
Bab 140 - Sisi Gelap Ruang Jiwa
Aku akan memberi waktu selama satu minggu, bisa atau tidaknya, semua bergantung pada kalian", kata kakek Jatmiko.
Hampir satu minggu latihan Deni dan Adep didasar sungai ruang dimensi, tekanan didasar sungai cukup besar, sudah hampir seminggu Deni dan Asep hanya bisa bertahan selama sepuluh menit. Sebenarnya hal ini sudah diatas manusia normal, karena besarnya tekanan didasar sungai membuat waktu mereka semakin sempit.
Empu Jatmiko memandang kagum pada keduanya, keduanya saling memberikan semangat meskipun dengan cara yang agak berbeda.
"Sepuluh menit tiga puluh detik, gua bisa lebih baek dari lo bos, hahaha segitu doang lo bos, kata Asep berusaha memancing emosi Deni.
Deni yang telah berlatih mengendalikan emosi bersama Jasmine, mulai bisa mengontrol emosinya, meskipun sejujurnya ia sangat kesal bisa dikalahkan oleh Asep.
"Yah kan lo dukun sakti ki, wajar dong kalo gua kalah, kata Deni dengan tetap tenang. Gua kira lo bisa sampe lima belas menit, ternyata sama aja sama gua, payah lo ki, gelar dukun sakti se Nusantara kayaknya berlebihan deh, tambahnya dengan senyum mengejek.
"Gua gak enak aja, masa lo kalah sama gua, ok lima belas menit, cepek jigo, berani kagak lo bos.
"Ngajak tarohan ki, tarohan itu dosa ki, sama dengan judi itu ki, tapi ya boleh lah, sesekali tapi kalo kurang dari lima belas menit kalah lo ya ki, berani kagak.
"Ok siapa takut, Asep tea.
Asep mulai mengatur tenaga dalamnya, hal inilah yang sebenarnya ditunggu oleh Deni, ia ingin melihat cara Asep bisa mengatur tenaga dan menyalurkan tenaga dalam.
Tapi Deni bingung, Asep sama sekali tidak menggunakan tenaga dalamnya, ia benar - benar melakukan olah napas, tapi carranya sedikit berbeda.
"Lah kok cara dia mengatur dan mengolah napas beda ya? Belajar di mana ni bocah, sue bener dah hua lupa si Mayang kan Dewi bulan, disana gak ada udara, ruang dimensi Mayang beda dengan yang lain, heeem pantes aja dia bisa bertahan selama itu, katanya dalam hati
Asep berjalan santai menuju sungai, ia yang dipandu Mayang melaui telepati mendapatkan hasil yang lebih baik dari pada Deni, Asep segera masuk dengan santai, lalu mencoba meminimalisir gerakan yang tidak perlu.
Deni mulai menghitung waktunya, lima menit telah berlalu sejak Asep berada didasar sungai, ia terus menajamkan mata halimunnya, terus mengawasi pergerakan Asep dari atas, sambil memindai seluruh tubuh Asep,
"Jadi begitu caranya liat aja lo ki, kena lo sekarang", katanya sambil tersenyum.
Empu Jatmiko terus memperhatikan kelakuan dua sahabat itu, ia tidak menyangka begitulah cara mereka saling menyemangati.
"Zaman sudah sangat berubah, generasi baru terus berkembang dengan caranya sendiri, sepertinya ajian ini memang butuh pewaris", katanya dalam hati.
__ADS_1
Sudah hampir dua puluh menit Asep berada didasar sungai, tubuhnya seolah menyatu dengan aliran sungai, ia tidak lagi terbebani dengan tekanan yang ada, panduan dari Mayang benar - benar memberikan efek yang luar biasa.
Tepat dua puluh menit, Asep mulai bergerak, ia berenang seolah mengejek Deni, dengan santai tanpa terengah seperti pertama mereka masuk, dengan berat hati Deni memberikan uang seratus dua puluh lima ribu kepada Asep.
"Luamayan buat beli kuota hahaha, kata Asep sambil mengibas - ngibaskan uang yang diterimanya dari Deni.
"Ye lo kan orang kaya Cep, masa daept uang segitu seneng banget, belum bisa move on dari kemiskinan lo", kata Deni sedikit mengejek.
"Bersyukur bos, rejeki tolah - toleh hahaha.
Empu Jatmiko mendekati keduanya.
"Cukup mari kita segera berangkat, kita menggunakan teleport saja, untuk menghindari kecurigaan mereka, buatlah tubuh pengganti buat seolah kita tetap berlatih disini, aku khawatir, ada yang meminta masuk kedalam sini, kata kakek Jatmiko pada keduanya.
"Lah ngapain kek, santai saja kek", kata Deni singkat.
"Yang lain masih bisa aku percaya, tapi para sultan itu aku sedikit ragu, mereka juga pasti ingin menguasai ajian milik leluhur mereka, kalian masih terlalu hijau, turuti saja perintahku kata kakek Jatmiko.
Setelah melakukan persiapan, mereka melakukan teleportasi ke zona netral perbatasan Alas Purwo dan Laut Selatan. Kakek Jatmiko segera meminta mereka mengikutinya berenang menuju sebuah karang besar disisi selatan.
Disana terdapat sebuah batu karang besar yang tersebunyi didalam laut, dengan sigap kakek Jatmiko berenang dan masuk kedalam sebuah celah didalam batu tersebut.
"Cukup merasa kagumnya, waktu kita terbatas, mari kita menuju ketempat latihan, ingat pesanku, semua hukum alam tidak berlaku disini, atur tenaga sebaik mungkin, dan jangan lakukan gerakan yang tidak perlu, karena ini pertama kalinya kalian masuk ketempat rahasia ini, katanya menjelaskan tempat itu.
Semakin mereka bergerak kedalam hutan, tekanan yang diterima semakin besar, mereka seolah berada diluar dunia manusia.
"Sudah aku katakan jangan gunakan tenaga dalam karena itu hanya akan membebani kalian, ingat kalian belum bisa mengatur tenaga dalam dengan baik, aku akan memberibtau caranya agar kalian bisa mengatur tenaga besok pagi, sementara biasakan dulu diri kalian dengan udara, dan tekanan ditempat ini.
"Baik kek, tapi sebelumnya boleh Asep bertanya kek?", kata Asep yang masih kebingungan.
"Silahkan kalian boleh bertanya apa saja, asalkan itu berhubungan dengan latihan kalian.
"Kenapa tempat seindah ini dinamakan sisi Gelap Ruang Jiwa, jika hanya karena tekanan Asep rasa terlalu berlebihan kek?, kata Asep dengan serius.
"Karena ditempat ini sisi gelap manusia akan mencoba mengambil alih diri kalian. Mari kita sudah sampai, duduklah dulu setelah minum air sumur tujuh emosi enam nafsu, aku akan menjelaskan ksmbali.
__ADS_1
Mereka tiba disebuah rumah adat jawa tempo dulu, Sebuah Joglo yang sangat terawat dan sangat indah, mereka duduk diserambi depan Joglo kakek Jatmiko.
Kakek Jatmiko yang sudah lebih dulu masuk membawa sekendi air, dan dua cangkir dari tanah liat.
"Minumlah ini adalah air "Tujuh Emosi Enam Nafsu"
"Kenapa namanya aneh begitu kek? Kata Deni singkat.
Kalian harus bisa memahami diri kalian sendiri, aku akan menjawab satu persatu pertanyaan kalian, karena pertanyaanmu berhubungan dengan pertanyaan Asep maka kakek akan menjelaskannya dari awal.
Manusia itu sangat komplek, sebaik - baiknya manusia pasti ada jeleknya, tapi sejelek jeleknya manusia pasti juga asa baiknya, tinggal kadarnya saja mana yang lebih dominan, tapi menurut sri sultan tidak ada manusia yang jelek, hanya saja manusia itu salah jalan.
Tujuh emosi, kalian harus pahami baik - baik, emosi manusia terdiri dari (Cinta, Benci, Sayang, Acuh, Senang, Tidak Suka, dan kesal) semua yang berhubungan dengan perasaan itulah Emosi.
Sedangkan enam nafsu (Amarah, Birahi, Khianat, setia, berani, dan takut) semua yang berhubungan dengan hati itulah nafsu.
Keduanya harus bisa selaras, salah sedikit saja kalian mengontrolnya maka akan berakibat patal, itulah kenapa sang pencipta mengatakan manusia sebagai mahluk yang paling sempurna, satu yang tidak dimiliki mahluk lain adalah pikiran.
Asep dan Deni dengan serius mendengarkan penjelasan kakek Jatmiko.
Semua hewan punya otak, tapi mereka tidak punya pikiran, mereka punya perasaan dan juga hati, pikiran inilah yang seharusnya menjadi kontrol bagi kita manusia, anugrah besar yang diberikan oleh sang pencipta kepada kita manusia.
Malaikat, para dewa semua punya kelebihan, tapi mereka tetap tunduk pada aturan langit, sehebat - hebatnya Batara Kala dia masih takut melanggar aturan langit.
Meskipun tidak dengan Dewasrani, Nafsunyalah yang lebih dominan, dulu sekali sang pencipta menciptakan tiga mahluk untuk menguasai dunia, yaitu Antaga, Ismaya, dan juga Manikmaya, Antaga diciptakan dari Api, kuat berani dan paling sakti diantara adik - adiknya.
Sementara Ismaya, tercipta dari cahaya, lembut, tapi mematikan, sementara Manikmaya adalah gabungan dari keduanya, sebenarnya ialah yang paling kuat, namun karena belum mampu memaksimalkan kekuatannya, ia terlihat sebagai yang paling lemah dan menyedihkan dibandingkan kakak - kakaknya..
Saat Antaga dan Ismaya berebut posisi tertinggi di Tribuana, Manikmaya hanya bisa melihat, sisi Ismayanya yang membuat ia bersabar, dan mengalah. Namun setelah ia bisa menguasai kedua kemampuan kakak - kakaknya dan diangkat sebagai pemimpin di Tribuana, sikapnya berubah, namun Manikmaya masih bisa di kendalikan, tapi tidak dengab putranya Dewasrani.
Hal itulah yang aku khawatirkan nak, karena sejatinya tugas pemilik ajian Jerat Jiwa dan Tarik Jiwa bukanlah untuk membangkitkan orang mati, tapi untuk menyadarkan Dewasrani.
Hal ini disadari oleh pendahulu kalian Sono dan Waru, mereka sadar ketika bertemu denganku saat perang tiga dunia yang pertama, keduanya terpental masuk kedalam ruang rahasia ini, semuanya sudah garisan sang maha pencipta.
Saat masuk ketempat ini, keduanya terluka cukup parah, mereka bisa bertahan karena para pusakanya terus mengalirkan tenaga dalam, aku yang iba mencoba mengobati mereka, disitulah aku tau bahwa mereka bukanlah manusia, tetapi para penghuni langit, dan yang lebih istimewa mereka adalah bangsawan langit utama.
__ADS_1
Bersambung....
Selamat malam para pembaca, Sembilan Pusaka Nusantara Kembali Update nih, dukung terus ceritanya ya, terima kasih.