
"Selamat pagi!" Feronica membuka tirai jendela kamarnya dengan penuh semangat, hari baru yang cerah mengawali pagi yang indah ini, Feronica dengan segera bergegas memakai seragam sekolahnya dan segera pula bersiap berjalan ke ruang tengah rumahnya.
'Pyuh! Hampir saja aku ketiduran tadi... kejadian malam yang melelahkan....' Feronica sedikit mengomentari bagaimana kejadian semalam.
Di mana ia harus sembunyi-sembunyi kembali ke rumahnya dengan hati-hati, dan untunglah di malam itu pintu yang terbuka cukup lama (pintu dalam kondisi tutup namun tidak di kunci) dan ibunya terlelap di meja jahit tempatnya bekerja; dengan cepat ia membersihkan badan dan pakaiannya yang memang cukup rusak karena kejadian semalam, tidur dan akhirnya bangun di pagi hari yang cerah.
Luka yang ia alami kemarin juga sebagian besar telah sembuh, bahkan rasa sakit dalam tubuhnya pun sudah banyak berkurang
Feronica melihat keadaan di sekitar, tidak ada yang berbeda dari yang biasanya. Ibunya bahkan tengah bersiap menyiapkan sarapan untuknya.
"Selamat pagi ibu...." Feronica duduk di kursi melihat makanan sederhana yang disajikan oleh ibunya.
Ibunya hanya tersenyum dan setelah selesai menyiapkan makanan, beliau juga duduk di meja berhadapan dengan putrinya. "Selamat pagi Feronica ayo makan dulu...."
Feronica melihat dengan seksama berbagai macam lauk yang disiapkan oleh ibunya ini, meskipun sederhana adanya namun semua ini memang makanan kesukaannya dan sulit untuk menahan diri hanya dengan melihat makanan di hadapannya.
"Selamat makan!" Feronica dengan segera mengambil nasi ke piringnya dan kemudian mengambil berbagai macam lauk dan menyantapnya dengan cepat.
Elisabeth memerhatikan putrinya, tidak biasanya dia makan secepat itu seperti seorang yang tidak menemukan makan selama beberapa waktu. "Pelan-pelan saja...."
Elisabeth juga ikut makan bersama dengan putrinya, dan tidak lama kemudian mereka berdua selesai makan.
Feronica mengelap mulut dengan sapu tangannya, ia tidak yakin berapa banyak makanan yang masuk ke dalam perutnya; memang setelah hari yang melelahkan kemarin membuatnya butuh tenaga ekstra di pagi hari.
Tok... tok... tok...
"Hm?" Feronica dikejutkan dengan suara ketokan pintu yang tiba-tiba terdengar sekarang.
Begitu Feronica hendak berdiri untuk membuka pintu. Ibunya dengan cepat mendahuluinya. "Biar ibu saja...."
Elisabeth membuka pintu rumah perlahan dan dengan cepat langsung tahu siapa yang datang ke rumahnya ini. "Ah, Jack... mari masuk ke dalam...."
"Apa Feronica ada?" Jack dengan cepat menanyakan seorang yang ia cari; sepertinya memang urusannya di sini adalah untuk menemui Feronica.
"Ada, dia masih bersiap untuk pergi... masuk saja...." Elisabeth membuka pintu rumah dengan lebar, dan Jack akhirnya bisa melihat seorang yang dicarinya ini tengah duduk dan berpakaian rapi.
"Oh?" Feronica melihat ada pria paruh baya yang tak lain tak bukan adalah Tuan Jack, dan seketika itu juga pertanyaan muncul dalam hatinya. 'Mengapa Tuan Jack datang kemari?'
Tidak biasanya Tuan Jack datang ke rumahnya, Feronica tidak ingat akan kapan terakhir kali beliau datang ke rumahnya, namun yang pasti memang baru kali ini lagi Feronica melihatnya di luar lingkungan sekolah.
Tuan Jack adalah seorang yang sibuk dan memiliki jadwal yang padat di sekolah, itulah alasan Feronica heran mengapa beliau mengunjunginya sekarang.
Tak butuh waktu lama akhirnya Jack menghampiri Feronica, dengan raut wajah yang tidak terlalu ceria di pagi hari yang cerah ini. Tidak biasanya beliau terlihat muram seperti ini.
"Ada apa Tuan?" Feronica akhirnya menanyakan maksud dari Tuan Jack yang datang ke rumahnya ini, apa memang ada sesuatu yang penting sampai-sampai beliau ini datang ke sini? Bukankah dengan bertemu di sekolah juga bisa?
Feronica tahu dengan keberadaan Tuan Jack di sini tentu bukanlah kebetulan, dari raut wajah yang terlihat seperti itu tentu ada hal yang harus dibicarakan dengan segera.
Sedang Elisabeth hanya mengamati dari dekat pintu saja soal apa yang sedang terjadi ini, sejujurnya ia juga penasaran akan mengapa temannya ini mendatangi putrinya di pagi hari dengan aura yang terkesan serius seperti ini?
"Surat ini untukmu...." Jack menyerahkan amplop yang cukup besar pada Feronica, dan dengan segera Feronica menerima pemberian darinya.
Feronica melihat dengan teliti surat yang diterimanya ini, ada logo Akademi di sana yang menandakan bahwa surat yang diterimanya ini adalah surat resmi dari sekolah.
__ADS_1
Feronica terdiam sejenak, ada apa gerangan ia mendapat surat seperti ini? Dan mengapa Tuan Jack yang mengantarkannya padanya?
Feronica melirik ke arah Tuan Jack, masih terlihat ekpresi serius darinya yang membuat Feronica jadi semakin tegang.
Surat yang dipegangnya ini bisa berarti apapun, dan Feronica benar-benar tidak tahu akan maksud dari surat yang ditujukan padanya ini.
Satu-satunya cara untuk menjawab pertanyaan ini hanyalah dengan membuka surat ini, dan tanpa berlama-lama lagi Feronica perlahan membuka surat ini.
Dan membuka selebaran kertas isinya, mata Feronica bergerak dari kiri ke kanan membaca perlahan apa yang menjadi isinya.
Sedang Ibunya hanya memerhatikan dari dekat pintu, dan Jack terdiam di dekatnya mendengarkan Feronica yang sedang membaca.
"...Saudari Feronica dengan resmi dikeluarkan dari sekolah...."
"...." Feronica terdiam, berusaha memproses akan apa yang telah dibacanya tadi, sedang ibunya hanya bisa tertegun sembari menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.
Setelah pembukaan formal yang ada di setap surat resmi, yang menjadi bagian isi dan akhir inilah yang membuat Feronica tertegun dan bertanya-tanya sekarang.
"Maaf Feronica... Akademi sudah mengeluarkan keputusan mereka." Jack hanya bisa melihat Feronica yang masih terdiam di sana, ia sendiri memang tidak tahu apapun akan isi surat yang telah diamanatkan untuk ia berikan pada Feronica.
Namun ketika ia menerima tugas ini pun, Jack sendiri sudah punya firasat bahwa memang isinya bukanlah kabar yang baik, dan itu dibuktikan dengan isinya yang tadi dibacakan oleh Feronica.
Feronica masih terdiam, ia meremas baju seragamnya sendiri, entah mengapa kini ia merasa sesak lagi di dadanya.
Berbagai pertanyaan mulai muncul dalam benaknya dan juga ketidakpercayaannya terhadap apa yang terjadi, karena hal itulah Feronica hanya terdiam saja di sini.
"Terima... terima kasih Tuan Jack...." Feronica akhirnya mengatakan sesuatu pada seorang yang telah mengantarkan surat ini padanya.
Suara Feronica terdengar sedikit gemetaran, mendengar ini Jack memang tidak beranggapan Feronica bisa tetap tenang setelah mendengar kabar seperti ini.
"Aku pamit Elisabeth...." Tidak berarti Jack adalah seorang yang berhati dingin tak memahami perasaan yang dirasakan oleh Feronica dan juga ibunya ini. Hanya saja Jack tahu tugasnya selesai di sini dan ia hanya bisa percaya pada mereka berdua.
Elisabeth mengangguk kecil sembari tersenyum sebagai tanda terima kasihnya, dan setelah menutup kembali pintunya ia mendekat pada Feronica yang duduk diam saja di kursi.
Tidak ada yang menyangka kabar ini datang dengan cepat, bahkan ketika Feronica masih menyangka ia punya beberapa waktu lagi untuk menuntut ilmu, namun pada kenyataannya tidak.
Elisabeth hanya mendekap lembut putrinya karena memang kata-kata hiburan pun tidak akan begitu berdampak saat ini. Ia tahu karena memang Feronica sekarang sudah larut dalam pikiranya sendiri.
Kenyataan pada akhirnya mendatanginya dengan begitu cepat, Feronica memang tahu hari ini akan datang. Namun di saat mengetahuinya dengan tiba-tiba maka tentunya perasaannya tidak akan baik-baik saja sekarang.
Semua perjuangan yang ia lalui selama hampir tiga tahun akhirnya berakhir, tidak peduli akan seberapa singkat lagi pendidikannya di Akademi, pada akhirnya keputusan sekolah memang mutlak adanya.
Feronica juga mendekap tangan ibunya, setidaknya meskipun dalam pikiran dan hatinya berkecamuk banyak hal, ia tahu ia tidak sendirian sekarang.
*
SSSHHHH....
Hamparan rumput yang luas dan udara cerah yang indah membuat siapapun yang berada di tempat ini merasa nyaman dan damai, namun sayangnya hal ini tidak berlaku pada Feronica di tengah kabar terkini yang telah diketahuinya tadi.
'Haaah....' Feronica hanya bisa menghela batinnya sendiri, pada akhirnya ia berusaha untuk meresapi akan kenyataan yang sebenarnya. Dan untuk itulah ia datang ke tempat yang sepi seperti ini.
Meskipun ibunya bilang lebih baik istirahat di rumah, namun pada akhirnya setelah mengganti bajunya dengan baju biasa, ia tetap ingin menyendiri di tengah alam seperti ini.
__ADS_1
Dengan begini ia bisa melihat luasnya dunia meskipun hatinya saat ini terasa sempit dan sesak dengan apa yang ada. Melihat dunia luar adalah caranya untuk mengalihkan perhatian terhadap apa yang dialami.
Apakah dengan mengalihkan perhatian saja maka semuanya sudah baik-baik saja sekarang? Tentunya tidak sesederhana itu, dari awal kita tahu memang suasana sekitar tidak bisa langsung mengatasi perasaan yang Feronica rasakan sekarang ini.
Dan memang mengambil langkah pertama adalah hal yang baik bukan? Ketimbang dengan bergumul dengan pikiran di kamarnnya sendiri, lebih baik membuka pikiran dengan melihat apa yang ada di luar sekarang.
Feronica sedang terbaring menatap langit dari tadi, karena jika ia berdiri untuk waktu yang lama maka tentunya pegal adanya. Hal ini dimaksudkan juga agar Feronica lebih rileks dan tidak tegang lagi sekarang.
Kabar tadi memang masih saja terngiang-ngiang di pikirannya, entah apa yang akan terjadi apabila ia berangkat ke sekolah tanpa mengetahui akan surat tadi. Tentunya Feronica tidak tahu harus menaruh wajahnya di mana.
Sesuatu yang memalukan tidak terhindarkan terjadi, dan jika dipikir-pikir memang Tuan Jack yang mengantarkan surat tadi tidaklah seburuk yang ia pikir tadinya.
Feronica memang memiliki firasat akan hal ini, jadi memag surat itu tidak ada hubungannya dengan Tuan Jack. Beliau hanya menjalankan tugasnya dengan memberi surat itu.
Malahan Feronica memang harus berterima kasih lebih lagi pada beliau karena jika bukan Tuan Jack maka tidak terpikir lagi oleh siapa surat itu akan diantarkan padanya.
Feronica kini hanya bisa mengingat kembali akan begitu semangatnya ia tadi pagi, dengan memakai almamater kebanggannya dan siap untuk menjalani hari, namun memang kesempatan untuknya telah habis sekarang.
Tadinya memang Feronica tidak keberatan jika harus terus menjalani hari-harinya sebagai siswi akademi seperti biasa meskipun tahu akan fakta ia akan segera dikeluarkan; tidak keberatan dengan perlakuan teman-temannya, dan pula tidak begitu masalah dengan buku-buku pelajaran miliknya yang sudah tidak karuan.
Karena mungkin saja ada sedikit harapan di mana Akademi bisa mengubah keputusannya, namun pada akhirnya memang tidak terjadi seperti yang ia pikirkan.
Sebaliknya, waktu yang ia harapkan tidak terjadi malah sekarang terjadi. Feronica merasa sedikit geli karena pernah berpikir mungkin saja ia masih punya kesempatan untuk kembali menuntut ilmu.
Perasaan putus asa yang seringkali hinggap ketika seorang mengalami hal yang tidak ingin dialaminya, Feronica tidak bisa menghindar akan perasaan ini dan berusaha untuk tetap berada di sini, berdamai dengannya.
"Apa ibu benar-benar baik-baik saja dengan ini?" Spontan Feronica bertanya pada dirinya sendiri, berbicara sendiri di area lapang hijau yang damai.
Sebuah keraguan yang masih ada dalam hatinya. Feronica khawatir akan hari depannya. Ia sudah membuat usaha ibunya sia-sia. Kini jika begini apa yang harus dilakukannya?
Feronica tidak bisa menyalahkan siapapun selain dirinya sendiri, memang karena kecerobohannya yang berakibat fatal seperti ini, namun ia sendiri memang tidak bisa mencegahnya.
"Ini semua salahku...." Feronica perlahan menutup pandangannya dengan lengan kanannya, rasanya dengan menyalahkan diri sendiri maka itu bisa membuat ia introspeksi diri akan apa yang harus ia lakukan kedepannya.
Shhhhh.....
Angin di pagi hari menerpanya dengan lembut seolah memberikan kenyamanan bagi siapapun yang sedang tidak enak hati sekarang.
Perlahan namun pasti Feronica memang larut dalam perasaannya sendiri, tanpa terasa ia merasa ada air yang mengalir ke pipinya; sebagai sarana untuk mencurahkan apa yang sebenarnya ada dalam hatinya.
"Hari yang indah...." Tiba-tiba terdengar suara pria yang tak asing, Feronica sedikit kaget namun tidak segera mengangkat lengan dan melihat siapa yang ada di dekatnya ini.
Feronica tidak merasakan hawa keberadaan siapapun dari tadi, suaranya ia tahu persis, jadi memang ia terlalu terkejut lagi akan siapa yang datang sekarang.
"Hari yang indah juga Kak...." Feronica tetap di momen seperti ini, menutup mata dengan lengan kanannya sembari berbaring meskipun tahu akan keberadaan seseorang di sini.
Dan pada akhirnya ia juga perlahan mengangkat lengan dan kemudian duduk di rumut hijau ini, di sampingnya sudah ada kenalannya yang juga sedang duduk di sebelahnya.
"Bukankah seharusnya kamu belajar sekarang?" tanya Stephen dengan tatapan heran.
"Ah, aku sudah keluar sekolah Kak...." Feronica menjawab cepat sembari tersenyum, jawaban yang cepat dan langsung pada intinya; lagipula memang Feronica tidak berniat untuk mempersulit percakapan ini dengan ucapan yang panjang lebar.
"Ah...." Stephen nampaknya tidak terlalu terkejut dengan jawaban yang diucapkan oleh Feronica, namun yang pasti ia juga tertarik untuk tahu akan apa yang sebenarnya terjadi di sini.
__ADS_1
Feronica memerhatikan dengan seksama, ia memang melihat tak ada yang berbeda dengan kenalannya ini kecuali pakaiannya yang terlihat begitu rusak dan tidak layak pakai. Entah mengapa melihatnya mengingatkannya pada sesuatu.
"Kak... pakaianmu kenapa?"