Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 19 - Pulau Sumatra 3


__ADS_3

Tepat pukul empat pagi Deni dan Asep kembali kekamarnya, sebelum kembali mereka telah tidur dulu diruang dimensi Deni dan ketika kembali mereka tetap segar, sebelum melaksanakan sholat subuh mereka kembali mengkonsumsi buah tin, hal tersebut rutin meraka lakukan untuk menjaga energi mereka, dan membuat mereka tetap segar.


"Sep apa baeknya ini buah kita kasih juga ya ke Sandi dan Dika?"


Gua sih terserah lo bos, kan lo yang punya, tapi mengingat apa yang akan dihadepin ya ada baiknya sih lo kasih aja, tapi buat kondisi kita sekarang ada baiknya jangan deh, karena kita belum tau apa tujuan Dipa Serra Corporatez lah lo tau kan secara pak Jaya juga nyari pusaka itu, apa coba tujuannya? Ya sementara kita ikutin aja dulu alurnya, bukannya sombong tapi dengan kemampuan kita sekarang kayanya mereka bukan masalah sih, yang jadi masalah adalah kita melawan perusahaan pemerintah, yang secara otomatis akan dicap sebagai pembelot, lah gua sih gak apa - apa bro tapi, panjang urusannya.


"Lo bener, gua juga mikir gitu sih, oke deh sekarang kita ikutin aja dulu alurnya, dan gua minta teken semua kemampuan lo ya bro kata Deni."


Ok siap bos, gua terima kasih, gua jadi punya ruang dimensi sendiri, gua juga sudah tanem semua yang ada di ruang dimensi lo, tumbuhan obat, buah - buah, gua sudah kasih akses ke lo jadi lo bisa dateng kapan aja ke ruanv dimensi gua, karena disana lebih efektif untuk latihan, oh iya sekali lagi terima kasih ya bro, tutup Asep yang berjalan menuju mushola hotel.


'Lo pada sudah bangun, kata Sandi mengejutkan?'


Ya kan harus sholat subuh bro, kata Deni.


Syukurlah gua ketemu orang - orang sefrekwensi, biarpun agak koplak tapi ibadah tetep jalan kata Dika sambil terkekeh.


Sue lo, kata Asep, koplak - koplak juga meni kasep pisan eeii Asep tea.


Sandi merasakan perbedaan pada Deni dan Asep, kok lu pada bisa seger banget sih, lebih seger lagi, gua gak paham sama lo pada bro, makin hari gua makin penasaran, kata Sandi terus memperhatikan keduanya.


Tidak ada yang istimewa bro, ya mungkin karena habis mandi jadi segeran ya Sep, kata Deni.


Iya dong mandi pagi kan memang bikin seger, ya sudah yuk kagak sholat - sholat nanti.


Lalu keempatnya melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Setelah mandi mereka sarapan di restoran Hotel, Deni mengambil nasi goreng favoritenya, sementara Asep nyaman dengan nasi uduknya, sedang Dika dan Sandi makan lontong sayur dan sate telur puyuh.


****


Ketika asik sarapan, mereka dikejutkan oleh Musa.


Wuuiiih boleh gabung gak bro?


Silakan saja kata pak Sandi, sementara Asep tak banyak bicara dan malah menambah porsi sarapannya, sementara Deni dengan santai menghisap rokoknya.


Wah lo kaya kuli aja bro makannya sapa Musa kepada Asep.


"Lah guakan emang cuma Supir, hari ini setelah anter bos - bos ini kekantor, gua dapet tugas jemput tamu dibandara, dan dianter kekantor lagi, gak tau siang bisa makan apa gak, dan langsung makan tanpa memperdulikan Musa."


Masih marah lo Sep sama gua, gua minta maaf Sep.


"Siapa yang marah, pagi - pagi woi jangan buat perkara, gua lagi makan nih, gua mau fokus sama kerjaan gua kali aja Deni atau Dika bisa jadiin gua asisten dan nasib gua bisa kaya pak Sandi, kata Asep lalu meninggalkan meja setelah sarapannya habis."

__ADS_1


Mau kemana lo, buru - buru aja?


"Gua keseni buat kerja, lagian kenapa gua harus laporan ke lo, sudah ya gua repot, gua masih menghormati lo sebagai teman, jadi lo urus aja urusan lo."


Melihat situasi yang mulai panas, pak Sandi menengahi.


Sudah - sudah ini dimeja makan, saya sangat tidak suka ada keributan, dan untuk anda saudara Musa ada baiknya jangan ganggu karyawan saya, jangan sampai mood mereka bekerja jadi buruk, ingat mereka berbeda dengan anda, mereka kesini untuk bekerja, dan anda datang untuk liburan, jadi tolong jangan buat masalah, anda ingin disini silahkan saya tidak melarang, tapi jika anda mengganggu karyawan saya maka maaf jika saya dengan tegas mengusir anda, kata pak Sandi dingin.


"Maaf pak Sandi jika saya kurang sopan kata Asep, saya mohon ijin mau panasin mobil dulu, nanti saya tunggu di lobby jam tujuh ya pak, kata Asep meninggalkan semuanya, sementara Deni yang dari tadi diam mulai ikut bicara."


Ada baiknya lo jangan ajak ngomong Asep dulu, dari kemarin gua aja gak ditegor, dan fokus banyak bertanya sama pak Sandi, gua gak nyalahin lo, tapi baiknya lo biarin dulu Asep, nanti kalo sudaj agak tenang baru dah.


"Baiklah nak Deni, saya dan nak Dika mohon diri untuk bersiap - siap, jam tujuh saya tunggu dilobby, ingat jangan sampai terlambat, karena kita ada rapat direksi jam sepuluh pagi, dan perjalanan kekantor agak memakan waktu, jadi persiapkan dirimu sebaik mungkin, kata Sandi sambil melangkah pergi diikuti Dika yang meninggalkan Deni dan Musa."


Pak Sandi jadi ikutan marah, gua serba salah jadinya bro, lo temen gua, Asep temen gua, lah pak Sandi bos gua, Deni hanya menggeleng dan melangkah pergi, sorry ni bro, gua sudah disindir, gua cabut dulu ya, kata Deni yang melangkah pergi meninggalkan Musa.


****


Sial Asep beneran marah sama gua, ya sudahlah, ikutin kata tuan muda aja, sambil menarik nafas panjang dan menghisap rokoknya.


Musa hanya mengamati kelompok Deni yang akan keluar dari lobby, terlihat Asep dan yang lain telah berganti seragam, Asep nembukakam pintu untuk semuanya, didalam hati ia merasa sangat bersalah dengan perbuatannya. Ia hanya menap mobil yang perlahan menjauh.


Musa buru - buru menuju mobilnya, dan meminta supir untuk mengikuti kelompok Deni dengan jarak aman, berhubunh supir yang dibawanya adalah warga setempat yang sudah dangat paham dengan jalan menuju Martapura, ia bisa mengikutinya dengan jarak lima ratus meter. Hampir dua jam perjalanan, akhirnya ia melihat mobil kelompok Deni memasuki tambang batu bara yang dikelola Dipa Serra Corporate, ia memilih berhenti disalah satu kedai pempek didekat kantor, sambil terus mengamati keadaan ia melihat Asep keluar dan menuju kedai pempek itu.


***


Ia bu, baik, saya dengan Asep bu, nanti selama disini saya yang antar ibu sesuai arahan pak Sandi, baik bu, baik, jadi belum jadi hari ini ya bu, oh iya bu terima kasih ya bu, terima kasih, baik bu, nanti jika memang ibu sudah tiba langsung kabari saya ya bu, baik bu, selamat pagi.


Asep berpura - pura tidak mengenali pemuda yang duduk didepannya, ia sengaja bersorak agar Musa terkecoh.


"Asssik bisa nyantai gua, pak Sandi, dan bos - bos gua selsai rapat masih lama, dari pada gua bengong mending makan pempek dulu, Asep memesan dua porsi pempek kapal selam. Mbak


saya pindah dimeja luar ya ,sambil lihat kantor mbak, takutnya dipanggil bos kata Asep."


'Abang supir baru ya, kata wanita cantik pelayan dikedai pempek.'


Iya mbak baru hari ini kerja.


'Disitu enak kok bang, karyawannya baik - baik, apa lagi sama supir, pasti nanti banyak traktiran, tapi ya harus siap lembur, karena proyek kan jalan terus bang, gak tau ada masalah apa, harus siap kalo dipanggil bos kata pelayan itu menambahkan.'


****


Tak lama berselang ada wanita cantik khas wajah palembang keluar dari pabrik, dengan setelan pakaian proyek ia menuju kedai pempek tersebut.

__ADS_1


Lo kok nunggunya diluar bang, kata wanita tersebut bertanya pada Asep.


"Oh iya bu ini saya nunggu pak Sandi rapat didalam, saya dikasih uang untuk cari makan, ya sudah saya cari yang dekat saja bu, Asep sedikit canggung."


Oh jadi abang ya supir baru yang dibawa pak Sandi, yang bersama dua cowok ganteng itu ya bang, sambil tersenyum menggoda Asep. Tak lama datang lagi seorang wanita yang tak kalah cantik mendekati mereka.


Kau lamo nian, dah pesan ke, malah godain cowok, ku adukan kau ke pak Sandi Selsai kau kata wanita itu sambil tersenyum.


"Janganlah, ini aku ketemu supir baru dari jakarta, cakep nian budaknya, sambil cekikikan mengedipkan mata ke arah Asep."


Lah saya disini jadi budak bu, kata Asep agak khawatir? Bukannya di Indonesia perbudakan sudah dilarang ya bu?


Bukan bang budak itu orang, inu abangnya dari Jakarta belum paham ya bahasa Palembang?


Belum sambil mengelus dada dan menggeleng pelan.


Abangnya lucu, kenalin bang Saya Egi, ini teman saya, Yuli bang kata Egi memperkenalkan Yuli.


"Aih aih, biaso bae kau betino, liat budak cakep langsung digasak, ligat kali kau, aku bae belum kenalan kata pelayan itu memperkenalkan diri pada Asep, aku Evie bang, perawan Asli dari Palembang, sambil ikut bergabung bersama ketiganya."


Bang dikantor ada ruang tunggu supir lho, biasanya pada nunggu disitu.


'Oh gitu, kata Asep menggangguk.'


Dan kalo abang mau makan dikedai ini ambil kupon dulu di kantor ya bang, biar geratis kata Yuli menambahkan, nah karena si abang belum tau, Egi ada kupon lebih ni bang, bisa dipakai sama abang, sambil menyerahkan kupom makan kepada Asep.


"Kupon itu bisa dipakai dikantin dalam, dan juga kedai ini bang, panjang ceritanya, kata Evie menjelaskan, secara banyak orang asli palembang jarang cocok makan dikantin, jadi kerja sama dengan kedai ibuku, nanti jam makan siang kedai ini penuh bang dan abang bisa milih makan dikantin dalam atau kedai ini dan ketemu Evie yang cantik ini, kata Evie sambil terkekeh."


Aih, aih mau nikung si Evie ini kata Yuli dan Egi bersamaan.


Hei betino - betino buayo, sebelum janur kuning naik, masih milik umumlah, katanya santai.


Asep yang agak canggung akhirnya undur diri, disusul Egi dan Yuli yang mengikutinya dari belakang.


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Like


Komen,


Vote dan


Tambahkan ke favorite serta bagikan cerita ini keteman - teman agar Author lebih semangat lagi, terima kasih

__ADS_1


__ADS_2