Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 131 - Purnama Emas 2 (Bangkitnya Prabu Hayam Wuruk)


__ADS_3

Setelah semua tersusun rapih dan juga mempersiapkan rencana cadangan mereka mulai bergerak.


Setiap dari mereka di dampingi penghuni langit dan mahluk dunia bawah agar bisa mendeteksi adanya segel gaib, ketika semua telah ada diposisinya masing - masing mereka kembali menyisir tempat - tempat yang di maksud, namun dari lima tempat yang diprediksi oleh Sultan Jogja, hanya dua tempat yang di lindungi oleh segel gaib.


Tempatnya ada disisi timur dan barat reruntuhan keraton Majapahit, jaraknya lebih kurang sepuluh kilo meter dari pusat keraton Majapahit, beberapa mahluk langit dan penghuni dunia bawah mencoba membuka segel tersebut namun hal tidak terduga terjadi.


Mahluk berkepala kerbau, berbadan manusia menyerang mereka dengan cepat, matanya merah menyala, air liur terus keluar dari sela - sela mulutnya, mirip dengan Minotour dari Mitologi Yunani.


Goooaaaaarrr.... Goooaaaaaaarrrr.....


Mahluk - mahluk itu berjumlah sembilan ekor di masing - masing sisi, sisa pasukan yang tidak mendapat segel gaib segera bergerak memberi bantuan pada pasukan yang sedang melawan mahluk - mahluk tersebut.


Beberapa warga yang melihat kemunculan mahluk - mahluk itu langsung lari ketakutan.


Ada buto kebo.... ada Buto Kebo.... Ada Buto kobo... teriak beberapa warga yang langsung berlari menjauh.


Para santri songo, dan pasukan pemecah segel segera menghampiri mahluk tersebut, baik disisi timur ataupun barat keadaannya sama buruknya, mahluk - mahluk itu menyerang dengan beringas.


*****


Disisi Terawan.


Respati mendapat laporan dari prajurit penjaga, bahwa segel pelindung bereaksi, ia segera melaporkan hal tersebut kepada Terawan.


"Ampun yang mulia jika hamba lancang, namun ada hal penting yang mulia", kata Respati dengan penuh hormat.


"Katakan patihku, tak perlu sungkan", katanya singkat.


"Gawat yang mulia, segel gaib yang dibuat nyai Gayatri telah bereaksi, para pasukan penjaga menunggu perintah", tambahnya.


"Biarkan saja mereka melawan para Buto Kebo, sebaiknya kau bantu aku, segera kita persiapkan penyembuhan ayahanda", katanya tegas.


Melihat sosok yang berwibawa memembuat Tribuana merasa Wirabumi semakin dewasa, keputusan cepat yang dibuat serta prioritas yang diutamakan membuatnya tersenyum bangga.


Rukmini menjaga Tribuana bersama para dayang, sedang Gayatri bersama Terawan didampingi respati segera menuju ruang lain untuk segera memulai proses ritualnya.


Seorang pemuda tuna wisma yang malang menjadi tumbal mereka berikutnya, pemuda itu tersenyum ketika mendapat tawaran mereka, sama seperti wanita malang sebelumnya, pemuda itu diberi pil oleh Gayatri, tentu saja pil yang dibuat Rukmini ini cukup kuat.


Dalam sekejap pemuda itu mulai kehilangan keseimbangan, Respati segera menyangga tubuhnya, ia langsung mengikat kedua tangan dan kakinya, sementara Gayatri mempersiapkan proses ritualnya, dan dalam sekejab, sebuah belati dengan kertas mantra tertancap dijantungnya.


Tubuh pemuda itu langsung merasakan sakit yang luar biasa, namun karena kuatnya efek obat yang dibuat oleh Rukmini membuar ia tidak mampu untuk berteriak, dan perlahan tubuh pemuda itu berganti menjadi sosok gagah yang berwibawa.


Sosok lelaki penuh pamor kebangsawanan, sosok itu semakin lama semakin jelas tergambar.


*****


Disisi luar


Fenomena alam yang terjadi diluar semakin dasyat, hewan - hewan semakin sulit di kendalikan, beberapa hewam bahkan berusaha keluar dari kandangnya, suasana mencekam tidak hanya terjadi di Trowulan, tapi juga di daerah Mojosari, Mojokerto, dan sekitarnya.


Sultan Jogja menggeleng dengan wajah semakin cemas, sesekali ia melihat ke arah rembulan yang bersinar dengan indahnya.


"Kita terlambat", katanya dengan suara berat,


hal serupa juga di utarakan oleh Sultan Solo


"Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk, persiapkan semua pasukan, kita tidak tau berapa banyak jumlah mereka, dan dari mana mereka berasal", kata Sultan Solo dengan wajah yang berkeringat.


Pemimpin lima matra saling memandang, mereka segera melaporkan apa yang di sampaikan oleh kedua sultan tersebut pada presiden.


*****


Suasana Ibu Kota.


Suasana malam ibu kota yang biasanya riuh oleh berbagai hingar bingarnya menjadi lengang, bahkan beberapa pasukan yang ditugaskan patroli keliling merasa suasana itu lebih hening dari pada saat mudik hari raya.


Ibu kota benar - benar kosong, hanya pasukan gabungan (pasukan TNI dan Para santri dari pondok ustad Faiq) yang terus bersiaga.

__ADS_1


Malam itu Firman salah satu santri ustad Faiq dan Bripka Eko dari kepolisian berjaga bersama, saat pergantian jaga mereka menuju kantin yang disediakan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan mereka, (makan, ngopi, rokok) semua tersedia.


"Akhirnya tugas kita selesai ndan, mau makan dulu atau ngopi dulu nih", kata Firman


Enaknya kita ngopi dulu, sambil ngabisin sebatang rokok, baru deh kita makan benar gak Jon?", kata Bripka Eko bertanya pada anak buahnya


"Siap ndan, ngopi dulu ndan".


"Nah mas Firman, tugasmu bikinin kopi kita semua ok", tambahnya.


"Wah asik, dibikinin kopi sama senior Firman", kata beberapa santri dengan nada gurauan.


"Heeem nasip - nasip gara - gara ketiduran jadi dihukum, siaplah beres silahkan tuan - tuan duduk santai pesanan segera datang", katanya sambil menuju dapur.


Asiiik kata para Pasukan Gabungan TNI - POLRI dan juga para santri, namun belum habis lelah mereka sebuah ledakan besar terjadi di sekitar jalan Medan Merdeka dekat komplek Istana Negara.


Suara HT Bripka Eko, dan Lenan Budi.


Kepada semua pasukan harap segera merapat, ini bukan latihan, area Ring satu mendapat serangan dari mahluk asing, saya ulangi ini bukan latihan, Area Ring Satu Mendapat Serangan.


Sontak rencana ngopi bersama mereka tunda dulu, mereka bergegas mengambil senjata dan langsung menuju Jalan Medan Merdeka, namun belum sempat mereka keluar tempat mereka juga diserang para Pasukan Iblis.


Suasana yang sebelumnya hening berubah mencekam, suara tembakan dan ledakan terdengar silih berganti, hal tersebut terjadi dibeberapa titil vital di wilayah ibu kota.


*****


Kembali kesisi Deni.


Presiden yang menerima laporan dari pemimpin lima matra, langsung mengeluarkan isntruksi.


"Siagakan semua pasukan, mereka sudsh dibangkitkan", katanya dengan suara berat.


Bapak Presiden masih tidak habis pikir dengan apa yang sedang di hadapi.


Giyana yang berada didekat presiden langsung memberikan perintah.


Pasukan Kerajaan Dasar Bumi segera bergabung dengan pasukan lima matra, sebagian dari mereka yang ada di perbatasan segera bergerak ke area Keraton Majapahit, dan sebagian tetap berjaga di perbatasan.


Hal yang sangat ditakutkan terjadi, para penghuni langit dan juga dunia bawah akhirnya terjadi, mereka masih berharap perang bisa dicegah.


*****


Kembali ke sisi timur


Para Buto Kebo mengamuk dengan membabi buta, pasukan gabungan terus berupaya melawan mereka dengan sekuat tenaga, namun semakin mereka berusaha membunuh para buto kebo, jumlah mereka menjadi semakin banyak.


Apa yang terjadi jumlah mereka terus bertambah kata Bripka Romi. Melihat situasi yang kurang kondusip, Bima salah satu dari bangsawan langit berusaha mencari tau apa yang terjadi dengab mata Halimunnya.


Kita harus mencari inangnya, kata Bima memecah suasana, namun inangnya ada jauh disisi luar, Farid ikuti bapak - bapak TNI pergilah kesisi selatan disana kalian akan menemukan inang Buto Kebo, sebuah kerbau bule yang dijaga para buyo kebo. Sedangkan kami akan terus berusaha membuka segel ini.


Para Pangkalima Dayak datang tepat waktu, mereka menghalau para buto kebo dengan segel khusus milik suku dayak perang gaib tak terelakan....


Wuuussshhhh, blaaaaarrrrrr tiba - tiba suara ledakan terjadi, serangan dadakan pasukan Maung Pariaman mengejutkan para buto kebo.


"Kalian bantulah para santri dan Pasukan TNI yang mencari inang manusia kerbau ini, biar kami yang mengurus para manusia kerbau", kata Pangkalima Dayak.


"Baik saudaraku, aku serahkan yang disini pada kalian", kata Maung Lodya, yang langsung melesat bersama pasukannya menuju kesisi para santri dan pasukan TNI yang sedang mencari inang buto kebo .


*****


Di ibu kota, suasana di ibu kota yang semula tegang mulai tenang, beberapa kerusuhan yang dibuat bisa di atasi dengan mudah, namun hal tersebut justru membuat mereka semakin waspada.


Pengamanan di Istana Negara, dan di Istana Bogor semakin di tingkatkan, mereka membuat pengamanan berlapis dan langsung berkordinasi dengan presiden yang langsung meneruskannya kepada Ustad Hadi.


Mendapat laporan dari Ibu Kota membuaf ustad Hadi Meminta pasukan di Ibu Kota menjalankan rencana cadangan, mereka segera mengungsikan Bapak Presiden dab para Petinggi menggunakan mobil pengantar makanan khusus istana.


Mobil itu dibawa ke rumah pengintai yang tak jauh dari lokasi istana, sehingga bapak presiden bisa segera menuju istana jika terjadi sesuatu.

__ADS_1


*****


Akhirnya pasukan gabungan TNI dan para santri menemukan inang buto kebo, mereka segera menyerang kerbau bule itu, namun hal itu bukan perkara mudah, belum sampai serangan mereka ke arah kerbau bule, mereka kembali mendapat serangan dari para buto kebo.


Sadar inang mereka dalam bahaya, para buto kebo membuat formasi bertahan, tak mau kalah pasukan KOPASKA yang telah diakui kemampuannya oleh dunia langsung membuat formasi menyerang berlapis, mereka menghujani para buto kebo dengan peluru khusus yang dibuat untuk membunuh mereka, namun hal tersebut seakan sia - sia.


Beruntung pasukan Maung Pariaman yang dipimpin Maung Lodya tiba tepat waktu.


"Simpan tenaga kalian untuk pertarungan sesunngguhnya, sekarang pulihkan tenaga kalian, biar kami yang mengurus kerbau bule itu", kata Maung Lodya dengan tatapan dingin kearah kerbau bule.


Pasukan KOPASKA dan para Santri segera menarik diri dan membuat formasi bertahan.


Serangan gaib kembali terjadi.


Wuuuusshhhhh... hembusan angin dari pusaka kipas minang dengan sekejab menghempaskan para buto kebo.


Blaaaarrrrrr..... seketika sebuah ledakan terjadi... para buto kebo seakan terkunci gerakannya, dan dengan gerakan cepat Maung Lodya bergerak melesat kearah kerbau bule.


Buuuuggghhh, slaaaaasssh tebasan karambit khas minang sukses memotong tanduk kerbau bule.


Eeemoooooggggghhh.... teriakan keras kerbau bule terdengar sangat memilukan, dan slaaaaassss tabasan golok pusaka Maung Lodya berhasil memenggal kepala kerbau bule.


*****


Disisi Terawan.


Respati berlari ke arah Terawan.


Ampun yang mulia, kerbau bule berhasil di lumpuhkan, sekarang mereka berusaha membuka segel pelindung, mohon berikan perintah.


"Apa? Bagaimana bisa?", kata Terawan dengan nada tinggi.


"Ampun yang mulia, pasukan maung dari tanah minanglah yang berhasil melumpuhkannya, sedang didepan gerbang para pangkalima suku dayak dan gabungan para santri dan pasukan TNI terus berusaha membuka paksa segel pelindung.


"Mereka semua mencari mati, siagakan pasuka didepan gerbang, kita punya kejutan untuk para manusia rendah itu, mari bersama kita pertahankan kedaulatan Majapahit.


Melihat putranya Wirabumi rela mempertahankan tanah leluhurnya membuat sang prabu naik pitam.


Mundur putraku, lindungi nenekmu apapun caranya, biar romo yang turun langsung memimpin pasukan.


Seketika ia mengeluarkan dua pusaka yang selama ini ia simpan, Batu Mustika dan Keris Kyai Gajah.


Mohon perlindungan para leluhur, ijinkan aku Wahayam Wuruk meminjam kekuatan Keris Kyai Gajah.


Seketik aura diruangan tersebut menjadi naik, Terawan langsung meminta Ratu Tribuana dan para istrinya untuk menjauh, sementara Respati dan Prabu Hawam Wuruk maju kegaria terdepan.


*****


Disisi luar


Pasukan gabungan TNI, para Santri, dan pasukan tanah dayak terus berusaha membuka pakasa segel pelindung, mereka terus menakan segel tersebut dengan serangan gaib dan senjata khusus yang telah dibuat untuk menghancurkan segel gaib itu.


Perlahan tapi pasti segel pelindung mulai melemah, Passukan Gabungan TNI segera membuat laporan dan meminta tambahan pasukan, karena mereka tidak tau apa yang ada di balik segel tersebut.


"Lapor bapak presiden, segel pelindung yang mereka buat semakin melemah, mohon izin untuk meminta tambahan pasukan", kata Mayor Jefri.


"Lanjutkan, pasukan gabungan sudag bergerak kearah kalian, ditambah pasukan maung dan juga pasukan dari kesultanan Jogja sudah siaga menunggu perintah, lakukan dengan cepat", kata bapak presiden tegas.


"Siap pak, Mayor Jefri menerima perintah.


"Tunggu sejenak, markas besar sudah mengirim pasukan, kita diminta menunggu pasukan gabungan TNI dan kesultanan Jogja yang telah bergerak ketempat ini.


Mendapat perintah tersebut, para santri, dan Pangkalima dayak memanfaatkannya untuk memulihkan diri, sementara pasukan gabungan TNI tetap bersiaga melakukan penjagaan.


Bersambung....


Catatan.

__ADS_1


(Mohon maaf baru bisa update, cuaca yang tidak menentu, dan lelah habis mudik membuat author sempat tumbang, tapi sekarang kondisi sudah mulai stabil, mohon doanya agar author bisa terus update, terima kasih


__ADS_2