Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 20 - Pulau Sumatra 4


__ADS_3

Setelah menera laporam dari Asep mereka memutuskan untuk menukar mobil, mereka bergerak menggunakan mobil box yang biasa digunakan mengangkut barang.


Sandi, Dika, Deni dan Asep berangkat ke Tanjung Bintang - Lampung pada pukul satu siang, perjalanan mereka lumayan lancar, hampir lima jam mereka berada didalam mobil box hingga akhirnya mereka tiba di provinsi Lampung tepatnya didaerah Bandar Jaya.


Disana mereka berganti mobil kembali, setelah melaksanakan sholat magrib, mereka makan disalah satu rumah makan khas Padang dikota itu, mereka memesan nasi Rendang lengkap dengan lauknya.


"Buset panas banget bro didalam box kaya di oven, gua hampir mokat kata Dika yang napasnya mulai lancar setelah hampir lima jam didalam mobil box."


Musa itu pantang menyerah ya, sue tu bocah kata Deni menambahkan.


Dari sini perjalan kita masih cukup jauh, sekitar enam atau tujuh jam perjalanan, kita tidak akan buru - buru.


****


Setelah makan dan sholat isya mereka melanjutkan kembali perjalanannya dengan mobil.


"Akhirnya kita bisa pergi dengan cara manusia, kata Dika, Asep dan Deni tidak terpengaruh dengan hal tersebut, dan hal ini tentu saja menjadi perhatian bagi Sandi."


Apa yang sudaj mereka alami, dari aura mereka, semua terlihat berbeda, mereka terlihat lebih bercahaya dan tidak ada aura hitam dari tubuh mereka, benar kata pak Jaya mereka memang berbeda kata Sandi dalam hati.


Akhirnya mereka semua tertidur didalam mobil.


Tidak terasa mereka telah memasuki kawasan Raja Basa, provinsi Lampung, tulisan selamat datang di Kota Bandar Lampung mereka lihat, tepat pukul 4 pagi, tak terasa Azan subuh berkumandang, mereka sholat disalah satu masjid yang ada dipinggir jalan, masjid Babussalam, bangunan hijau terdiri dari dua lantai dengan corak kaligarfi semakin menambah kesan religi.


"Assalammualaikum, Tabik Pun, kata salah seorang pengurus masjid."


Waalaikumsalam, mohon maaf pak ada apa ya?


"Oh mas nya bukan orang Lampung ya?"


Bukan pak, kebetulan kami musafir dari Jakarta dan ingin ke Tanjung Bintang, kata Sandi, kebetulan kami singgah untuk sholat.


"Itu salam khas masyarakat Lampumg, artinya apa kabar, kebetulam hari ini adalah jum'at dan ada kegiatan jum'at berkah, jika masnya tidak keberatan mari bergabung untuk sarapan bersama, perkenalkan saya Amir, pengurus masjid disini kata bapak tersebut memeperkenalkan dirinya."


Oh gitu, maaf pak jika kami kurang mengerti bahasanya.


"Tidak apa - apa mari masih banyak makanan kata pak Amir."


Akhirnya Sandi memutuskan untuk sarapan dimasjid Babussalam.

__ADS_1


"Masih butuh waktu lebih kurang dua jam perjalanan, kebetulqn saya akan isi ceramah disana, jika mau rute tercepat kalian bisa ikuti saya, tapi hanya sampai pasar ya, sebab saya mengisi ceramah jum'at dimasjid tak jauh dari pasar, kata pak Amir."


Untuk rute tercepat berapa lama pak kata Deni, mulai ikut bicara.


Bisa menghemat satu jam perjalanan, kata pak Amir lagi.


"Wah kami beruntung bertemu bapak kata Sandi, jika tidak keberatan bapak bisa ikut mobil kami, nanti pulangnya akan diantar supir kami, hitung - hitung sebagai tanda persahabatan kata pak Sandi."


Tidak perlu sungkan, sayaah pulangnya tidak repot, banyak jamaah yang bersedia mengantar kata pak Amir menambahkan.


****


Setelah sarpan mereka berangkat dan pak Amir banyak bercerita tentang daerah Tanjung Bintang yang banyak ditumbuhi perkebunan karet, hal itu seusai dengan perkataan pak Jaya.


Setelah satu jam perjalanan mereka tiba dipasar Tanjung Bintang pak Amir meminta berhenti diperempatan pasar, sementara Sandi dan rombongan melanjutkan perjalanan yang sudah semakin dekat dengan tujuan.


Pukul tujuh lebih lima belas mereka tiba dirumah pak Taufik orang yang telah menunggu mereka dan akan memandu mereka selama disana, pak Taufik adalah orang asli Lampung yanh mengerti bahasa daerah dan juga akan menjadi penerjemah mereka.


"Wah sudah datang, tabik pun, kata pak Taufik.


Ya Pun, dijawab serentak oleh Sandi dan rombongan.


"Wah kami belum bisa pak, itu tadi diberi tahu oleh pengurus masjid Di kota, dia yang antar kami kesini kata Sandi dan memberi tau sedikit saja kata sandi dan yang lain agak sedikit kikuk."


Oh saya kira sudah paseh bahasa Lampung, kata pak Taufik sambil tersenyum. Nanti kita tunggu Ustad Amir, dia yang memiliki serat Pepadun yang akan saya tunjukan kepada kalian kata pak Taufik.


Tak lama berselang yang ditunggu pun datang.


'Assalammualaikum, tabik pun. Kata tamu yang datang,


Waalaikumsalam, sehat kabarnya Yai, kata Pak Amir dan menatap Sandi dan rombongan.


Lho tempat kiyai Taufik ta masnya?


Lho pak Amir?


Pak Taufik agak heran, sudah pada kenal rupanya, nyak mak perlu kenalkan lagi yo, mojong dija Mir, ngupi kah niku, mir?


Boleh lah yai, kata pak Amir yang ditatap bingung oleh Sandi dan yang lainnya.

__ADS_1


***


Tadi saya mampir dulu ke Kyai Hasan sebelum kesini, saya pamit mau ke kiyai Taufik karena ada tamu yang minta ditunjukan serat Pepadun dan bisa memecahkan teka tekinya, bahasanya saya mengerti tapi maksudnya saya kurang paham kata Ustad Amir.


(Catatan, dalam bahasa Lampung kiyai berarti kakak laki - laki, bukan kyai pemuka Agama atau ulama, sedang Kyai Hasan adalah salah salah saty ulama yang juga guru dari ustad Amir. Maaf catatan dibuat ditengah, agar pembaca tidak gagal paham)


****


Tidak taunya kalian lah yang akan memecahkan serat ini, kata Ustad Amir singkat, dunia ini memang sempit ya, kata Ustad Amir sambil tersenyum.


Bahasa diserat Pepadun menggunakan bahasa campuran, yaitu bahasa Lampung kuno dan Bahasa Palawa, untuk bahasa Lampung saya tidak masalah, tapi bahasa Palawa saya benar - benar buta kata ustad Amir.


"Saya menegerti huruf palawa kata Deni dan Asep bersamaan.


****


Wah kebetulan sekali ya, saya merasa ada yang aneh dengan serat ini, karena serat Pepadun yang saya bawa ini berbeda dengan serat pepadun lainnya, ada campuran bahasa Lampung dan Jawa, jika dilihat sekilas tulisannya hampir mirip, tapi saya pastikan itu bukan bahasa Lampung, dan lata teman saya itu adalah bahasa Palawa kuno, jadi dia kurang mengerti bahasanya, ya sudah kalian istirahat dulu saja, karena habis perjalanan jauh, nanti setelaj sholat Jum'at kita laporan dulu ke RT setempat dan kenalan dengan Jemaah disini, dan warga sekitar, banyak yang harus saya tunjukan pada kalian terutama tentang gua bintang, kata ustad Amir.


"Gua Bintang, kata Sandi dan yang lainnya sambil saling memandang."


Iya gua bintang, disanalah serat pepadun ini ditemukan, disana juga ada relif - relif dan tulisan - tulisan campuran antara bahasa Lampung dan Jawa, sepertinya ada sesuatu yang tersimpan disana, dan juga aura aneh yang semakin kuat saat bulan purnama penuh membuat gua bintang dijauhi warga sekitar kata ustad Amir menambahkan.


"Pedang Dewi Bulan, kata Deni tiba - tiba berbicara, jika aku tidak salah aku merasakan aura kuat Pedang Dewi Bulan."


Ustad Amir, dan pak Taufik saling pandang, padahal mereka berusaha menyembunyikan kebenaran itu, namun sepertinya tidak ada yang bisa ditutupi dari tamunya.


'Maksudnya gimana ya kaya pak Taufik, sedikit menyelidiki.'


"Iya disana tersembunyi pedang dewi bulan, aku bisa merasakan energinya yang tertutup segel kata Deni yakin."


'Pedang Dewi Bulan ya, pak Taufik hanya menggeleng, baiklah nak, sebaiknya kalian istirahat dulu, nanti setelah sholat Jum'at kita bicara lagi, saya harus menemui seseorang dulu, kata pak Taufik dan ustad Amir pamit undur diri.


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Like


Komen,


Vote dan

__ADS_1


Tambahkan ke favorite dan bagikan cerita ini keteman - teman agar Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2