
Rossa hanya memerhatikan sedari tadi, ia sendiri tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi. Di mana keluarga Yelena tidak terima akan apa yang terjadi dan menyebarkan kebencian pada siapapun yang telah menyakiti putrinya.
"Kebahagiaanmu hanya bertahan sebentar ya," kata Rossa pendek, nadanya tidak mengisyaratkan ia peduli dengannya, namun lebih kepada komentar biasa yang sama sekali tidak enak didengar.
"Ya, begitulah. Maaf jika aku menghalangi kalian, tapi aku mau pulang ke rumah sekarang," ujar Feronica sembari menaikkan bibirnya, saat ini tidak butuh omongan sampah yang hanya akan membuatnya sedih.
"Hah? Mau kemana? Setelah sekian lama kau menjadi buah bibir dan pembicaraan banyak orang di akademi, kau lupa pada kami?" Fredirica tidak membiarkan Feronica pergi semudah itu, memang benar Feronica akhir-akhir ini berurusan dengan banyak orang, jadi untuk sementara dua bersaudara ini tidak bertemu dengannya, sampai saat ini.
"Memangnya kenapa? Kalian merindukanku?" Feronica berusaha mempertahankan senyum yang dipaksakannya itu, mengetahui mereka ingin bertemu dengannya sama sekali tidak membuatnya senang.
Memang benar apa yang dikatakan Fredirica, Feronica menjadi lebih dikenal dan membuatnya lebih banyak dibicarakan, dia tidak diabaikan lagi sekarang.
Kini semua murid akademi tahu siapa dirinya. Seorang 'Monster' yang telah menyakiti Yelena dan kini perlakuan murid di akademi padanya sudah beragam macamnya.
"Lihat penampilanmu sekarang! Jauh lebih baik dari yang dulu. Kau terlihat cocok seperti ini Mpph!" Perkataan Fredirica terhenti karena ia berusaha untuk menahan rasa gelinya itu.
Melihat Feronica dalam keadaan yang seperti itu membuatnya puas, karena memang begitulah seharusnya penampilan si 'miskin' dan 'monster' ini. Monster tidak punya apapun yang membuatnya terlihat menarik dan sebagai murid dari kalangan bawah, Feronica seharusnya tidak usah berdandan dan berpenampilan menarik hanya untuk menutupi statusnya itu.
Sudah seharusnya dia sadar diri dengan jati dirinya yang seperti itu.
Rossa menutup mulutnya hanya untuk menahan agar ia tidak tertawa. Ia merasa terhibur karena puas melihat apa yang sekarang ini dilihatnya.
"Ahaha...." Feronica ikut tertawa kecil, apa yang dikatakan mereka berdua memang tidak sepenuhnya salah, ia memang si 'monster' yang melukai temannya sendiri, dan si 'miskin' yang berusaha untuk berkamuflase menjadi salah seorang dari murid akademi yang bergengsi ini.
"...." Feronica hanya merasa geli pada hatinya, ia tersadarkan oleh sesuatu yang seharusnya ia sadari dari dahulu.
Mungkinkah memang semangatnya ini salah? Mungkinkah keajaiban yang diterima olehnya saat menjadi murid akademi ini salah adanya? Mungkinkah seharusnya ia sadar ia tidak mungkin bisa menggapai mimpinya seperti orang lain?
"A... apa aku ini ...." Feronica mulai merasakan sesak dalam dada-nya. Sulit dijelaskan mengapa tiba-tiba ia merasakan hal ini, padahal sebelumnya ia baik-baik saja.
"Kak...." Fredirica mulai melirik saudaranya dengan serius.
"Perasaan ini...." Rossa merasakan atmosfer udara yang berubah dan di saat yang bersamaan ia bisa melihat raut wajah Feronica mulai berbeda dari biasanya, seolah terlihat ia sedang menahan sesuatu.
Feronica mulai memancarkan aura kekuatan yang aneh. Rossa bisa mengenalinya dengan jelas.
"Ukh...." Feronica memegang dadanya yang terasa sesak itu, ingatan kejadian hari lalu terbayang jelas dalam benaknya dan pada akhirnya ia merasakan bagian lain dalam dirinya yang berontak.
-Mengapa diam saja?-
-Mengapa membiarkan mereka berbuat seperti itu?-
-Mengapa membiarkan mereka mengambil mimpimu?-
DEG!
"A-apa?" Feronica tidak begitu sadar sampai sekarang. Kini ia bisa mendengar suara hatinya yang selama ini diabaikannya.
Suara hatinya yang begitu tegas dan penuh tekad. Perasaannya yang sebenarnya....
Feronica kini merasakan sesaknya itu tidak karuan lagi. Bersamaan dengan beragam emosi yang bercampur dalam dirinya sekarang ini.
Feronica memegang wajah bagian kanannya, dan bersamaan dengan itu dibalik topinya terlihatlah tanda merah api menyala-nyala yang perlahan menyebar ke bagian tubuhnya yang lain.
"Kak tanda aneh itu lagi!" Fredirica memasang pose bersiaga karena tahu kini Feronica sudah berbeda adanya.
"...." Rossa mengamati bagaimana aura kekuatannya meningkat drastis tepat ketika tanda itu muncul. Seketika itu juga akhirnya ia paham mengapa sebelumnya dia mampu mengeluarkan sihir dengan daya rusak yang luar biasa.
Drttt....
Aura kekuatan Feronica terus meningkat bersamaan dengan ia yang menerima emosinya yang sebenarnya saat ini
*
Beberapa tahun yang lalu.... di kediaman Elisabeth....
Malam hari yang dingin... di dekat perapian kecil.
Sebuah malam senyap dan penuh kedamaian, terlihat Feronica kecil dan ibunya sedang menghangatkan diri di dekat perapian kecil.
"Ibu, ibu, apa aku bisa jadi pahlawan wanita seperti di buku ini?" Feronica kecil sedang duduk di pangkuan ibunya sambil melihat buku bergambar yang menceritakan kisah seorang ahli sihir perempuan yang hebat.
Ini adalah buku favoritnya dari dulu, tidak bosan-bosan meski sudah beberapa kali dibaca pun.
"Siapa namanya bu?" Feronica kecil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Namanya Cylene Reiss," jawab ibunya sembari tersenyum.
"Cyl... Cye ... Cle... ah mengapa namanya susah sekali bu?!" Feronica kecil malah kesal karena begitu susahnya ia menyebut nama pahlawan di buku ini.
__ADS_1
"Aahaha, nanti kamu juga bisa menyebutnya kok...." Elisabeth hanya tersenyum melihat putrinya yang sebal karena tidak bisa mengatakan nama pahlawan ini.
Feronica kecil kerap lupa bagian pahlawan utama dalam cerita ini, padahal jelas-jelas ini adalah bagian favoritnya.
Tidak bisa dipungkiri memang namanya bisa sedikit rumit, wajar saja kalau Feronica tidak bisa menyebutkannya.
"Bu, apa aku bisa menjadi hebat sepertinya?" tanya Feronica kecil dengan mata yang berbinar.
"Tentu saja... anak ibu pasti akan menjadi seorang yang hebat di masa depan." Elisabeth tersenyum kecil
*
Feronica tersenyum kecil, ingatan masa lalu tiba-tiba mampir di benaknya.
Mengingatkannya kembali akan mimpinya dari sejak kecil.
Perkataan ibunya terasa terngiang jelas di telinganya.
Ingatan yang sangat berharga yang memberinya kekuatan untuk terus maju.
'Ibu tak pernah menuntut balas padaku, dia selalu menyayangiku apa adanya... bahkan ketika putrinya ini tidak bisa berbuat apa-apa....'
'Selalu tersenyum dan memberikanku senyuman yang hangat ... menjagaku ... memenuhi kebutuhanku ....'
'Dan bahkan bisa menyekolahkanku di sekolah yang hebat seperti ini....'
'Memercayaiku untuk bisa sepertinya ... seperti pahlawan wanita yang pernah kudengar ceritanya dari ibu ....'
'Aku tidak mungkin membiarkan mimpi ibuku sirna begitu saja! Mimpiku ini bisa saja diragukan orang lain bahkan dihentikan... tapi aku tidak berjuang untuk mimpiku sendiri ....'
'Aku ingin menjadi putri yang bisa diandalkannya, dan membuatnya tersenyum bangga. Aku tidak mau meragukan ini.'
'Karena itulah apapun yang terjadi padaku saat ini bukanlah masalah! Ini terlalu kecil untuk mimpiku yang besar!'
Feronica masih menunduk diam merenungi akan potongan ingatan masa kecil yang tiba-tiba mendatanginya.
DEG!
-Kalau itu yang kamu inginkan ... kenapa tidak singkirkan saja setiap orang yang menghalangi jalanmu? Bukankah dengan begitu mimpimu akan tercapai?-
....
'Mengapa terus membiarkan mereka menindasku? Bukankah melawan adalah satu-satunya hal penting yang kulupakan?'
Feronica mengangkat wajahnya, warna matanya mulai berubah menjadi kemerahan diiringi dengan tanda merah darah menyala-nyala di sekitaran wajahnya.
Ini membuat Fredirica sedikit mundur karena merasakan aura kekuatan yang makin kuat dari Feronica. "Sampai mana kekuatannya akan terus meningkat?!"
Rossa terdiam. Ia juga tidak paham mengapa Feronica bisa meningkatkan kekuatannya sampai sebesar ini.
Shhhhh!
Kini hembusan udara kencang ada di area sekolah, membuat kedua bersaudara itu harus terseret ke belakang.
"Inikah emosi yang selama ini ada padanya?" Rossa menatap Feronica dengan serius. Akhirnya tidak ada lagi yang disembunyikan olehnya.
SYUT!
"Sial!" Dalam satu kedipan mata saja Feronica sudah berada di depan Fredirica, melancarkan serangan tinjuan.
DUAGH!
"Ukh!" Fredirica menyilangkan kedua tangannya berhasil meredam kekuatan serangan tinjuan dari Feronica.
Tak disangka serangannya begitu cepat! Dan juga kuat!
SHHH!
Udara kencang muncul saat itu juga sebagai akibat serangan dan pertahanan mereka berdua berada bersamaan.
SHH!
HUSH!
Rossa yang berada di dekatnya melancarkan tendangan dengan cepat. "Kena kau...." Ia yakin dalam jarak sedekat ini seharusnya Feronica tidak mampu menghentikan serangannya itu, pasalnya jeda waktunya sangat singkat.
Mata merah Feronica bergerak cepat menyadari ada serangan yang mengarah ke wajahnya. Di saat itu pula memegang kaki Rossa yang mengarah ke wajahnya itu.
Sebuah reaksi yang benar-benar cepat. Melampaui apa yang bisa dibayangkan dari seorang murid sihir akademi.
__ADS_1
TAP!
"Apa?!" Rossa tidak menyangka serangan kaki yang begitu cepatnya itu mampu diantisipasi dalam jarak sedekat ini. Padahal ia yakin seharusnya serangannya itu bisa membuat Feronica kerepotan!
Krtttt....
"ARGH!" Rossa berteriak kesakitan karena kakinya diremas begitu kuat oleh Feronica, bahkan darah segar pun langsung keluar dari sana.
"Ahaha!" Feronica mengayunkan kaki Rossa seolah ia mengayunkan bola kasti, ia memutarnya kemudian membantingnya ke depan bersama dengan saudaranya itu.
BRUK!
BUGH!
Fredirica tidak mampu lagi bertahan dengan kakinya sendiri, ia terlempar bersamaan dengan kakaknya ke arah belakang dengan cukup cepat. Dan pada akhirnya berakhir terseret jauh sekali dari tempatnya yang semula.
"Urgh!"
"Argh!"
Shhhh....
Kepulan asap tercipta akibat kedua orang yang terseret oleh serangan Feronica ini. Bibir gadis itu terangkat naik, raut wajahnya terpuaskan melihat kedua lawannya yang kini keduanya terbaring itu.
"Ahaha... menyenangkan sekali!" Feronica setengah mengangkat tangan kanannya dan disaat itulah tanda merahnya menyala-nyala layaknya api yang berkobar.
"Uhuk!" Fredirica melihat keadaan sekitar, kedua tangan yang tadi dipakainya untuk bertahan dari serangan tinjuan Feronica terlihat pucat, jika dilihat dari luar tidak terlihat hal yang aneh pada tangannya itu. Namun sebenarnya kondisi tangannya itu sama sekali tidak bagus.
Di sisi lain Rossa yang ada di depannya. Kaki kanannya berdarah dengan hebat, rasanya seperti mati rasa dan sulit untuk digerakkan kembali.
"Kak! Kakimu!" Fredirica mengacuhkan kedua lengannya yang terluka dan melihat kondisi kaki kakaknya yang berdarah cukup mengkhawatirkan di sana.
"Aku baik, bagaimana keadaanmu?" Rossa sendiri mengecek bagaimana keadaan adiknya, dan seketika itu matanya membesar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Lenganmu...." Rosa melihat bagaimana kedua lengan adiknya yang tadi menahan serangan Feronica perlahan membiru dan membuat lengannya terlihat lemas adanya.
Fredirica sudah mengetahui hal ini, ia memang bisa mempertahankan posisinya ketika menahan serangan Feronica, namun pada kenyataannya ia tidak cukup kuat untuk meredam kekuatan dari serangan Feronica itu. Alhasil beginilah jadinya.
"Kak, sekarang tanpa energi sihir pun dia sudah lebih kuat dari kita... bagaimana ini?" Fredirica mulai khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kepercayaan diri yang ada sebelumnya sirna begitu cepat bak daun yang dihempas oleh angin.
"...." Rossa terdiam sejenak, ia bisa merasakan kekhawatiran yang diutarakan oleh adiknya itu, ia berpikir mungkin saja suatu saat mereka bisa mengetahui kebenaran yang ada soal gadis yang tengah mereka lawan ini. Namun seiring dengan yang terjadi sekarang, sepertinya kali ini bukanlah waktu yang tepat.
"Benar dik, persiapkan dirimu untuk kemungkinan yang bisa terjadi." Rossa menatap Feronica, raut wajahnya menjadi lebih serius dibanding sebelumnya, ia berusaha untuk bangkit meskipun dengan satu kaki yang kini mati rasa.
"Mengetahui kebenaran darinya lebih sulit dari yang kuduga," gumam Rossa. Ia memang tertarik mengetahui kebenaran yang ada, namun jika kebenaran itu masih belum dapat mereka jangkau maka apa gunanya?
Ia hanya akan membuat dirinya, dan bahkan adiknya dalam bahaya yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya.
Fredirica berusaha untuk menahan rasa sakit seperti ditusuk jarum pada kedua tangannya. Kini untuk mengangkat tangan pun sudah sulit baginya, sihir pemulihan pun hanya akan membantunya sedikit saat ini.
"Sihir Api: Bola Api Raksasa!" Seketika itu juga Rossa melancarkan serangan sihir api yang begitu kuat dengan harapan ia bisa mengulur waktu untuk melarikan diri dari sini.
Shhhhh!
Bola api raksasa muncul saat itu juga dari kedua tangan Rossa, kekuatannya benar-benar di atas rata-rata dan jika tidak dihentikan maka area sekitar sekolahnya itu bisa saja hangus dengan mudah.
"Kak?!" Fredirica tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya. "Ayo kita lari dari sini!" ujar kakaknya sambil memegang tangan adiknya itu.
Blugh!
"KAK?!" Jangankan untuk lari, untuk berjalan juga ia sudah tak mampu yang pada akhirnya ia hanya roboh kembali setelah melancarkan serangan api pada Feronica. Fredirica hanya bisa memeluk kakaknya agar tidak terjatuh ke tanah dan memandanginya dengan cemas. "Hei kak?!"
SSHHHH!
Sementara bola api besar masih mengarah pada Feronica, namun gadis itu masih sempat-sempatnya menguap di tengah serangan dengan kekuatan besar yang datang padanya. "Lambat sekali."
Feronica mengangkat tangannya ke depan seraya bola api itu semakin besar dan mengarah padanya.
Shhhhh!
Sihir bola api besar itu menghilang perlahan ketika Feronica mengangkat tangan kanannya ke depan, seolah bola api itu masuk ke dalam tangannya.
"Di- dia menyerapnya?!" Fredirica terheran melihat hal ini, ia tidak menyangka Feronica punya kemampuan seperti ini.
"Ini gawat kak!" Fredirica melihat eskpresi Feronica yang seolah belum puas dengan dirinya yang menahan serangan mereka.
Rossa hanya bisa melihat sekilas dari belakang dengan tatapan yang lemas.
"Kukembalikan serangan kalian," ujar Feronica dengan bibir yang naik ke atas.
__ADS_1
DRRT....