
Sesuai petunjuk tercepat mereka berjalan mengikuti jalan provinsi, namun tentunya bukan jalan utama. Setelah keluar kota Jogja mereka langsunh menuju ke arah Naggulan dan terus berjalan menuju ke arah Kalirejo.
Setelah tiba di Kalirejo, Asep mulai bertanya pada Deni.
"Bos masa selama itu ke Gunung Krakatau? Apa beneran tu Dewa brengsek gak macem - macem?"
"Kalo petunjuk dari peta online sih paling lama satu minggu Ki, tapi kan lo tau kita lagi di uji, bisa jadi kita singgah sekitar satu hari atau satu minggu sampe kita selesai membantu yang harus kita bantu, nah lo juga tau ki kita gak boleh menolak permintaan orang yang minta tolong".
"Iya juga sih, tapi alhamdulillah ya bos, sejauh ini belum ada tanda - tanda, semoga aja begitu sampe akhirnya kata Asep".
"Lo gak boleh gitu Cep, inget kita lagi di uji, jadi baiknya hati - hati dengan omongan lo Cep, jangan sampe nanti kita susah sendiri".
"Ya maaf bos, gua heran aja, kenapa gak terbang aja kita, atau menghilang, secara kan kita sudah jadi orang sakti, kata Asep sambil menepuk dada".
"Hai ki sanak, sebaiknya jaga ucapanmu, dan jangan kau sombongkan kemampuan yang tidak seberapa itu".
"Apa kau mau mencobanya ki sanak, tambah Asep".
Kedua sahabat itu tertawa terbahak - bahak. Hingga waktu matahari terbenam mulai merubah langit yang terang menjadi gelap.
Masih di Kalirejo, mereka melihat sebuah pos ronda yang sudab tidak terpakai, terbukti banyak rumput dan juga ilalang disekitarnya, mereka sengaja memilih tempat itu karena sengaja menghindari orang - orang yang berada disana, susana yang gelap membuat tempat itu benar - benar mebuat mereka bisa beristirahat.
Saat mereka mulai merebahkan diri, terdengar sayup - sayup suara orang yang sedang merintih, sejenak mereka menajamkan pendengaran, dan berusaha mencari sumber suara, betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa ada sepasang manusia yang sedang berbuat mesum tak jauh dari tempat itu.
(1000 kata sengaja Author hilangkan, karena tidak ingin melanggar pedoman penulisan)
Mereka memikirkan cara untuk mencegahnya, sementara Deni langsung menghentikan waktu disekitar pasangan mesum itu agar suara rintihan itu tidak mengganggu telinganya, sambil mencari cara untuk menghentikan aksi mereka.
"Hadeew baru juga mau istirahat, malah ada yang beginian kata Deni sambil menggelengkan kepalanya".
Secara kebetulan mereka melihat beberapa orang warga yang kebetulan lewat, berbekal kemampuannya, Deni membimbing mereka ke arah sepasang manusia yang sedang berzinah itu, sementara mereka berdua telah menggunakan mode halimun sehingg mereka tidak bisa dilihat oleh manusia biasa.
Warga yang melihatnya langsung emosi, seketika waktu kembali normal ketika kumpulan warga telah memergoki perbuatan mereka yang sangat tidak pantas.
Kedua orang tersebut menjadi pucat pasi, mereka sudah tertangkap basah karena ketahuan melakukan hal yang tidak semestinya, akhirnya mereka berdua di arak warga menuju balai desa untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
****
Disisi lain, Deni dan Asep kembali kemode manusia dan beristirahat di pos ronda tersebut.
"Eh bos kita dosa gak ya, gangguin orang lagi mantab - mantab gitu, kata Asep".
__ADS_1
"Ya enggaklah ki, mereka itu yang salah, kalo mereka pasangan resmi, ngapain melakukan hal itu ditengah kebon begini, banyak nyamuk, belum lagi nanti jika ada hewan - hewan berbisa, ular atau kalajengking misalnya".
"Iya juga sih bos, ada - ada aja ya, baru juga mau tidur, gua jadi kepikiran ******* ceweknya bos, kampret emang itu orang - orang".
"Eh inget ki, kita masih topo ngrame, jangan sampe kita gagal gara - gara otak lo terkontaminasi limbah mesum itu ya, kata Deni dengan sangat tegas".
"Iya bos, maaf gua gak mau gagal, udalh mending kita tidur".
Keduanya yang cukup lelah, segera merebahkan diri, dan dengan cepat segera berpindah ke alam mimpi.
****
Disisi lain.
Keluarga Wijaya yang sudah kehilangan kontak dengan Deni merasa khawatir, terutama ibu Deni, mereka juga kehilangan kontak dengan Kakek Jatmiko sehingga keluarga itu benar - benar pusing dibuatnya, merek mencoba mencari dan bertanya pada teman - teman Deni.
Harapan mereka adalah Asep, namun sama seperti Deni Asep pun seperti hilang ditelan bumi, semua teman kampus dan teman kerja mereka namun hasilnya masih tetap nihil.
"Bagaimana pak, sudah ada kabar tentang Deni atau Asep pak? Kata ibu Deni dengan wajah cemas".
"Belum ada kabar bu, tapi bapak sudah mengerahkan orang - orang kita untuk mencari mereka, termasuk meminta bantuan polisi untuk melacak keberadaan mereka, sekarang kita berdoa saja kata bapak yang berusaha tetap tenang".
****
Pagi itu susana di Istana Laut Selatan cukup ramai, mengingat sejak kepergian Deni dan Asep, Batara Dewasrani memutuskan tinggal di istana tersebut dan berada dibawah pengawasan mereka, sementara itu para petinggi aliansi tiga dunia sedang melakukan rapat terbatas.
"Kenapa situasinya jadi makin sulit, kata petinggi angkatan darat".
"Kenapa kau begitu risau jendral dari bangsa manusia, bukankah saat ini kita mendapat keuntungan, setidaknya Batara Dewasrani berada dalam pengawasan kita, kata Raja Jin dari Timur".
"Justru itu yang kami berlima takutkan, tuan Ismaya sendiri sampai khawatir, karena Dewasrani berada di sini, seharusnya kau tidak perlu khawatir, tambahnya lagi".
"Apa kalian pernah mendengar, tempat persembunyian terbaik dalam perang adalah area yang paling berbahaya, dan area yang paling berbahaya adalah wilayah musuh, seperti yang kita tau, selain keraton Jogja dan Istana Negara, Istana Laut Selatan adalah basis utama kita, secara tidak langsung Dewasrani sendiri yang mengawasi bagaimana keadaan disini, mana jalan tercepat datang ketempat ini, dan boleh jadi saat ini ia sedang berusaha memetakan seluruh tempat ini, dan itu adalah suatu kerugian besar untuk kita jika perang benar - benar sampai terjadi".
Semua yang hadir ditempat itu langsung terdiam seketika, mereka larut dalam pikiran masing - masing, akhirnya mereka paham ketakutan yang dirasakan Batara Ismaya.
**
Sementara disisi Batara Dewasrani.
__ADS_1
Ia sedang menikmati sarapannya, beberapa pelayan sibuk melayani keinginan dewa yang mendapat julukan dewa kenakalan tersebut.
(Apakah mungkin ini pusat kendali mereka, sepertinya mata - mata yang aku susupkan telah salah paham, sertinya ini hanya tempat pertemuan biasa, aku harus segera mencari tau titik lemah mereka, kata Batara Dewasrani dalam hati).
Ia masih mencoba menyisir tempat itu, namun sepertinya hasilnya sama saja,
(Seandainya saja aku bisa menggunakan tri netra kebenaran miliki ku, pasti tidak akan ada yang bisa lolos, namun jika aku dengan sengaja menggunakannya pasti mereka akan menyalahkan ku dan langsung memiliki bukti jika aku melanggar kesepakatan, hal ini benar - benar menjadi bukti jika aku telah mangkir, sial siapa yang telah mengatur mereka semua katanya lagi).
Seperti dugaan ustad Hadi dan Lee, mereka meminta Batara Ismaya untuk menyegel tempat itu dengan segel khusus.
Beberapa pelayan yang melayaninya juga adalah pasukan khusus yang dilatih untuk misi - misi khusus, termasuk tukang sapu dan abdi dalem disitu merupakan pasukan khusus yang sedang melakukan penyamaran.
Hal tersebut tentu tidak disadari oleh Batara Dewasrani dan pasukan Khayangan, karena perbedaan sistem kerja dan cara mengintai pasukan musuh sedikit memberikan ruang berpikir bagi semuanya.
Markas komando sementara dipindahkan di keraton Jogjakarta, mereka mempersiapkan semuanya hanya dalam semalam, sama seperti yang di lakukan Bandung Bondowoso ketika membuat candi dalam semalam.
****
Sementara disisi Deni
Setelah sarapan mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Krakatau.
"Heemmm kira - kira ujian apa lagi ya bos yang bakal kita hadepin, pantesan waktunya lama, waktu satu atau dua minggu berasa setahun bos, kata Asep sambil menghitung jari tangannya".
"Ya dijalanin aja bro, namanya ujian, lagian gua gak mau, kalo sampe perang beneran".
"Apa kekuatan kita belum cukup untuk ngebantai dewa berengsek itu bos?".
"Bukan gitu Ki, tapi status, dan lagi gua ngerasa aneh dengan sikap Dewasrani, kata Deni menambahkan".
"Aneh gimana bos, kan bagus dia gak bisa bertindak macem - macem selama dalam pengawasan Kanjeng Ratu dan semuanya?".
"Itu dia Ki Encep, masa lo gak curiga, secara dia lebih sakti dari kita, masa iya dengan suka rela dia menyerahkan diri, kan aneh, kecuali dia juga merencanakan sesuatu, katanya dengan nada serius".
"Jadi maksud lo penyerahan diri itu cuma... Asep tidak bisa melanjutkan kata - katanya setelah mendapat anggukan dari Deni".
"Jadi lebih baik kita selesaikan ini secepatnya, dan segera kembali ke Istana Laut Selatan".
Bersambung....
Selamat pagi para pembaca, semoga masih setia dengan SPA ya, jangan lupa untuk like, komen dan Votenya, terima kasih
__ADS_1