Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 71 - Surabaya (Legenda Gunung Anyar)


__ADS_3

Mereka lalu bertukar info melalui telepati, lah sekarang gimana, Gunung yang dimaksud tidak sesuai dengan ekspetasi, atau nanti kita coba tanya beberapa orang secara acak, siapa tau aja bapak tadi bohong? Ya kita lihat aja kalo nanti dia gak kembali artinya bohong.


Ya tapi kita tidak bisa terus bergantung pada bapak tadi, ingat kita dikejar waktu.


Hampir satu jam mereka berada di dalam restoran, tak lama mereka melihat bapak supir taksi di Lobby hotel.


Lho bapak sudah disini


"Iya dek, ini bapak baru mau telpon dek Barra."


Oh iya pak tidak apa - apa pak, oh iya bapak sudah makan? Ayo pak makan dulu.


Barra membawa supir taksi tadi ketempat Deni dan Asep.


*****


Bapak kenapa diam pak, ayo makan kata Asep mempersilahkan dengan makanan penuh dimulutnya.


Oh iya dek, perkenalkan nama saya Erwin, saya orang asli Surabaya tepatnya daerah Gunung Anyar, jika mau cerita sebaiknya jangan di...


Belum semoat pak Erwin menyelsaikan kata - katanya, Deni langsung mengambilkan kursi dan meminta pelayan menambah makanan untuk pak Erwin.


Sudah pak makan aja dulu, ceritanya nanti dikamar pak, hampir sejam mereka makan apa saja.


*****


Setelah puas makan mereka semua kembali kekamar.


Disitulah situasi mulai serius dan mereka semua mendengarkan dengan seksama tanpa ada yang menyela pak Erwin.


Nama Gunung Anyar diberikan oleh tiga ulama asal Demak, itu menurut cerita yang diturunkan secara turun - temurun, dulunya daerah Gunung Anyar ini adalah rawa, tempatnya sulit di dapat air bersih karena airnya payau mendekati asin.


Tiga ulama itu adalah Mbah Mahmud, Mbah Amir, dan Mbah Tejang Kalong, yang di anggap sesepuh adalah mbah Mahmud, guna menunjang menyebarkan syiar islam mereka berniat membangun masjid didaerah Gunung Anyar Lor.

__ADS_1


Mereka itu ulama sakti dek, atau karomah gitu kurang paham saya, nah saat mau mengambil urukan tanah untuk masjid sebagian urukan tanah tadi tercecer dan membentuk sebuah gunung.


Menurut kisah kenapa Gunung Anyar tidak bisa tinggi, ia dijaga oleh Mbok Rondo (Janda Tua) yang Ngedrugno wakul (memukulkan tempat nasi secara berulang) keberadaan Mbok Rondo ini entah dimana keberadaannya, namun ia sering memunculkan diri sebagai sosok wanita tua membawa bakul nasi dengan tongkat besi putih mengkilat, tapi benar atau tidak semua hanya legenda, itulah kenapa Gunung Anyar tidak bisa tinggi.


Padahal secara usia Gunung Anyar lebih tua dari pada Gunung Semeru biarpun Gunung Anyar termasuk gunung api aktiv.


*****


Pak Erwin menunjukan peta area Surabaya timur, dan melingkari tempat tersebut.


Perhatikan dek jika kita tarik garis dari Gunung Anyar, hingga kedaerah Medayu, terus ke daerah Keputih, lalu Daerah Pondok Candra, sampai Daerah Rungkut Industri, itulah perkiraan luas Gunung Anyar yang terpendam didalam perut bumi.


Mereka semua terkejut mendengar penjelasan pak Erwin, mereka berdiskusi didalam pikirannya.


"Bapak ini ngarang atau bagaimana sih?"


Tidak bapak ini jujur, gua tau siapa itu Mbok Rondo, gak disangka dia yang akan jadi kunci, sudah kita dengerin aja dulu sampe bapak ini selesai.


Itulah penjelasan dari saya dek, saya kesini niat membantu ini uangnya saya kembalikan, adek pada mau percaya boleh, gak percaya yo gak apa - apa, saya sudah bicara apa adanya.


Atau adek bisa tanya langsung ke pak Kuwuh atau pak Mudin atau sesepuh desa Gunung Anyar ceritanya pasti sama, jika saya mau berbohong saya tidak akan kembali lagi, saya lihat adek bertiga sedang kebingungan apa lagi setelah tau Gunung Anyar hanya sebuah urukan tanah tak lebih dari sepuluh meter.


*****


Lalu mereka saling berpandangan, ketika pak Erwin akan bergegas pergi.


Barra mulai buka suara.


Pak kami percaya sama bapak, kami hanya masih syok pak, oh iya uang tadi ikhlas kami berikan untuk bapak, mohon diterima ya pak.


Setelah dengan sedikit paksaan, akhirnya pak Erwin mau menerima uang oemberian dari Barra.


Oh iya pak bapak narik taksi sehari daoat berapa pak?

__ADS_1


"Ya tidak pasti dek namanya juga sudah banyak saingan, saya kerja mulai jam tujuh sampai jam lima sore dek, kira - kira seratus ribu lah dek, bisa lebih bisa kurang, bisa tidak dapat sama sekali, makanya saya juga daftar taksi online dek."


Oh gitu pak, oh iya pak gini kami disini tidak tau tempat pak, bapak mau jadi pemandu kami selama disini, nanti sehari bapak saya beri uang lima juta rupiah, kami butuh orang yang bisa di percaya pak dan bapak masuk kedalam keriteria kami, tambah Barra.


"Wah serius dek, tapi gak bawa barang aneh - aneh kan, bapak takut nanti malah bawa narkoba lagi."


Astagfirlllahalazim, kami ini orang beriman pak, jadi gak pakai narkoba, bapak cuma tunjukan jalan saja, kan bapaj bilang bapak tau seluk beluk kota ini, kata Deni dengan sedikit kesal.


"Maaf dek habis teman bapak pernah tertangkap gara - gara hal seperti ini, jadi bapak trauma."


Ya sudah mau atau tidak kami tidak bisa memaksa pak, terima kasih untuk semua informasinya, tapi kami berharap pak Erwin mau menjadi pemandu kami, kata Barra sedikit membukkukan badannya.


"Aduh dek jangan bungkuk - bungkuk gitu dek, bapak ini hanya supir dek, tapi bapak harus izin dulu ya dek kekantor, dan bapak hanya bisa antar mulai jam tujuh pagi sampai jam sepuluh malam, jika adek setuju bapak akan segera urus izin, jika tidak ya tidak apa - apa dek, bukan apa - apa bapak batasi jam sepuluh, kan yang nyetir bapak, kalo ada apa - apa supir yang salah dek."


Hadeew bapak nih, kita cuma ingin ada navigator disini pak, ya semacam penunjuk jalan pak, lagi pula kami kurang fasih bahasa jawa jadi untuk komunikasi kami lakukan lewat bapak saja.


"Oooh gitu tapi bener ya dek tidak ada ambil - ambil barang, bapak takut dek, takut dosa juga dek."


Bener pak Barra menunjukan secarik kertas bertuliskan beberapa alamat.


Mangrove Wonorejo, Makam Boto Putih, makam mbah Keputih, Makam mbah Mursydin, dan Patung Dewi Kwan Im Kenjeran. Apa bapak tau tempat tempat itu, ada yang harus kami selidiki bapak cukup antar kami dan tunggu di mobil, jemput kami pukul tujuh pagi, sebelum pukul sepuluh saya pastikan bapak sudah dirumah, apa bapak setuju.


"Saya hanya menunggu?"


Ya tapi jangan terlalu jauh ya pak, jadi saat kami butuh bapak bisa langsung datang.


"Baik dek siap, saya akan antarkan adek bertiga ke tempat - tempat tersebut."


Setelah membuat kesepakatan pak Erwin pamit pulang, ia segera bergegas mempersiapkan kendaraannya untuk perjalanan bersama kelompok Deni besok.


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Vote, Like, Komen dan

__ADS_1


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2