
***Catatan
"Mohon maaf jika dalam bab ini terdapat dialog yang kurang berkenan, semua yang ada didalamnya hanyalah untuk melengkapi cerita saja.
Cerita ini adalah karangan fiksi, semua isi cerita hanyalah imajinasi penulis saja, karena cerita ini dibuat untuk hiburan, Terima kasih. salam sehat selalu***
Gayatri tak bisa berbicara ia termenung sejanak berusaha memikirkan cara untuk lepas dari masalah ini.
Pedang Khalifah ya, Gayatri larut dalam lamunannya, aku pikir dengan membangkitkan iblis terkuat dan membuat mereka dipihak kami, maka semua akan terasa mudah, tapi ternyata masalah ini tidak sesederhana itu, ditambah lagi siapa aktor yang mengatur semua rencana pemerintah saat ini benar - benar membuatku harus lebih banyak melakukan tapa brata.
Tiba - tiba Gayatri bersuara.
Kapan purnama emas akan terjadi, karena aku akan melakukan tapa brata lagi lebih kurang satu minggu ini, bantuan tenaga bidadari terkuat belum membuahkan hasil, aku pikir kekacauan yang dibuat Pancaka bisa memecah konsentrasi mereka tapi ternyata mereka masih punya senjata rahasia.
"Lebih kurang masih dua purnama lagi nek".
Lalu persiapan pasukan yang kau janjikan sudah sampai mana?
"Sudah delapan puluh lima persen nek, tapi sebagian pasukan sudah sembilan puluh persen, lebih kurang satu minggu lagi bisa kita berdayakan, kata Terawan dengan sangat yakin".
Baiklah Pancaka sebaiknya kau benahi dulu dirimu, perkuat dirimu apapun caranya karena kau akan menjadi kunci serangan kita, kita alihkan serangan hujan di kota Bogor satu minggu lagi, sementara ini aku akan kembali melakukan tapa brata.
'Baik ratu Gayatri, hamba mohon diri'.
Pancaka segera menghilang dan pergi meninggalkan mereka.
Sebaiknya kau persiapka serangan kita di kota Bogor, aku baru mendapatkan ide sebaiknya pusat komando kita pindahkan ke kota Bogor, jaraknya yang tidak begitu jauh dengan ibu kota membuat tempat itu akan menjadi pusat komando strategis, setelah tapa brataku selesai aku akan menyusul kesana.
"Baik nek sesuai perintah nenek".
Gayatri pergi kembali keruang semedinya, ia kembali melakukan tapa brata untuk meyakinkan dirinya.
Sementara Terawan mulai mengatur strategi memindahkan pusat komando di kota Bogor.
******
Kembali kesisi Deni.
Keadaan ibu kota pasca banjir besar yang terjadi masih sangat berantakan, gubernur Jakarta, dan juga wali kota langsung turun dan berkordinasi dengan BASARNAS, PMK dan semua elemen masyarakat, mereka bersama - sama kembali menyusun ibu kota.
Pagi itu di mall kasalanca, rapat darurat kembali diadakan, para petinggi lima matra sudah berhasil mengkondisikan ibu kota, mereka tinggal menunggu rencana selanjutnya dari ustad Hadi, datangnya ustad Faiq semakin menambah rasa percaya diri mereka.
__ADS_1
"Bisa kau tunjukan lagi sepasang pedang Khalifah itu tanya ustad Faiq".
Tapi ustad bagaimana dengan para penghuni langit dan para lelembut?
"Aku hanya ingin memastikan, untuk itu aku sudah memagari tempat ini, jadi selama pedang itu kalian letakan ditengah lingkaran itu, insya Allah tidak akan mengganggu mereka, katanya yakin".
Deni dan Asep sedikit ragu, ia menatap June, para bangsawan langit dan juga Giyana dan pasukannya, semua hanya memggangguk.
Mereka mendekati lingkaran itu, dan langsung mengeluarkan pedang Khalifah dihadapan mereka semua, dibelakang mereka ada ustad Faik, Lee dan juga Hadi.
Ketiga ustad itu dengan seksama memeriksa kedua pedang tersebut, ketiganya lalu tersenyum lalu menatap Deni dan Asep.
^Dari mana nak Deni mendapatkan pedang ini? Tanya ustda Hadi?^
Saat digerbang keenam, saat itu Yasa mengantarkan kami pada seorang hamba Allah yang bernama Ahmad, sebelum memberikan pedang ini kami sempat berendam di sebuah telaga dan minum air susu, tapi kami tidak bisa menghabiskannya, seluruh badan kami terasa seperti terbakar, hingga akhirnya tuan Ahmad berkata sisanya bersihkan sendiri.
Kami masih belum paham dengan perkataannya, dan kami masih mencoba mencari tau apa maksud dari perjataannya.
Mendengar pernyataan Deni membuat ketiganya langsung memeluk keduanya.
Antum beruntung sekali nak, ketiga ustad tersebut langsung menitihkan air mata.
Tidak semua orang bisa bertemu manusia paling mulia itu, dan kalian bisa bertemu dengannya sungguh jalan kalian benar - benar telah di ridhoi oleh Allah.
Saya semakin yakin dan mantab bahwa perjuangan kita pasti akan mendapatkan kemenangan, tambah ustad Hadi.
Deni dan Asep saling berpandangan, mereka semakin bingung dengan sikap ketiga ustad itu. Begitu juga semua yang ada diruangan itu semuanya saling berpandangan.
Disini kita akan mengukir sejarah, karena ini pertama kalinya manusia, penguni langit dan para mahluk dunia bawah berperang bersama, berjuang bersama dan saya Hadi Nur Rohman berkata senang bisa berjuang bersama kalian, mari kita lawan kebatilan dengan semua yang kita punya.
Sepertinya ada tiga tempat yang mungkin akan menjadi medan perang tiga dunia, pertama Trowulan - Mojokerto, lalu puncak Gunung Tidar dan terkahir Ibu Kota Jakarta, saya mohon kepada para jendral terbaik negeri ini, untuk bisa menyusun rencana yang matang, ungsikan semua warga apapun caranya, waktu kita hanya dua bulan, saya tidak tau dimana mereka akan memulai serangannya.
*****
Para pemimpin lima matra saling berpandangan
"Maaf ustad mengungsikan semua penduduk? Apa itu tidak berlebihan, lalu jika bapak presiden bertanya apa yang harus kami jawab? Tanya Pemimpin AD".
Pertemukan kami dengan beliau, bapak Presiden harus tau keadaan yang sebenar - benarnya, sudah tidak bisa lagi ditutup - tutupi, semua ini memang ada diluar jangkauan nalar kita sebagai manusia, tapi seperti yang kalian lihat, ditambah lagi sepasang pedang Khalifah ada di sini ini menunjukab bahwa Allah sudah meridhoi kita semua, namun tetap perang adalah pilihan terkakhir.
Kita harus bertemu dengan keluarga Narapati dan bernegosiasi namun jika hal tersebut gagal, maka bisa dipastikan perang besar tiga dunia tidak bisa dihindari dan kita harus bersiap dengan semua kemungkinan terburuknya.
__ADS_1
"Bertemu dengan Presiden ya?"
Kelima pemimpin lima matra saling berpandangan, hingga akhirnya mereka mengangguk.
"Tapi sebelumnya boleh ustad katakan apa istimewanya pedang khalifah ini.
Semua yang dikatakan nak Deni dan nak Asep adalah benar, pertama mereka telah bertemu dengan Nabi Khidir, Yasa adalah nama lain dari nabi Khidir, sementara Tuan Ahmad yang mereka katakan adalah Rasullullah atau Nabi Muhammad SAW.
Agak tidak masuk akal memang, tapi perjalanan spiritual seseorang kita tidak pernah tau, buktinya adalah kedua pedang ini adalah pedang yang pernah dipakai Rasullullah, wajar jika para penghuni langit terlebih mahluk dunia bawah tidak mampu menahan auranya.
Kedua pedang ini adalah Pedang Al Ma' Tsur dan Al Battar, pedang Al Battar sendiri pernah dipakai khalifah Umar bin Khattab dimana setan sendiri lari ketika mencium baunya atau mendengar suaranya.
Sementara pedang Al Ma' Tsur adalah pedang pertama yang dimiliki oleh Rasullullah, seperti yang saya katakan tadi semua sudah diluar jangkauan nalar manusia, tapi bukti kedua pedang ini membuat saya yakin, tambahnya.
Hal tersebut dijawab anggukan oleh kedua ustas lainnya.
Masih ada delapan lagi pedang milik baginda nabi, semoga saya tidak salah, tapi ada baiknya kita bersiap Rasullullah sendiri sangat membenci peperangan, tapi jika terpaksa apa boleh buat, tapi sebagai langkah antisi pasi sebaiknya mengungsikan warga adalah jalan terbaik, kita tidak pernah tau kerusakan yang akan ditimbulkan jika perang sampai terjadi.
Mendengar penjelasan ustad Hadi para petinggi lima matra kembali saling berpandangan, mereka juga larut dalam lamunan masing - masing.
'Berapa lama waktu yang kita punya Ustad, tanya pemimpin AL?'
Ustad Hadi menatap June dan Giyana. June akhirnya mulai bersuara.
"Jika yang mereka incar adalah Purnama Emas, maka itu kurang lebih dua purnama lagi tuan".
Maaf kami tidak paham perhitungan purnama menurut kalian, tambahnya.
'Lebih kurang dua bulan seperti yang dikatakan Kyai Hadi, kata Giyana tegas'.
Apa dua bulan? Memindahkan seluruh orang di ibu kota dalam waktu dua bulan, bukanlah perkara mudah, dan jika apa yang kita hadapi ini kita beritau maka hal ini tidak bisa diterima oleh nalar sebagian warga ibu kota, karena jujur saya sendiri awalnya tidak percaya, kata Pemimpin AU.
Para petinggi lima matra benar - benar dibuat pusing, disatu sisi jika perang benar - benar tidak bisa dicegah maka akan ada jutaan nyawa yang melayang, tapi jika harus dipindahkan alasan masuk akal apa yang bisa mereka berikan.
Kita harus bertemu presiden segera, selain waktu kita yabg sedikit, hal ini benar - benar harus dibicarakan dengan sengat tenang, saya yakin pak presiden tidak akan bisa terima alasan ini, kata pemimpin AD.
Bersambung....
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
Vote, Like, Komen dan
__ADS_1
Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...