Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 97: Perbedaan


__ADS_3

"Jangan menghalangiku...." Orang berjubah hitam itu terdengar tidak senang karena melihat seorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Tepat di saat ia hendak mencari tahu apa yang membuatnya penasaran ini, malahan ada seorang yang muncul tiba-tiba di depannya.


Shhhhh...


Aura sekitar terasa dingin, langit di atas redup dan hanya menyisakan sedikit saja cahaya remang-remang. Stephen kini menyadari dengan jelas bagaimana keadaan sekitar bisa berubah seperti ini.


Yang sebelumnya ia hanya menyangka akan cuaca alam biasa, namun setelah beberapa saat di tempat ini, akhirnya ia menyadari sesuatu yang tidak ia ketahui sebelumnya.


'Benar... aku mudah sekali melupakan bagaimana aura kekuatan saudaraku sendiri....'


'Jika saja Feronica tidak sadar... aku mungkin kehilangan kesempatan ini....'


Stephen memikirkan ini dalam hatinya, kenyataan bahwa memang seluruh area yang berubah ini adalah akibat dari hawa kekuatan saudaranya sendiri membuatnya kembali mengingat masa lalu.


'Sudah berapa lama kami tidak bertemu?' Stephen butuh waktu lebih lama untuk ingat kapan terakhir kali ia bertemu dengan saudaranya. Dan memang rasanya akan sedikit sulit. Jangankan untuk meningat kapan terakhir kali bertemu, aura kekuatan milik kakaknya saja sulit di sadarinya.


Tapi memang sekarang tidak begitu penting untuk mengingat pertemuan yang lalu. Yang jelas Stephen tahu bahwa memang sudah lewat beberapa waktu.


Apa ia merasa rindu dengan saudaranya sendiri setelah sekian lama berlalu? Hanya Stephen yang bisa menjawab pertanyaan ini. Dan dari apa yang terlihat daripadanya sekarang, sepertinya kata 'rindu' memang kurang tepat.


Alis mata Stephen menurun ke bawah, pandangan matanya tajam mengarah ke depan. Seiring dengan berjalannya waktu, ia yang kini mulai bisa menghadapi kenyataan yang ada.


Kenyataan bahwa memang saudaranya kini berada di hadapannya sendiri.


Tidak ada sambutan hangat, seperti sebagaimana saudara kebanyakan. Yang ada hanyalah ingatan masa lalu yang begitu menganggunya di masa kini.


Stephen melirik ke belakang karena memang sesuatu sedang terjadi di sana. 'Dia mengalirkan energi sihir pada tempat ini... apa maksudnya?' Stephen tahu di keadaan gadis ini sekarang, dia tidak bisa melakukan hal lain selain memang diam di tempat dan terus mengiliri tempat ini dengan kekuatan sihir.


'Apa dia begitu peduli dengan bangunan ini?' Stephen langsung terpikir alasan yang paling masuk akal untuk menjelaskan mengapa gadis di belakangnya mengeluarkan sejumlah besar kekuatan hanya untuk hal ini.


'....' Stephen mencoba mengerti, namun tetap saja ia tidak bisa menerima ini dengan akal sehatnya. Siapa orang yang dengan susah payah tidak ingin ada kehancuran dalam pertarungan?


Padahal akibat dari pertarungan adalah kehancuran, hubungan sebab-akibat yang saling erat berkaitan.

__ADS_1


Dan Stephen kini mulai sadar dan merasakan aura kekuatan Feronica yang cukup besar adanya. Pantas saja menarik perhatian saudaranya di saat ini.


Terlepas dari apa yang sedang dilakukan temannya saat ini, Stephen mengurungkan niatnya untuk mengganggunya, malahan ia ingin tahu lebih jelas lagi mengapa dia sampai repot-repot melakukan hal itu.


"Ah... aku tahu.... kau tidak hanya jadi lunak, tapi juga berhubungan dengan manusia?" Kedua tangannya terangkat seolah orang berjubah hitam ini sudah tahu akan apa yang terjadi.


Nada bicara yang keluar tidak terlalu enak untuk didengarkan. Stephen berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpancing dengan apa yang dikatakan saudaranya ini.


"Aku tidak paham dengan dirimu." Orang berjubah hitam ini kembali berkata, namun lebih tenang dan tidak terdengar provokatif seperti sebelumnya.


"Kau kuat... tapi mengapa memilih jadi lemah? Mengapa membela manusia?" Kini pertanyaan pun muncul di permukaan, membuat Stephen jadi langsung berpikir mengenai hal ini.


"Mengapa tidak menerima dirimu apa adanya saja?"


....


Stephen masih menatap tajam ke depan, masih belum mengatakan apapun untuk menjawab rentetan pertanyaan yang ada itu.


'Jati diri? Apa jati diriku seperti itu?' Stephen merenung kembali. Ia paham dengan apa yang dikatakan oleh saudaranya, namun di saat yang bersamaan ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh saudaranya.


Perbedaan pendapat? Itulah yang bisa dipahami oleh Stephen. Pandangannya soal jati diri dengan pandangan kakaknya ternyata memang tidak bisa bertemu, berbeda adanya.


Ia tidak mengerti dengan pandangan kakaknya sendiri, bahkan dari dulu sekalipun mereka berdua berbeda.


Dan sampai sekarang pun pandangan Stephen dan kakaknya bertumbuh, masing-masing dengan cara yang berbeda, menguat sampai di saat ini. Jadi Stephen tahu ia tidak mengerti dengan cara pandang kakaknya, dan begitupula sebaliknya.


"Kita selalu dikucilkan, bahkan dianggap tak ada... apa itu yang kau inginkan?" Orang berjubah hitam itu terus menyodorkan pertanyaan yang tak mampu Stephen jawab. Dan memang Stephen tidak ada niatan untuk menjawabnya.


Dengan adu argumen seperti ini maka tidak akan ada habisnya. Stephen akan berpikir apa yang dipegangnya adalah benar dan kakaknya pun berpikir apa yang dipercayainya adalah benar.


Bukan kali pertama kakaknya berbicara padanya seperti ini, mendengar ini membuat Stephen seperti kembali ke masa lalu. Masa lalu yang membayanginya bahkan sampai sekarang.


Dengan tak bosan-bosannya kakaknya berbicara seperti ini, dan pula Stephen tak bosan-bosan untuk mendengarkannya. Pada akhirnya semua percakapan ini tidak berakhir bagus.


"Kak, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Kakak pasti punya tujuan, dan aku di sini untuk menghentikannya." Stephen akhirnya membuka mulut, tidak menghiraukan perkataan saudaranya sebelumnya.

__ADS_1


"...." Orang berjubah hitam itu terdiam sejenak. Aura di sekitar terasa semakin dingin, dari sini situasi seolah memang tidak bisa jadi lebih baik lagi.


"Kh- hahaha!"  Pada akhirnya orang berjubah hitam itu tertawa cukup keras, membuat siapapun yang mendengarnya jadi sedikit terkejut.


"Kita bertemu di saat yang tepat... Stephen."


TAP!


"Sihir Kegelapan: Ruang Gelap!" Seketika itu juga Stephen menginjakkan kakinya dan ruang gelap hampa mulai menyelimuti area sekitarnya.


"Membosankan."


"!"


KRAK!


Tepat ketika ruang hampa kegelapan baru akan menyelimuti area sekitar, sihir Stephen ini retak dan pecah seketika sebelum mereka berdua masuk ke dalamnya. Stephen hanya bisa terdiam dan berusaha mengontrol kekuatan sihirnya kembali.


"Jika kau ingin bertarung di dimensi lain. LAKUKAN LEBIH BAIK!"


SSSHHHHHH!


Belum sempat Stephen berhasil mengontrol tenaganya yang tadi keluar cukup banyak namun sia-sia itu, kini area di sekitarnya perlahan berubah menjadi hitam, sama seperti sebelumnya hanya saja lebih cepat dari yang bisa dilakukannya tadi.


KRAK!


"Hm?" Orang berjubah hitam itu melihat retakan yang tercipta juga di sekitaran ruang hampa yang diciptakannya, ternyata memang adiknya itu meniru apa yang ia lakukan sebelumnya.


'Aku tidak akan membiarkannya!' Stephen tahu jika ia terjebak di sihir kegelapan kakaknya maka sudah pasti keadaannya tidak akan jadi bagus. Dengan kata lain siapapun yang berhasil mengambil kontrol dari sihir ini dipastikan akan unggul.


Sihir ruang kegelapan akan bereksi bagus bagi penggunanya dan menyulitkan lawannya. Jadi strategi yang dipakai ini memang sangat terlihat dan membuat kedua orang ini melakukan hal yang sama.


'Kekuatannya....' Stephen merasa kekuatan kakaknya sulit untuk dihentikan. Memang karena ia tahu bagaimana perbedaan kekuatan mereka sekarang.


CRACK!

__ADS_1


Pada akhirnya Stephen berhasil menghancurkan serangan ruang gelap milik kakaknya itu. Kini mereka berdua tidak lagi berusaha untuk menggunakan sihir yang sama lagi.


'Aku tidak bisa menjebaknya dengan sihir ruang kegelapan ... jadi satu-satunya cara menghentikannya hanya di sini?' Stephen kembali melirik ke belakangnya, dan anehnya ia tidak melihat temannya di sana.


__ADS_2