Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 122: Bersinggah


__ADS_3

Sementara itu malam yang dingin di sisi lain terasa merasuk ke tubuh. Feronica menggosokkan kedua tangannya demi menghangatkan dirinya sendiri.


Suasana kota dari siang ke malam hari memang benar-benar berbeda, di mana ketika siang hari terasa panas dan ketika malam hari terasa sangat dingin.


Tidak peduli dengan banyaknya orang yang masih berlalu lalang, tetap saja Feronica merasa suhu di sini lebih dingin dibanding di desa. Orang-orang pun banyak memakai baju tebal ketika berjalan-jalan.


'Aku sudah berkeliling dan bertanya pada orang-orang... tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kak Stephen....' Feronica sudah berkeliling selama beebrapa waktu. Tidak banyak tempat yang ia datangi, melainkan ia meneruskan perjalanannya sampai ke ujung, di mana tembok perbatasan antar kota dan daerah luar.


'Apa aku salah tempat ya?' Feronica malah mengira rute yang ia ambil salah, mengingat ia sendiri tidak punya acuan untuk pergi ke manapun di sini.


Selama ia menemukan rekannya maka itu sudah cukup, dan sayangnya tanpa petunjuk rasanya itu tidak akan mudah untuk dilakukan.


'Astaga kota ini begitu besar, lebih enak pakai kuda untuk berkeliling di sini....' Feronica pikir dengan kendaraan maka tentunya ia bisa menelusuri area kota dengan cepat dan hemat tenaga juga tentunya.


Tapi setelah Feronica tahu berapa biaya untuk naik kereta kuda. Apa yang ia pikirkan malah hanya jadi rencananya saja.


'Dari mana uang untuk menyewanya?' Feronica sadar di kantongnya ia tidak menyimpan uang yang banyak. Memangnya siapa sangka ia akan mengalami kejadian seperti ini?


Tidak mungkin ia mmperlakukan uang yang begitu berharga ini hanya untuk menyewa kendaraan untuk berkeliling saja.


Sementara uang sakunya ini bisa digunakan untuk hal lain seperti makan bukan?


'Aku tidak boleh menyerah! Setelah sampai di ujung kota seperti ini mana mungkin aku berhenti?!' Feronica menyemangati dirinya sendiri, setelah berjalan beberapa lama memang ia jadi merasa sedikit lelah.


Feronica melayangkan pandangannya ke sekitarnya, tembok kota berwarna putih yang begitu megah dan besar terlihat jelas, dan tidak jauh pula ada gerbang kota yang juga besar ada di sana.


Feronica akhirnya sampai di sini, ia tergerak untuk terus melanjutkan perjalanan sampai di sebuah rumah kecil yang hanya berdiri sendiri di sana (maksudnya letak rumahnya benar-benar berada di pinggir kota) sedangkan yang rumah kecil yang lain biasanya dibangun berdampingan.


'Kenapa rumah itu dibangun sendirian di sana?'


Tap...


Feronica akhirnya melangkahkan kakinya, mungkinkah rumah kecil yang terpisah itu adalah rumah yang ditinggalkan penghuninya?


Meski memang sulit untuk menebak apa yang terjadi pada rumah kecil itu. Mengapa pihak pemimpin kota tidak merubuhkan bangunan tak terpakai ini saja kalau tidak digunakan lagi?


Fakta bahwa rumah kecil yang tidak terlalu terawat itu masih ada di pinggiran kota membuktikan bahwa ada sesuatu yang menyebabkan bangunan itu masih berdiri di sana.


Apalagi kalau bukan penghuni rumah itu sendiri bukan?


"Siapa tahu aku bisa ikut menumpang beristirahat di sana...." Feronica dengan tujuan barunya ini berharap niatnya bisa berjalan dengan baik. Kini ia tidak lagi berat untuk meminta pertolongan orang lain.


Setelah bertemu dengan Tuan George, Feronica tidak lagi melihat orang-orang seperti yang dulu, melainkan kini keberaniannya bertumbuh pesat dan akhirnya ia tidak lagi abai terhadap sekitarnya.


Tok...


Tok...


Feronica mengetuk pintu berwarna hitam itu, lampu di luar rumah menyala terang, Feronica yakin ada pemiliknya di dalam rumah.


Sementara itu Feronica melihat ke sekitaran rumah, memang jika dilihat dengan mata telanjang maka siapapun yang melihat rumah ini maka akan mengira bangunan  ini telah ditinggalkan.


Bagaimana tidak? Sampah berserakan di luar rumah dan dedaunan pohon ada di sana, bagi seorang yang cinta kebersihan maka melihat ini cukup menganggu.


'Apa pemilik rumah begitu sibuk sampai-sampai tidak sempat bersih-bersih?' Feronica jadi bertanya-tanya dalam hatinya sekarang.


Klek.


Pintu rumah pun dibuka, dan seketika itu juga Feronica bisa melihat perempuan cantik dengan gaun putih yang indah.


"Ah...." Feronica sempat tertegun sejenak melihat betapa cantiknya yang datang dari balik pintu ini.


Rambut panjang agak kemerahan yang indah dan juga sorot matanya yang berwarna sama membuat siapapun yang melihatnya tidak akan berpaling lagi.


Ukuran bola matanya sedamh dan tatapannya terlihat ramah, bibir tipisnnya juga agak kemerahan dan terlihat alami.


Seolah memang semua yang terlihat dari perempuan muda ini alami dan aura yang dipancarkannya memang menarik hati.


Jika saja penampilannya ini bisa membuat Feronica terkagum, bagaimana dengan pendapat seorang laki-laki?


Feronica jadi sulit berkata-kata sekarang. Ia masih memproses apa yang dilihatnya dan berusaha untuk tidak canggung di sini.

__ADS_1


'Jadi nona ini pemilik rumah ini?' Jika dipikirkan lagi rasanya sulit dipercaya, seorang perempuan cantik tinggal di rumah kecil seperti ini. Feronica pikir akan lebih masuk akal bilamana yang keluar dari balik pintu ini adalah nenek tua yang hidup sendiri.


Karena dengan begitu Feronica bisa berpikiran rumah ini tidak terlalu terurus karena pemiliknya sudah tua dan butuh banyak istirahat, tidak bisa terlalu banyak berurusan dengan kebersihan di sekeliling rumahnya.


Tapi mengapa malah seorang perempuan cantik yang keluar?


"Ah ada perlu apa?" tanya perempuan berambut panjang dengan sorot mata merahnya yang ramah pada Feronica.


Dia tidak tampak terganggu dengan kedatangan Feronica dan menanyakan maksud dari padanya sekarang.


"Ah, maaf nona, saya adalah pendatang baru di kota, dan sampai malam ini sudah berkeliling di sepanjang kota demi mencari seseorang...." Feronica pikir mengatakan tujuan sebenarnya di awal akan membuat semuanya jadi mudah dan ia tidak perlu pusing mencari alasan lain jika ia mengatakan hal yang tidak jujur.


Tapi apakah mengatakan tujuannya adalah hal yang terbaik? Bukannya rencananya ini harusnya dirahasiakan saja dari orang kebanyakan?


Feronica memang terpikir sampai di sana, namun kini setelah ia belajar sesuatu dari Tuan George, ia ingin lebih terbuka dan apa adanya, jadi mengatakan tujuannya pada orang asing bukanlah hal yang buruk bukan?


Dan bagaimana jika ternyata mengungkap tujuannya itu adalah hal yang tidak bijak dilakukan di saat seperti ini? Feronica juga memikirkan hal ini, di mana mungkin saja ada orang-orang yang tidak berniat baik.


Namun Feronica bisa melihat keramahan pada pandangan pertama nona cantik ini, jadi Feronica bisa memercayainya dengan mengatakan tujuannya yang sebenarnya.


Feronica berusaha untuk sopan di sini, mengesampingkan rasa penasarannya mengapa ada perempuan muda cantik yang tinggal di rumah kecil yang tidak terlalu terawat ini. Ia harap kehadirannya di sini tidak terlalu mengganggu nona muda ini.


"Mencari seseorang? Kenalanmu 'kah?" tebak perempuan muda itu dengan mengacungkan tangannya ke atas.


Feronica mengangguk kecil. "Benar nona, dan sampai saat ini saya belum menemukannya. Saya tidak punya kenalan di kota ini, jadi saya pikir saya butuh bantuan nona...."


"Tidak punya tempat bermalam?" Seolah perempuan muda cantik ini bisa tahu apa maksud Feronica, dan memang benar apa yang dikatakannya juga sih.


"Benar Nona, saya akan terbantu apabila bisa ikut menumpang satu malam di sini, pagi-pagi benar saya akan kembali mencari rekan saya...." Feronica berusaha untuk tidak berharap di sini, pasalnya ia tidak menyangka seorang nona muda cantik yang dihadapannya.


Berapa persen kemungkinan ia bisa diterima di sini? Seperti yang ia kira sebelumnya, ia tidak bisa mengunjungi rumah mewah dengan maksud dan tujuannya seperti ini. Feronica tahu dengan tatapan yang tidak begitu ramah maka kemungkinannya diterima akan kecil adanya.


Jadi mengapa ia tidak mencari rumah kecil yang ada di pinggir kota yang dihuni oleh seseorang yang sederhana? Selama ada tempat bermalam maka itu sudah cukup baginya.


Mengapa Feronica tidak bermalam di luar saja dan tidak usah meminta bantuan orang lain? Mungkin sebagian dari kita berpikir seperti ini.


Feronica tidak akan keberatan bermalam di luar bilamana suhunya tidak sedingin yang ia kira sebelumnya.


'Aku juga bisa melakukan itu, tapi dengan memancarkan aura sihir itu bisa menarik perhatian orang lain, berisiko.' Feronica menyadari hal ini, ia tidak mau menarik perhatian orang lain.


Sebagai ahli sihir memang punya kode etik tersendiri dalam penggunaan kekuatan sihir. Feronica tidak bisa menggunakan sihir hanya demi kepentingannya sendiri saja tanpa mempertimbangkan hal lain.


Dan juga jika ia menggunakan energi sihir maka tubuhnya akan lelah lebih cepat, sementara ia butuh banyak tenaga untuk berkeliling kota, jadi apakah itu sepadan?


Alasan itulah yang membuat Feronica mencari tumpangan pada orang lain. Tapi siapa sangka ia malah bertemu dengan seorang nona cantik di sini?


Apakah seorang yang cantik tinggal di rumah kecil dan tidak terlau terawat ini adalah sebuah kejanggalan? Feronica rasanya tidak mau terlalu memikirkan ini, lagipula tujuannya hanyalah untuk mendapat tempat bernaung di malam hari saja, tidak lebih dan tidak kurang.


Mungkin bilamana nenek tua yang membuka pintu sekarang, kemungkinan besar beliau akan peduli dan mau menolongnya malam ini, namun apa yang bisa terjadi apabila apa yang ada dalam pikirannya berbeda seratus delapan puluh derajat?


"Ah, udara di luar memang dingin. Masuk ke dalam saja adik kecil...." Dengan cepat nona muda itu membuka pintu lebar dan mempersilahkan Feronica masuk.


"Ah...." Feronica sedikit tertegun, ia pikir kehadirannya ini akan mengganggu nona muda ini dan dia tidak bisa menolongnya. Namun ternyata ia beruntung kali ini.


"A- apakah s- saya benar-benar boleh menginap di sini nona?" Sebelum melangkahkan kaki ke dalam rumah Feronica berniat memastikannya kembali.


"Lihat suaramu sampai bergetar seperti itu, ayo cepat masuk, udara di luar akan semakin dingin nanti...." Nona muda itu menarik tangan kanan Feronica yang memang sudah terasa dingin sekali, seperti meemgang kemasan minuman dingin yang segar.


'Ah....' Feronica melemaskan tubuhnya dan pada akhirnya masuk ke dalam rumah nona muda cantik ini.


*


"Anggap saja di rumah sendiri...." Begitu masuk nona muda cantik ini mempersilahkan Feronica duduk di kursi kayu panjang sederhana yang berada di ruangan tengah. Tak jauh dari situ ada perapian kecil yang bisa menghangatkan siapapun yang berada di dekatnya.


'Ah aku sering mendengar kata ini di novel, apa mungkin cerita yang kubaca itu terinspirasi dari kisah nyata 'ya?' Feronica mendengar kata-kata yang tak asing baginya, yaituv keramahan seorang tuan rumah pada tamunya.


Tapi terlepas dari kata-kata yang tak asing itu, tentu Feronica merasa senang bisa diterima dengan baik seperti ini.


Dan ngomong-ngomong kita belum tahu bagaimana bagian dalam rumah nona muda cantik ini bukan?


Sejauh Feronica memandang bagaimana keadaan di rumah ini, memang kondisi di dalam tidak jauh berbeda dari apa yang terlihat dari luar.

__ADS_1


Dengan lampu remang yang tidak terlalu bercahaya membuat suasana di dalam rumah begitu sederhana. Tidak banyak ada hal yang bisa diperhatikan, meja dan kursi yang terbuat dari kayu yang sederhana, dinding warna putih yang sudah termakan usia dan lantai yang juga kondisinya tidak terlalu baik.


Setiap aspek dalam rumah ini bisa saja diperbaiki dengan lebih baik, namun Feronica melihat ini adalah kesederhanaan yang pasti ada alasan dibaliknya.


Feronica berusaha untuk tidak menduga macam-macam di sini, tentu ia tidak bisa memandang sekitarnya dengan pandangan yang aneh dan menyinggung nona muda ini bukan?


Sret...


Krttt...


Feronica duduk di kursi panjang yang ada dan seketika itu juga terdengar bunyi kayu yang renyah. Apa dia ini naik berat badan akhir-akhir ini ya?


Sedang nona muda itu seperti sedang menyiapkan sesuatu di dapur.


"Kalau dingin dekati saja perapiannya." Terdengar suara ramah dari dapur, Feronica menuruti apa yang dikatakan nona muda ini dan mendekati perapian.


Rasa hangat yang nyaman langsung ada di rasakannya di saat itu juga, perasaan lega yang di man ia tidak perlu kedinginan di luar. Bahkan rumah sesederhana ini lebih dari cukup untuk berlindung dari hawa dingin di luar.


'Apa yang dikatakan Tuan George memang benar... tidak ada salahnya percaya pada orang lain dan berusaha untuk menyampaikan apa maksud kita.


Sementara Feronica menatap api kecil yang menghangatkan itu, bayangan apinya terpantur pada matanya sendiri, itu terlihat indah bagi siapapun yang melihatnya.


Feronica jadi ingat bagaimana ia dan ibunya sering menhangatkan diri bersama saat musim dingin, dan sepertinya memang tidak lama lagi musim itu akan tiba.


'Maaf bu, sepertinya aku tidak akan pulang selama beberapa waktu....' Feronica jadi tidak enak tiba-tiba jauh dari rumah tanpa kabar, namun pada akhirnya ia sendiri tidak bisa mengontrol apa yang terjadi dan hanya bisa menjalani apa yang sedang terjadi.


Tap.


"Sudah lebih baik?" tanya nona muda itu membawa dua gelas air dan setelah itu duduk di kursi kecil di dekat meja yang ada di tengah


"Ah iya terima kasih banyak nona...." Feronica merasa lebih baik dengan cepat dan segera kembali duduk di kursi panjang yang sebelumnya.


Tata letak dari ruangan itu adalah, kursi kecil yang saat ini di duduki oleh nona cantik itu, meja dan kursi kecil lain, dan kursi panjang yang saat ini diduduki oleh Feronica yang berada di dekat tembok.


"Mari duduk di tengah,' ajak nona muda itu, di mejanya ia sudah menyiapkan dua minuman yang keluar asap dari sana, yang berarti minuman itu hangat tentunya.


"Ah baik Nona...." Feronica dengan sedikit canggung pindah posisi duduknya, ia memang lebih suka duduk di kursi panjang karena terasa lebih lega dan luas, namun kini ia diundang untuk duduk berhadapan satu sama lain.


"Apa saya tidak merepotkan nona?" Feronica kini mencoba untuk terbuka, ia ingin tahu alasan mengapa nona muda ini menolongnya sekarang.


"Tidak, hanya saja semoga kamu bisa menerima keadaan di sini ya." Nona muda itu tersenyum.


Feronica terkesan dengan jawaban yang langsung pada intinya itu, dengan ini ia tahu bahwa keberadaannya di sini memang tidak mengganggu nona cantik ini.


"Siapa namamu adik kecil?" tanya nona itu.


"F- Feronica...." jawab Feronica pendek, sementara itu ia juga penasaran akan siapa nama nona muda yang cantik ini.


"Nama yang cantik," komentar nona itu, membuat Feronica jadi sedikit malu.


"Namaku Felicia, salam kenal Feronica." Nona muda itu tersenyum ramah.


"Sa- salam kenal Nona Felicia...." Feronica merasa diterima dengan baik di sini, ia bisa bertemu dengan nona cantik yang tidak segan memberinya tumpangan.


"Kamu bilang sedang mencari rekanmu ya?" Felicia sepertinya penasaran akan apa yang dilakukan oleh Feronica.


Feronica mengangguk kecil. "Benar Nona, di tengah jalan kami terpisah."


"Ah, pasti sulit mencarinya di kota sebesar ini." Felicia menopang dagunya dengan tangan kanannya, seolah memang tahu permasalahan yang sedang dihadapi oleh Feronica.


"Ahaha...." Feronica menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf di sini tidak ada apapun...." Felicia terdengar tidak enak di sini.


"Ah tidak apa nona, lagipula bisa diijinkan untuk menginap saja sudah cukup. Saya tidak bisa membalas kebaikan nona...." Feronica tidak peduli dengan hal lain selain bisa tidur tanpa kedinginan di malam ini.


"Jika haus kamu bisa minum air itu." Felicia tetap menawarkan sesuatu di sini, meski memang sederhana dan tidak mewah.


"Ah terima kasih banyak nona." Feronica melihat ke arah segelas air minum dengan asap yang mengepul ke atas. Rasanya itu bisa menghilangkan dahaganya dan juga menyegarkan tubuhnya.


Perlahan namun pasti tangan Feronica perlahan meraih segelas minuman yang mengeluarkan asap itu, dengan harapan dahaganya itu bisa mereda ketika meminumnya.

__ADS_1


Dan di saat yang bersamaan entah mengapa Felicia tersenyum kecil (seperti senyum puas) ketika melihat Feronica mulai meraih gelas di hadapannya.


__ADS_2