
Kabar terbunuhnya anak buah panah tengkorak, sampai juga pada ki Endar yang merupaka tetua tertinggi panah tengkorak, ia sangat marah karena dari kabar yang ia dengar bahwa anak buahnya dihabisi oleh tamu Ustad Amir, bahkan ki Suro mati ditangannya.
"Sebenarnya siapa tamu - tamu ustad kampung itu, berani sekali ia melawan panah tengkorak kata ki Endar."
Menurut kabar mereka hanya dua orang ki, bahkan Taupik dan Amir tidak ikut membantu, apa jangan - jangan ustad kampung itu sengaja mencari orang sakti untuk menghabisi kita ki, kata Ferdi salah satu senior di panah tengkorak.
"Berani sekali ustad kampung itu, dia benar - benar cari masalah dengan kita, semuanya dengar kata - kata gua, kumpulkan semua kekuatan kita, bawa semua kekuatan kita untuk menyerang ustad kampung itu, malam ini kita bergerak, sekarang biarkan dulu mereka menikmati kemenangan ini, tapi gua pastikan ini akan jadi hari terakhir untuk ustad kampung dan sodaranya itu, lo pada siap - siap semua nanti ketika mereka tidur, kita habisi semuanya tanpa sisa, paham kata ki
Endar dengan tatapan dinginnya."
Paham ki, ayo kita bergegas persiapkan semuanya untuk malam ini, kita tunjukan siapa itu panah tengkorak kata Ferdi, disambut teriakan seluruh anggota panah tengkorak.
****
Kembali kesisi Deni
Setelah menelpon pak Jaya, pak Sandi mendapat instruksi untuk kembali dulu ke Jakarta, sambil mempersiapkan diri untuk menuju gunung Tanggamus, mereka harus benar - benar mempersiapkan semua dengan matang.
"Jika boleh kami mau ikut ke Jakarta kata pak Taufik yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka."
Boleh banget pak kata Deni dengan semangat, nanti bapak bisa tinggal dirumah saya kata Deni menambahkan.
"Wah apa tidak merepotkan nak Deni, kata pak Taufik dan ustad Amir bersamaan."
Tidak pak, justru kami disini sudah banyak merepotkan kata Deni singkat.
'Baiklah sudah diputuskan besok kita akan kembali dulu ke Jakarta, malam ini kita istirahat dulu agar besok bisa lebih segar kata pak Sandi.'
Baik pak saya juga sudah memasang pagar gaib, jaga - jaga jika tiba - tiba ada serangan, malam itu berjalan dengan cepat, tidak terasa waktu telah menunjukan pukul sembilan malam.
Keadaan kampung Tanjung Bintang jauh lebih sepi dari sebelumnya, kabar tewasnya puluhan anggota panah tengkorak tidak membuat mereka senang, justru sebaliknya mereka semua takut, sebagian bahkan lebih memilih bersembunyi diruang bawah tanah yang dibuat secara sembunyi - sembunyi, para warga seolah enggan untuk keluar rumah.
****
Tepat pada pukul sepuluh malam, puluhan orang bertopeng bergerak dengan mobil dan motor menuju kampung Tanjung Bintang, pak carik dan pak lurah sudah membuat tempat berlindung sementara dan telah mengamankan warga.
Puluhan orang itu bergerak menuju rumah pak Taufik, segel gaib yang dipasang Asep bereaksi ketika mereka hampir terlelap.
****
Asep dan Deni sengaja tidak membangunkan orang - orang, mereka mengenakan kembalu topeng emas dan topeng perak yang pernah membuat heboh Jakarta.
Deni dan Asep langsung keluar dari rah pak Taufik, mereka sengaja menunggu orang - orang itu digerbang desa.
__ADS_1
Tak lama yang ditunggu pun tiba, pulahan orang itu berhenti didepan gerbang desa, mereka seolah mengertu sambutan dari Deni dan Asep. Ki Endar maju dan mulai berbincang dengan Deni dan Asep.
****
"Ngapain lo kok belum tidur, mending lo tidur dari pada gua berubah pikiran kata ki Endar sedikit kesal, ia paham mereka pasti tamu ustad Amir karena tidak ada satupun warga yang berani keluar lebih dari pukul tujuh malam, karena panah tengkorak telah benar - benar menanam teror yang membuat warga menjadi takut."
Ye bapak yang mau kemana, bawa orang rame banget kaya mau karnaval, sudah malam pak, mending bapak yang tidur sudah malam, kena rematik lho pak kalo gentayangan malam - malam kata Deni sambil cekikikan.
'Mungkin bapaknya mau cari rokok bos, ni pak ngerokok dulu biar gak sepaneng, nanti darah tingginya kambuh bikin repot orang kata Asep sambil terkekeh.'
Bangsat lo pada serang, seketika puluhan orang itu telah menyerang Asep dan Deni, sementara ki Endar terus mengawasi pergerakannya.
Deni dan Asep yang mendapat serangan akhirnya terlibat perkelahian, mereka bergerak dengan lincah diantara anggota panah tengkorak, hampir tiga puluh menit mereka telah bertukar puluhan jurus, melihat situasinya ki Endar meminta para anggotanya mundur, ia meminta para anggotanya menegak pil hitam yang sebelumnya telah diberikan kepasa mereka.
****
Seketika aura jahat terpancar dari mereka, auranya bahkan sampai menekan ditempat persembunyian pak lurah dan para warga, beberapa mata - mata yang dikirim kesana mengatakan sedang ada perkelahian digerbang desa antara panah tengkorak dengan orang bertopeng emas dan perak.
"Aku pernah mendengar di Jakarta ada sepasang pendekar hebat yang menghancurkan kelompok tapak sakti, semoga saja itu mereka kata pak lurah."
Pak lurah juga sudah berkordinasi dengab polsek dan koramil setempat, mereka sedang melihat situasinya, karena bukan hal mudah berurusan dengan panah tengkorak.
****
Kembali kesisi Deni.
Kini mereka mulai serius, karena jumlah buto ireng yang dihadapinya kini hingga puluhan atau ratuasan jumlahnya.
***
Pertempuran dengan buto ireng tak dapat dihindari, mereka semua maju dan kembali bertukar jurus, sementara ki Endar masih menganaylti kekutan mereka.
Deni bergerak lebih dulu, jurus pedang cahaya tingkat tiga, cahaya surga pemusnah iblis, seketika puluhan buto ireng yang menyerangnya langsung terpental dan terbelah dua.
Ki Endar sangat terkejut, seharusnya para buto ireng yang terbelah dua tidak langsung mati, tapi bertambah jumlahnya, tapi ini semua anggotanga yang tergeletak ditanah tidak bisa bangun lagi dan langsung meregang nyawa, siap sebenarnya orang - orang ini katanya dalam hati.
"Disisi lain Asep juga tidak mau kalah, ia merubah pegangan pada goloknya, golok Dewa tingkat dua golok penghancur iblis, seketika seluruh orang - orang yang meregang nyawa."
Kini gerbang desa telah dipenuh dengan tumpukan mayat anggota panah tengkorak yang terbelah menjadi dua.
'Mundur gunakan pil darah tingkat tiga kata ki Endar pada semua anak buahnya, seketika para buto ireng mundur dan mereka langsung menegak pil berwarna merah darah, seketika aura dan tekanan disitu semakin kuat, membuat warga yang rumahnya disekitar gerbang desa pingsan karena tidak bisa menahan tekanan aura yang besar.'
Asep dan Deni hanya tersenyum, Asep maju lebih dulu ia membuka armor kudanya...
__ADS_1
Kekuatan kuda tanah, seketika aura tempat itu mulai dinetralkan, aura jahat yang sejak tadi menekan perlahan menghilang.
(Catatan Aura langit dapat menetralkan aura iblis jika didunia manusia)
Ki Endar mulai ketakutan, karena aura iblis ditempat itu perlahan memghilang tergantikan aura lembut milik bangsawan langit. Ia merasa situasinya akan sulit, karena bukan hal mudah bagi para iblis seperti mereka jika harus berurusan dengan para bangsawan langit yang terkenal tanpa ampun jika bertemu dengan para iblis, apa lagi ini adalah alam netral, kecuali jika aku bisa memancing mereka menuju dunia arwah kata ki Endar dalam hati, ditambah saat ini ki Wanton sang dewa iblis sedang menjalani tapa brata, kenapa situasinya jadi sesulit ini tambahnya .
"Pantas saja ustad kampung itu bisa sombong, ternyata ia mendapat bantuan dari bangsawan langit, tidak hanya satu tapi langsung mengutus dua bangsawan langit, seingatku ia masih berada ditahap bidadara tanpa anugrah warna, kalaupun bisa hanya kyai Hasan yang mampu, tapi kyai Hasan sendiri hanya mampu mengikat satu bangsawan langit saja, ia sudah berada ditingkat karomah satu masih belum memiliki kemampuan yang cukup untuk membawa dua bangsawan langit keluhnya.
"Para bangsawan langit memiliki aura yang khas yang tidak bisa ditiru oleh golongan iblis, manusia ataupun para bidadara karena butuh energi murni dan tapa ribuan tahun untuk mencapai tahap itu."
****
Kembali kedalam pertarungan
Para buto ireng yang telah mengkonsumsi pil darah tingkat tiga menadapatkan tenaga tambahan yang sangat besar, pil darah yanh dibuat khus dengan darah perawan benar - benar memberi efek tenaga yang sangat besar.
Mereka lalu menyerang Asep lebih dulu sementara Deni hanya duduk tenang sambil memperhatikan ki Endar.
"Asep tidak ragu lagi ia kembali membantai para buto ireng dengan sangat mudah, luapan tenaga dalam dan auranya mampu menetralkan tenaga iblis para buto ireng, satu per satu para buto ireng meregang nyawa hingga tersisa sepuluh orang terbaik saja yang masih bisa mengimbangi Asep biarpun dengan susah payah."
'Bosen bos mereka terlalu lemah kata Asep sambil menyalakan rokoknya, tubuhnya dipenuhi darah para buto ireng yang telah ia bunuh.'
****
Ki Endar hanya bisa mematung menyaksikan seluruh anggota panah tengkorak yang dibantai oleh Asep, sial aku harus berbuat sesuatu kata ki Endar dengan sangat gusar, ia menarik mundur para anggota yang tersisa, tapi hal itu tidak berjalan mudah karena Deni telah berada disisinya.
"Mau kemana pak tua, sudah mau pulang ya buru - buru aja, tadi disuruh pulang malah nyolot, eh sekarang pestanya baru dimulai sudah mau pulang, tidak sopan sekali anda kata Deni dengan tatapan dingin, ia langsung memberi pukulan telak kearah perut ki Endar."
Ki Endar yang tidak siap menghindar terpaksa membentuk prisai tenaga dalam, hingga benturan keras dua tenaga dalam menimbulkan suara yang memggelegar hingga terdengar sampai kerumah - rumah penduduk.
***
Hal itu tentu mengejutkan banyak orang termasuk pak Taufik, ustad Amir, Sandi, Dika dan juga Mayang, mereka merasakan energi iblis yang cukup besar.
Bersambung...
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
Like
Komen,
Vote dan
__ADS_1
Tambahkam ke favorite agar Author lebih semangat lagi, terima kasih...
Minggu ini Crazy up nya di hari senin ya, minggu depan di hari selasa... terima kasih