Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 17 - Pulau Sumatra 1


__ADS_3

Setelah mempersiapkan semuanya tibalah saatnya Deni dan Asepnberangkat ke pulau Sumatra tepatnya darah Martapura.


Sebelum berjalan Musa berkunjung kebandara menemui Deni dan Asep, disana juga asa pak Sandi dan Mahardika, atau Dika yang tak lain adalah Bima anak pak Jaya.


Wah sepertinya saya belum terlambat mengantarkan kalian, kata Musa, oh iya pak Sandi prihal perkataan saya waktu itu, sebenarnya Asep adalah orang yang baik pak, dia dan Deni adalah teman baik sama seperti saya, saya hanya iri Asep bisa dapat pekerjaan sementara saya masih belum dapat kerja, sambil menunduk lesu.


"Sebenarnya saya tertarik mempekerjakanmu untuk menjadii supir untuk nak Dika menemani Nak Deni dan Asep di Martapura, karena mengingat nak Musa adalah teman baik Deni, tapi sepertinya kata - katamu cepat sekali berubah, jadi mungkin aku akan mempertimbangkannya kembali, mengingat aku sangat tidak suka dengan orang yang selalu berubahnperkataannya, oh iya Nak Dika sementara supir untukmu terpaksa ditunda dulu, dan sementara aku harap nak Dika tidak keberatan berbagi supir dengan nak Deni, karena perusahaan kita sangat ketat dalam seleksi pegawai."


Baik pak, saya tidak keberatan kata Dika.


'Saya juga tidak pak, kata Deni menambahkan.'


Mendengar kata - kata pak Sandi ada kekecewaan dimata Musa, ia sangat menyesali kebodohannya, padahal ia bisa lebih dekat dengan mereka, ia hanya terdiam.


"Baiklah nak Musa, kami akan berangkat, lalu mereka berjalan menjauh meninggalkan Musa."


Musa hanya menatap kepergian mereka dengan penuh penyesalan, kata - kata pak Sandi sangat telak, dan diia sudah membuat kesalahan terbesar, bisa - bisa tuan muda akan marah, aku harus bagaimana ini, musa larut dalam lamunannya.


****


Selama perjalanan mereka membahas Musa, dan akhirnya Musa bisa dibuat menjauh dari mereka, sementara Asep belum berkata apapun, dan Deni akan sibuk dengan pekerjaannya hal tersebut akan menutup akses informasi untuk Musa.


"Sementara urusan Musa sudah bukan menjadi masalah, tapi ia pasti akan terus mencari cara untuk mendapatkan informasi, saat ini tinggal bagaimana kita bermain peran kata pak Sandi, yah seperti yang kita tau Musa itu sangat licik, jadi kitatetap perlu waspada, ingat saja salinan skripai gua yang gua dapat dari pak sandi bro kata Deni kepada Asep, kata Deni menambahkan."


Perjalaanan selama lebih kurrang dua jam akhirnya mengantarkam mereka ketanah Sumatra, kita cari makan dulu yok kata pak sandi, disini kita tidak perlu terlalu formal, lagi pula kita masih seumuran kata Sandi menambahkan, lah bener tu bro gua laper, dan kabarnya kota Palembang ini terkenal dengan Pempeknya sebagai makanan khasnya.


'Bener tu kata Dika menambahkan, berhubung pak Sandi bilang tidak perlu terlalu formal, gimana kalo sekarang kita panggil mas Sandi aja kata Dika biar tambah akrab.'


Nah soalnya pak Sandi mau kagak dipanggil mas, kata Asep menambahkan.

__ADS_1


"Lebih enak brother aja, biar kekinian kata Sandi menambahkan."


Wah mantap, kita jadi empat penakluk Sumatra tawa keempatnya pecah, setelah menunggu beberapa saat jemputan mereka datang, dan mereka minta diantar ketempat makan pempek dikota palembang.


****


Setelah tiba ditempat makan pempek terkenal dikota tersebut, mereka memesan pempek kapal selah khas Palembang, dan juga pempek lenjer. Tak lama pesanan tiba, dan mereka berempat makan dengan lahapnya.


"Wuiih mantap bro, makan pempek langsung ditempat asalnya beda banget, cukonya mantab gaes, kata Dika sambil menyeruput cuko khas pempek palembang."


'Bener lo bro, beda dengan diJakarta, ini mantab banget dah, kata Asep sembari ikut menyeruput cukonya.'


Sudah mulai sekarang kita akan puas makan pempek, kata Sandi menambahkan.


Setelah puas menikmati hidangan khas Pempek Palembang, mereka bersiap menunaikan sholat Dzuhur dimasjid disekitar jembatan Ampera, setelah menunaikan sholat mereka bersiap menuju hotel untuk beristirahat.


Sepanjang perjalanan menuju hotel Sandi mengatakan pada mereka bahwa sebelum menuju Martapura mereka akan menuju daerah Tanjung Bintang - Lampung Selatan, perjalanan menuju Palembang adalah pengalihan yang dibuat pak Jaya sebagai langkah antisipasi menghalau Musa.


Sesuai arahan pak Jaya kita akan mengambil jalan darat menuju Lampung, karena jika lewat udara, akan ada catatan manifes penumpang dan akan menimbulkan kecurigaan keluarga Narapati, nah jika lewat darat dan kita pakai mobil pribadi kita bisa keluar - masuk dengan aman jadi kita tidak perlu khawatir, karena menurut informasi yang gua dapet, keluarga Narapati bisa mengakses manifes penumpang selama itu tercatat dan akan sangat mencurigakan jika kita langsung bertolak ke Lampung sementara tugas kalian adalah di Martapura, kata Sandi menambahkan.


Deni dan Asep saling pandang, ternyata pak Jaya adalah orang yang sangat teliti dan juga cermat, tapi beliau masih mengakui bahwa Terawan memiliki kecerdasan diatas rata - rata, kata Deni dan Asep bersamaan


"Tidak perlu heran, pak Jaya adalah salah satu dari lima keturunan paling cerdas dari trah Dipa Serra, keluarga Dipa Serra adalah keluarga yang terikat oleh ruh pusaka sama seperti keluarga Wijaya, ada sejarah panjang yang gua sendiri kurang paham bro, karena pak Jaya agak tertutup tentang keluarganya, tapi dari yang pernah gua dengar langsung dari kakeknya pak Jaya itu sembilan bersaudara laki - laki lima, sisanya empat orang perempuan semua, dan dari sembilan orang itu ada lima orang yang kecerdasannya di atas rata - rata, tiga perempuan dan dua laki - laki yang salah satunya adalah pak Jaya, itu suh yang gua tau, dan dari sembilan bersaudara itu, lima yang tercerdas orangnya sangat rendah hati dan penuh kasih sayang"


Oke sekarang kita istirahat dan persiapkan diri kalian sebaik mungkin, perjalanan kelampung lewat jalan darat lumayan lama, sekitar dua belas jam jika lancar, kita sengaja menghindari jalan tol karena memang pak Jaya melarangnya, jadi kita akan mengambil jalan memutar melalui lintas timur, tapi sebelum itu kita akan ke kantor Martapura dulu kata Sandi, sesampainya di hotel mereka sudab ditunggu dilobi hotel oleh petugas dari Dipa Serra Corporate, ketika sedang bercengkeama mereka dikejutkan oleh suara yang tak asing bagi mereka.


Lho ketemu disini, kebetulan sekali ya kata Musa, Musa datang sendiri, ia mengenakan pakaian santai, dan juga menggendong ransel besar.


"Baik anak - anak saya permisi dulu, untuk Deni, Asep, dan Dika jangan lupa besok pagi kita bertemu di Lobi pukul delapan pagi, dan akan langsung berangkat kekantor Martapura, ingat jangan sampai terlambat, terutama kamu Asep, karena ini adalah masa percobaanmu, ingat pak Jaya hanya memberimu waktu selama enam bulan, jadi pergunakan dengan baik jika nak Asep masih ingin bekerja pada perusahaan kami, paham semua.

__ADS_1


Paham pak, sahut ketiganya, pak Sandi dan staff Dipa Serra segera undur diri.


'Baik Deni, dan Asep salam kenal ya, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, gua cabut dulu ya, ngantuk nih, sambil melambaikan tangan Dika berlalu meninggalkan ketiga orang tersebut.'


***


Kembali kesisi Deni, Asep dan Musa


Gua duluan bos, kata Asep, maaf ya bro gua tidur dulu, gua gak mau terlambat kata Asep dingin, dan berlalu, tapi sebelum Asep menjauh Musa menahan Asep.


"Lu masih maeah bro, gua minta maaf bener, kata Musa mencoba menahan Asep."


Gua sudah maafin lo bro, tapi maaf ini kesempatan gua, dan gua cuma supir, bos Deni enak, lu tau kan kata - kata pak Sandi tadi, terutama gua yang masih percobaan, kalo gua sampe telat gak tau dah nasib gua bro, jadi maaf gua mau tidur bro, masalah kemarin sudab santai aja, lagian gua jadi merasa tertantang untuk buktiin kualitas gua, siapa tau bos Deni berbaik hati kata Asep, sambil berlalu meninggalkan mereka.


'Den ngopi dulu yuk, atau cari makan apa gitu, kebetulan gua kesini karena dapat telpon dari bokap buat temenin sepupu gua sementara waktu, paling sekitar dua minggu lah gua disini kata Musa berbasa - basi.'


Waduh gimana ya bro, bukan gak mau, besok hari pertama gua kerja, gua disuruh cek area tambang bareng sa Dika, dan besok juga ada rapat dengan pimpinan disini, dan lagi gua kesini kan buat kerja, bukan liburan maaf ini mah bro, nanti kalo gua sudah tau jadwal gua baru deh gua telpon lo, sekalian main ke tempat lo kata Deni. Gua cabut dulu ya, gak enak bro sumpah, gua sendiri serba salah sih.


'Ya sudah gak apa - apa bro, gua yang minta maaf, dan kalo bisa lo bicara lagi ya sama Asep, jujur jadi gak enak gua bro.'


Lo kaya baru kenal Asep aja, kalo dia bilang sudah ya sudah bro, santai aja, tapi manti gua usahain deh ya, cuma gak janji, kan lo tau, gua sama Dika gantian disupirin Asep, kalo terlalu lama gua ngobrol sama Asep bisa dicomplain Dika, kasihan Asepnya kan, kata Deni.


'Iya sih bro, ya sudahlah, terima kasih banyak ya bro, salam buat Asep. Musa melangkah keluar dan meninggalkam Deni yang berjalan menuju kamarnya.


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Like


Komen,

__ADS_1


Vote dan


Tambahkan ke favorite dan bagikan cerita ini keteman - teman agar Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2