Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 25 - Serangan Kelompok Panah Tengkorak


__ADS_3

Dia ada ditingkat bangsawan Jin tingkat tiga yang menunjuk Andre, kata Astagina berbicara didalam pikiran Deni yang diteruskan kepada Asep.


'Kita suit aja bos, siapa yang mau uji kemampuan lebih dulu, kata Asep santai.'


Boleh kata Deni, Deni melempar koin dan langsung meminta Asep memilih, saat Asep hendak melihatnya Deni berpesan jangan pakai mata halimun ya, harus adil ok.


"Sambil memonyongkan bibirnya Asep hanya manyun ok deh bos gua pilih angka kata Asep dengan sangat yakin, tapi ternyata yang keluar adalah gambar rumah adat."


Yah sue lo bos, dengan kesal Asep duduk di pinggir jalan dan menyalakan rokoknya.


****


Kelakuan mereka memicu amarah Andre yang merupakan salah satu ketua dari kelompok Panah Tengkorak, ia merasa dilecehkan dengan kelakuan dua pemuda tersebut, Andre langsung melepaskan empat anak panah yang dialiri denga tenaga dalam, dua mengarah kepada Deni dan sisanya mengarah kepada Asep.


Dengan mudah Asep menghindari serangan tersebut dan Deni mengembalikan serangan panah Andre dengan tenaga dalam dua kali lipat.


"Andre yang terkejut langsung menghindar, ia menciptakan prisai tenaga dalam karena salah satu dari anak panah tersebut ada yang tidak bisa dihindari, benturan panah Andre dan prisai tenaga dalamnya menciptakan ledakan yang cukup besar."


Sandi dan yang lain cukup terkejut dengan ledakan yang ditimbulkan, meraka bahkan tidak melihat Asep dan Deni bergerak, inikah kekuatan para bangsawan langit kata mereka dalam hati, sebenarnya sekuat apa para bangsawan langit itu, mereka semua larut dalam pikirannya masing - masing.


"Andre sendiri cukup terkejut, serangan yang ia lakukan dikembalikan dengan mudah bahkan tenaga dalamnya jauh lebih besar, siapa sebenarnya mereka kata Andre dalam hati, namun ia berusaha tetap tenang sambil terus mengukur kemampuan Deni dan Asep."


Seketika Andre berteriak cepat serang dengan formasi tempur tingkat tiga, seketika sekelompok orang keluar dari dalam perkebunan karet, delapan orang langsung menyerang Deni, namun baru saja berjarak satu meter didekat Deni, mereka merasakan aura dingin disekitar leher mereka, dan tak lama berselang kepala mereka telah terpisah dari tubuhnya, hal ini membuat Andre membelalakan matanya, delapan anggota panah tengkorak meregang nyawa tanpa tau apa yang menyerang mereka.


Sementara Deni terlihat hanya menggeleng dan menyalakan rokoknya, kalian hanya membuat semua menjadi sulit kata Deni sambil menghisap dalam - dalam rokoknya.


Hal ini juga membuat ustad Amir dan yang lainnya tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Deni benar - benar kejam kata pak Sandi berkata pelan.


Pak Taufik dan Ustad Amir bahkan sampai menelan ludah berkali - kali, mereka berdua tau betul bagaimana kemampuan kelompok panah tengkorak, mereka dibuat terdiam dan tidak dapat berbicara kelompok panah tengkorak yang sangat ditakuti didaerah tersebut, seperti tidak berarti apa - apa dimata Deni dan Asep.


****


Andre yang melihat situasinya kurang bagus mencoba melarikan diri, ia juga mencoba melempar suar tanda bahaya tapi Andre tidak dapat menggerakkan tubuhnya, diam - diam Asep telah mengunci kakinya ditanah dengan segel bumi.

__ADS_1


'Ini bagian gua ya bos, kata Asep sambil menatap Andre dengan tatapan dingin kasih gua kesempatan gitu kata Asep.'


'Lu uda dapat delapan ekor bos, yang ini kasih gua napa.'


"Eh ki encep, di karung tadi ada tiga ekor lo libas aja, emang lu kira gua gak tau lu lindungi mobil dengan aura tanah, kata Deni protes."


Perdebatan mereka membuar Andre menjadi takut, mereka berdua sepertinya sudah biasa membunuh, dan melakukannya tanpa beban. Mereka berdua bahkan berdebat hanya untuk membunuh. Bahkan semua anak buahnya dibunuh dengan mudah seperti membunuh seekor semut kata Andre dalam hati, ia jadi menyesali perbuatannya.


****


"Ya sudah deh dari pada lo ngambek dan gak mau jadi supir lagi, repot gua nanti, tapi kita perlu tau dimana markasnya jadi kalo bisa jangan dibunuh dulu, kan lo kebiasaan, kata Deni melangkah santai kedalam mobil, eh Ki Encep jangan lama - lama, nanti bos Sandi marah lo dipecat gua gak tanggung jawab ya, kita kejar waktu."


Asep segera mendekati Andre, ia menempelkan kedua tangannya kekepala Andre.


"Andre yang sadar akan hal buruk yang akan segera menimpanya berusaha memohon kepada Asep, Bang jangan bunuh gua bang, gua barusan nikah bang, gua jadi begal ini kepaksa bang, tolonglah bang, kata Andre memelas, ia berharap bisa mendapat rasa simpati dari Asep."


Ok gua gak akan bunuh lo, gua cuma mau elus - elus kepala lo doang kok kata Asep terkekeh.


Tenang aja ini gak akan sakit, Asep mulai menepelkan tangannya kekepala Andre lalu mulai menyerap semua tenaga dalam Andre,


"Seketika Andre berteriak sekencang - kencangnya, Andre merasa tubuhnya seperti dikuliti, terikannya sangat menyayat hati, bahkan teriakannya telah memecah kesuyian siang itu, tubuh Andre mengering seketika, hanya tinggal tengkorak yang terbungkus kulitnya saja, jeritan Andre pun sudah tidak terdengar lagi."


Setelah selesai Asep dan Deni segera kembali ke mobil dan Asep kembali menyalakan mobilnya. Dan perlahan meninggalkan lokasi kebun karet tersebut.


"Eh ki Encep, kan gua bilang jangan dibunuh, kita repot nanti, kata Deni protes."


Ya maaf bos, kelepasan gua bos, besok - besok gak lagi bos kata Asep sambil terkekeh.


****


Semua orang didalam mobil menatap keduanya dengan pandangan takut, mereka diam tanpa suara, mereka baru saja menyaksikan pembantaian yang sangat sadis, cara Deni dan Asep bertarung dan menghabisi musuhnya bukanlah cara manusia.


Pak Taufik dan ustad Amir terus menatap keduanya dengan perasaan takut, dibalik sikap ramah dan bersahabatnya, mereka juga bisa menjadi sosok yang sangat kejam saat bertarung.

__ADS_1


Kenapa pak kok geleng - geleng aja kata Deni memecah keheningan.


"Tidak ada nak Deni, maaf bapak mau bertanya, apa cara nak Deni tadi tidak terlalu kejam kata pak Taufik sedikit takut."


Oh itu maaf besok - besok gak gitu lagi pak, gak sampe putus deh kepalanya, kata Deni singkat, Deni sedikit kikuk karena mengetahui ketakutan mereka.


"Eh ki Encep, lu kejem bener kata pak Taufik, orang dalam karung di lindes aja, kata Deni mengalihkan perhatian."


'Lu yang sadis bos, orang pak Taufik bilangnya ke lo bos, orang datang gak tau apa masalahnya main dipenggal aja kepalanya kata Asep ikut menggeleng.'


Besok jangan gitu lagi kata Deni dan Asep bersamaan.


****


Setelah lebih kurang satu jam perjalanan, mereka menembus jauh kedalam perkebunan karet, tibalah mereka di tengah sebuah pos yang telah lama tidak digunakan.


Asep dan Deni keluar dari mobil disusul pak Sandi dan yang lainnya, meraka menyapukan netranya kesekitar perkebunan karet, mereka melihat pondok yang telah lama tidak terpakai.


Keempatnya berjalan mendekati pondok tersebut, mereka juga menyingkirkan rumput liar yang ada disekitarnya


Asep langung meraba tanah disekitar pondok, dan tak butuh waktu lama ia melihat pola segel yang membetuk dan melindungi tempat itu, belum sempat Asep membuka segelnya, sekelompok orang datang dan memperingatkan mereka..


Bersambung...


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Like


Komen,


Vote dan


Tambahkan ke favorite dan bagikan cerita ini keteman - teman agar Author lebih semangat lagi, terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2