
Kita harus bertemu presiden segera, selain waktu kita yang sedikit, hal ini benar - benar harus dibicarakan dengan sengat tenang, saya yakin pak presiden tidak akan bisa terima alasan ini, kata pemimpin AD.
Mereka segera mengatur waktu untuk bisa bertemu dengan presiden.
*****
Disisi Terawan
Sudah empat hari Gaytri melakukan tapa brata, pagi itu dikediaman Narapati dirinya keluar dari ruang semedinya.
Gayatri segera mengumpulkan anggota keluarga Narapati.
"Aku mendapatkan wangsit, untuk bisa benar - benar memecah perhatian pemerintah kita harus bisa membuat wabah penyakit menular, jika perlu kita sebar wabah tersebut keseluruh nusantata, Biarkan Ratmi si iblis angin dan Pancaka si iblis air yang membawanya, namun untuk Pancaka berhati - hatilah, lawan kita kali ini bukanlah orang biasa.
Bukan para dewa dan bangsawan langit yang aku takutkan, tapi dua pemuds manusia yang menggantikan posisi Waru dan Sono, ingat mereka mempunyai Pedang Kahlifah, senjata itu benar - benar membuat kita susah.
"Cucuku apakah kau bisa membangkitkan satu orang lagi, ia akan menjadi kunci keberhasilan kita". kata Gayatri dengan penuh keyakinan.
Bisa nek, siapa yang mau nenek bangkitkan?
"Rukmini, ahli obat dan juga ahli racun, ia sempat dibuang yang mulia Hayam Wuruk karena telah meracuni satu istana, memang tidak sampai mati tapi menjadi wabah yang berkepanjangan, aku yakin dengan adanya wabah penyakit kita bisa bergerak bebas karena konsentrasi raja negara ini akan terpecah".
Nenek benar - benar jenius, kapan kita akan menuju makamnya? Tanya Terawan.
"Sekarang juga kita pergi ke daerah kediri, disanalah makam Rukmini si Dewi Racun dari Majapahit bersemayam".
Terawan tidak membuang - buang kesempatan, ia segera bergegas meminta para anak buahnya yang tersisa untuk segera berangkat kekediri.
Mereka terbang menggunakan pesawat menuju Surabaya, tepat pukul satu siang mereka semua telah tiba di bandara Juanda. Disana mereka telah di tunggu oleh orang - orang Narapati, tak butuh waktu lama, dengan adanya jalan tol perjalanan munuju Kediri bisa ditempuh dalam waktu kurang dari tiga jam.
Mereka menuju desa Mojoroto disanalah sang Dewi Racun Majapahit dimakamkan. Tak banyak yang tau tentang Rukmini, keberadaannya seolah ditutup oleh pemerintahan Majapahit pada saat itu.
Setelah mendapatkan lokasi pasti dari Gayatri, mereka menunggu malam untuj bisa bergerak bebas.
*****
Malam itu keadaan desa Mojoroto cukup tenang, beberapa penduduk sedang asik bercengkrama di pos ronda, sebagian ada yang asik bermain Gaple, ada pula yang membakar ketela pohon.
Malam itu dua mobil Jeep masuk kearea kampung mereka, mereka sudah izin sebelumnya sebagai peneliti dari pemerintah untuk mengambil sampel tanah di bukit Roto, bukit yang tidak banyak penduduk ingin kesana, karena bukit itu masih terkenal wingit.
Beberapa sesepuh desa sudah mewanti - wanti orang - orang tersebut yang tak lain adalah keluarga Narapati, dengan ahli negosiasi yang mumpuni, luluhlah para sesepuh kampung, dengan memberi catatan tidak lebih dari pukul satu malam.
Setelah mendapat persetujuan, mereka semua bergegas menuju bukut Roto, dengan didampingi pak Kaum mereka menuju bukit Roto, namun ditengah perjalanan Respati diam - diam memberikan minuman yang telah dicampur obat bius kepada pak Kaum. Ia langsung menerlpon Terawan.
"Lapor Tuan Muda, pak Kaum Desa Mojoroto akan tertidur sampai besok pagi".
Bagus, kau memang selalu bisa aku andalkan Respati.
Mereka segera menuju titik Lokasi didekat sebuah gua, disana terdapat undukan tanah yang tidak terurus, Bona si iblis tanah segera mengangkat jasad yang telah lama terkubur, jasad itu seperti membatu, setelah Gayatri memastikan ia segera meminta Terawan bergerak.
__ADS_1
Terawan melakukan ritual menghidupkan kembali orang mati, dengan membawa seorang wanita dari rumah bordirnya ia menuliskan mantra di kertas segel.
Ketika persiapan selesai Terawan mendekati perempuan malang itu, sadar hal tidak baik akan terjadi wanita itu coba berontak dan berteriak, namun tubuhnya yang terikat disebuah pasung kayu dan mulut yang diplester membuat semua usahanya sia - sia.
"Tenang lah nona Cantik aku sudah memberikan uang tunai dua ratus juta kepadamu, cukup setimpal bukan, katanya dingin".
Terawan mendekati wanita itu, dan menempelkan kayu pasak tepat dijantungnya, seketika sebuah keanehab terjadi, tubuh wanita itu bergejolak hebat, rasa sakit yang ia rasakan tidaj bisa digambarkan, sementara tubuhnya yang terikat membuat dirinya pasrah akan ajal yang sudah didepan mata.
Perlahan kayu pasak itu masuk kedalam badannya, dan seketika sinar terang dari segel jurus Murup Jiwo merubah wanita itu menjadi sosok yang berbeda.
Seorang wanita cantik dengan pakaian zaman Majapahit duduk bersimpuh ditempat itu, ia masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi, ia juga menatap orang - orang dengan pakaian aneh dihadapannya, namun salah satu suara yang ia kenal membuyarkan lamunannya.
'Selamat datang kembali Dewi Racun Majapahit, kata Gayatri dengab senyum mengembang'.
Yunda Gayatri, ada apa ini, kenapa yunda berpakaian aneh seperti itu?
'Penjelasannya nanti saja, sekarang kita harus segera pergi, mari dinda ikut dengan yunda yang mulia akan memberikan dinda kesempatan kedua, namun dinda harus mengikuti perintah yunda'. Katanya singkat
Tak banyak kata dari Rukmini, ia segera mengikuti Gayatri menuju mobil untuk segera kembali ke Jakarta.
Selama perjalanan Rukmini cukup bingung, suasana ditempat itu sungguh berbeda, orang - orangnya, rumah - rumahnya, semua terasa asing bagi dirinya, semakin jauh menuju Bandara ia semakin dibuat bingung, sebuah burung besi berseliweran di udaha, hampir saja ia menyerang pesawar yang akan mendarat jika tidak dicegah oleh Gayatri.
Tenanglah Dinda, jangan berbuah hal yang akan merugikan kita, sebaiknya dinda diam dan menurut saja, tambahnya singkat.
Perjalanan mereka ke Jakarta benar - benae membuat Rukmini hampir gila, namun ia tidak berani membantah lagi. Menjelang pagi mereka tiba dikediaman Narapati.
Pagi itu keluarga Narapati cukup puas, dengan hadirnya Dewi Racun Majapahit bisa dipastikan akan memberi dampak besar bagi perjuangan mereka.
*****
Kembali kesisi Deni
Deni ikut membantu membersihkan ibu kota, ia bersama para santri kiyai Faiq terus menuju tempat - tempat yang masih kotor oleh sisa - sisa banjir.
Hampir seminggu sejak serangan tiba - tiba dari Pancaka meninggalkan sisa - sisa kotoran.
"Gila ya ki, serangan mereka bukan secara fisik aja, kita harus siap dengan serangan lain ki katanya pada Asep".
Ia bos namanya juga iblis bos, pasti akan pake cara yang gak biasa, kalo pake cara biasa bukan iblis dong namanya hahaha, Kata Asep sambil tertawa.
"Ye si koplak di ajak ngomong serius malah cengengesan, gua serius ni, kita harus mikir kira - kira serangan apa lagi ya yang akan di buat, mudah - mudahan semua segera selesai ya ki, jujur capek gua ki, gua kira berantem - berantem kaya sama si Bogel lah ini malah bikin pusing".
^inget papa dibalik kekuatan besar, ada tanggung jawab yang besar, papa harus kuat ya, mama yakin kita bisa mengatasi ini, kata Jasmine yang tiba - tiba ikut berbicara^.
"Si mama bikin kaget aja, tapi bener ma, papa pusing tau, oh iya boleh tanya?"
^Mau tanya apa sayang, tanya aja, kalo bisa dijawan pasti mama jawab, Kata Jasmine dengan tersenyum^
Kalo mama ada diposisi mereka apa yang akan mama lakuin, kira - kira serangan apa yang mungkin dilakuin?
__ADS_1
^Heem apa ya, santet atau teluh mungkin, karena itu lebib efektif, tapi untuk menyantet orang se - Nusantara pasti dibutuhkan dukun yang sangat sakti, lagi pula perlu nama dan tanggal lahir lalu mencari hari yang sesuai dan perhitungan yang pas^
Nama, tanggal lahir? Mereka punya ma, data KTP kan harus sesuai tanggal lahir, lengkap dengan Fotonya lagi, bukan gak mungkin mereka akan nyantet se Indonesia termasuk presiden, gawat ustad Hadi harus tau ini.
Mereka segera bergegas menuju mall kasablanca, Deni berlari tanpa menghiraukan siapapun, para bangsawan langit yang merasa aneh segera mengikutinya.
Disana para pemimpin lima matra masih berdiskusi dengan para Ustad dan juga Kanjeng Ratu Kidul.
"Gawat ustad, gawat.
Semua yang ada diruangan itu heran menatap Deni.
Gawat apanya nak, ucap salam dulu, tenang dulu, baru bicara kata ustad Faiq mencoba menenangkan Deni.
"Gawat ustad, santet dan teluh serangan berikutnya".
Semua yang ada diruangan itu saling memandang.
•Nak Deni tidak sedang bercandakan, tabya Ustad Faiq?
"Tidak ustad.
•Tarik napas dulu nak, dan minum ini.
Deni menerima air doa dari ustad Faiq, setelah agak tenang ia mulai berbicara
"Tadi saya dan Asep sedang berdiskusi, kira - kira serangan apa yang akan dilakukan? Jika fisik bisa dipastikan kita menang segalanya, pasukan - pasukan elit dinegara ini sudah terbukti dan teruji diberbagai medan, namun saat berdiskusi Jasmine memberi masukan Santet dan teluh bisa lebih efektif untuk membunuh seluruh orang di Indonesia".
•Tapi nak sejauh yang bapak tau, tidak semudah itu, butuh perhitungan, kita juga harus tau tanggal lahirnya, dan ada fotonya, jika satu dua orang mungkin tapi untuk satu Indonesia itu mustahil, tambah Ustad Faiq.
"Justru itu ustad, mereka pernah bekerja dibagian kependudukan, mereka punya data seluruh warga Indonesia mulai dari mereka lahir sampai meninggal, lengkao dengan tanggal lahir dan fotonya, apa itu masih kurang?"
Seketika para ustad saling memandang, mereka tidak berpikir sejauh itu, memang benar yang dikatakan Deni mereka pernah membawahi bagian kependudukan di Indonesia, bukan hal Sulit bagi mereka mengumpulkan nama lengkap, tanggal lahir dan foto diri seluruh orang di Indonesia.
Para pemimpin lima matra masih mencoba mencerna pembicaraan mereka, mereka masih berasumsi dengan pikirannya masing - masing.
"Mengapa saya bicara seperti itu, kini serangan Narapati hampir tidak terlihat, buktinya adalah Pancaka yang bisa mengendalikan hujan, tidak menutup kemungkinan salah satu iblis terkuat bisa membunuh seluruh orang di negeri ini tanpa harus bangun dari duduknya, tambah Deni.
Semua yang ada diruangan itu kembali saling memandang, benar apa yang dikatakan Deni, serangan keluarga Narapati saat ini sulit ditebak dan tidak biasa.
'Masalah ini harus segera dibicarakan dengan Presiden, bagaimana kapan bapak presiden bisa bertemu, kata ustad Hadi'.
Bersambung....
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
Vote, Like, Komen dan
Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...
__ADS_1