
Tiba - tiba mereka mendapat telepati dari June.
^Hati - hatilah, yang ada dihadapan kalian adalah Pancaka si Iblis air dia termasuk dalam lima iblis terkuat dalam susunan sepuluh iblis terkuat sekaligus paling licik^.
Mereka terus memandangi Sudar mereka tak menyangka sisi gelap manusia bisa lebih menakutkan dsri iblis itu sendiri.
Pancaka menghentikan aksinya, perlahan hujan mulai reda dan Banjir mulai terlihat surut, kini pandangannya tertuju pada Deni dan Asep.
Hal tersebut kembali trading karena beberapa kanal berita yang meliput langsung memberikan judul dikanal beritanya.
("Pendekar bertopeng kembali, pembuat hujan merasa terganggu", "Ayo pendekar bertopeng hajar saja yang mainin hujan itu", "Akankah sepasang pendekar bertopeng kembali jadi pahlawan".) Dan masih banyak lagi judul di kanal medià online.
*****
Akhirnya kalian datang juga, apa kalian bisa menemani gua bermain hahaha, katanya dengan nada ejekan.
Deni dan Asep tidak menjawab mereka tampak tenang menghadapi ejekan Sudar yang telah menjadi Pancaka, mereka berdua masih berusaha mencari celah untuk bisa melepas rantai pengikat jiwa.
Pancaka tebang menjauh, mereka yang tidak mau kecolongan mengikuti dibelakangnya.
Pancaka menuju kearah tanjung periuk dan berhenti diatas lautnya, satu hentikan jarinya membuat hujan kembali turun lebih lebat di daerah tersebut.
Deni dan Asep berusaha untuk menghalaunya, sebuah pukulan telak Asep bisa dihentikan dengan mudah. Deni yang juga yakin Sudar pasti terkena pukulannya, merasa ada yang aneh dengan gerakan Sudar.
"Ki kayaknya yang lo pukul tadi air ya ki? Karena sekilas berubah mengikuti arah pukulan".
Beberapa kali Asep mencoba hasilnya tetap sama, semua pukulan dan tendangannya seolah meleset, buuugt kletaaaakss, buuueemmm, Asep mundur beberapa langkah ia berusaha menggunakan mata Halimunnya.
Ia masih berusaha mencerna kenapa bagian tubuh yang dipukulnya seolah menjadi kenyal dan lentur, ini aneh katanya dalam hati hehehe
"Hati - hati ki, biar gua coba ki sambil lo pantau terus ya pake mata halimun".
Mendengar suara Deni dipikirannya membuat Asep mundur dan menjauhi Sudar, dirinya yang melihat Asep menjauh hanya tertawa terkekeh, kyaaak hahaha bangsawan langit belum apa - apa sudah mundur, bingung lo, atau mau nunggu kawan, panggil gih temen - temen lo, hahaha.
Asep tidak menghiraukan perkataan Sudar, tiba - tiba sudah merasa ada yang aneh, sebuah pukulan telak dari Deni menghantam tubuhnya, namun kini ia merasakan sakit yang luar biasa, ternyata Deni menggunakan Air Suci untuk menyerang Sudar.
Hal tersebut terjadi begitu cepat, Sudar sendiri terpental beberapa langkah, ia meringis memegang bagian tubuh yang dipukul Deni.
__ADS_1
Air Suci ya, wah pantesan lo menghidar, ternyata temen lo membawa benda yang berbahaya ya, pandangannya kini tertuju pada Deni.
Sesuai perintah Deni, Asep terus menggunakan mata Halimunnya untuk melihat celahnya.
'Sial bos gua belum terbiasa terbang, ternyata capek juga ya, ******'.
"Fokus Ki, yang kita lawan ada di level yang beda, inget mereka iblis terkuat ki".
'Tau si cupu ini yang jadi wadah, harusnya gua biarin aja waktu Bram and the gank ngebuli dia sampe hampir mati, kalo dia mati kan paling gak ngurang²in bos, kata Asep sambil menggerutu'.
"Sudah ki sekarang fokus, atau kita yang mati disini ki, kata Deni seirus".
Sudar mendekat keaeah Deni dan langsung menyerang, beruntung gerakan repleknya telah terbentuk, Deni bisa menghindar dan menepis serangab Sudar.
Deni berusaha menyadarkan Sudar..
"Woy Sudah bangun Bro bangun bro, ini gua Deni temen lo, ayo bro bangun, lu pasti bisa bro".
Ok bro Deni gua sudah bangun, tapi nama gua Pancaka bro bukan Sudar, jangansok akrab ya bro, bahaya bro, hahaha
Pedang Al Ma' Tsur dan Al Battar keluar dari sarungnya, melihat hal tersebut membuat Pancaka sangat terkejut.
Apa pedang Khalifah, bagaimana bisa, sebenarnya siapa kalian, ia yang merasa kekuatannya belum cukup untuk melawan pedang Khalifah langsung melarikan diri.
Tunggu saja pembalasan gua ya, gua pasti bakal dateng lagi, katanya sambil berusaha menghindari cahaya dari pedang Khalifah.
Melihat hal tersebut membuat mereka sedikit tenang, suasana beranjak normal, hujan mulai reda dan banjir mulai surut, hanya sisa - sisa genangan air dan endapan lumpur bekas banjir yang menjadi PR bagi warga ibu kota.
*****
Kembalinya Deni dan Asep
Mereka menyambut kedatangan Deni dan Asep, hampir semua berdecak kagum menatap kedatangan mereka. June sendiri hampir tidak percaya Pancaka si Iblis Air langsung lari ketika mereka mencabut pedang.
Maaf kami agak lama kata Deni, ia merasa agak lelah maklum ini pertama kalinya terbang, begitu juga dengan Asep, terlihat wajah mereka sedikit membiru, beberapa tim medis mendekat dan memberikan mereka suplay oksigen, setelah mereka benar - benar stabil ustad Hadi mendekat dan meminta mereka menceritakan semuanya.
"Dia Sudar teman sekampus kami dulu, dia itu pinter tapi cupu, atau kuper ustad, sering di bully, dan sering mendapatkan tindakan tidak menyenangkan, tapi tadi kemampuannya benar - benar hebat beruntunh dia langsung kabur ketika melihat kami mencabut pedang, dan yang kami bingung dia mengatakan pedang Khalifah, kami tidak paham ustad".
__ADS_1
Pedang khalifah, ustad Hadi merenung sejenak, semua yang ada diruangan itu juga terdiam tanpa suara, hampir sepuluh menit berlalu hingga akhirnya ustad Hadi bersuara.
Boleh saya melihat pedang yang dimaksud.
"Boleh ustad".
Deni dan Asep menarik Pedang Al Ma' Tsur dan Al Battar keluar dari dalam ruang dimensinya, semua yang ada diruangan itu sangat kagum, cahaya dua pedang itu sangat menyilaukan mata, auranya yang lembut tapi sangat menekan memberi ketenangan pada setiap manusia.
Namun tidak bagi Giyana dan kelompok bangsawan langit, mereka cukup tertekan menghadapi aura kedua pedang itu.
'Bisa kau simpan lagi kedua pedang itu? Pantas saja Pancaka langsung lari, kekuatannya sekarang masih belum cukup menghadapi pedang Khalifah, Auranya benar - benar membuat kami sesak kata Giyana.
*****
Disisi Terawan
Sudar yang berhasil melarikan diri langsung menuju kediaman Narapati.
"Maaf tuan aku terpaksa pergi, kekuatanku sekarang masih belum mampu bersaing dengan pedang Khalifah".
Pedang Khalifah? Apa maksudnya, tanya Terawan dengan sedikit kesal.
Kanimata mencoba menenangkan Terawan dan memberi penjelasan.
'Tenang tuan, jika Pancaka memaksa melawan makan ia akan mati sia - sia, karena yang dihadapinya adalah pedang khalifah'.
Jelaskan padaku cepat?
'Ribuan tahun lalu saat kami dan para bangsawan langit berperang, kami sudah hampir menang tuan, apa lagi hilangnya Sono dan Waru praktis membuat formasi bangsawan langit yang ditakuti tidak bisa dilakukan, tapi ketika kami hampir menang, sepuluh pasukan dari surga datang bersama seorang khalifah, mereka menyerang kami seperti menyerang anak - anak, kami benar - benar tidak bisa berkutik terutama aura dari senjatanya.
Iblis merah mencoba merampas senjata tersebut saat salah satu dari mereka lengah, namun yang terjadi adalah tangannya melepuh dan membuatnya cacat sampai saat ini, sejak itulah kami sepuluh iblis terkuat bisa disegel oleh para bangsawan langit.
"Pasukan surga ya, bangsat mereka selalu saja ada didepan kita, nenek apa yang harus kita lakukan?"
Gayatri tak bisa berbicara ia termenung sejanak berusaha memikirkan cara untuk lepas dari masalah ini.
Bersambung...
__ADS_1