Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 130 - Purnama Emas 1 (Bangkiitnya Tribuana Tungga Dewi)


__ADS_3

Bagus kita akan segera bergerak, katanya sambil memberikan perintah pada anak buahnya.


Terawan dan pasukannya bergerak ke arah Trowulan dan langsung menuju altar tak jauh dari bekas keraton Majapahit, jaraknya dua sepuluh kilo meter, mereka berada di tempat yang diduga sebagai makam raja - raja Majapahit, berkat petunjuk dari Gayatri bukan hal sulit menemukan makam para raja.


Mereka telah memastikan bahwa disana terkubur Prabu Hayam Wuruk dan Juga Ratu Tribuana, dua pemimpin Majapahit beda generasi yang sama kuatnya.


Terawan memanggil satu pemandu lagu ditempatnya, seorang wanita cantik yang tubuhnya akan ditukar menjadi Ratu Tribuana. Sebelumnya ia telah menggunakan pakaian ala raja Majapahit tempo dulu, hal ini bertujuan untuk meyakinkan Ratu Tribuana.


Hal yang mereka tunggu akhirnya tiba, purnama emas mulai bersinar, perlahan sinar putih berubah menjadi keemasan dan bersinar dengan megahnya.


Namun disaat yang sama, seluruh hewan di sekitar tempat itu merasa cemas, ayam, kambing, sapi, kucing bahkan anjing seolah gelisah tak menentu.


*****


Dirumah pak Kades


Tak biasanya seluruh hewan peliharaannya berisik sekali, bukan hanya di tempatnya tapi para tetangga yang juga memelihara hewan merasa ada hal yang aneh.


"Pak kenapa ya kok kewan - kewan dikandang merasa gelisah, seolah ingin pergi menjauh, kata bu kades pada suaminya.


"Malam apa ini bu?", kata pak kades yang segera beranjak dari peraduannya.


"Malam selasa keliwon pak", katanya sambil sesekali melihat kearah kandangnya.


Pak kades segera mengambil kalender dan mencocokannya dengan Penanggalan Jawa, ia juga menghitung dan kembali melihat kalender dan langsung berlari keluar.


"Ada apa pak, jangan buat ibu takut".


Pak kades tidak menjawab dan segera melihat ke atas langit malam, suasananya cukup cerah bahkan lebih cerah dari malam biasanya.


Beberapa orang sudah berada diluar memeriksa kandang hewan peliharaannya, mereka juga melaporkan kejanggalan itu pada pak kades, dan bukan hanya satu tapi hampir seluruh warga desa dibuat cemas dengan kegelisahan hewan - hewan peliharaan mereka.


"Purnama Emas", kata pak kades singkat.


Ia segera mengambil telpon genggamnya dan langsung menghubungi pak kaum.


(Catatan ; Pak Kaum adalah sesepuh desa atau pamong desa yang dituakan, biasanya memiliki ilmu kebatinan dan sering membantu warga)


"Selamat malam mbah, saya mau bertanya apa mbah merasakan hal yang aneh?", katanya singkat.


"Punama Emas, kata suara di ujung telepon, segera hubungi Jogoboyo pak lurah sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang, saya akan segera kerumah pak kades katanya singkat.


Belim sempat menghubungi Jogoboyo sudah berada ditempat pak kades, ditemami beberapa orang yang membantunya.


"Segera ungsikan warga kebalai desa, utamakan orang tua, perempuan dan anak - anak, bawa para lelaki ikut bersama saya", kata pak kades singkat.


Mereka segera memukul kentongan dan membawa warga mengungsi kebalai desa. Sementara pak kades segera mengatur warga untuk melakukan ronda (jaga malam)


"Terima kasih atas kehadiran bapak - bapak semua, saya disini atas perintah mbah kaum, beliau segera kemari, mohon untuk meningkatkan kewaspadaan terutama pada orang baru, perketat penjagaan di gerbang desa", katanya singkat.

__ADS_1


Tak lama mbah kaum datang dan bergabung bersama mereka.


*****


Kembali kesisi Terawan


"Kemarilah cantik, kau sudah menikmati uangmu", katanya dengan sangat lembut.


"Sudah yang mulia, bahkan gusti ratu Gayatri memberikanku tambahan sekantung uang emas", katanya senang.


"Jika hal ini berhasil, aku akan memberimu bonus tambahan, bukan begitu dinda?", kata Terawan sambil melirik ke arah kedua istrinya, dan dijawab dengan anggukan.


Rukmini memberikannya sebuah pil, tanpa berpikir panjang wanita itu langsung menegaknya, tanpa sadar jika dirinya akan di jadikan tumbal. Perlahan rasa kantuk mulai menyerangnya, hingga ia berada dalam kondisi setengah sadar, hal ini bertujuan agar pertukaran ruh bisa dilakukan dengan cepat dan sempurna.


"Yang mulia, apa yang ibu selir berikan, aku merasa sangat nyaman", katanya dengan tubuh terkulai dan setengah sadar.


"Oh itu adalah obat baru yang dikembangkan oleh istriku, nyaman sekali bukan", katanya sambil tersenyum.


Perlahan Respati mendekatinya dan mengikat kedua tangan dan kakinya, sementara Gayatri dengan segera mempersiapkan ritualnya, tak butuh waktu lama, ketika sebuah belati yang telah ditempelkan kertas mantra perlahan menembus jantungnya.


Seketika semua berubah, sebuah penomena alam terjadi perlahan tubuh wanita itu merasakan sakit yang luar biasa, namun tubuh lemahnya membuat teriakannya seakan tidak bisa keluar dan perlahan tubuh wanita malang itu berganti menjadi sosok yang anggun dan rupawan.


"Selamat datang kembali Gusti Ratu, kata Terawan dan semuanya sambil berlutut kepada Ratu Tribuana.


Tribuana mengenali pakaian prajuritnya, ia yang masih setengah sadar dipapah oleh Gayatri dan Rukmini.


"Wajah Terawan yang sangat mirip dengan Wirabumi membuatnya percaya pada sandiwara mereka, hal tersebut diluar dugaan.


"Jelaskan situasinya cucuku Wirabumi, sambil menatap tajam", pada Terawan


Hal tersebut baru disadari Gayatri dan Rukmini, sehingga membuat mereka segera merubah rencana, melalui telepati yang diberikan oleh Dewasrani ia segera meminta Terawan berpura - pura menjadi Wirabumi, hal tersebut benar - benar menjadi keuntungan buat mereka.


"Ampun beribu ampun nenek, kita diserang keadaan keraton hancur total, aku juga minta maaf karena tidak mampu menjaga amanat kakek Gajah Mada, untuk menjaga keraton, saat ini ia sedang berjuang bersama pasukannya mempertahankan keraton, sementara kami diminta untuk mengungsi dan menjaga nenek", katanya sambil tertunduk.


"Apa kau membiarkan mahapatih Gajah Mada berjuang sendiri?",


"Sekali lagi aku mohon ampun nenek, pasukan aneh itu terlalu kuat, saat itu nenek sedang sakit, beruntung nenek sudah sadar, kami menunggu oerintah nenek, dan jika boleh aku ingin membangunkan ayahanda untuk berjuang bersama, katanya dengan senyum penuh arti.


"Dimana Hayam Wuruk, apa ia diam saja saat keraton diserang", kata Tribuana dengan tatapan tajam.


"Ampun nenek, ayahanda sedang terluka parah, nenek Rukmini sedang berusaha mengobatinya", tambahnya.


"Sekuat itukah mereka?" Katanya dengan penuh tanya.


"Benar nek, senjata yang mereka gunakan sangat aneh, kami berhasil merampas sebagian dan kami belum pernah melihatnya, hati - hati benda ini sangat berbahaya", katanya sambil menyerahkan sepucuk pistol pada Tribuana.


Tribuana terus mengamati pistol itu, ia tidak merasakan adanya aura dari ruh penjaga pusaka, namun kenapa Wirabumi sampai ketakutan", katanya dalam hati.


"Bagaimana cara kerjanya?" Tambahnya sambil mengembalikan pistol itu.

__ADS_1


Terawan lalu mengambil suami dari wanita yang tadi tubuhnya ditumbalkan untuk membangkitkan Tribuana, melihat pakaian yang menurutnya benar - benar berbeda membuat Tribuana semakin yakin.


Terawan mengarahkan pistol itu kearah lelaki malang itu dan segera menarik pelatuknya, dalam sekejab lelaki itu jatuh tersungkur dan bersimbah darah dan mati seketika.


Melihat hal tersebut membuat Tribuana semakin percaya, perasan cemas terpancar dari raut wajahnya, ia benar - benar tidak menyangka benda tanpa ruh pusaka itu bisa membunuh dengan sangat cepat, pantas saja Wirabumi sangat takut, katanya dalam hati sambil memeriksa keadaan lelaki malang itu.


Seketika keheningan tercipta diruangan tersebut, entah berapa lama mereka semua terdiam, hingga akhirnya titah ratu keluar, Tribuana memerintahkan mereka segera menyembuhkan Hayam Wuruk.


*****


Disisi Deni


Mereka semua telah mengepung bekas reruntuhan keraton Majapahit, disana mereka menelusuri banguanan seluas lebih dari dua hektar itu, mereka menyisir setiap tempat yang menjadi kemungkinan dilakukannya ritual pembangkitan atau pertukaran tubuh.


Pasukan gabungan lima matra, dan santri songo kembali ke titik kumpul ditengah keraton Majapahit, mereka semua terlihat lesu karena tidak berhasil menemukan tempat dilakukannya ritual, sementara Purnama Emas telah berjalan lebihhbdari satu jam.


Tak berapa lama rombongan dari keraton Jogja dan Surakarta tiba di lokasi keraton Majapahit.


"Apa yang kalian lakukan, kenapa kaliam diam saja, Purnama Emas telah berlangsung ayo segera temukan tempat ritual itu, kita harus mengembalikan Gayatri dan Rukmini, jiwa mereka yang sebenarnya terkurung yang sekarang kalian hadapi adalah sisi buruk mereka dan itu lebih berbahaya", kata Raja dari Keraton Jogja.


"Maaf tuan, kami telah menyisir seluruh area keraton, tapi hasilnya nihil, inipun pasukan lima matra telah berangkat untuk kembali menyisir tempat ini", kata Rahmat dari santri songo.


Tak lama pasukan gabungan lima matra kembali dengan tangan hampa, mereka sudsh menyisir tempat itu berkali - kali, bahkan memeriksa ruang bawah tanah yang ditemukan dan terus melakukan penggeledahan tapi hasilnya tetap nihil. Tiba - tiba raja dari keraton Surakarta angkat bicara.


"Temukan makam para raja, disanalah mereka melakukan ritual, jika pirasatku tidak salah salah satu dari penguasa Majapahit telah berhasil di bangkitkan mengingat fenomena alam yang terjadi malam ini sangat tidak biasa", katanya sambil menggeleng.


"Letak makam biasanya agak jauhh dari letak keraton, raja Jogja lalu mengambil peta keraton Majapahit.


Melihat posisi keraton ada lima tempat yang bisa dijadikan makam para rajaz lalu ia melingkari lima tempat itu.


"Letak tempat - tempat itu cukup jauhh dari sini Gubernur", kata kepala angkatan darat.


"Itulah yang kalian tidak pahami, kami yang masih memegang tradisi tau betul hal ini akan terjadi, perjalanan kami kemari sudah banyak hambatan, hal tersebut yang dari tadi di khawatirkan Raja dari keraton Surakarta.


Cepat kirim orang ketempat ini, dan lakukan kordinasi dengan warga sekitar, jika perlu minta bantuan para kaum untuk menggeledah tempat itu", katanya tegas.


Tanpa menunggu lama mereka semua segera bergerak menuju letak yang di lingkari oleh Raja Jogja. Letaknya antara sepuluh hingga lima belas kilo meter dari pusat keraton Majapahit. Namun karena memang susunan Istana Negara dan Keraton berbeda mereka mengikuti saran para raja yang telah turun temurun memerintah keraton tempat merekabsaat ini.


Setelah berkordinasi dengan pamong dan warga setempat, mereka segera mebgatur rencana, ustad Hadi dan Lee kali ini benar - benar dibuat pusing, dan harus bisa berpikir cepat.


Setelah semua tersusun rapih dan juga mempersiapkan rencana cadangan mereka mulai bergerak.


Bersambung....


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Vote, Like, Komen dan


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2