
Tak lupa ia juga mengundang para Goju, Gome dan sepasang pendekar lembah kematian, semua dilakukan sesuai petunjuk Deni.
Mereka membagi makanan secara adil dan merata, mendengar bahawa masakan itu adalah resep istimewa dari Deni membuat para Goju dan Gome serta pendekar lembah kematian semakin senang, mereka tidak menyangka Deni masih mengingat mereka.
Tuan Deni itu memang luar biasa, ia dan temannya itu adalah orang - orang yang hebat.
Kau benar kata Goju dan Gome, tidak sembarang orang bisa membawa Buah Dewa dan Buah Surga seharusnya kita bisa merasakannya meskipun itu didalam ruang dimensinya.
Mungkin mereka setingkat denga para dewa kata Amba, karena hanya para dewa yang ruang dimensinya tidak bisa ditembus.
Semua yang ada ditempat itu saling pandang, hal ini memang luput dari pandangan mereka, mereka tidak sadar jika hanya ruang dimensi para dewa yang tidak bisa ditembus bahkan oleh sesama dewa, kecuali pemilik ruang dimensi mengijinkannya.
"Amba apa kau pernah bertarung melawan Deni atau Asep, tanya Dewi Ninda?"
Hamba belum pernah melakukannya,tapi mereka sangat tenang bahkan ketika mereka berhadapan dengan para Goju dan Gome, tidak ada rasa takut sedikitpun, aku sendiri masih berpikir dua kali jika harus melawan para Goju atau Gome tambahnya.
*****
Kembali kesisi Deni dan Asep
Mereka masih asik ngobrol dan saling bertukar informasi selama berada dipulau netra, tiba - tiba Deni teringat sesuatu.
"Gua jadi inget sama ceramah ustad Hadi tentang akhir zaman, di riwayatkan menjelang akhir zaman Dajjal akan turun ditangannya ada dua lingkaran, kalo ciri - cirinya sama seperti penjaga gerbang kelima ini Ki, kata Deni sambil memperhatikan Penjaga Gerbang Kelima"
Deni mendekati penjaga gerbang kelima.
"Maaf tuan penjaga gerbang, jika aku boleh tau siapa namamu?"
Tidak penting siapa aku, tapi jika kau bisa memilih dengan tepat aku akan memberitau kau beberapa rahasia.
Deni semakin dibuat bingung, hingga akhirnya mereka harus membuat keputusan.
"Ki gua tau jawabannya, sekarang lo ikutin gua ya ki, Bismillah Ki, nasib dunia kita pertaruhkan".
Ok bos siap, jawab Asep mantab.
Mereka berjalan mendekati penjaga gerbang, dan melepaskan semuanya, mereka pasrah dengan apapun yang akan terjadi, dan melangkah menuju lingkaran api yang menyala - nyala.
(Ya Allah jika takdir kami menjadi penyelamat dunia maka ridhoi kami, jika kami hanya akan menjadi sumber malapetaka maka sebaiknya kau ambil saja nyawa kami, sungguh kami serahkan segala sesuatu hanya kepadamu).
Seketika keanehan terjadi, lingkaran api yang menyala - nyala berubah menjadi mata air jernih yang menyegarkan mata, mereka langsung mendekati sumber air yang berwarna putih, air yang lebih putih dari pada susu.
Ketika mereka hampir sampai datanglah seseorang yang berpenampilan sangat indah, wajahnya sangat bercahaya dan menenangkan siapapun yang memandang.
^Kenapa kalian lama sekali, aku sudah lama menanti kalian disini, Alhamdulillah doaku terkabul, hingga umatku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, mari nak ambilah air telaga itu secukupnya, kata orang itu sambil menuntun mereka^.
"Maaf bapak siapa ya, kenapa bapak bilang umat? Apa bapak pemilik tempat ini?"
^Orang itu hanya tersenyum, dan berkata benar nak, namaku adalah Ahmad, Allah yang maha agung telah menghadiahkan seluruh tempat ini padaku, tapi kalian belum saatnya ada disini, minumlah air itu, dan selesaikan apa yang harus kalian selesaikan^.
Deni dan Asep hanya mengangguk mereka mengambil bejana yang terdapat disana, dan langung duduk dan menegak air dari telaga indah itu.
Seketika tubuh mereka bergejolak, air itu ternyata sangat manis bahkan lebih manis dari pada madu.
Seketika Deni teringat tentang telaga Kautsar milik Rasullah.
__ADS_1
Setelah meminum air dari telaga itu, Deni langsung menemui orang itu, dan langsung berlutut, dengan mulut bergetar Deni berkata
"Apakah kau orang yang paling mulia, sekaligus nabi penutup akhir zaman?"
Lelaki itu hanya tersenyum dan berkata, biarkan semua rahasia tetap menjadi rahasia, simpanlah rahasia itu hanya untuk kalian sendiri, bangunlah bersujudlah hanya kepada Allah bukan kepada hamba.
Karena kalian sudah kehilangan pedang aku akan meminjamkan kalian pedang yang aku punya, mungkin tidak sehebat pedang kalian tapi aku yakin pedang ini bisa membantu kalian, mendekatlah kepadaku.
"Cep lo ketemu..."
Belum sempat Deni menyelsaikan kata - katanya, lelaki itu mengisyaratkan agar ia diam.
'Lo kenapa bos, Asep yang sedikit bingunh langsung membantu Deni untuk berdiri.'
Ini adalah pedang Al Ma'Tsur ini adalah pedang yang pertama aku miliki, ia menyerahkan pedang itu pada Asep.
Asep yang menerima pedang itu sangat senang, pedangnya sangat ringan dan memiliki aura yang lembut.
Dan kau, ini adalah pedang Al Battar ini adalah pedang yang diwariskan secara turun temeurun, hingga sampai kepadaku, pergunakan dengan bijak, gunakan hanya pada saat kalian terdesak saja.
Deni menerima pedang Al Battar dengan tangan bergetar, sama seperti pedang Al Ma'Tsur pedang yang diterimanya juga memiliki aura yang lembut.
Ingat setelah semuanya selesai aku akan datanh untuk mengambil kembali pedang - pedang ini, pergilah jangan membuat mereka semua cemas.
*****
Lelaki itu menuntun mereka ke pintu keluar, ia berpesan pada mereka
Dua mata air tadi adalah gambaran kehidupan, kenikmatan tidak bisa didapat dengan cara instan, ada perjuangan, keringat dan air mata, ada pengorbanan dan juga kesusahan, karena seorang pahlawan tidak dibentuk dengan semua kemudahan, ia ditempa dengan masalah dan juga penderitaan, agar ia menjadi kuat.
Sedangkan penderitaan selalu diawali kemudahan, kesenangan dan juga kemewahan, tapi semua akan berakhir dengan petaka, teruslah belajar dan berkembang, seketika mereka berdua merasa berat dan mengantuk.
"Hai manusia pilihan, sudah waktunya kalian pergi, apa kalian akan menjadi temanku disini."
Mereka berdua merasa heran, mereka seperti mengalami mimpi yang panjang.
Tadi sepertinya kita masuk kedalam lingkaran api tapi kenapa kita masih asa disini?
Tapi dua pedang ditangan mereka membuat mereka yakin itu bukanlah mimpi, tubuh mereka juga menjadi lebih segar dan bercahaya.
"Sampai kapan kalian akan diam, sesuai janjiku aku akan memberi tau kalian sebuah rahasia.
Pada saatnya nanti aku akan bebas dan berkililing dunia, persiapkan diri kalian baik - baik, saat ini aku memang tidak bisa berbuat apa - apa, tapi pada saatnya nanti kalian akan tunduk dibawah telapak kakiku, katanya sambil tertawa hahaha.
Pergilah sebelum aku berubah pikiran".
Seketika pintu gerbang kelima terbuka, semua yang ada didepan gerbang menatap mereka dengan tatapan tajam.
Tiba - tiba Dewi Ninda datang mendekat, dan langsung berlutut di ikuti oleh semua penjaga gerbang.
*****
Semua yang ada ditempat itu sangat terkejut, Dewi Ninda sang penjaga lima elemen berlutut dihadapan Deni dan Asep.
"Tuan sebaiknya kau simpan pedang itu, pedang - pedang itu bukanlah pedang biasa, gunakan hanya saat terdesak saja, sebagai senjata baru kalian aku akan memberikan pedang langit untuk pengunguasa air, dan pedang bumi untuk pengenguasa tanah".
__ADS_1
Tuan?? Seorang Dewi memanggil mereka tuan, semua yang ada disana saling memandang.
*****
Banyak hal yang tidak kalian ketahui, bagi kami para penjaga gerbang sangat mengenal pedang yang dibawa tuan Deni dan tuan Asep kata Amba singkat.
Mayang langsung mendekati Asep, ia merasa Asep menjadi sosok yang berbeda.
Begitu juga dengan Ni Sumbaga, ia mendekati Deni dan menatap takjub pada lelaki dihadapannya.
"Bimbing mami ya pi, mami ikhlas menyerahkan semua untuk papi, katanya sambil tersenyum".
*****
Baiklah selanjutkan kami harus apa, tanya Deni?
Gerbang selanjutnya kalian hanya akan belajar, belajar dengan orang - orang pilihan, tapi bagi yang tidak mengerti mereka hanya dianggap orang aneh.
Persiapkan diri kalian tuan, kami akan mempersiapkan tempat untuk tuan beristirahat, kata Dewi Ninda penuh hormat.
*****
Mereka bergegas menuju istana jiwa, sepanjang perjalanan June dan Putonia berusaha menatap Deni dan Asep, mereka mencoba merasakan energi yang ada pada keduanya, tapi sepertinya mereka tidak mampu.
Deni mendekati June.
"Maaf kita gak bisa sama - sama, sekarang kita fokus pada formasi bangsawan langit utama, mohon bimbing kami dan bersikaplah profesional, katanya singkat".
June yang tidak bisa berkata - kata hanya mengangguk dan tertunduk, ia seperti tidak mampu melihat wajah Deni, bukan karena malu atau takut, tapi ia tidak bisa menahan aura yang dipancarkan oleh keduanya.
Sebenarnya apa yang sudah mereka lewati, sikap mereka juga berubah, katanya dalam hati.
Sesampainya di Istana Jiwa mereka semua menuju kamar masing - masing
" nanti para penjaga akan memanggil kalian untuk makan malam, oh iya tuan aku sudah menjalankan semua perintahmu, semua sudah sesuai dengan petunjukmu, jika ada yang kurang katakan saja".
Deni hanya tersenyum, dan mengeluarkan gentong berisi air.
"Bagikan air ini kepada semua yang ada disini, bagikan secara adil dan merata, jangan sampai ada yang terlewat, ini adalah hadiah dari pemilik telaga indah"
Mereka membuka gentong air itu, mereka melihat air yang sangat jernih, hingga mereka bisa melihat bayangan mereka sejelas mereka berkaca dicermin.
Sesuai petunjuk dari Deni, Dewi Ninda membagikan air itu kepada semua yang ada tanpa terkecuali, entah kenapa air itu tidak pernah habis.
Dewi Ninda semakin kagum pada keduanya, mereka telah berada ditingkat yang berbeda katanya dalam hati.
Semua yang meminum air dari gentongbitu merasakan kesegaran yang luar biasa, mereka tidak pernah merasa sesegar itu sebelumnya, mereka semua tampak senang.
Begitu juga dengan June, entah kenapa setelah meminum air itu, hatinya menjadi lebih tenang, ia merasa semua bebannya hilang.
Putonia yang melihat hal tersebut juga sangat senang, kini semuanya tergantung bagaimana proses latihan mereka katanya dalam hati.
Bersambung....
*****
__ADS_1
Selamat malam para pembaca, alhamdulillah sembilan pusaka nusantara sudah update lagi.
Jangan lupa like, komen, share dan berikan vote ya agar karya ini bisa semakin dikenal dan semakin banyak orang yang terhibur, terima kasih...