
Setelah pembicaraan berlangsung cukup serius akhirnya Deni mengerti mengapa ibunya sangat melarang dirinya terlibat dengan hal - hal berbau klenik, namun semua sudah terjadi, ibarat nasi sudah jadi bubur, saat ini untuk mundur bukanlah perkara yang mudah, karena setelah mengikat jiwa dengan ruh pusaka, harus ada hal atau harus menemukan pewaris barulah bisa melepaskan ikatan, jika memaksa maka taruhannya adalah jiwa yang telah di ikat, hal tersebut juga bagi ruh pusaka tersebut.
"Karena Deni sudah memutuskan maka Deni harus menyelsaikan semuanya, dan semoga sejarah buruk keluarga Wijaya terputus di Deni ya pak/ibu, Deni mohon restu bapak sama ibu katanya tertunduk, seketika air netranya jatuh dan tangisannya pecah tanpa bisa dibendung, semua yang ada diruangan tersebut seketika heninh, hanya tangisan Deni yang terdengar sayup - sayup memecah keheningan malam itu."
Sebagai seorang ibu Gayatri sangat paham apa yang dirasakan anaknya, ia menarik anak lelakinya dan memeluknya, Susilo dan tiba - tiba Ratna berlari kearah ketiganya, tangis Ratna pun pecah dan menambah suasana semakin terass kesedihannya, Ratna bukan tidak tau, dia telah mendengar semua percakapan merek dan berusaha menguatkan kakaknya.
Setelah suasana kembali tenang, mereka fokus pada apa yang harus dilakukan, untuk saat ini mereka sedikit tenang, karena panglima kumbang mau mendampingi Deni, kyai Jabat juga sedang berusaha mencari cara terbaik, sementara Empu Jatmiko sedang berusaha menemui batara Ismaya untuk minta petunjuknya, seperti yang kita tahu, batara Ismaya atau mbah Semar adalah sosok yang selalu menjadi penasehat raja - raja Jawa pada masa lampau, mereka berupaya sekuat tenaga agar bisa mendapat hasil yang baik.
"Sementara yang lain berusaha, dan perjalanan ke Sumatra masih dua hari lagi, Deni dan Asep memutuskan berlatih diruang dimensi milik Deni, mereka juga melakukan meditasi disana. Mereka bergantian, Asep juga mempelajari ilmu pengobatan, setelah lebih dari tiga puluh hari berada disana, mereka keluar dari ruang dimensinya, Deni dan Asep berpamitan kepada orang tua Deni ingin melakukan sesuatu di luar rumah, sebelum keluar Gayatri meminta Deni mengenakan rompi kalimosodo yang dititipkan kyai Jabat khusus untuk Deni, setelah menggunakan rompi yang diberikan ibunya, ada perasaan tenang dihati Deni, yah rompi Kalimosodo sudah menyatu dengan diri Deni, sementara rompi yang dikenakannya saat ini hanya rompi biasa.
***
Setelah hancurnya kelompok tapak sakti, keadaan ibu kota Jakarta jauh lebih tenang, tidak ada lagi premanisme yang biasa terjadi, bahkan tauran yang biasanya kerap menghiasi ibu kota kini tidak pernah terjadi, pendekar topeng emas menjadi momok tersendiri bagi oara penjahat jalanan ibu kota.
Kehidupan yang tenag tersebut membuat semua hidup berdampingan, baik suku atau agama mereka sudah tidak mempermasalahkan lagi, mereka takut jika pendekar topeng emas sampai marah.
****
Kembali ke sisi Deni
Deni dan Asep mampir kewarung kopi langganan mereka dikampus, Deni memesan es Capicinno, sementara Asep memesan kopi hitam khas Lampung yang cukup menjadi favorite diwarung tersebut, ketika menggu pesanannya datang mereka dikejutkan oleh suara yang tidak asing bagi mereka.
Wuiih dari mana aja lo bro, seorang pemuda tinggi tegap datang menghampiri Deni dan Asep, ya dialah Musa musuh dalam selimut yang menghianati mereka, namun mereka bersikap seperti biasa.
"Gua takut bro kata Asep, secara lo tau kelompok tapak sakti hancur kurang dari sehari, lu bisa bayangin, waktu itu gua lagi ditempat bos Deni, akhirnya sama ndoro ibu gak boleh keluar, kan lu tau polisi patroli dimana - mana masih mencari sisa - sisa kelompok yang terlibat, gua ngeri lihat beritanya sadis banget dah."
'Iya bro ibu gua langsunh kasih larangan gua gak boleh keluar, lah Asep kalo sampe dia keluar waktu itu, gua gak boleh bertemen lagi sma dia bro, jadilah gua jadi pangeran tampan yang dilayano ajudan koplak kata Deni menunjuk Asep diselingi tawa hahaaha.'
Sejak kapan kalian jadi penakut begitu, tapi ya bener sih gua sampe semingguanlah gak keluar kosan kata Musa menambahkan.
"Lah itu lo aja gak keluar kosan, kalo gua keluar mau kemana gua, mending gua ditempat bos Deni, biar dikata koplak makan gua terjamin kata Asep sambil terkekeh."
Tapi kenapa hand phone sampe gak aktiv kata Musa?
'Oh Hp gua disita nyokap gua bro, kalo Asep kemarin hand phonenya kecemlung got gara - gara matanya melototin bu Rere yang lewat pake rok mini, pas banget roknya terbang jadilah Asep terkesima dan gak lihat ada got didepannya.'
"Emang sue tu dosen, masih cantik aja, rala dah gua wik wik sebulan gak keluar kamar hahaha kata Asep."
Lah emang lo gak mau cari kerja kata Musa menambahkan.
"Ya lo taulah body nya itu bro, mirip artis Bunga Citra Lestari idola gua bro, rela gua mah gak kerja diem - diem bae dirumah hahaha."
'Ye koplak lonya rela, dianya yang gak rela, lo mau dianya yang gak mau.'
Disambut tawa Deni dan Musa, hahaha
__ADS_1
***
Mereka masih membahas hancurnya kelompok tapak sakti yang masib menjadi buah bibir.
Tapi enak sih Den, dengan hancurnya kelompok itu, ibu kota aman tentram damai bahagia, sekarang jalan malam aman bro, gua sih nyoba keluar semalam, aman gak ada preman, ya semoga tempat ini aman terus ya kata Musa.
Oh iya Den, Sep, ada info nih tentang rante babi, gua dapat info dari kenalan gua, A satu ini infonya bro, kita bisa bergerak nih seru kata Musa penuh semangat.
"Wah sori nih bro, sekarang gak bisa bro, gua dapat gawe sekarang, gua gawe di Dipa Serra Corporate,tiga hari lagi gua ke Sumatra mau lihat proyek tambang disana sekalian ujian pertama gua nangani proyek itu kata Deni."
Lah lho kerja di Dipa Serra Corporate bro, hebat lho, gimana ceritanya bro? Kata Musa, lah kalo lo Sep, pasti free dong bro, nanti setelah selsai kita kunjungi bos Deni di Sumatra kata Musa bertanya pada Asep.
'Nah itu bro gua juga gak bisa, gua kemarin coba ngelamar jadi supir, dan dikirim ke Sumatra buat supirin pengawas proyek, lah gak taunya Bos Deni pengawasnya kata Asep manambahkan.'
Lah kok bisa kebetulan banget ya kata Musa agak curiga.
Ya lo taulah bro, masa gua bergantung terus sama bos Deni, mau sampe kapan, kebetulan ada lowongan supir di kantor itu, gua cobalah, pas interview langsung diterima tapi syaratnya harus mau ditaro di luar pulau, gua sempet mikir sih, apa lagi gua belum ada pengalaman di luar pulau, kalo cuma nyupir doang mah, entenglah, tapi setelah gua pikir lagi siapa tau bisa jadi jalan gua, eh tadi pas kekantor ketemu sama bos Deni yang lagi urus akomodasi dan pas dikenalin sama pak Sandi ternyata yang mau gua supirin bos Deni, ya gua langsung ok, kata Asep.
Lah kalo lo Den, kapan ngelamarnya?
"Gua beda dong bro, namanya bos, gua dapat tawaran pas habis wisuda, langsung dapat bonus dua puluh lima juta gua bro, belum kerja sudah di bayar hahaha, kata Deni sambil tertawa, nah berhubung lo sekarang supir gua, baek - baek lo ya, kalo gak gua pecat lo kata Deni meledek Asep."
'Ampun bos, belum juga kerja bos masa sudah dipecat aja, kata Asep, siap bos Asep tea mah supir profesional bos, tenang lah lo, tapi gua dikasih bonus juga ya bos hehehe.'
"Lah belum juga gawe lo, uda minta bonus aja ni bocah."
****
Kebetulan kalian disini, tiba - tiba seseorang menemui dan bergabung bersama mereka.
Pak Sandi kata Deni dan Asep bersamaan.
Perkenalkan saya Sandi, maaf jika saya mengganggu pertemuan kalian kata pak Sandi.
Oh tidak mengganggu kok pak, kebetulan saya ngajak calon supir saya ngopi, pengen tau karakternya seperti apa, takutnya ugal - ugalan kan bisa bahaya pak, apa lagi saya belum pernah keluar pulau kata Deni santai.
"Wah ternyata nak Deni ini sangat detail seperti pak Jaya, dulu pak Jaya juga sering menghubungi saya saat saya masih menjadi supir beliau, nah Asep, mudah - mudahan keberuntungan saya bisa bersama kamu, baik - baiklah bekerja, siapa tau nak Deni berkenan mengangkat anda jadi Asistennya kata Sandi menambahkan."
Nah saudara Asep sebaiknya anda lebih banyak belajar dan mengikuti saran pak Sandi, jika tidak bisa saja saya minta cari supir pengganti, Musa ini misalnya, kebetulan Musa ini teman baik saya kata Deni memperkenalkan Musa kepada pak Sandi.
Pak Sandi, ini Musa teman baik saya, kami lenal sejak SMA sejujurnya saya juga ingin minta pendapat mMusa mengenai karakter Asep, ya karena sudah ketauan niat saya, biarkan kita dengar pendapat Musa, bagaimana menurut pak Sandi.
"Jika menurut nak Deni itu baik, saya setuju saja, lagi pula perjalanan ke Sumatra masih tiga hari lagi, nak Deni pasti memerlukan orang terpercaya, kata Sandi menambahkan, lalu bagaimana menurut pendapat nak Musa?"
Eh ini beneran ya, kan lo sama, Deni hanya melengos menatap layar ponselnya, menurut saya sih tidak ada salahnya di coba, baik atau tidaknya saya tidak berani menilai, semoga Asep bisa bekerja dengan baik.
__ADS_1
Sontak perkataan musa membuat Deni dan Asep paham arah pembicaraannya.
"Baiklah jika begitu, saya akan berikan masa percobaan selama enam bulan untuk saudara Asep, jika nak Deni keberatan nanti akan kami carikam supir pengganti, dan Asep akan kami pindahkan kebagian lain, baiklah nak Musa saya hanya kebetulan lewat, tapi informasi dari nak Musa akan kami pertimbangkan, apa lagi nak Deni adalah kepala devisi baru di Sumatra, jadi kami akan memberikan fasilitas terbaik untuk nak Deni."
Saya mohon diri, silakan bersenang - senang.
****
Setelah kepergian pak Sandi, asep protes kepad Musa.
"Kok lo bilang gitu sih bro, kan lo tau kita semua temen baik bro, wah parah lo bro, kata Asep dengan nada kecewa."
Lah Deni aja gak bilang kalo lo temen baiknya Deni kata Musa membela diri.
'Gua gak bilang gitu karena gak etis bro, gak mungkin gua bilang yang sebenernya, secara gua sengaja gak ketemu sama Asep, sejak dikantor tadi gua sama Asep berusaha biar gak terlalu mencolok, gua takut dibilanh kolusi lagi bro secara gua baru mulai kerja.'
Ya maaf Sep, parah lo bro, gua percobaan enam bulan, kalo sampe gua buat salah gak tau dah gua dipindah atau dipecat, kata Asep yang menerawang memikirkan nasipnya, ia menyalakan rokoknya dan diam tanpa kata.
"Sekali lagi gua minta maaf Sep, gua gak ada maksud begitu, Musa merasa tidak enak hati, sebernarnya ia berharap bisa menjadi supir Deni agar lebih mudah memata - matainya."
Gua balikk duluan ya Den, gua mau persiapan dulu, kata Asep melangkah dengan lesu, gua balik ya Musa, Asep berjalan meninggalkan Deni dan Musa yang masih terdiam.
'Gua harus gimana ya Den, gua jadi gak enak sama Asep, kata Musa.'
Lah gua gak tau bro, tak lama telpon Deni berdering, panggilan dari Asep, Deni mengerti, gua balik ya bro barusan ditelpon nyokap gua nih, ini sudah gua bayar, gua cabut ya, kata Deni meninggalkan Musa, sementara Musa masih terdiam, ia menjadi serba salah, karena kesalahannya itu bisa membuat jarak antara Asep dan dirinya dan itu bukanlah hal yang baik.
****
Disisi lain, Deni langsunh menuju tempat Asep dan menariknya kedalam ruang dimensinya.
Nah mulai terbuka dah topengnya kata Asep, gua paham bos, dia mau ambil alih posisi gua biar gak dicurigai saat mata - matai lo, kata Asep.
"Bener lo bro, ya sudah lo tetep aja ngambek sama Asep, paling nanri dia coba cari cara deket lo lagi, dan gua sih yakin pas kita mau berangkat pasti dia coba baik - baikin lo kata Deni."
Gua sih juga mikir gitu bro, ok deh kita bermain peran, untung aja pak Sandi bisa diajak kerja sama hehehe kata Asep agak terkekeh.
Ya sudah gua anter lo kedalam kosan lo, dah gitu gua mau balik, setelah mengantar Asep, Deni langsunh kembali kerumahnya.
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
Like
Komen,
Vote dan
__ADS_1
Tambahkan ke favorite serta bagikan cerita ini keteman - teman agar Author lebih semangat lagi, terima kasih...