
Mendapat perintah tersebut, para santri, dan Pangkalima dayak memanfaatkannya untuk memulihkan diri, sementara pasukan gabungan TNI tetap bersiaga melakukan penjagaan.
Disaat sedang memulihkan diri, para sultan dari dua wilayah Indonesia datang ke lokasi yang diduga pintu masuk kedalam lokasi makam para raja.
"Bagaimana situasinya", kata Sultan Jogja dengan nada cemas.
"Kami masih terus berusaha menghancurkan segel pelindunnya, tapi pasukan TNI mengatakan untuk menundanya sambil menunggu pasukan bantuan", kata pangkalima dayak.
"Teruskan pintu ini harus dibuka secepatnya, kami sudah mendapat perintah khusus dari bapak presiden sambil menunjukan pelakat khusus pada para pasukan.
Pasukan gabungan TNI yang sangat mengenal pelakat khusus yang dibawa sultan Jogja, mereka segera meminta para pangkalima dayak dan para santri untuk melanjutkan membuka segel.
Segel pelindung milik Narapati kembali diserang, serangannya bahkam semakin kuat, tambahan pasukan Maung Pariaman semakin membuat serangan pasukan gabungan semakin besar, hal tersebut sampai membuat guncangan disisi dalam pelindung.
*****
"Ampun yang mulia, sepertinya mereka mendapat tambahan pasukan, seluruh tempat ini sampai bergetar", kata Respati dengan terus menunduk.
"Apa kau takut mahapatih?", tanya Hayam Wuruk.
"Tidak yang mulia, Respati menunggu perintah.
"Siapkan pasukan panah, aku akan sedikit memberi sentuhan.
Setelah pasukan pemanah siap, Prabu Hayam Wuruk mengeluarkan batu mustikanya, auranya sangat kuat bahkan sampai dirasakan keluar dinding pelindung.
*****
Disisi Luar
Merasakan aura yang besar dari dalam pelindung, membuat Sultan Solo segera bergabung dengan pasukan Gabungan.
"Kakang Prabu apa kau merasakannya", tanya Sultan Solo, kepada Sultan Jogja.
"Benar Dinda, benda keramat yang sudah lama hilang, mustika sakti milik Prabu Hayam Wuruk.
Melihat situasi yang kurang baik Sultan Jogja segera memberi perintah.
"Mundur semuanya, dan buat pelindung yang paling kuat, cepat", kataya dengan sangat lantang.
Kedua sultan segera bergerak kegaris terdepan, mereka juga berusaha membuat diding pelindung.
Merasakan aura besar yang semakin mendekat membuat para bangsawan langit segera bergerak ke sumber aura.
"Aura apa ini, besar sekali, semoga masih sempat.
Mereka mempercepat langkahnya dengan ajian seipi angin.
Wuuuusshhhhh...... wuuuussshhhh.....
Giyana segera membantu para sultan membuat dinding pelindung untuk menahan aura besar yang entah dari mana asalnya, namun firasatnya mengatakan hal itu tidaklah baik.
__ADS_1
Sedang pasukan khusus gabungan TNI-POLRI dalam posisi siaga penuh sambil berharaf cemas.
*****
Disisi lain
Bapak Jaya yang sejak awal telah berada di lokasi Trowulan juga merasakan aura kuat yang terpancar dari mustika Prabu Hayam Wuruk, ia terus meminta Sandi terus menghubungi Deni atau Asep namun masih tidak ada jawaban.
"Bagaimana situasinya Sandi, apa kau sudah berhasil menghubungi salah satu dari mereka?", kata pak Jaya dengan nada cemas.
"Belum bisa pak, namun laporan dari para informanku, dilokasi reruntuhan keraton Majapahit sudah bersiaga pasukan gabungan TNI-POLRI dengan senjata lengkap, mereka bilang ada latihan militer ditempat itu", kata Sandi sambil menyerahkan dokumen laporan yang diterimanya secara berkala.
"Latihan militer?, bukanya di tempat itu jauh dari jangkauan militer dan bukan pusat latihan pasukan militer, lalu dengan senjata lengkap? Ini tidak masuk akal", katanya sambil melihat dokumen berisi laporan dan lengkap dengan foto - foto yang menunjukan pergerakan TNI-POLRI sejak seminggu terakhir.
"Lalu beberapa orang - orang dari berbagai suku juga berkumpul dilokasi ini.
Sambil menyerahkan foto - foto yang baru diterimanya.
"Letaknya ada disisi timur dan barat yang berjarak lebih kurang sepuluh dan lima belas kilo meter dari pusat reruntuhan keraton Majapahit, menurutku ini sangat aneh pak, karena layihan militer dilakukan dengan warga sipil", kata Sandi
Bapak Jaya segera membuka peta daerah Trowulan dan menarik garis lurus dimana lokasi sisi timur dan barat.
Wajah pak Jaya langsung pucat setelah menarik garis tersebut.
"Ada apa pak, apa yang membuat bapak khawatir?", tanya Sandi dengan sedikit bingung.
"Makam para raja, kenapa tidak terpikir olehku, ini semua adalah kesalahanku, aku yang mengarahkan keluarga Narapati menemukan makam para raja, Sandi segera hubungi empu Jatmiko, cucunya dalam masalah besar", katanya dengan suara bergetar.
"Selama ini aku yang terpikir olehku membangkitkan para raja saat purnama emas ada di Pusat Keraton Majapahit, tapi hal itu keliru, Makam Para Rajalah yang menjadi incaran mereka, ini semua salahku, semoga semua belum terlambat.
Ia melakukan beberapa ritual dan mengambil tombak yang menyerupai naga ya itu adalah petaka Sanghyang Naga Amawabhumi yang konon tersimpan di museum luar negeri.
"Pak anda sedang tidak bercanda kan, petaka Sanghyang Naga Amawabhumi adalah pusaka yang sulit dikendalikan, ruh pusaka bisa saja membunuh anda pak", kata Sandi dengan wajah cemas.
"Tidak ada waktu untuk berdebat, apa kau sudah menjalankan perintahku, segera temukan empu Jatmiko apapun caranya atau aku akan mengirimmu ke dasar neraka", kata Bapak Jaya dengan nada dingin.
"Aku sudah meminta orang untuk menjemputnya ia akan tiba dua puluh menit lagi.
"Deni tidak bisa menunggu, tugasmu membawa empu Jatmiko ke sisi timur apapun caranya, aku akan berangkat lebih dulu", kata bapak Jaya tanpa menoleh lagi dan langsung meninggalkan Sandi.
Sandi yang masih bingung dengan situasinya tidak pernah melihat pak Jaya sampai setakut itu, bahkan ia sampai mengeluarkan salah satu pusaka peninggalan Keraton Majapahit.
*****
Disisi para Sultan.
Serangan gaib pada dinding pelindung Natapati terhenti seketika, kini mereka fokus membuat pelindung gaib untuk melindungi diri.
Disaat yang sama Deni, Asep dan para bangsawan langit tiba di lokasi mereka, tanpa banyak bicara Sultan Jogja meminta mereka segera memperkuat perisai gaib yang dibuat.
Dua belas Bangsawan Langit Utama, segera menyalurkan tenaga dan memperkuat prisai gaib yang dibuat para sultan, dan yang lainnya
__ADS_1
Dan hal yang ditakutkan terjadi.
Prisai gaib Narapati terbuka, disana mereka melihat seorang dengan pakaian khas raja Kerajaan Majapahit disisi kirinya terlihat Respati dan para pasukannya sedang disisi kanannya adalah para iblis terkuat.
"Dia datang, bersiaplah untuk kemungkinan terburuk", kata sultan Jogja dengan suara pelan.
Sebuah serangan langsung menghantam mereka yang entah dari asalnya.
Blaaarrrr..... Blaaaarrrr.... Blaaaaaarrrr, getaran serangan gaib itu bahkan terasa hingga di Kota Surabaya, getaran lindu yang terasa cukup kuat.
Hal tersebut membuat acara di Surabaya sempat terhenti, laporan dari BMKG adanya pusat gempa disekitar area Keraton Majapahit menjadi viral diberbagai kanal media, salah satunya media berita Jawa Timur.
"Saya Lina telah terhubung langsung dengan kepala BMKG kota Surabaya.
Jika boleh tau, apa penyebab gempa yang sempat terjadi beberapa saat ini pak.
"Baik menurut alat pencatat kami, Telah Terjadi Gempa di Sekitar Area Keraton Majapahit, tepatnya di sisi timur yang berjarak hanya sepuluh kilo meter, belum diketahui pasti apa yang menyebabkan gempa tersebut, namun menurut laporan alat pendeteksi gempa, gempa ini disebabkan adanya benturan benda keras.
"Jika saya boleh tau pak, benda keras seperti apa ya pak, apa sebelumnya bapak menerima laporan akan adanya meteor yang jatuh di Indonesia?", kata reporter berita.
"Tidak ada laporan sama sekali mbak, seperti yang saya katakan kami masih mendalami apa yang menjadi penyebab gempa, lagi pula jika ada meteor yang jatuh seharusnya kita semua bisa melihatnya karena cahayanya pasti sangat terang", sementara kami masih mengirim tim untuk menyelidiki tempat yang disinyalir menjadi pusat gempa" tambahnya.
"Apakah ada indikasi lain pak?
"Saya masih belum bisa memberikan keterangan mbak, karena semuanya masih dalam penyelidikan, nanti pasti akan kami laporkan perkembangannya.
"Baik pak terima kasih, kami sangat berharap bisa segera mendapat laporan, karena saat ini hampir seluruh kota Surabaya teriso penuh oleh orang - orang yang mendapat hadiah liburan gratis.
"Baik mbak, kami akan melakukannya secepat mungkin kami sudah menurunkan tim inti.
Keriuhan di Kota Surabaya sempat terhenti, bahkan tim gabungan BASARNAS, PMK, dan POLRI disiagakan disemua titik kerumunan, hal tersebut untuk mencegah hal yang tidak di inginkan.
*****
Kembali ke sisi para Sultan.
Prabu Hayam Wuruk menyapukan pandangan kesekitarnya, ia benar - benar bingung melihat perubahan yang terjadi, pakaian yang orang - orang kenakan semuanya cocok dengan yang dikatakan oleh Wirabumi, bahkan senjata dan juga perlengkapan perang, hanya beberapa orang saja yang menggunakan pedang, sisanya menggunakan senjata aneh yang belum pernah dilihatnya.
"Jangan lakukan apapun, kita lihat perkembangannya", kata Sultan Jogja pada semua pasukannya.
Aura ditempat itu sangat kuat, bahkan beberapa anggota TNI-POLRI sampai ada yang tumbang karena tidak kuat menahan aura batu mustika prabu Hayam Wuruk.
"Hanya dengan auranya saja bisa menekan sampai sekuat ini, orang ini benar - benar mengerikan", kata Sultan Jogja dalam hati.
Suasana hening masih terjadi, kedua belah pihak belum ada yang mau menyerang lebih dulu, mereka semua masih mengukur kemampuan lawannya.
Bersambung.....
catatan, selamat malam para pembaca, akhirnya author bisa update lagi nih, kondisi sudah semakin membaik, terima kasih untuk yang masih setia mengikuti dan mendukung karya Sembilan Pusaka Nurantara
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
__ADS_1
Vote, Like, Komen dan
Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...