Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 95 - Pulau Netra (Masa Lalu Deni dan Asep)


__ADS_3

^Keringkan dulu badan kalian lalu gantilah pakaian kalian, baru kita akan bicara, aku akan menunggu kalian di ruang utama, katanya singkat sambil berjalan pergi meninggalkan mereka.^


Deni dan Asep masih bingung denga apa yang mereka alami, hal tersebut membuat mereka menjadi berhati - hati.


"Mungkin ini Ki yang di bilang menakutkan, sepertinya mereka mau membunuh kita secara diam - diam, mungkin makanan kemarin ada racunnya Ki?"


'Bisa jadi bos, untung kita sudah kebal racun ya, kata Asep dengan tetap waspada.'


Setelah mengeringkan tubuhnya, mereka menuju aula utama, disana sudah ada Buto Rondo, Putonia, Dewi Ninda dan juga Ghovi.


Mereka tersenyum menyambut kedatangan Deni dan Asep.


Selamat datang cah bagus, selamat atas kelulusan ujian pertama, setelah ini akan ada ujian yang lebih berat lagi, dan aku harap kalian siap menjalaninya, kata Buto Rondo sambil terus terseyum.


"Apa bisa ada penjelasan tentang masalah ini, awalnya kami disambut baik, tapi kenapa kami qkan ditenggelamkan, kata Deni penuh selidik."


Itulah yang harus kalian hadapi, kalian harus siap berhadapan dengan kondisi apapun, ingat musuh kita adalah Batara Dewasrani salah satu dari sembilan dewa tertinggi di khayangan, kata Buto Rondo menjelaskan.


"Satu lagi kenapa air itu sepertinya sulit di kendalikan, air tadi seperti memiliki jiwa sendiri."


^Pertanyaan bagus, itu adalah air surga, dimana hanya para pemilik karomahlah yang bisa mengontrolnya dengan sempurna, semua yang ada ditempat ini adalah tempat yang secara khusus di ciptakan oleh sang pencipta untuk menjaga keseimbangan alam.


Lima elemen yang ada ditempat ini memiliki jiwanya sendiri, Air, Tanah, Api, Udara, dan Cahaya semuanya hanya tunduk pada orang yang diberi karomah, aku sendiri hanya diberi tugas menjaga tempat ini, Kata Dewi Ninda.^


Perkenalkan akulah Dewi Ninda penjaga lima elemen.


Air Surga telah memilih kalian, ini berasal dari telaga indah di surga, hanya mahluk - mahluk terpilih yang bisa mengkonsumsinya.


Seperti yang aku katakan, saat kalian masuk ketempat ini kalian pasti merasa aneh, karena lorong - lorong di gerbang kehidupan tidak ada apa - apa, itu semua terjadi karena semua elemen tidak mau menampakan dirinya.


"Aku masih kurang paham, tanya Deni?"


Seperti kataku, seluruh elemen ditempat ini memiliki jiwanya sendiri, yang pertama berasal dari surga, segala sumber kebaikan dan juga kemulian tertinggi, Air, Tanah, Api, Udara, dan Cahaya semuanya berasal dari tempat yang mulia.


Yang kedua berasal dari neraka, segala sumber kemurkaan, angkara dan juga keburukan, Air, Tanah, Api, Udara dan Kegelapan, semuanya berasal dari tempat paling gelap di dasar neraka.


'Lalu ujian apa yang akan kami lalui, tanya Asep?'


Sepertinya kalian manusia yang tidak suka berbasa - basi ya, ujiannya sederhana. Kalian akan menjalani masa tenang.

__ADS_1


(Masa Tenang, kata mereka bersamaan)


Benar, kalian akan di tempatkan dalam ruangan terpisah selama tiga hari, kalian hanya diminta bermeditasi dan merenung, tapi sedikit informasi pada kalian tempat yang kalian datangi akan adalah tempat yang berbeda.


"Berbeda, maksudnya?"


Kalian akam ditempatkan dalam satu pulau tapi disisi yang berbeda, Deni akan ditempatkan disisi kanan, Asep disisi kiri, apa kalian siap?


Keduanya mengangguk setuju, setelah sarapan mereka berangkat ditemani oleh Buto Randu, Putonia, Dewi Ninda dan juga Ghovi


Setelah berjalan cukup lama, mereka tiba disebuah pulau, mereka melihat dua buah pulau berbentuk seperti mata, disinilah kami akan meninggalkan kalian, lalu mereka membagi menjadi dua tim, Deni dibimbing langsung oleh Dewi Ninda dan Ghovi, sementara Asep di bimbing oleh Putonia dan Buto Randu.


*****


Disisi kanan


Dewi Ninda menjelaskan kepada Deni tentang aturan di pulau netra, dimana disana mereka hanya bisa makan pada saat pergantian sore menjelang malam, sementara di pulau sebelah hanya bisa makan saat malam menjelang pagi


Ia juga memberitau Deni bahwa tantangan terberat adalah melawan diri sendiri, dimana dikedua pulau terdapat cermin jiwa yang akan memancarkan sisi buruk diri semua mahluk, jarang ada orang yang bisa lolos,


Jika kau ingin berubah pikiran sekarang masih sempat, karena saat kau telah menghadap cermin jiwa maka kau tidak bisa meninggalkan pulau ini sebelum mengalahkan sisi burukmu.


"Aku akan tetap pada pendirianku."


Baik satu lagi kau dan temanmu tidak bisa saling berhubungan, sekalipun melalui telepati, dan kekuatanmu akan terbagi dua, karena sang pencipta memang merancang tempat ini seperti itu, entah untuk tujuan apa, kami masih belum paham.


*****


Disisi kiri


Tak jauh berbeda dengan Deni, Asep juga mendapat pertanyaan yang sama, dan sama seperti Deni, Asep juga tetap pada pendiriannya.


Mereka membawa Asep kesebuah ruangan.


"Sebelum berkaca pada cermin jiwa, masuklah kedalam, pintu akan terbuka jika kau sudah dianggap siap, tapi didalam sana tidak ada apa - apa, hanya ada ruangan gelap yang kosong kata Buto Randu."


Ruangan gelap dan kosong?


"Benar disanalah kau akan bermeditasi dan merenung, kau akan dituntun oleh tanah karena sejatinya tanah surga juga telah memilihmu, sekarang buatlah dirimu pantas dipilih oleh tanah surga.

__ADS_1


Buto Randu dan Putonia meninggalkan Asep seorang diri, ketika pintu tertutup semua ruangan menjadi benar - benar gelap dan tanpa cahaya.


*****


Kembali kesisi kanan.


Tak jauh berbeda dengan Asep, deni juga mengalami hal yang sama, hanya ruangan gelap tanpa cahaya, ia mencoba menggunakan mata surgawinya, namun ia tetap tidak bisa melihat apa yang ads didalam ruangan itu.


Deni berjalan hati - hati, ia benar - benar menggunakan instingnya, hingga akhirnya ia membentur dinding dan sampai di ujung ruangan, ia duduk dan menyandarkan tubuhnya di dinding.


Didalam pikirannya mulai terulang ingatan masa kecilnya mulai sejak ia dilahirkan, bagaiman kedua orang tuanya benar - benar berjuang.


"Lelaki itu seperti bapak? Tapi usianya jauh lebih muda, dan wanita itu seperti ibu saat masih muda, katanya dalam hati"


Ia terus diberikan pemandangan ingatan masa kecilnya, dimana saat ia lahir hujan turun dengan lebatnya, saat itu belum seperti saat ini, bapaknya masih menggunakan jasa becak untuk membawa ibunya ke bidan terdekat.


Lama ia melihat sosok lelaki yang terus berdoa, sementara didalam sana ia melihat ibunya berjuang keras antara hidup dan mati.


Hampir satu jam wanita itu berjuang hingga ia mendengar tangis bayi, ia meliihat senyum bahagia dari kedua orang tuanya, ditengah segala kekurangan mereka tetap memberikan yang terbaik untuk dirinya.


Bapaknya yang berawal dari seorang tukang las bisa menjadi pengusaha kaya, pasti membutuhkan usaha yang sangat keras.


Ia melihat lelaki yang selalu tersenyum apapun keadaanya, selalu terlihat tenang biarpun sebenarnya menangis tapi ia selalu menampakan senyum dimata istri dan anaknya.


Lelaki itu berjuang sangat keras, dan terus belajar.


Sementara itu wanita muda yang menggendong dirinya, harus rela mengambil cuti kuliahnya, ia ingin mencurahkan kasih sayang pada bayi mungilnya, namun wanita itu terus mengulang dan mempelajari buku - buku dari semester sebelumnya, hal itulah yang membuat ibunya menjadi dokter terbaik hingga akhirnya bisa memiliki rumah sakit sendiri.


Mimpi kedua orang tuanya sangat besar, mereka tidak ingin anaknya mengalami nasip seperti mereka, namun keluarga Wijaya yang sempat membuang mereka, akhirnya luluh dengan hadirnya Deni.


Kedua kakeknya mau berdamai namun orang tua Deni sudah terlanjur mandiri, mereka selalu menolak pemberian dan bantuan dari orang tua atau keluarga masing - masing.


Bersambung....


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Vote, Like, Komen dan


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2