Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 133 - Bantuan Bapak Jaya Serra


__ADS_3

Suasana hening masih terjadi, kedua belah pihak belum ada yang mau menyerang lebih dulu, mereka semua masih mengukur kemampuan lawannya.


Namun Prabu Hayam Wuruk tidak menurunkan sedikitpun aura dari batu mustika saktinya. Ia terus mengamati orang - orang yang ada disana hingga Respati memecah suasana keheningan.


"Ampun beribu ampun yang mulia, mohon perhatikan pasukan dengan senjata - senjata aneh itu, mereka semua adalah pasukan khusus yang dikirim untuk menghancurkan keraton. Senjata yang dipegang barisan depan bernama bernama HK empat satu enam, salah satu senjata khusus seperti panah bisa mengenai sasaran hingga jarak delapan ratus meter.


Mereka juga mendapat dukungan pasukan udara dan tentara laut yang cukup merepotkan, keraton kita sampai hancur berantakan karena arah serangan sulit diprediksi, ampun beribu ampun yang mulia jika kami tidak mampu mempertahankan keraton", kata Respati sambil terus menunduk.


Senjata mereka bisa menciptakan ledakan besar, satu serangan bisa langsung menghancurkan satu unit pasukan kita, selama yang mulia menjalani tapa brata, kami benar - benar kehilangan arah, ditambah serangan - serangan aneh yanh mereka lakukan membuat mental pasukan kita semakin hancur, kami seolah - olah melawan para dewa", kata Respati sambil terus memprovokasi sang prabu.


Prabu Hayam Wuruk terus memperhatikan sekitarnya, ia melihat puing - puing bekas reruntuhan istana yang dibangun oleh leluhurnya benar - benar telah dibuat hancur.


*****


"Tarik semua pasukan kita, kita harus mengatur ulang rencana, ditambah aku belum melihat mahapatihku, untuk melawan mereka kita tidak boleh gegabah.


Sang prabu memberi isyarat untuk mundur, semua pasukan yang bersamanya termasuk para iblis terkuat paham dengan isyarat sang prabu, namun saat ia akan melangkah pergi, ia merasakan aura ruh pusaka yang sangat dikenalnya. Perasaan ini, apakah aku salah? Katanya dalam hati Sanghyang Naga Amawabhumi.


Sang prabu mengibaskan tangannya seketika sebuah kabut tercipta semakin lama, kabit tersebut semakin tebal hingga ia dan para pasukannya menghilang, namun sebelum ia benar - benar menghilang ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya menggunakan pakaian yang sama dengan orang - orang yang dilihatnya. Ayah katanya dengan suara pelan.


(Bukan tanpa alasan Prabu Hayam Wuruk melihat bapak Jaya Serra yang membawa pusaka Sanghyang Naga Amawabhumi, penampilan bapak Jaya Serra sangat mirip dengan penguada tumapel pada saat itu yaitu Kertawardhana yang tak lain adalah ayah dari sang prabu).


*****


Setelah kabut tebal menghilang suasana hening masih terjadi hingga bapak Jaya Serra memecah keheningan dengan suara terengah - engah.


"Apa aku terlambat, katanya sambil menancapkan pusaka Sanghyang Naga Amawabhumi ketanah.


Melihat kedatangan bapak Jaya Serra membuat para sultan yang ada ditempat itu sangat terkejut, bukan karena ia berhasil memecah keheningan, namun karena pusaka yang dibawanya bukanlah pusaka sembarangan.


"Dari mana kau dapatkan benda itu", kata Sultan Jogja dengan suara bergetar.


Hal tersebut juga membuat sultan Solo terus memperhatikan benda yang dibawa bapak Jaya Serra.

__ADS_1


Bapak Jaya belum memberikan jawaban, ia menyapukan pandangannya disekitar, semua mata langsung tertuju pada bapak Jaya Serra.


"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, dari mana kau dapatkan pusaka Sanghyang Naga Amawabhumi", kata Sultan Jogja sambil mencabut pusaka Kanjeng Kyahi Nagarangkung.


"Tenang tuan, mohon maaf sebelumnya aku adalah Jaya Serra, kita dipihak yang sama, aku merasakan aura batu mustika sakti milik Prabu Hayam Wuruk, hanya pusaka Sanghyang Naga Amawabhumi yang bisa menandingi batu mustika itu, meskipun semua kembali lagi pada pemakainya", kata pak Jaya sambil mengatur napasnya.


Deni yang mengenali pak Jaya, langsung menyapanya.


"Pak Jaya kenapa bapak disini?", kata Deni dengan sambil terus memperhatikan pak Jaya.


"Wah - wah rupanya kau sudah mencapai tahap bangsawan langit ya nak, sepertinya aku bukan lagi lawanmu, ini aku titipkan pusaka Sanghyang Naga Amawabhumi, pusaka ini akan menjadi pelengkap sembilan pusaka terkuat yang akan kalian gunakan untuk mengirim kembali sang prabu ke zamannya.


Pak Jaya menyerahkan Pusaka Sanghyang Naga Amawabhumi kepada Deni.


"Mohon maaf tuan sultan, aku tidak bisa mengatakan dari mana aku mendapatkannya, seseorang yang menitipkannya padaku meminta identitasnya dirahasiakan, puasaka ini adalah milik tanah nusantara, bukan benda antik yang bisa diperjual belikan", katanya singkat.


Mengetahui pak Jaya ada dipihak mereka, para sultan langsung mendekatinya. Para sultan saling berpandangan dan saling mengangguk.


"Boleh aku melihat pusaka itu, untuk membuktikan keasliannya", kata Sultan Jogja.


Dengan tangan bergetar, sultan Jogja menerima pusaka tersebut, ia lalu melakukan ritual untuk memohon izin kepada ruh pusaka itu.


"Jangan kau ganggu aku, atau aku akan membakarmu dengan apiku, kata pusaka penjaga, saat sultan Jogja berhasil masuk kedalan ruang dimensi pusaka.


Sesosok Naga tanah yang terbang melayang diatas kepalanya membuat ia sedikit bergedik.


"Maaf Sanghyang Naga Amawabhumi, jika aku lancang, tapi aku hanya ingin memastikan apakah benda yang dibawa orang ini adalah benda yang asli", katanya pada ruh naga bumi.


"Sedikit lagi pemuda dari tanah pasundan itu bisa menjadi tuan yang pantas untukku, berikan tombak ini kepadanya, sisanya aku yang akan mengurus, kita tidak punya banyak waktu purnama emas sudah terjadi, tapi sang prabu belum bisa menggunakan kekuatan penuhnya, tapi sembilan purnama lagi akan menjadi puncak perang tiga dunia", kata Ruh naga.


"Sembilan purnama lagi, apa maksudnya, bukankah keturunan Narapati itu sudah berhasil membangkitkan Prabu Hayam Wuruk?". Kata Sultan Jogja dengan sedikit bingung.


"Sepertinya zaman ini sudah membuat kemampuanmu tumpul sultan, kau harusnya tau bahwa bulan darahlah yang mereka incar".

__ADS_1


"Bulan Darah?" Tapi bukankah, apa jangan - jangan mereka akan..., Sultan Jogja tidak bisa melanjutkan kata - katanya.


"Benar, sebenarnya yang mereka gunakan adalah ilmu Jerat Jiwa, ilmu ini mengikat sisi buruk seseorang, ingat sebaik - baiknya manusia ada sisi buruknya, begitupun sebaliknya, seburuk - buruknya manusia masih ada sisi baiknya.


Sisi buruk ini dipengaruhi oleh kekuatan iblis, oleh karenanya sang prabu di dampingi para iblis terkuat untuk terus mengunci sisi baiknya, begitu juga dengan semua yang telah dibangkitkan oleh keturunan Narapati itu, ada Gayatri, Rukmini dan juga Tribuana.


"Apa? Gayatri Rajapatni ahli siasat yang legendaris itu? Dan juga Rukmini Sang Dewi Racun?", sebenarny apa yang ingin dilakukan keturunan Narapati itu?


"Dia hanyalah bidak, mintalah Batara Kala yang sedang bersamamu untuk bertemu dengan Batara Ismaya, semua masih bisa dicegah, mundurnya sang prabu bukan tanpa alasan, jujur saja Hayam Wuruk bukanlah seorang pengecut, dia adalah manusia titisan dewa, jika ia serius, saat ini kalian semua sudah pindah alam", kata Naga Bumi dengan suara dingin.


"Waktuku sudah tidak banyak, segel karomah ini benar - benar merepotkan, Cepat temui Ismaya, ia tau apa yang harus dilakukan, dan jangan lupa kau serahkan tombah Sanghyang Naga Amawabhumi kepada pemuda pasundan itu,paham.


"Sultan Jogja hanya mengagguk, ia segera meninggalkan ruang dimensi Naga Bumi.


*****


Disisi luar


Semua yang ada ditempat itu benar - benar dibuat terkejuf, tiba - tiba Sultan Jogja tidak sadarkan diri setelah memegang pusaka Sanghyang Naga Amawabhumi, bapak Jaya terus melakukan segel terhadap puska tersebut.


Hampir dua jam akhirnya Sultan Jogja mulai sadar, disisinya duduk sultan Solo dan pak Jaya yang terus menyalurkan tenaga dalam kepadanya, ia juga melihat pak Jaya terus melakukan Segel karomah untuk menekan ruh naga bumi.


"Hentikan, jangan disegel lagi", kata Sultan Jogja.


Dimana pemuda dari tanah pasundan yang bernama Asep, cepat berikan pusaka ini pada nak Asep, hanya ia yang mampu mengendalikan pusaka ini, karena sang naga telah memilihnya sebagai tuan.


Mendengar hal tersebut, bapak Jaya Serra menghentikan jurus segelnya, ia segera meminta orang untuk memanggil Deni dan Asep.


Bersambung.....


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Vote, Like, Komen dan

__ADS_1


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2