Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 128 - Rahasia Rumah Respati


__ADS_3

Ketika lukisan diputar mereka melihat sebuah keajaiban.


Tiba - tiba suara bergemuruh terdengar dan lantai garasi menjadi miring sekitar empat puluh lima derajat, dibawah sana terdapat sebuah ruangan mereka semua turun.


Ruangan tersebut berisi sekitar delapan mobil mewah, mereka memeriksa ruangan tersebut, mereka juga menemukan sebuah jalan yang entah terhubung kemana.


Mereka meminta tambahan pasukan untuk memeriksa terowongan itu, sebuah jalan beraspal yang cukup panjang, mereka juga memeriksa ruangan lain sebuah ruang kerja yang tertata dengan rapi.


Dengan hati - hati mereka memeriksa ruang tersebut, beberapa catatan tempat tersimpannya pasukan iblis ditemukan di ruang Kerja Respati, mereka dengan seksama memeriksa ruangan lain.


Satu langkah lebih maju, mereka melaporkan hasil termuan tersebut, sebuah catatan tentang cara membangkitkan pasukan iblis, semua prosesnya tercatat sangat rapih dan detail, penggunaan cairan merkuri dan listrik dengan tegangan tinggi menjadi kuncinya.


Mereka membuat salinan catatan itu menjadi rangkap tiga, sedang catatan asli dikembalikan ketempatnya, mereka juga menemukan catatan tentang sebuah lokasi yang bernama bukit cetho, namun lokasinya adalah do candi cetho, kenapa disini tertulis bukit? Apa dulunya Candi Cetho adalah sebuah bukit, semua bukti mereka kumpulkan, hingga akhirnya pasukan bantuan tiba.


Sementara Deni meminta izin untuk menyerahkan catatan tersebut, ia langsung menghubungi Barra yang dalam sekejab berada disana.


"Bang lo disini ya, gua mau kasih catatan ini kepada bapak Presiden dan Ustad Hadi", katanya singkat.


"Ok siap, tapi sebentar boleh gua lihat?, Barra memegang catatannya dan catatan itu langsung tersalin menjadi tiga kembali, buat jaga - jaga", katanya sambil tersenyum.


"Ok bang siap, katanya sambil berlalu meninggalkan tempat itu.


Barra langsung bergabung bersama pasukan gabungan menyusuri trowongan itu dengan mobil taktis milik TNI yang telah dia persiapkan, lorongnya cukup besar dan panjang, hingga disana mereka dihadapkan dengan empat lorong lagi.


Bara keluar dari mobil ia kembali menggunakan mata Halimunnya dan mencoba melihat lebih jauh kedalam lorong trowongan itu.


Betapa terkejutnya ia, melihat ketiga lorong dihadapkan dengan tiga laboratorium besar yang terdapat banyak jasad manusia yang diletakkan didalam peti.


"Sebaiknya kalian pada kesini", kata Barra pada Deni, Asep dan seluruh juga para Bangsawan langit.


Dalam sekejab, Deni, Asep, Giyana Bima dan pasukan Santri Songo telah berada disana.


"Kita harus bergegas, mudah - mudahan kita masih sempat menghentikan mereka sebelum bangkit", katanya dengan wajah cemas.


"Santri songo dan Bima segera pergi ke ujung lorong pertama, lalu Asep Ke lorong Kedua bersama pasukan pertama, Giyana dan pasukan Kedua masuk lorong ke empat, sementara aku, Deni dan sisa pasukan akan masuk kekediaman Narapati, gunakan ruang dimensi untuk menghemat waktu, dan mohon kerja samanya.


Bima segera merangkul santri songo, Asep merangkul pasukan pertama, sedang Giyana bersama pasukan Kedua, sisa pasukan langsung masuk kedalam ruang dimeninsi Batara Kala dan tiba tepat didepan pintu rahasia kediaman Narapati.


*****


Batara Kala langsung mengeluarkan mereka ketika sampai di Gerbang Rahasia keluarga Narapati, dibawah sana lebih mewah lagi, jumlah mobil dan motor mewah yang terpajang lebih banyak dari yang ada di tempat Respati.


Mereka langsung memeriksa ruang tersebut, ia melihat berkas - berkas yang dibakar, dengan kemapuan mengembalikan waktu semua dibuat kembali tepat sebelum berkas - berkas tersebut menjadi abu, betapa terkejutnya mereka melihat catatan yang lebih lengkap dari milik Respati.


Berkas - berkas tersebut dibuat sebanyak lima salinan, Deni memegang dua berkas kedalam ruang dimensinya, disana ustad Hadi telah menunggu untuk membaca semua berkas.


Dengan keistimewaan yang bisa menghapal hanya dengan sekali lihat ustad Hadi hampir tidak percaya dengan penelitian yang dibuat Terawan.

__ADS_1


Beberapa pasukan yang disebar terus bergerak kedalam rumah keluarga Narapati. Semua catatan dan peta tempat pasukan iblis telah ditemukan, jumlahnya tersebar diseluruh Nusantara, mereka mengumpulkan semua jasad yang berpotensi untuk di jadikan pasukan Iblis.


Para pasukan langsung berkordinasi dengan Barra dan Deni yang masih sibuk diruanh Rahasia.


"Tempat ini sudah kosong, kami sudah menyisir semua tempat tapi tidak ada siapa - siapa", kata Mayor Yuda.


"Jika melihat catatan ini, kemungkinan mereka langsung menuju Trowulan", kata Barra dan langsung melaporkannya kepada Presiden.


Mendapat Laporan Batara Kala, Presiden segera mengeluarkan perintah untuk melakukan pemeriksaan pada semua kendaraan yang akan masuk ke Trowulan, terutama pada area bekas keraton Majapahit.


Lalu berdasarkan peta yang dikirim oleh Batara Kala, mereka segera melakukan pemeriksaan pada seluruh laboratorium Narapati diseluruh Nusantara, dan beursaja segera menghentikan aliran listriknya dan membuang cairan merkuri yang digunakan sebagai pengawet jenazah.


*****


Disisi Asep.


Asep dan pasukan pertama meringsek masuk kedalam laboratorium, disana mereka disambut para pekerja yang setia pada Narapati.


"Tempat ini akan disegel, karena melakukan percobaan ilegal, kata Mayor Erwin.


Para pekerja yanh berjumlah sepuluh orang tersebut berhasil diamankan sebelum menekan Tombol darurat, Asep berusaha mencari sumber listrik terbesar dan langsung mematikannya, proses yang sudab berjalan sembilan puluh tujuh persen itu berhenti, namun ketika prosesnya berhenti dari bawah tanah keluarlah penjaga - penjaga dari dunia bawah.


Para penjaga yang berhasil di amankan segera digiring keruang dimensi Asep. Kini mereka berhadapan dengan manusia Srigala.


"Ayo kita serang, kata Asep masa kita kalah cuma lawan seekor srigala. Para pasukan yanh telah meminum pil peningkat tenaga lansung menyerang manusia srigala.


Serangan mereka semakin digencarkan, hingga salah satunya berhasil mengunci manusia srigala.


Aaaauuuuggghhh.... Aauuuuggghhhh manusia srigala langsung melolong, lolongannya terjadi beberapa kali, Aauuuuuggghhhh.... Aaaaauuuuuggghhh


Saat mereka menancapkan pasak perak ke jantung manusia srigala serangan mendadak tiba - tiba menghantam mereka berdua, delapan manusia srigala lain muncul dihadapan mereka.


Catatan (sejak mereka sadar lawannya bukan manusia, prajurit TNI - POLRI menggunakan peluru perak, dan peluru emas, mereka mendapat suplay dari Deni, Asep dan Batara Kala, serta peralatan yang bisa melenyapkan mahluk gaib, jadi semua senjata mereka sudah bisa digunakan untuk membunuh mahluk dunia bawah ataupun mahluk dunia langit).


*****


Disisi Giyana.


Giyana dan pasukan gabungan berhasil melumpuhkan para pekerja, ketika Mayor Ari sedang membuat laporan, sesosok manusia srigala muncul dihadapannya, dan langsung melolong.


Aaauuuuugggghhhh.... Aaaaauuuugggghhhh.... Aaaaauuuugggghhh....


Mayor Ari yang terkejut, replek menembakan peluru perak tepat dikepalanya dan membuatnya langsung tersungkur, ia kembali menembakan peluru perak tepat ke jantung manusia srigala, namun sebuah serangan dadakan langaung menghantamnya, ia yang tak siap terpental hingga beberapa meter.


Betapa terkejutnya mereka, melihat delapan manusia srigala langsung mendatangi jasad temannya yang perlahan menghilang karena terkena peluru perak.


Tatapan para manusia srigala itu menjadi sangat tidak bersahabat, air liur terus leluar dari sela - sela bibirnya, mereka menatap mayor Ari dengan tatapan penuh kebencian karena telah membunuh saudara mereka.

__ADS_1


Lentan Bayu dan kopral Jono membantu Mayor Ari untuk berdiri, Giyana segera membuat pelindung gaib hingga memberikan waktu untuk mayor Ari menyembuhkan diri, karena luka yang diakibatkan cakar manusia srigala cukup tajam, beruntung mereka membawa pil penyembuh sehingga luka mayor Ari langsung tetutup dan tenaganya kembali pulih.


*****


Disisi Bima


Bima dan para santri songo juga berhasil memadamkan aliran listrik, dan memgamankan para pekerja, namun seperti yang lain mereka juga harus berhadapan dengan para manusia srigala.


Namun ada yang aneh didalam kelompok Bima, saat mereka berhasil menghabisi semua manusia srigala, mereka bangkit kembali, dan kejadiannya terus berulang.


Bima segera melaporkanya pada Batara Kala.


"Maaf tuan Batara Kala, kami mengalami kendala, para Manusia Srigala yang berhasil kami habisi, dapat bangkit kembali dan jumlah mereka jadi semakin banyak, padahal kami telah menggunakan senjata - senjata dari perak, apakah ada yang salah tuan?", kata Bima dengan sedikit cemas mengingat mereka bisa bertahan karena pil penambah stamina.


"Tidak sepertinya mereka melakukan sesuatu pada manusia srigala yang menjaga tempatmu, cari induknya dan habisi, jika kau tidak bisa menemukan induknya sebanyak apapun kau habisi mereka akan terus bangkit", kata Batara Kala.


Bima menggunakan mata Halimunnya, ia menyisir semua manusia srigala yang ada disana.


"Rahmad terus tahan mereka, aku akan mencoba mencari inangnya, nanti setelah aku berhasil menemukan inangnya, bantu aku melenyapkannya", kata Bima pada pemimpin santri songo.


"Bentuk formasi tempur tingkat tiga, jaga tuan Bima, jaga ia bangaimanapun caranya", kata Rahmad pada para santri songo.


Tanpa berbasa - basi mereka membentuk formasi tingkat ketiga, gerakan mereka semakin rumit dan saling menutupi, namun jumlah manusia srigala semakin banyak.


Serangan demi serangan silih berganti, buuugghh.... baaammmmm,


"Ketua, apakah masih lama, kami hampir tidak bisa bertahan, jumlah mereka terlalu banyak", kata Saipul yang terus mencoba bertahan.


"Tuan Bima, bagaimana pasukanku hampir tidak bisa bertahan, jumlah mereka terlalu banyak tuan", kata Rahmad.


"Ketemu, pusatkan serangan pada srigala yang tidak bisa menjadi manusia itu, dialah inangnya", kata Bima.


Kini Rahmad yang langsung mengambil alih santri songo.


"Bentuk formasi tingkat akhir, serang srigala yang tidak bisa berubah wujud itu", kata Rahmad yang dibantu dengan Bima.


Mereka terus berjibaku menebas para manusia srigala, manusia srigala yang sadar akan ancaman pada inang mereka membentuk formasi pertahanan.


"Sial mereka sadar, semuanya mundur", kata Bima, seraya menyerahkan pil penyembuh dan pil peningkat tenaga dalam.


Tanpa berpikir lama mereka langsung menelan pil - pil tersebut, kini aura putih pekat terpancar dari tubuh mereka.


"Ayo kita selsaikan ini", kata Bima dengan tatapan tajam.


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Vote, Like, Komen dan

__ADS_1


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2