba berkomunikasi dengannya meskipun tahu caranya itu sudah tidak berguna lagi.


"Gr!" Feronica hanya menggeram tidak menggubris apa yang dikatakan Stephen.

__ADS_1


Tap!


Feronica menendang udara ke arah pria itu setelah tahu serangan kakinya itu berhasil ditahan. Bukan menyerang lagi, namun sebaliknya, mengambil jarak yang cukup jauh dari pria tak dikenal ini.


'Dia mundur?' Stephen mengamati dengan seksama pergerakan gadis itu.


"...."Stephen menyadari ia kini sudah ikut campur urusan pribadi Feronica. Dengan menghalangi jalannya pertarungan tadi.


Tapi memang tidak ada jalan untuk mengetahui kebenaran selain menyelami sumber kebenaran itu. Kebenaran yang dicarinya berkaitan erat dengan gadis yang saat ini menyerangnya ini.


Stephen memantapkan apa yang tadi diputuskannya, berusaha agar tidak meragukan lagi akan keputusannya ini.


Tap.


Feronica menjaga jarak dengan Stephen, dan jarak yang diambil bukan jarak yang dekat.


Aura kekuatan Feronica tidak kunjung mereda, malahan sebaliknya semakin kuat dan membuat semua orang yang berada di sekitarnya waspada. Termasuk Stephen saat ini.


'Ini tidak bagus... jika dibiarkan begini tubuhnya tidak akan kuat menampung kekuatan di dalam.' Stephen mulai memikirkan hal ini. Memang bagus ketika kekuatan besar diiringi dengan kemampuan mengendalikannya namun bagaimana jika yang sebaliknya terjadi?


Stephen baru pertama kali melihat Feronica seperti ini, memang ia pernah melihatnya sebelumnya dengan tanda yang sama. Namun kali ini yang muncul darinya bukanlah hanya sekedar tanda dan juga kekuatan besarnya itu.


Seperti ada yang lain yang berusaha ditunjukkan Feronica, dan itu adalah....


Memerhatikan bagaimana ekspresi Feronica sebelumnya, mungkin ini memang hanya sekedar dugaan saja. Namun Stephen begitu yakin mengenai ini.


'Aku bisa merasakan perasaannya dari jauh meskipun tidak tahu apa yang terjadi dengannya... dan yang selalu dirasakannya itu adalah ... kesedihan....'


'Apa memang itu adalah perasaannya yang sebenarnya?'


Stephen tahu Feronica tidak mungkin menyerang kedua rekannya tanpa sebab. Dia bukanlah gadis garang suka marah pada orang lain.


Melihatnya di sisi yang berbeda ini membuat Stephen bisa sedikit mengerti, bahkan tanpa penjelasan sekalipun.


HUSH!


Stephen menatap dengan raut wajah yang murung, bibirnya turun ke bawah dan menatap Feronica yang melesat cepat ke arahnya dengan penuh pengertian.


"Apa itu yang selama ini kau-"


BUAK!

__ADS_1


DUAGH!


Tak sempat Stephen mencoba mengerti lebih dalam perasaaan Feronica, gadis itu sudah ada di dekatnya dan hendak melakukan urusannya.


Stephen dan Feronica beradu tendangan dan pukulan dengan kecepatan yang sulit dilihat dengan mata. Membuat gelombang kekuatan yang hebat berada di sekitar mereka.


Dengan berbagai macam teknik tendangan dan pukulan yang masing-masing mereka lancarkan, maka memang agak sulit rasanya mendeskripsikan adegan pertarungan yang luar biasa cepat ini.


'Level kekuatannya sudah berada jauh di banding murid sekolah sihir... ini kali pertama aku bertarung setelah sekian lama...' Stephen kini merasa tubuhnya lebih mudah digerakkan dan tentunya ini bukan hal yang buruk.


TAP!


'Aku harus mengunci gerakannya!'


Stephen berhasil memegang kedua tangan Feronica setelah beberapa saat berjiibaku dengan serangan gadis itu. Dengan begitu ia bisa lebih leluasa untuk tidak membiarkan Feronica menyerang dengan bebas.


Drrttt....


Feronica tidak diam saja di sana, ia berusaha untuk melepaskan kedua tangan dari lawannya itu, dan untuk melakukannya memanglah perlu usaha lebih.


'Kekuatan fisiknya kuat!' Stephen sudah berupaya mengunci pergerakan kedua tangan Feronica denga kedua tangannya sendiri pun rasanya belum cukup.


HUSSSH!


Karena begitu hebatnya aura kekuatan yang muncul dari mereka berdua, maka terciptalah gelombang angin hebat yang menghempaskan apa yang ada di area ruang putih kosong buatan Stephen ini.


Karena kita tahu tidak ada apapun di sini selain Stephen dan Feronica, maka memang hanya keduanyalah yang masih saling mengunci satu sama lain.


"Grrrr....' Feronica kini berubah air mukanya, terkesan lebih serius kali ini karena tidak suka gerakannya dihentikan seperti ini. Sedang dalam upayanya untuk melepaskan diri pun masih belum bisa.


Stephen dengan kekuatan yang perlahan mulai terkumpul kembali berusaha memanfaatkan momentum ini, dengan begini ia bisa terus membuat Feronica kelelahan dan berhenti di sini.


'Tidak perlu ada yang tersakiti di sini....' Stephen berusaha agar rencananya ini berjalan sebagaimana mestinya. Ia tetap mengunci gerakan Feronica dan memang kini gadis itu terhenti gerakannya dan masih beradu kekuatan dengannya saat ini.


Di tengah adu kekuatan fisik yang tengah berlangsung, Stephen menatap Feronica dengan seksama dari jarak dekat, dan beberapa saat kemudian ia bisa tahu pasti apa yang diduganya sebelumnya memang tidak terlalu jauh dari kenyataannya.


Lho, bagaimana mungkin Stephen bisa tahu apa yang sedang terjadi dengan Feronica? Bukankah ia hanya bisa merasakan perasaannya saja dan tentu saja itu belum cukup untuk menggambarkan apa yang terjadi padanya?


Stephen tahu garis kecil latar belakang Feronica, dalam waktu yang singkat ia mencari informasi tentang tempat tinggalnya, orang tuanya, juga status sosial di desa. Dan setelah mengetahui informasi ini Stephen menyatukannya dengan fakta bahwa memang dia bersekolah di sekolah yang cukup ternama yang sebagian besar muridnya dari kalangan keluarga yang berada.


Penampilannya setelah beberapa hari terahir memanglah begitu mengejutkan. Namun itu bukanlah satu-satunya hal yang patut diperhatikan.

__ADS_1


Dibaliknya masih banyak hal yang memang benar-benar tersembunyi dalam hati gadis itu.


"Jadi apa ini yang selama ini kamu lalui Feronica?" Stephen menatap Feronica dengan raut wajah murung, sedikit menggertakkan gigi karena merasa dadanya sedikit sesak.


__ADS_2