Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 137 - Keputusan Empu Jatmiko


__ADS_3

Waktu terus berjalan, semua sibuk dengan aktivitas masing - masing, mereka semua berusaha mencari cara untuk mengembalikan Sang Prabu dan orang - orang yang dihidupkan kembali.


Malam itu kakek Jatmiko terdiam di sebuah ruangan, ia bukan tidak melakukan apa - apa, ia terus mencari cara untuk bisa menghubungi Batara Ismaya, karena merasa belum bisa menghubunginya, akhirnya ia memutuskan keluar dan berjalan melihat - lihat kesekitar, tak sengaja ia mencuri dengar pembicaraan Deni dan Barra.


"Bang gimana menurut lo bang, kan lo Batara Kala sang dewa waktu, masa kagak ada ide bang", kata Deni sambil menghisap sebatang rokok.


"Eh somplak, gua bukan gak ada ide, tapi terikat dengan aturan langit, gua masih nyari sela, apa nih yang bisa gua perbuat, secara kakak gua itu kerjanya rapi, ini aja paman Ismaya masih stak gak bisa gerak, dia terus di awasi, gua cuma bisa komunikasi sama para Punakawan itu", kata Barra sambil menyandarkan tubuhnya didinding ruangan.


Mendengar pernyataan Deni membuat kakek Jatmiko seakan tidak percaya, ia tidak menyangka pemuda yang terlihat bodoh itu benar - benar Batara Kala Sang Dewa Waktu, namun ia masih belum mempercayainya. Dengan segera ia bergabung bersama Deni dan Barra.


"Sedang asik nih, apa kakek mengganggu kalian, katanya mengejutkan mereka".


"Kakek, tidak kek kami hanya berdiskusi saja, kami masih berusaha mencari cara untuk bisa mengembalikan sang prabu dan orang - orang yang dibangkitkan kembali, Kata Deni dengan pikiran yang masih menerawang.


"Maaf Den, bukannya kakek tidak mau mengajarkan ajian terlarang itu, tapi resikonya terlalu besar, memangkita bisa mempersingkat waktu diruang dimensimu, tapi kesalahan kecil dalam mempelajari ajian itu benar - benar bisa berakibat fatal, seandainya saja ada Batara Kala dipihak kita tentu kakek tidak akan ragu.


Seketika Barra dan Deni saling memandang, ternyata kakek Jatmiko masih belum yakin jika Barra adalah Batara Kala Sang Dewa Waktu.


"Apa kakek meragukanku, kata Barra dengan sedikit tersinggung.


"Bukannya ragu tapi, kau masih belum bisa membuktikan bahwa kau benar - benar Batara Kala", kata Kakek Jatmiko.


"Bukti macam apa yang ingin kakek minta?, agar kakek yakin kepadaku", tambahnya.


"Bawa aku menemui Dewi Durga", apa kau sanggup?", kata kakek Jatmiko dengan tatapan tajam.


"Kakek ingin bertemu ibu, baik aku akan membawa kalian ke istana laut selatan, ibu dan Ratu Pantai selatan sedang ada pertemuan dengan paea petinggi iblis.


Bara langsung mengibaskan tangannya dan dalam sekejap mereka sudah berada di pintu gerbang Istana Laut Selatan.


Semua penjaga ditempat itu langsung berlutut menyambut kedatangan mereka.


"Apakah ibuku sudah datang?", tanya Batara Kala pada seroang penjaga.

__ADS_1


"Sudah tuan, disana juga telah hadir beberapa dewa, Batara Ganesha, Batara Sumbu dan para raja dari kerajaan iblis, Ratu pantai Utara juga sudah hadir, termasuk yang mulia Ismaya dan para Punakawan.


Mendengar jawaban dari prajurit tersebut, membuat wajah kakek Jatmiko berbinar, ia tidak menyangka bahwa para dewasudsh terlibat dalam perang ini.


Penjaga segera membawa mereka menuju aula utama.


"Tuan Batara Kala, Tuan Deni dan Seorang lelaki telah tiba.


Semua yang ada diruangan cukup terkejut, karena seharusnya Batara Kala dan Deni sedang mencari cara untuk bisa mempelajari Kitab Serat Kama Sutra.


Melihat kedatangan anaknya membuat Dewi Durga tersenyum senang.


"Apa kau rindu pada ibumu putraku, lalu mengapa kau mebawa Deni dan juga Empu Jatmiko.


Barra dan Deni saling memandang?


"Bukannya aku belum memperkenalkan kakek Jatmiko bu?", katanya sambil menggaruk kepalanya.


Aku sudah mengawasi mereka sejak lama, sejak Ratu Pantai Selatan berkata bahwa Sri Sultan ingin menguasai Ajian Jerat Jiwa, aku takut mereka akan menyalah gunakannya, karena sejujurnya jiwa manusia bukanlah boneka yang bisa seenaknya dipermainkan", kata Dewi Durga dengan tatapan tajam.


Mendengar perkataan Dewi Durga yang lembut tapi tegas membuat kakek Jatmiko tidak enak hati, ia meresa dirinya telah melakukan kesalahan besar dengan mempelajari kedua kitab itu.


Setelah mereka semua duduk, empu Jatmiko menyapukan pandangan kesekitarnya, ia melihat para raja iblis dan dewa duduk bersama untuk mencegah perang besar, kini ia mengerti bahwa apa yang sedang dihadapi benar - benar menjadi ancaman bagi tiga dunia.


"Apa yang bisa aku bantu gusti ratu", tanya Empu Jatmiko.


Bantu mereka mengembalikan Sang Prabu, Ratu Tungga Dewi, Gayatri dan juga Rukmini.


Empu Jatmiko cukup terkejut, ia tidak menyangka keturunan Narapati sudah berbuat terlalu jauh.


"Apa kau tau cara mengembalikan mereka semua menggunakan ajian tarik jiwa?", tanya Ratu Pantai Selatan.


"Ampun, beribu ampun gusti ratu, hamba bisa mengembalikan mereka semua, namun kekuatan hamba kurang, butuh orang yang benar - benar siap menpekajari ajian ini", kata empu Jatmiko.

__ADS_1


"Kami para dewa tidak mampu berbuat banyak karena terikat aturan langit, lagi pula bukti keterlibatan Dewasrani masih kurang kuat, satu - satunya cara adalah mengajari cucumu dan pemuda pasundan itu ajian tersebut", kata Batara Ganesha.


"Tapi tuan, apakah itu tidak beresiko, aku sangat paham bagaimana mengerikannya ajian itu, aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.


"Apa kau ragu pada cucukmu?", kata Batara Ganesha dengan tatapan menyelidik.


"Bukan begitu tuan, tapi....


"Kami akan memberikan sedikit sentuhan, kekuatan kami hanya akan berfungsi pada orang yang belum pernah mempelajari ajian terlarang, jika ia sudah pernah mempelajarinya ada kemungkinan kekuatan kami akan diterima mentah - mentah dan malah akan menjadi mala petaka", tambah Batara Sumbu.


Empu Jatmiko terdiam, pikirannya kembali menerawang mengingat kenangan indah bersama sri sultan, orang yang sangat ia hormati. Suasana hening menyelimuti aula utama Istana Laut Selatan, semua masih menunggu keputusan empu Jatmiko.


Hampir satu jam empu Jatmiko berpikir keras, ia seperti sedang menimbang baik - baik keputusan yang akan dibuatnya, hingga akhirnya Batara Ismaya buka suara.


"Maaf jika aku belum bisa menemuimu, karena aku sudah diawasi oleh para prajurit Delapan Mata Angin.


(Sebagai informasi untuk kalian, Pasukan Delapan Mata Angin adalah pasukan super elit pelindung keluarga para dewa, tidak ada yang tau siapa mereka, seperti apa wajahnya, mereka harus bisa bekerja denga tim atau individu, pasukan Delapan Mata Angin adalah salah satu pasukan elit yang sangat ditakuti bahkan olwh para dewa sekalipun).


"Baik aku akan mengajarkan dua pemuda itu, termasuk cucuku ajian Jerat dan Tarik jiwa, tapi dengan satu syarat", katanga singkat.


"Apa syarat yang kau ajukan empu?" Tanya Batara Sumbu.


"Aku ingin Batara Kala mendampingi kami kata empu Jatmiko sambil menatap kearah semuanya.


"Hanya itu, tanya Batara Sumbu?.


Bersambung.


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Vote, Like, Komen dan


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2