
Eh gak jadi gua cuci muka dulu ya, June beranjak pergi meninggalkan semuanya ia masih berusaha mencerna peristiwa yang baru ia alami.
Ia masih memikirkan mimpi yang baru saja ia alami, semua terasa nyata, dirinya kini dalam ketakutan.
*****
Disisi Santri Songo
Siang itu matahari tepat berada diatas kepala sembilan orang turun dari bus yang tiba di depan gerbang Alas Purwo, mereka segera menemui Mbah Suyut untuk meminta izin masuk kedalam Alas Ketonggo. Mereka mencari Mbah Suyut yang saat itu sedang mengurus kebunnya.
Seorang pria tua sedang asik memetik buah naga, ia senang karena hasil panennya kali ini sangat berlimpah, tiba - tiba ia diam dan mengambil sikap waspada.
Kulo nuwon mbah, kulo Alif, niki rencang - rencang kulo (Amar, Anas, Abdul, Anwar, Gofur, Bahar, Burhan, Tammin, lan letnan Domo)
"Permisi mbah, saya Alif ini teman - teman saya (Amar, Anas, Abdul, Anwar, Gofur, Bahar, Burhan, Tammin, Letnan Domo)"
Sudah - sudah pakai bahasa yang sama - sama kita mengerti saja, apa kabar kalian semua nak?
Alif agak sedikit sungkan melihat sikap mbah Suyut.
"Alhamdulillah baik mbah, mbah sendiri apa kabarnya?"
Alkhamdulillah mbah sae ngger, piye - piye, gimana ada apa ini ramai - ramai, mau datang kok tidak kasih kabar dulu, untung saja mbah sudah panen buah naga, yuk bantu mbah angkat ke gubuk.
Sikap mbah Suyut sangat bersahaja, mereka membantu mengangkat hasil panen mbah Suyut dan langsung menuju gubuk mbah Suyut.
Monggo pinarak rumiyen, jangan sungkan - sungkan ya ngger, mbah bersih - bersih dulu.
Mereka duduk diserambi gubuk mbah Suyut, pemandangan disana sangat asri dan sejuk udara masih sangat segar karena masih banyak pohon - pohon besar disekitar gubuk mbah Suyut.
Hampir setengah jam mbah Suyut didalam rumah dan keluar bersama anak gadisnya membawa seceret kopi panas dan rebusan ketela pohon.
Monggo didahar seadanya ya ngger, mbah ndak punya apa - apa ini, katanya sambil tersenyum.
Mbah Suyut duduk diantara mereka dan mempersilahkan mereka untuk makan dan minum kopinya.
Letnan Domo sempat berbisik pada Alif.
'Apa ini kuncennya?'
Alif hanya mengangguk dan mbah Suyut hanya tersenyum.
Kok bisik - bisik ada apa ini? Kurang sopan lo ada orang tua bisik - bisik seperti itu.
Letnan Domo menjadi salah tingkah.
'Maaf mbah jika saya kurang sopan, tapi kami datang kesini untuk...' ,
__ADS_1
belum sempat ia menyelsaikan kata - katanya mbah Suyut langsung memberi jawaban.
Untuk menjemput teman - temanmu yang sudah lebih sepekan berada didalam Alas Ketonggo.
Melihat situasinya Alif berusaha menengahi.
"Ngapunten sing katah mbah, menawi rencang kulo kurang sopan". Mergane arek iki sek enyar mbah".
"Mohon maaf sebesar - besarnya mbah, jika temanku kurang sopan, maklum dia orang baru".
Gak apa - apa Alif, mbah paham, gimana kabar Faiq apa dia sehat?
"Alhamdulillah mbah, pak yayi selalu sehat berkat doa dan restu mbah dan poro sepuh".
Kamu itu memang pandai menghibur ya ngger, mbah ini bisa apa ngger minta itu sama yang punya hidup ngger, bukan sama mbah, mbah hanya bisa mendoakan agar kalian semua selalu sehat dan selalu dalam lindungan sang pencipta, katanya sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak mbah, karena mbah sudah tau maksud dan tujuan kami datang kemari, kapan mbah kami bisa diizinkan masuk kedalam Alas Ketonggo".
Nger - nger sikapmu itu sama seperti Faiq selalu pada intinya, monggo diujnuk sek to, adekmu sudah susah payah bikin kopinya, sayang kalo gak diminum.
*****
Mereka semua menyeruput kopi yang disuguhkan, dan memakan ketela rebus yang disuguhkan oleh mbah Suyut. Ia kembali menggeleng.
Jika sembilan santri sudah turun gunung artinya masalah yang dihadapi tidak sesederhana yang dipikirkan, mbah pikir teman - teman kalian itu hanya ingin ngilmu atau cari pesugihan, maklum mbah ini sudah tua.
Orang lain bisa kalian tipu, tapi tidak sama si mbah ngger, apa kamu lupa kalo si mbah yang diminta menjaga tempat ini, tambahnya.
Lalu siapa yang tidak mengenal siapa santri songo, kalian semua adalah orang - orang pilihan.
Domo yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka, cukup tercengang ternyata nama Santri Songo sudah sangat dikenal di dunia gaib.
Bisakah kalian ceritakan garis besarnya, kenapa sampai Faiq menurunkan kalian untuk mengatasi masalah ini? Tambahnya.
Alif yang sudah mendapat instruksi dari ustad Faiq menceritakan secara garis besar apa yang sedang mereka hadapi, hampir tiga puluh menit hingga akhirnya mbah Suyut menghela napas panjang.
Iblis terkuat ya, Lagi - lagi dia, ambisinya tidak pernah berhenti untuk merebut tahta, bahkan ia tega mengorbankan para istrinya untuk bisa memenuhi ambisinya.
Tunggulah sebentar, mbah mau tirakat dulu, kalian beristirahatlah, nanti malam mbah akan pandu kalian masuk kedalam Alas Ketonggo.
Mbah Suyut segera masuk kedalam biliknya, sedang mereka menunggu sambil beristirahat disana.
*****
Sore itu menjelang magrib suasana digubuk mbah Suyut tidak seperti biasanya, hawa sumeng sedari sore semakin pekat ketika matahari masuk kedalam peraduannya.
Setelah sholat magrib mereka duduk di teras mbah Suyut sambil menikmati nasi goreng, tak lama mbah Suyut keluar namun dengan penampilan berbeda, pakaian serba hitam lengkap dengan keris pusaka dan tongkat kayu dibawanya, Ia memanggil mereka semua.
__ADS_1
Apa kalian siap?
Semua hanya mengangguk dan mempersiapkan peralatannya, mereka mengikuti mbah Suyut menuju kebelakang rumahnya, terdapat dua pohon beringin besar yang terbentuk seperti gerbang. Lalu Mbah Suyut mendekati Letnan Domo.
Apa yang kamu lihat disana semuanya sudah diluar nalar, ia kemudian menyemprotkan minyak keseluruh tubuh Letnan Domo.
Pada Santri Songo aku tidak khawatir, kamulah yang aku khawatirkan, aku takut kau akan seperti teman - temanmu yang terlena didalam kerajaan Alas Ketonggo.
Letnan Domo hanya terdiam, ia tidak membantah satu katapun. Kemudian mereka mendekati dua pohon beringin yang saling berdampingan, mbah Suyut duduk bersila sambil merapal mantra, tiba - tiba sebuah keanehan terjadi, dua buah pohon beringin itu sudah berganti menjadi gerbang tinggi menjulang, disana dijaga oleh para Buto Ireng, mahluk tinggi besar berbulu seperti kera, lengkap dengan golok yang disilangkan didadanya.
Mbah Suyut berdiri dan mendekati para penjaga, ia seperti memberikan sesuatu pada para penjaga, para penjaga menatap sepuluh orang yang ada dibelakang mbah Suyut dengan tersenyum, namun penampilan mereka cukup menggetarkan siapa saja yang melihatnya, matanya merah menyala dengan taring panjang disela - sela bibirnya.
Mbah Suyut menggangguk kearah mereka, para penjaga membuka gerbang tersebut.
Pemandangan didalam gerbang tidak kalah menakjubkan, sebuah istana megah berdiri kokoh, dengan ornamen khas jawa kuno, perlahan mereka melangkah kedalam kerajaan Alas Ketonggo.
Layaknya istana pada masa lampau, tempat itu dijaga ketat oleh prajurit Buto Ireng, mereka menunduk hormat pada rombongan Mbah Suyut.
Semakin masuk kedalam istana, mereka semakin takjub, disana mereka disambut seorang wanita cantik dengan pakaian ala kerajaan jawa zaman dulu.
Selamat datang di Kerajaan Alas Ketonggo, Suyut ada apa gerangan para Santri Songo sampai mau soan ke Istana Kecilku kata wanita tersebut.
"Mereka mau menjemput teman - temannya Dewi, kata mbah Suyut yang memberi hormat pada wanita tersebut".
Oh delapan pemuda gagah yang berkunjung kemari ya, tambahnya.
"Benae Dewi, sudah waktunya mereka pulang, kata Mbah Suyut".
Baik masuk lah dulu, mereka baru selesai berlatih bersama para punggawaku, wanita tersebut mengajak mereka ke Aula utama, ia mempersilahkan mereka semua duduk, disana ia menuju sebuah kursi megah dengan ukiran kepala manusia.
"Sungguh suatu kehormatan kami disambut langsung oleh penguasa Alas Ketonggo, maaf jika kami kurang sopan dan hanya bisa memberi hadiah kecil".
Mbah Suyut menghentikan jarinya, tiba - tiba sepuluh ekor ayam Cemani diberikan sebagai hadiah kepada penguasa Alas Ketonggo.
Kau terlalu merendah Suyut, sejak menerima pelakat dari Kyai Faiq aku paham tujuan orang - orang itu datang kemari, tapi seperti yang kau ketahui kami semua terikat aturan tiga dunia, tambahnya.
Untuk bisa mengahadapi iblis terkuat tidak sesederhana yang dipikirkan, bukan meremehkan, satu pasukan Santri Songo sekalipun masih belum mampu menandingi mereka, ini semua kesalahanku, jika saja aku bisa lebih tegas pada kakakku hal ini tidak akan terjadi.
Semoga semua masih bisa dicegah, dan perang besad tiga dunia bisa dihentikan, tambahnya.
Bersambung....
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
Vote, Like, Komen dan
Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...
__ADS_1