Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 134 - Ajian Jerat Jiwa dan Tarik Jiwa


__ADS_3

Mendengar hal tersebut, bapak Jaya Serra menghentikan jurus segelnya, ia segera meminta orang untuk memanggil Deni dan Asep.


Semua orang yang ada disana tak ada yang berani membantah, hanya bisik - bisik kecil yang terdengar, mereka juga bingung apakah benar yang mereka temui barusan adalah benar Prabu Hayam Wuruk?


"Sisakan pasukan untuk menjaga tempat ini, seterilkan area hingga jarak lima puluh kilo meter, periksa semua yang akan keluar ataupun masuk, jika tidak ada tujuan jelas ada baiknya diminta kembali", kata Sultan Jogja memberi perintah.


"Lalu bagaimana dengan warga disekitar Trowulan Sultan?" Kata Mayor Jufri.


"Tahan mereka diSurabaya apapun caranya, tutup akses masuk ke Trowulan, dan periksa kemungkinan adanya jalan rahasia, serta segera temukan makam para raja, aku harus bertemu dengan Ustad Hadi yang mengatur pergerakan kita, ada hal yang harus kami bicarakan segera, dan mohon bapak Jaya Serra bisa ikut serta, Purnama Emas hanyalah pengalihan.


"Siap laksanakan, kirim segera pasukan tambahan, perketat penjagaan disemua perbatasan Trowulan, sebagian jaga tempat ini, dan sisanya ikut denganku untuk mencari makam para raja.


Sementara itu, para Sultan, para bangsawan langit dan bapak Jaya, serta beberapa petinggi segera membuat markas darurat di dekat area bekas reruntuhan Keraton Majapahit.


Mereka semua beristirahat sambil menunggu para ulama yang sedang di jemput oleh Batara Kala.


*****


Disisi Narapati


Melihat sang prabu kembali bersama pasukannya membuat Terawan dan yang lainnya bertanya - tanya.


"Ampun Romo apakah mereka sudah di kalahkan?", kata Wirabumi


"Belum aku ingin memastikan sesuatu? Namun seprtinya mereka berhasil menghasut kakekmu, aku bisa saja menghabisi mereka semua namun disana ada romo prabu Kertawardhana", kata sang prabu.


"Apa kau tidak salah lihat nanda? Apakah benar yang kau lihat Romo Prabu?


"Benar ibunda, romo prabu mengenakan pakaian aneh seperti orang - orang yang dikatakan Wirabumi, ia bahkan membawa pusaka Sanghyang Naga Amawabhumi, hanya pusaka itu yang mampu menandingi batu mustikaku", kata sang prabu dengan suara pelan.


Semua yang ada ditempat itu terdiam, keheningan tercipta cukup lama, hingga akhirnya sang prabu ingin memastikan keadaan keraton.


"Apakah mahapatih Respati bisa membawaku melihat kondisi keraton?", tanya sang prabu.


"Ampun beribu ampun yang mulia, aku masih menunggu kabar dari para teliksandiku untuk memastikan keadaan, karena kabarnya seluruh area keraton telah dijaga oleh pasukan aneh itu, mereka juga berusaha mencari jalan rahasia penghubung keraton, hamba khawatir jika kita keluar, bisa mengancam keselamatan ibu ratu dan yang lainnya, mohon berikan petunjuk", kata respati singkat.


"Seperti itu ya, mereka benar - benar merepotkan, lalu apa kau sudah tau pasti seberapa besar kekuatan musuh saat ini?".


"Dari laporan terakhir yang aku terima, mereka mendapat dukungan pasukan langit yang kuat, dan pasukan laut yang hebat, seluruh pasukan laut dan armada kapal kita telah dimusnahkan. Lalu terdapat seratus lebih kereta tanpa kuda yang terbuat dari logam, bisa menghancurkan apa saja dengan satu serangan, perbandingannya saat ini adalah kekuatan kita hanya seperempat dari kekuatan mereka.

__ADS_1


Itupun masih terus ditambah yang entah dari mana datangnya, beberapa teliksandiku hilang tanpa jejak yang mulia, ampun beribu ampun yang mulia", kata Respati sambil berlutut.


Malam ini aku akan melakukan tapa brata, sebelumnya aku akan membuat tempat ini tidak bisa terlihat, selama tapa brataku pastikan keamanan nenekmu nak, dan jagalah tempat ini dengan nyawamu, dan kau mahapatih persiapkan pengungsian untuk ibu ratu, serta para dayang sesegera mungkin, jaga ia dengan nyawamu apa kau paham?", kata sang prabu dengan nada tegas.


"Respati menerima perintah", sambil berlalu menuntuk Ratu Tribuana.


"Lalu kau Gayatri buatlah beberapa strategi untuk bisa menembus keraton dan pengamanan ibu ratu, aku mengandalkanmu.


"Gayatri memerima perintah".


*****


Kembali kesisi para sultan.


Pagi itu udara begitu sejuk, sejuknya embun pagi memberi kesejukan bagi siapa saja yang melihatnya. Tapi suasana tenang itu tidak mampu membuat tenang para sultan dan juga yang lainnya.


Tepat pukul tujuh pagi, mereka semua berkumpul di barak pemimpin, disanalah diadakan rapat darurat, telah hadir bapak presiden, para sultan, para ulama, batara kala, para petinggi istana dasar bumi dan juga para bangsawan langit.


Sultan Jogja mengeluarka sebuah kitab, yah itulah dia kitab pararaton, dimana didalamnya terdapat sebuah rahasia besar Tanah Jawa.


"Sebenarnya aku tidak ingin mengeluarkan kitab ini, namun apa yang dikatakan oleh naga bumi, semua seperti yang tertulis didalam kitab ini.


Dalam kitab ini tertulis, (Akan ada satu masa dimana ketika rembulan emas bersinar terang, sang prabu akan bangun dari tidur panjangnya untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya,


Beberapa kali aku terus mengulang kutipan ini, aku sempat berpikir apakah mungkin sang prabu hanya tertidur? Apakah mungkin orang yang sudah lama mati bisa hidup kembali, para leluhurku telah lama mewanti - wanti hal ini", kata sultan Jogja.


Lalu ini (sisi buruk seseorang yang dibangunkan dari tidur panjangnya, jauh lebih berbahaya dari apapun, karena didalamnya ada angkara murka dan ambisi yang tidak terkendali).


Lalu ia mengeluarkan kitab yang jauh lebih tua yang juga menggunakan huruf palawa kuno.


Ini adalah kitab ilmu jerat jiwa, kitab ini bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati, namun aku sendiri belum pernah mencobanya, karena ritual yang dilakukan sangatlah tidak manusiawi, maka dari itu, ilmu jerat jiwa termasuk kedalam sembila ilmu terlarang tanah jawa", katanya menambahkan.


Bapak presiden dan semua yang ada ditempat itu masih terdiam mendengarkan penjelasan sultan Jogja, hingga akhirnya bapak presiden buka suara dan memecah keheningan.


"Maaf sultan, jika memang termasuk ilmu terlarang mengapa diciptakan, lalu syarat yang tidak manusiawi itu seperti apa?", kata bapak presiden dengan wajah serius.


Menurut cerita turun temurun, dahulu kala jauh sebelum Majapahit atau bahkan Singosari sekalipun ada seorang raja dari tanah jawa yang sakti mandra guna, ia sangat dihormati dan selalu disegani lawan - lawannya, namun ia punya kelemahan, ia memiliki seorang selir kesayangan yang sangat ia cintai lebih dari dirinya sendiri.


Hal tersebut akhirnya sampai juga ketelinga lawan terkuatnya, hingga lawan terkuat sang raja mengatur rencana membunuh sang selir, namun hal itu selalu gagal karena selir raja tersebut bukanlah wanita sembarangan, dia salah satu dari sembilan pendekar legendaris Tanah Jawa yang ada dibawah pimpinan sang raja.

__ADS_1


Namun sekuat - kuatnya manusia tetap ada batasnya, singkat cerita selir raja itu akhirnya bisa dibunuh dengan bantuan sepuluh iblis terkuat.


Kehilangan selir kesayangannya membuat sang raja murka dan marah besar, ia mencari siapa saja orang yang terlibat didalam rencana pembunuhan sang selir, hampir semua orang yang terlibat mati dengan cara yang mengenaskan, sebagian dari mereka yang selamat pergi menyelamatkan diri kearah daratan Swarnadwipa.


Mereka tidak menyangka jika tewasnya sang selir malah menjadi sumber petaka bagi tanah jawa, hingga akhirnya mahapatih dari kerajaan tersebut melakukan tapa brata, entah berapa lama ia bertapa, ada yang bilang empat pulub hari namun ada yang mengatakan empat puluh tahun.


Hingga akhirnya ketika sang patih menyelsaikan tapa bratanya ia mendapat kelebihan membangkitkan kembali orang yang sudah mati, itulah Ajian Jerat Jiwa, tapi Butuh tumbal manusia hidup untuk menjadi wadah atau tempat pertukaran jiwa, wadah yang menjadi tempat tersebut jiwanya akan moksa, karena ruhnya dipaksa keluar dari jasad sebelum waktunya.


Saat itu dayang istana yang berkhianatlah yang dijadikan tumbalnya, singkat cerita pertukaran jiwa berhasil dan sang patih meminta sang selir untuk ikut bersamanya mencari sang raja.


Dengan kemampuan dan kesaktian yang dimiliki keduanya, mereka berhasil menemukan sang raja yang baru saja membelah pulau jawa dan daratan swarnadwipa, hingga akhirnya jawadwipa dan swarnadwipa terpisah seperti sekarang ini.


Melihat sang selir kembali, sang raja sangat senang, namun disitulah kesalahan sang patih, sang selir yang tau kelemahan sang raja akhirnya membunuh sang raja dengan tanganya, ia bahkan mengambil jantung sang raja dan memakannya, hal tersebut bertepatan dengan bulan yang bersinar merah.


Sadar ada yang salah, sang patih berusaha mencari tau, ia akhirnya mengerti bahwa Ajian Jerat Jiwa hanya akan membawa sisi buruk dari manusia, sedang jiwa suci sang selir telah tenang didalam Nirwana.


Itulah kenapa Ajian Jerat Jiwa menjadi salah satu ilmu terlarang, percaya atau tidak tapi ciri - ciri orang yang membawa batu mustika itu sama seperti orang yang yang didalam kendali Ajian Jerat Jiwa", kata Sultan Jogja memberikan penjelasan


"Lalu apa Ajian ini bisa dibatalkan, jika bisa bagaimana, jika tidak bagaimana, karena akan sangat sulit jika kita harus melawan mayat hidup", kata bapak presiden.


"Kita harus mencari orang yang mengendalikan Ajian Jerat Jiwa, atau kita menarik keluar dengan paksa sisi buruknya dan menyegelnya dengan segel Tarik Jiwa.


"Nah ayo lakukan, pelajari ajian itu secepatnya, dan tarik lalu segel kembali jiwa sang prabu, jangan sampai jiwa raja terhormat nusantara dipermainkan oleh orang - orang yang tidak bertanggung jawab, kata bapak presiden tegas.


"Ini bukanlah perkara mudah, buruh waktu dua pulub tahun untuk bisa menguasai ajian ini dengan sempurna, karena sebelumnya kita harus menguasai ajian jerat jiwa terlebih dahulu, karena salah sedikit saja maka jiwa kitalah yang akan jadi bayarannya


Apa dua puluh tahun, kata mereka bersamaan. Semua yang ada ditempat itu terkejut, ternyata ajian itu bukanlah ajian yang mudah dipelajari, karena salah sedikit saja kitalah yang akan menjadi tumbalnya.


*****


Semua yang ada ditempat itu terdiam membisu, tidak ada yang berani berbicara, semua larut dalam lamunanya masing - masing. Hingga akhirnya bapak presiden kembali buka suara.


"Siapa diantara kalian yang sanggub menguasai ajian ini, akan saya berikan hadiah istimewa, sebuah rumah lengkap beserta isinya dan jaminan hidup selama dua puluh tahun, saya sendiri awam dengan hal - hal ini maka dari itu jika ada yang bersedia ayo silahkan", kata bapak presiden.


"Tapi ada masalah lain bapak presiden, bulan darah seperti yang ada dikitab ini akan terjadi sembilan purnama lagi, jadi kita tidak bisa menunggu selama dua puluh tahun", tambah Sultan Jogja


Bersambung....


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan

__ADS_1


Vote, Like, Komen dan


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2