Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 94 - Gerbang Jiwa (Gerbang Tiga Kehidupan)


__ADS_3

Deni dan Asep semakin larut dalam pikirannya mereka terpaksa bermalam didepan Gerbang Ketiga, ditemani para Goju, Gome dan pendekar lembah kematian, keduanya saling pandang dan sesekali menatap Gerbang Ketiga, hingga akhirnya mereka tertidur.


Suasana di depan gerbang ketiga cukup hening, malam terasa sangat panjang bahi Deni dan Asep, hanya suara binatang malam yang memecah keheningan.


"Sudah bangun lo Ki?"


'Kagak bisa tidur gua bos, bingung gua bos, kira - kira harus gimana ya bos?'


"Ye dukun sakti pake nanya, jangan nurunin pamor lo dong sebagai dukun cabul wakwakwak."


'Sue lo bos, serius ni gua bos, kata Asep dengan nada serius.'


"Gak tau Ki, gua juga bingung, ternyata masalah yang di hadapi tidak sesederhana yang gua pikir."


'Lah kalo lo yang pinter aja bingung, apa lagi gua bos.'


"Masuk apa mundur nih?"


'Ye sudah jauh - jauh dan sok keren lo didepan bidadari merah itu, masak mundur bos, gengsi dong.'


"Jadi masuk nih Ki?"


'Ya iya lah bos, cuma ya itu harus ati - ati kita didalem, jangan sampe salah pilih, jangan sampe jadi penghuni neraka kita bos.'


*****


Mereka akhirnya membulatkan tekat untuk masuk kedalam gerbang ketiga, setelah berpamitan pada Goju, Gome dan sepasang pendekar lembah kematian, mereka mendekati pintu ke tiga.


Tidak ada yang istimewa dari gerbang ketiga hanya ornamen gerbang berbentuk kepala raksasa besar dan dua patung besar yang ditempatkan untuk menjaga gerbang. Ketika mereka semakin mendekati gerbang dua patung penjaga itu tiba - tiba hidup.


(Apa tujuan kalian datang ke tempat ini)


Deni dan Asep saling memandang?


"Bos gua yang salah denger dan salah lihat apa gimana ya, masa patung ini bisa ngomong bos?"


(Apa tujuan kalian datang ketempat ini)


Kedua patung itu kembali bicara dan berbalik ke arah mereka, patung - patung itu cukup menyeramkan.


'Lo gak salah Ki, gua juga denger, ini semua di luar nalar kita Ki.'


'Kami adalah tamu nona Ninda kata Deni yang sedikit bingung.'


"Kok lo bingung gitu bos?"


'Gimana gak bingung, barusan gua ngomong sama patung, mental gua kayaknya keganggu nih Ki.'


Kedua patung itu menatap tajam Deni dan Asep dengan tatapan tajam, mata mereka berubah menjadi warna biru terang.

__ADS_1


Mereka mengeluarkan pelakat yang sebelumnya diberika oleh Buto Rondo.


Tak menunggu waktu lama, pintu gerbang pertama terbuka, suasana mencekam dan aura menekan sudah mereka rasakan, mereka menggunakan tenaga gaibnya untuk menahan tekanan tersebut.


Dari dalam gerbang keluar seorang wanita, namun bukan wanita biasa, wanita berbadan ular, ia memberikan tanda pada para patung penjaga.


^Aku adalah Ghovi utusan Dewi Ninda, mari ikuti aku, katanya singkat.^


Tidak ada halangan berarti selama berada didalam gerbang, mereka berjalan masuk hingga gerbang lapis ketiga, sama seperti gerbang pertama, setiap gerbang di jaga oleh dua patung besar, tidak ada yang istimewa gerbang itu hanya sebuah lorong panjang dengan beberapa sekat - sekat di dalamnya.


Deni dan Asep berbicara melalui pikiran masing - masing.


"Bos kok disini cuma ruangan kosong, kalo ceritanya ada ini dan itu?"


'Iya Ki gua juga mikir gitu, apa disembunyiin ya, mau gua pake mata surgawi takut gak sopan, ya sudah jalan dulu aja ki, kita ketemu dulu dengan yang punya tempat.'


"Oke deh, gua ikut bos."


Cukup panjang perjalanan didalam lorong gerbang kehidupan, entah berapa lama mereka melewati tempat itu, hingga akhirnya mereka melihat sebuah bangunan istana megah lengkap dengan para penjaganya.


Namun sama seperti di gerbang kehidupan, di gerbang istana juga terdapat patung - patung penjaga, mulai dari yang seukuran manusia, hingga yang seukuran dengan para raksasa.


Semua tertata rapi, hingga menghilangkan kesan mistis ditempat itu, akhirnya mereka tiba di gerbang utama, disana mereka disambut oleh Buto Rondo dan juga seorang wanita cantik denga rambut tergerai panjang hampir menyentuh pinggangnya.


Dikepalanya terdapat mahkota bertahtakan berlian dan batu Ruby, ia tersenyum ramah pada mereka berdua.


"Selamat datang di gerbang jiwa, gerbang kehidupan, perkenalkan aku adalah Dewi Ninda, atau Buto Ninda, katanya ramah.


'Kalian hebat kata Buto Rondo, tapi apa kalian tidak sayang memberikan buah Dewa dan Buah Surga pada mereka semua?'


Deni dan Asep saling pandang, dari mana ia tau apa yang mereka lakukan.


'Tidak perlu heran, semua gerak - gerik kalian sudah kami pantau melalui cermin gaib, jadi apapun yang kalian lakukan aku bisa tau, tambahnya.'


Mereka terus berjalan hingga sampailah mereka di ruang jamuan makan, disana sudah tersaji beraneka jenis makanan dan minuman yang mengguggah selera.


Dewi Ninda duduk ditengah sementara Ghovi duduk disisi kanannya dan Buto Rondo disisi kirinya, mereka duduk sejajar dengan Buto Rondo.


"Silahakan nikmati hidangan sederhana ini, berjalan dan bermalam di deoan gerbang ketiga pasti membuat kalian merasa lapar dan lelah."


Hal tersebut di jawab anggukan oleh Ghovi dan Buto Rondo


Tanpa ragu akhirnya mereka makan dengan lahap, hampir satu jam mereka makan dan berbincang ringan, tidak ada pertanyaan apapun dari Dewi Ninda ataupun Buto Rondo.


Jamuan makan telah selesai, Dewi Ninda meminta pengawal mengantarkan mereka untuk beristirahat.


"Kita akan membahas semuanya besok."


Setelah berada didalam kamar, Deni dan Asep semakin bingung, katanya ujian di tempat ini semakin berat, tapi yang mereka dapat adalah jamuan makan kerajaan.

__ADS_1


"Ki lo ngerasa aneh gak sih?"


'Gua juga mikir gitu bos, katanya ujian, lah ini malah dikasih makan, jamuan mewah lagi bos, siapa coba yang gak senang?'


"Menerut lo apa Ki kira - kira ujiannya?"


'Lah lo nanya gua bos, gua gak ikut buat soalnya, jadi gak ada kisi - kisinya bos.'


Malam terus bergerak menuju peraduan, mereka berdua juga mulai larut kedalam mimpinya, namun tiba - tiba seluruh ruangan berisi air yang entah datangnya dari mana.


Aur terus meninggi dan menyentuh mereka, mereka terbangun dari tidur yang baru akan dimulai.


"Ki kebanjiran Ki?"


'Lah kok bisa, ini air terus tinggi bos.'


Melihat suasananya, Deni yang seorang penguasa air langsung membuat segel tangan dan mengontrol air yang terus meninggi.


"Ke pintu Ki, cepet buka pintunya."


Dengan gerakan cepat Asep telah berada didekat pintu masuk, ia berusaha membuka pintu dengan sekuat tenaga.


"Buruan Ki, gua gak bisa lama - lama, air - air ini sepertinya punya jiwa sendiri."


'Susah bos, sudah gua coba berkali - kali pintu ini sepertinya disegel.'


"Gua gak mau mati tenggelam Ki, masa penguasa air mati tenggelam?"


Asep mencoba berpikir, ia melihat dinding kaca ada disisi lain.


'Gua ada ide bos, berdoa ya tahan sebentar.'


Asep bergerak kesisi dinding kaca, ia membuat segel tangan kepalan tangannya diselimutu batu, ia terus memukul dinding - dinding kaca tersebut.


"Buruan Ki, gua sudah gak bisa tahan."


Ketika Deni mulai kehabisan tenaga, disaat yang sama dinding kaca yang terus di pukul Asep pecah dan membawa mereka keluar dan menuju ke sebuah ruang latihan.


^Selamat aku pikir kalian akan mati, selamat kalian lulus ujian pertama kata Dewi Ninda, yang memberikan handuk kepada mereka berdua.^


Deni dan Asep saling pandang, maksudnya ujian, mereka masih tidak paham dengan perkataan Dewi Ninda.


^Keringkan dulu badan kalian lalu gantilah pakaian kalian, baru kita akan bicara, aku akan menunggu kalian di ruang utama, katanya singkat sambil berjalan pergi meninggalkan mereka.^


Bersambung....


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Vote, Like, Komen dan

__ADS_1


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2